MasukSaat menyentuh gagang pintu kemudian mendorongnya ke dalam. Pintu tetap tidak bergerak itu berarti, dari dalam Aluna sudah menguncinya. Itu membuat Sekar menghela nafas lega karena itu berarti semalam tidak ada terjadi apa-apa.Kemudian Sekar pun mengetuk pintu kamar itu beberapa kali. Ia bahkan mulai memanggil Aluna agar membukakannya pintu.“Aluna, cepat bukakan aku pintu. Ini aku Sekar!”Belum ada terdengar jawaban apapun di dalamnya.“Aluna apa kamu sudah bangun?”Tiba-tiba barulah terdengar suara serak Aluna dari dalam kamar. “Uhm, ya. Maaf aku baru saja bangun!”Langkah kakinya berjalan menuju pintu terdengar oleh Sekar. Suara gesekan logam dari kunci yang diputar untuk membuka.Detik berikutnya pintu putar, barulah Sekar melihat Aluna yang baru saja bangun dengan penampilannya yang agak berantakan. Meski ia tidak memakai pakaian melainkan hanya memakai kain ya
“Ahngh … haah, tidak! Tunggu sebentar ahh. Setidaknya beri aku istirahat dulu!”“Istirahat? Bukanya kamu tadi yang terus memanggilku hanya untuk menusukmu di sini?”Tangan Damar menyentuh bagian bagian bawah perut di mana letak batang miliknya berada di dalam. Sehingga membuat Aluna merasakan tekanan yang semakin membuat sempit dan sesak. Ia merasakan dengan jelas sensasi alat kelamin pria itu di dalam perutnya.“Ughh …! Rasanya sangat sesak sekali, ahhnghh!”Karena sensasi itu membuat Aluna sampai muncrat lagi hingga lubangnya jadi sangat basah.“Aku bahkan belum bergerak di dalam tapi kamu sudah keenakan duluann!”Damar pun mulai menggerakkan pinggulnya, ia memompa perlahan sampai ke titik paling dalam dan merasakan kenikmatan yang tidak tertahankan.Gerakannya perlahan mulai jadi cepat sehingga menimbulkan suara decakan mesum terdengar. “Ahh, ahh! Nghh … rasanya di dalam milikmu terasa se
Sebelumnya Aluna tidak merasa begitu geli meski ular-ular itu melilit di sekelilingnya. Namun kali ini setiap ia merasa ular itu bergerak di bawah sana itu membuat Aluna merasa tidak tahan.Rasa geli itu membuatnya terangsang. Pada saat yang sama karena sudah tidak lagi bisa menahannya. Kedua mata Aluna akhirnya terbuka ia tidak lagi memejamkan matanya. Namun tatapan matanya mengarah mencari keberadaan Damar.Aluna mulai memanggil nama Damar,“Amar, Amar! Ahh, Nggh cepat tolong aku!”Tangannya menyentuh tubuhnya sendiri sambil menggerayanginya. Tangannya terus bergerak sehingga membuat kain yang ada di tubuhnya mulai terlepas karena gerakannya terus menerus menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang lain.Aluna merasakan ular yang ada di sekelilingnya mulai bergerak melilitnya. Padahal sebelumnya mereka hanya diam dan berada di sampingnya saja seolah tidak melakukan apa-apa. Namun sekarang ular-ular itu mulai melilit d
Aluna juga diminta hanya mendengarkan suara lonceng yang digerakkan oleh Damar dan bacaan mantra. Itu didengarkannya sambil memejamkan matanya.Sementara Sekar segera menyalakan lilin dan juga api obor. Tidak lupa dengan dupa yang ditancapkan ke atas beras saat sudah dibakar.Sekar juga sudah membakar minyak kemenyan sehingga aroma minyak itu terus menyebar di sekelilingnya.Saat langkah kaki Damar berhenti di hadapan Aluna. Barulah ia memercikkan air dari rendamam daun sirih. Ia juga kembali membaca mantra yang berbeda.Damar mulai bergerak seoal sedang melakukan ritual. Padahal itu adalah gerakan khusus ritual yang harus dilakukannya.Asap dari dupa sudah mengelul tipis di udara. Itu membuat Damar menambahkan dupa lagi untuk dibakar karena dirasakan jumlahnya kurang.Hingga ia selesai dengan gerakan dan mantranya, Damar berjalan menghampiri kendi yang berisikan air kembang tujuh rupa.Tangannya mengambil gayung ya
“Kau diam di sini?” Aluna menunjuk ke arahnya sendiri dan lalu menunjuk ke bawah lingkaran yang saat ini tempatnya berdiri.“Ya, karena ritualnya akan segera dimulai jadi kamu harus tetap berada di dalam sana. Kamu mengerti kan?”“Ya, aku akan mendengarkan dan berdiri di sini sampai kamu menyuruhku keluar.”Namun Aluna melihat ke sekeliling hanya ada mereka bertiga saja di sana. Ia sama sekali tidak melihat dukun tua yang bertemu dengannya waktu itu.“Damar, tunggu dulu!” Luna menghentikan Damar yang akan memulai ritualnya.“Apa kamu yakin? Kamu yang akan melakukan ritualnya, bukannya seharusnya mbah dukun yang pernah aku temui sebelumnya itu yang melakukan ritualnya?”“Kakekku tidak ada di sini, Dia mungkin lupa memberitahumu kalau aku juga yang akan mengambil alih seluruh ritual malam ini.”“Lalu di mana Mbah dukun itu? Dia tidak membantumu?”“Sekarang dia sedang pergi untuk melat
Mendengar itu Damar pun akhirnya mulai beranjak pergi dari sana. Langkah kakinya sangat cepat dan cukup lebar itu membuatnya semakin cepat sehingga Damar akhirnya tiba di depan hutan.Saat matanya melihat ke depan, di sana terlihat terang karena lampu dari rumah warga terlihat bersinar.Beberapa menit kemudian …Damar masih menunggu di sana sambil melihat kembali ke arah desa. Kali ini seseorang berjalan sendirian sambil membawakan persembahan di tangannya. Saat semakin dekat Damar tahu kalau itu Aluna ya g sedang berjalan ke arahnya.Dengan cepat Damar pun menyalakan senter dari poselnya. Melihat cahaya itu Aluna langsung berhenti sejenak untuk memastikan siapa orang yang ada di depannya.“Si-siapa kamu?!”Aluna mengarahkan senter di ponselnya pada Damar. Sehingga mereka saling mengenter satu sama lain di kegelapan.“Ini aku adalah cucunya Mbah Dukun yang kamu temui seminggu







