LOGIN“Aku senang kamu tidak berpikir untuk membalas dendam atau bahkan membalas dengan sangat kejam melebihi apa yang sudah dilakukan pria itu. Tapi aku cukup menyukai pemikiranmu yang sangat bagus. Terkadang memang balas dendam bukan satu-satunya yang bisa membuat kita puas.”
Dalam hati Damar berfikir kalau Robi adalah pria yang baik dan juga bijak dalam mengambil keputusan.Tap tap tap!Suara langkah kaki terdengar sehingga membuat mereka berdua sontak sama-sama menolKemudian Sekar dengan sengaja menginjak gas dan melajukan mobil dengan kuat-kuat sampai orang di depan sana segera menepi. Ia takut akan tertabrak.Mobil akhirnya bisa lolos dengan mudah dari lapangan. Sementara para pria itu mengejar dengan motor dan berteriak pada penduduk setempat, mereka mengatakan kalau mobil menculik wanita muda.Sehingga penduduk lainnya berbondong-bondong menghalangi jalan mobil.Mulut Sekar berkecak kesal, karena ia terpaksa harus menghentikan mobilnya.Di situasi seperti itu mereka tidak mungkin kabur, jadi Sekar pun terpaksa harus keluar dari mobil bersama Damar.Namun, sebelum itu para warga berusaha untuk mengetuk-ngetuk pintu mobil, sehingga Sekar jadi takut. Sedangkan Damar menepuk pundak Sekar.“Tenang dulu, kita hanya perlu bicara sebentar saja. Jadi biarkan aku keluar lebih dulu.”Setelah mengatakan itu Damar langsung keluar dari mobil.Seorang pria berbadan besa
Sehingga lagi-lagi ia sampai muncrat duluan, padahal Damar belum mengeluarkan cairannya. Tetapi Sekar sudah merasa hampir lemas dan keenakan duluan. Melihat itu tentu saja Damar tidak bisa membiarkannya. Jadi kedua tangannya mulai memegang kedua sisi pinggul Sekar, tangannya mulai menggerakkan pinggulnya dengan cepat. Sehingga hentakan tubuhnya semakin kencang dan Sekar sampai terkejut karena batang Damar masuk lebih dalam lagi. Tidak hanya itu saja, karena hentakan semakin cepat dan kuat jadi Sekar merasa alat kelamin Damar seolah sedang memukul mulut rahimnya. “Akhhh …! Nggh, ahh ahhh Mbah!” Tidak kuat Sekar hanya bisa pasrah saat lubangnya terus dihujam oleh milik Damar. Suara mesum dari decakan tubuh mereka terdengar semakin keras, belum lagi dari luar mobil juga terlihat bergoyang. “Ughh … ini membuatku juga tidak tahan!” Damar meme
Damar melihat ke atas langit, hari ini cuaca sangat cerah sehingga langit biru muda. Angin bahkan berhembus sepoi-sepoi membuat keringatnya mengering perlahan. Wajahnya jadi terlihat lebih segar dari sebelumnya. Tidak terasa lima menit berlalu dan ia masih menunggu. Ketika Damar menoleh lagi ternyata mobil Sekar sudah sampai dan berhenti tepat berada di hadapannya. Sekar pun segera keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri Damar, tangannya terulur ke arah Damar. “Ayo Mbah, kita berlatih lagi.” “Ya!’ Dengan senang hati Damar juga meraih uluran tangan Sekar yang mengarah ke arahnya. Damar kembali duduk di kursi kemudi dan mulai kembali menyalakan mesin. Sambil ditemani Sekar yang tersur memberikan intruksi cara mengemudi padanya. Sehingga Damar hampir menguasai apa yang diajarkan Sekar sekarang perlahan padanya. Sekar yang yang melihat cara Damar mengemudi sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Sehingga ia pun memuji kerja kerasnya dalam belajar, “Bagu
Dengan tubuh gemetar Raka memberitahu Damar sambil memperagakan roh yang dilihatnya semalam.Damar memperhatikan reaksi Raka dengan seksama.“Jadi begitu, lalu sekarang apa kamu menyesal karena telah mengganti boneka itu?”“Jika kamu tidak melakukannya, mungkin saja saat ini kamulah yang menjadi korbannya. Kamu yang akan mati dan roh itu akan memakan seluruh isi kepalamu!”Mendengar itu Raka jadi semakin bergidik ngeri, dia yang tadinya merasa bersalah karena tidak meminta bantuan untuk menyelamatkan kakak tirinya. Namun, sebaliknya saat ini Damar baru saja menyadarkannya atas rasa bersalah yang dirasakannya senak semalam.“Yang Mbah katakan itu benar. Aku …!”Tangan Damar menepuk pundak Raka.“Apa yang terjadi tidak bisa kita kembalikan seperti semula. Jika kamu tidak melakukan hal itu maka kamu yang akan jadi korbannya.”“Semalam mungkin saja kamu berada di posisi itu dan hari ini dia menertawak
Rasid juga berencana untuk segera melakukan ritual yang akan dijalankannya. Jadi karena itu juga saat ini Rasid lanjut berjalan.“Ternyata begitu, sekarang aku akan kembali ke kamar jadi sebaiknya kamu juga kembali ke kamarmu.”Rasid sempat menepuk pundak Raka sebelum pergi. Sedangkan Raka tidak mengatakan apa-apa lagi, ia hanya mengangguk saja.Saat di kamarnya Rasid segera memeriksa bawah ranjang, tangannya berusaha meraih boneka yang disimpannya di bawah ranjang.Tangannya memegang dengan erat boneka itu kemudian membawanya keluar dari kamar. Rasid keluar dari rumah dan berjalan ke belakang rumahnya.Rasid melihat sekelilingnya saat i tiba di bawah pohon belakang rumah. Memastikan tidak ada seorangpun yang mengikuti atau melihatnya.Namun, tanpa diketahuinya Raka diam-diam melihatnya dari kejauhan. Ia menyaksikan ritual yang akan dilakukan oleh Rasid.Tiba-tiba seorang pria yang tidak tahu dari mana datang mengha
Di bagian belakang boneka itu ada lubang yang kecil, Damar memperlihatkannya saat sudah merendamnya dari genangan darah.“Lihat lubang di bagian sini, aku ingin kamu memasukkan apapun termasuk rambut, atau sesuatu lain yang dimiliki kakakmu.”“Lalu setelah itu apakah aku harus balik menyantetnya?” tanya Raka.Damar menggelengkan kepalanya. “Tidak, kamu hanya perlu menukarnya dengan boneka santet yang ada di kamar kakamu itu dengan boneka ini.”Mendengar itu tentu saja Raka sangat terkejut.“Apa dia memiliki boneka? Tidak, maksudku jadi dia menyantetku juga dengan boneka seperti ini?!”“Ya, dia melakukannya.”Seketika tangan Raka mengepal di pangkuannya.Damar memasukkan boneka itu ke dalam rendaman air tanah liat. Kemudian barulah ia merendamnya lagi ke dalam air kembang.Tangan bergerak di atas boneka yang baru saja dikeluarkan dari dalam rendaman air. Kemudian Damar menggunakan kekuatan spir







