LOGINSydney menghela nafas lega, karena ditempatkan sebagai sekretaris Marketing Director. Dia harga berusaha agar tidak menyela pembicaraan, mencari perhatian, bahkan sengaja menjaga jarak dari Nara dan Kei. Hanya ingin fokus dengan tumpukan berkas di atas meja. Ada jadwal meeting, proposal kerja sama, laporan campaign, dan dokumen internal marketing tersusun di hadapannya. Sydney membuka kalender kerja di komputer.
“Meeting dengan klien jam sebelas, evaluasi campaign jam satu, lalu briefing tim jam tiga,” gumamnya sambil mencatat beberapa agenda ke tab. Semua harus diperiksa sebelum diserahkan kepada Marketing Director.
“Sydney, ini materi presentasi untuk meeting sore. Pak Direktur minta semuanya sudah siap sebelum jam dua.” Seorang staf marketing datang membawa map, lalu meletakkan di atas meja.
“Baik. Aku periksa nanti setelah laporan jadwal meeting.” Sydney berdiri menggenggam tab di tangan.
“Kamu bisa kan? aku tinggal dulu kalo butuh bantuan panggil aja.” Staf mengetuk berkas yang tadi sebelum pergi. “Jangan lupa loh yaa.”
Sydney kembali mengecek kalender memastikan tidak ada perubahan jadwal yang perlu diperbaiki. Sydney berjalan menuju ruangan Yoriko sebagai Marketing Director. Setelah mengetuk pintu dan mendengar sahutan dari dalam, dia memutar knop perlahan.
“Saya mau mengingatkan, nanti ada meeting dengan klien pukul sebelas di Caffe Amore.”
Yoriko hanya menoleh sekilas dari layar laptop. “Baik, terima kasih sudah mengingatkan.”
Sydney mengangguk. “Sama-sama, Pak.”
Dia menutup pintu kembali tanpa banyak bicara.“Oke. Satu tugas selesai.” Sydney melirik jam di pergelangan tangannya.
“Masih ada waktu sebelum meeting.” Dia berbelok menuju pantry.
Sydney mematung begitu pintunya dibuka, aroma kopi yang langsung menyambutnya. Ruangan itu cukup tenang. Ada suara mesin pendingin dan bunyi air dari dispenser.
“Ini kayak deja vu …,” ucapnya mengamati ob sedang mengaduk kopi. “ Tapi di mana… ini salah satu adegan di cerita.”
Sydney bergerak mundur, namun baru satu langkah kakinya tidak bisa dikendalikan. Semua itu bergerak di luar kendali.
“Mbak, buat kopi untuk siapa?” Sydney bergerak mengambil gelas dari ob.
“Itu buat Pak Nara,” ucap OB dengan panik, berusaha mengambil kembali tapi Sydney menepis tangan dengan keras.
“Jangan. Jangan lakukan ini,” batin Sydney dengan membelalak. Dia berusaha menarik tangannya kembali.
Kei masuk sambil membawa ponselnya. Tatapannya langsung jatuh pada gelas yang sedang berada di tangan Sydney.
“Aku mau mengambil kopi yang tadi dibuat untuk Pak Nara.” Kei berjalan mendekat. “Oh, kamu juga di sini?”
Sydney langsung menoleh. Ingatan tentang adegan dalam novel kembali muncul. Kei seharusnya mengambil kopi itu, lalu memberikannya kepada Nara. Sydney tahu persis apa yang akan terjadi setelahnya. Kali ini dia tidak akan membiarkannya.
“Ini punyaku lagian yang pantas kasih ini ke Nara cuma aku,” kata Sydney cepat.
Kei mengerutkan kening.
“Punyamu? Bukannya itu kopi yang aku buat tadi cuma tadi keburu mau ke toilet.”Sydney terdiam sesaat. “Sekarang sudah jadi punyaku.”
“Kenapa kamu tiba-tiba ….” Kei terdiam saat suara Nara terdengar dari luar pantry.
Keduanya menoleh melihat punggun Nara berjalan melewati pintu pantry tanpa berhenti. Punggungnya semakin menjauh menuju koridor.
Sydney menatapnya, jantungnya berdegup kencang ini kesempatan terakhir. Kalau Nara terus berjalan, adegan berikutnya akan berubah. Sydney menggenggam gelas itu erat. Langkah dengan mantap mengikuti Nara. Tangannya sendiri tiba-tiba terulur seperti hendak memanggil Nara.
“Ini ga boleh terjadi.” Sydney mulai panik otaknya bekerja cepat.
Dia sengaja melepaskan gelas dari tangan. Suara gelas yang jatuh menghantam lantai dan pecah. Kopi tumpah membasahi lantai membuat Nara langsung berhenti. Dia perlahan menoleh ke arahnya. Tatapannya dingin dan sulit ditebak.
“Sydney!”
Sydney menatap pecahan gelas di kakinya, lalu menghembuskan nafas lega. Tidak ada kopi yang diberikan. Tidak ada adegan seperti dalam novel. Alurnya berubah.
“Kamu sengaja menjatuhkannya?” ucap Nara ketus dengan tatapannya dingin. Sydney membeku, pertanyaan sederhana itu membuat tengkuknya meremang.
“Enggak. Tanganku tadi tiba-tiba licin.” Dia tersenyum kaku.
“Begitu?” Nara menatap pecahan gelas di lantai, lalu kembali menatap Sydney.
“Iya. Aku benar-benar ga sengaja.” Sydney menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Kei buru-buru mengambil langkah mendekat.
“Biar aku yang bersihkan. Kamu jangan bergerak dulu, nanti kena pecahannya.”“Nggak perlu. Aku bisa sendiri.” Sydney langsung jongkok sebelum di dahului Kei.
Nara masih berdiri memperhatikan perempuan itu memunguti pecahan gelas yang berserakan. Ekspresi wajahnya tetap datar, seolah kejadian itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Nara hendak memanggil staf untuk membersihkan sisanya, tetapi matanya menangkap setetes darah jatuh di antara pecahan kaca.
“Sydney, kamu mimisan,” ucapnya tetap tenang. Namun, ada sedikit kekhawatiran yang terselip di balik tatapan matanya.
Sydney mengernyit. Tangannya refleks menyentuh hidung. Dia melihat darah di ujung jarinya.
“Aku bahkan nggak ngerasa.” Wajahnya berubah bingung.
“Sydney, bersihkan pakai ini.” Kei dengan cepat mengambil tisu di sekitarnya, lalu menyerahkan ke Sydney.
“Aku harus balik ke pantry,” gumam Sydney sambil mengelap hidungnya. Namun Nara lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.
“Untuk apa? biarin nanti ada yang akan membersihkannya. Kamu masuk keruangan ku.” Nara menarik Sydney secara paksa.
“Nggak mau, aku masih ada urusan.”
Sydney menekan hidung dengan jari menahan darah untuk keluar.“Saya cuma tidak mau sekretaris Marketing Director saya pingsan di tengah kantor.”
Sydney mendecak pelan.
“Cara ngomong kamu memang selalu menyebalkan.” Sydney menghela napas kesal. Kepalanya mulai berdenyut semakin kuat. Dia memejamkan mata sebentar. Sydney mencoba membuka mata, tetapi ruangan terasa berputar.“Kamu pucat.” Nara memperhatikannya beberapa detik.
“Memangnya aku peduli?”
“Itu bukan sesuatu yang perlu kamu banggakan.” Nara membuka pintu ruangannya.
Sydney ingin membalas, tetapi pandangannya kembali kabur. Tubuhnya tiba-tiba oleng. Nara langsung berdiri dan menahan bahunya. Sydney mencoba menarik napas, tetapi kepalanya semakin berat. Suara Nara terdengar semakin jauh.
Tubuh Sydney kehilangan tenaga jatuh ke arah Nara.“Kamu benar-benar merepotkan.” Nara segera menggendong Sydney masuk ke dalam. Satu kakinya mendorong pintu hingga tertutup rapat.
Ruangan kembali sunyi. Sydney tidak tahu berapa lama kesadarannya menghilang. Namun ketika membuka mata, dia tidak lagi berada di dalam kamar. Nafasnya terdengar terburu-buru. Sydney menunduk dan baru menyadari dirinya sedang berlari tanpa alas kaki di atas lantai yang dingin dan kotor.
“Aku di mana?” Sydney melihat sekeliling, bahkan dinding terlihat ada bekas gosong karena terbakar.
Dia menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa. Hanya lorong panjang yang seakan tidak memiliki ujung. Lampu-lampu di atas kepalanya berkedip tidak beraturan, membuat bayangan di dinding ikut bergerak.
“Ada siapa di sana?” Sydney mempercepat langkah. Tubuhnya seperti tahu bahwa dia harus pergi sejauh mungkin dari tempat itu.
Sydney menoleh, ruangan itu tetap kosong. Namun tidak lama terdengar suara semakin dekat. Setiap langkah kaki yang tegas membuat jantungnya berdegup semakin keras.
“Siapapun itu tolong jangan bunuh aku?” Gumam Sydney meremas dressnya.
“Tunggu … bunuh? apa itu suara langkah Nara.” Sydney menunggu dengan waspada. Namun suara tembakan menggema di sepanjang lorong sebagai jawaban. Sydney kembali berlari sekuat tenaga.
“Sydney!”
Dari kejauhan terdengar suara seseorang berteriak. Suara tembakan kembali menggema, terdengar lebih dekat. Sydney tersentak dan berhenti. Dia mengenali suara itu. Langkah melambat dengan nafas memburu melihat ujung lorong ada seseorang berdiri dalam bayangan. Wajahnya tidak terlihat.
“Elvan, apa itu kamu? tolong aku.” Tangan Sydney bergetar. Dia hanya terdiam, lalu perlahan mengangkat tangan dengan senapan digenggam dengan erat.
“Kamu jelas Nara.” gumam Sydney mundur beberapa langkah. Tatapan itu terlihat begitu dingin.
“Sydney, kamu harus tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan!” ucapnya dengan suara bergetar.
“Aku bahkan nggak tahu kesalahan apa yang kamu maksud.” Sydney menggigit bibir menahan suara tangis. Bukan penjelasan yang Sydney dapat. Dia justru menarik senapan tanpa ragu, seakan tubuh Sydney sebagai sasaran.
“Kalau Gea benar-benar hamil anak Zayn, terus aku harus gimana?” Sydney bergumam pelan sambil memeluk lututnya. Dia duduk sendiri di pool area, pandangannya terpaku pada permukaan air yang tenang. Hari ini terlalu banyak hal terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Kepalanya terasa penuh karena setiap jawaban justru membawa pertanyaan baru. “Aku bahkan nggak tahu harus pergi ke mana kalau semua orang di cerita ini mulai berubah.” Dia mengangkat wajah ketika angin malam menyentuh rambutnya. “Aku nggak bisa terus menghindari mereka.” Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu menatap pantulan dirinya di permukaan kolam. “Tapi kalau aku mendekat, semuanya malah semakin rumit. Siapa yang bisa membantu aku tetap aman.” Dia terdiam cukup lama lalu dia mengacak rambutnya karena frustasi. “Ini makin nggak ada solusi yang ada aku malah pusing … paling bener aku pulang ke asal kalo Gea hamil anak Zayn seenggaknya aku masih hidup.” “Mbak Sydney tadi ada yang datang cuma nitip
Sejak kejadian di danau, Sydney merasa ada sesuatu yang berubah dalam sikap Nara. Tatapannya terasa lebih sering mengikuti setiap gerak-geriknya. Bahkan setelah dokter mengizinkannya pulang, Nara masih beberapa kali menanyakan kondisinya. “Kamu kenapa liatin aku terus kayak gitu?” Sydney merapikan tali tas di bahunya sambil menatap Nara tidak jauh. Nara memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Aku cuma memastikan kamu benar-benar udah pulih,” jawab Nara datar. Tatapannya turun sebentar ke wajah Sydney sebelum kembali menatap lurus ke depan. “Setelah apa yang terjadi di danau, menurutku wajar kalau aku memperhatikan kondisimu.” Nara menekan tombol lift. Sydney mengernyit mendengar jawaban itu. Perkataan Nara mengingatkannya pada kejadian di tepi danau, terutama kesadaran asli Sydney mengambil alih tubuh kembali. “Aku udah bilang waktu itu, kalau aku bicara aneh anggap aja aku sedang nggak sadar.” Sydney mengangkat telunjuk seolah sedang memberikan peringatan. Nara hanya me
“Nara!” Teriak Sydney tidak sempat meraih apapun. Nara melihat Sydney tenggelam semakin dalam melangkah cepat kearah bibir danau. “Pegang tangan aku,” teriak Nara berusaha meraih tangan Sydney sesekali bisa muncul ke permukaan. Tangannya bergerak mencari permukaan, tetapi tubuhnya terasa berat dan nafasnya mulai tersendat. Dari atas, suara Nara terdengar samar memanggil namanya tidak lama bayangan tubuhnya ikut menyusul ke dalam air. Satu tangan meraih pinggang Sydney dan menarik tubuhnya ke atas dengan kuat menuju tepian. “Sydney,” panggil Nara masih dengan nafas terengah-engah. “Sydney, kamu dengar aku, kan.” Nara menepuk pipinya beberapa kali untuk memastikan kesadarannya masih ada. Kelopak mata Sydney bergerak sedikit. Nara menatap wajahnya menunggu kesadaran benar-benar pulih, kemudian memeriksa napasnya yang nyaris tidak terdengar. Untuk pertama kalinya, keraguan terlihat jelas di wajah dinginnya ketika dia menyadari Sydney tidak kunjung bernapas dengan normal. “Sial.
“Kamu benar-benar nggak ingat aku?” Kalimat Elvan masih terngiang di kepala Sydney bahkan setelah malam berganti. "Sebenarnya kamu tuh siapa?" Sydney menghembuskan napas panjang. Dia sudah mencoba mengingat semua bagian cerita yang pernah dibacanya. Nama-nama karakter utama, karakter pendukung, bahkan tokoh yang hanya muncul sebentar. Tidak ada Elvan. Semakin dia mencoba mengingat, semakin kepalanya terasa penuh. Langkahnya terhenti menuju pintu masuk ketika sebuah mobil berhenti tidak jauh darinya. "Nara sama Kei berangkat bareng. Seharusnya aku yang ada di posisi Kei," gumam Sydney, memperhatikan Nara turun dari kursi pengemudi disusul Kei keluar dari samping. Keduanya berjalan berdampingan menuju gedung. Tidak ada percakapan yang bisa didengarnya. Kei hanya sesekali menoleh kepada Nara. "Kalau Elvan memang bukan bagian dari cerita. Kemungkinan ada bagian yang diubah.” Sydney mengerutkan kening. “Barusan yang aku lihat juga bagian dari alur yang diubah?" Sydney menatap Nar
Sydney tersentak bangun. Dia menatap sekeliling dengan mata yang masih berkunang. Tirai panjang bergerak pelan terkena hembusan angin dari jendela sedikit terbuka. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Tangannya langsung meraba bagian tubuh yang tadi terkena tembakan. Tidak ada bekas luka ataupun darah yang mengalir. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Ah … cuma mimpi?” Sydney menelan ludah. Ruangan ini mungkin sepi tapi di luar terdengar samar aktivitas membuat sedikit lega. Tangannya masih gemetar. “Gila ... mimpi apaan tadi,” Sydney menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Namun suara tembakan dalam mimpinya masih terasa terlalu nyata. “Kenapa rasanya nyata banget … cukup Sydney itu cuma mimpi,” gumamnya. Sydney menggeleng cepat. Wajah sosok yang berdiri di ujung lorong itu terus terbayang. Sydney merasa diri cukup tenang, dia buru-buru berdiri lalu menatap sofa tempat dirinya berbaring. “Ini kan, ruangan kerja Nara. Jangan bilang aku pings
Sydney menghela nafas lega, karena ditempatkan sebagai sekretaris Marketing Director. Dia harga berusaha agar tidak menyela pembicaraan, mencari perhatian, bahkan sengaja menjaga jarak dari Nara dan Kei. Hanya ingin fokus dengan tumpukan berkas di atas meja. Ada jadwal meeting, proposal kerja sama, laporan campaign, dan dokumen internal marketing tersusun di hadapannya. Sydney membuka kalender kerja di komputer.“Meeting dengan klien jam sebelas, evaluasi campaign jam satu, lalu briefing tim jam tiga,” gumamnya sambil mencatat beberapa agenda ke tab. Semua harus diperiksa sebelum diserahkan kepada Marketing Director.“Sydney, ini materi presentasi untuk meeting sore. Pak Direktur minta semuanya sudah siap sebelum jam dua.” Seorang staf marketing datang membawa map, lalu meletakkan di atas meja.“Baik. Aku periksa nanti setelah laporan jadwal meeting.” Sydney berdiri menggenggam tab di tangan.“Kamu bisa kan? aku tinggal dulu kalo butuh bantuan panggil aja.” Staf mengetuk berkas yang t







