แชร์

Kematian peran antagonis

ผู้เขียน: safanida
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-22 22:09:37

Sydney menghela nafas lega, karena ditempatkan sebagai sekretaris Marketing Director. Dia harga berusaha agar tidak menyela pembicaraan, mencari perhatian, bahkan sengaja menjaga jarak dari Nara dan Kei. Hanya ingin fokus dengan tumpukan berkas di atas meja. Ada jadwal meeting, proposal kerja sama, laporan campaign, dan dokumen internal marketing tersusun di hadapannya. Sydney membuka kalender kerja di komputer.

“Meeting dengan klien jam sebelas, evaluasi campaign jam satu, lalu briefing tim jam tiga,” gumamnya sambil mencatat beberapa agenda ke tab. Semua harus diperiksa sebelum diserahkan kepada Marketing Director.

“Sydney, ini materi presentasi untuk meeting sore. Pak Direktur minta semuanya sudah siap sebelum jam dua.” Seorang staf marketing datang membawa map, lalu meletakkan di atas meja.

“Baik. Aku periksa nanti setelah laporan jadwal meeting.” Sydney berdiri menggenggam tab di tangan.

“Kamu bisa kan? aku tinggal dulu kalo butuh bantuan panggil aja.” Staf mengetuk berkas yang tadi sebelum pergi. “Jangan lupa loh yaa.”

Sydney kembali mengecek kalender memastikan tidak ada perubahan jadwal yang perlu diperbaiki. Sydney berjalan menuju ruangan Yoriko sebagai Marketing Director. Setelah mengetuk pintu dan mendengar sahutan dari dalam, dia memutar knop perlahan.

“Saya mau mengingatkan, nanti ada meeting dengan klien pukul sebelas di Caffe Amore.”

Yoriko hanya menoleh sekilas dari layar laptop. “Baik, terima kasih sudah mengingatkan.”

Sydney mengangguk. “Sama-sama, Pak.”

Dia menutup pintu kembali tanpa banyak bicara.

“Oke. Satu tugas selesai.” Sydney melirik jam di pergelangan tangannya.

“Masih ada waktu sebelum meeting.” Dia berbelok menuju pantry.

Sydney mematung begitu pintunya dibuka, aroma kopi yang langsung menyambutnya. Ruangan itu cukup tenang. Ada suara mesin pendingin dan bunyi air dari dispenser.

“Ini kayak deja vu …,” ucapnya mengamati ob sedang mengaduk kopi. “ Tapi di mana… ini salah satu adegan di cerita.” 

Sydney bergerak mundur, namun baru satu langkah kakinya tidak bisa dikendalikan. Semua itu bergerak di luar kendali. 

“Mbak, buat kopi untuk siapa?” Sydney bergerak mengambil gelas dari ob.

“Itu buat Pak Nara,” ucap OB dengan panik, berusaha mengambil kembali tapi Sydney menepis tangan dengan keras.

“Jangan. Jangan lakukan ini,” batin Sydney dengan membelalak. Dia berusaha menarik tangannya kembali.

Kei masuk sambil membawa ponselnya. Tatapannya langsung jatuh pada gelas yang sedang berada di tangan Sydney.

 “Aku mau mengambil kopi yang tadi dibuat untuk Pak Nara.” Kei berjalan mendekat. “Oh, kamu juga di sini?” 

Sydney langsung menoleh. Ingatan tentang adegan dalam novel kembali muncul. Kei seharusnya mengambil kopi itu, lalu memberikannya kepada Nara. Sydney tahu persis apa yang akan terjadi setelahnya. Kali ini dia tidak akan membiarkannya.

“Ini punyaku lagian yang pantas kasih ini ke Nara cuma aku,” kata Sydney cepat.

Kei mengerutkan kening.

“Punyamu? Bukannya itu kopi yang aku buat tadi cuma tadi keburu mau ke toilet.”

Sydney terdiam sesaat. “Sekarang sudah jadi punyaku.”

“Kenapa kamu tiba-tiba ….” Kei terdiam saat suara Nara terdengar dari luar pantry.

Keduanya menoleh melihat punggun Nara berjalan melewati pintu pantry tanpa berhenti. Punggungnya semakin menjauh menuju koridor.

Sydney menatapnya, jantungnya berdegup kencang ini kesempatan terakhir. Kalau Nara terus berjalan, adegan berikutnya akan berubah. Sydney menggenggam gelas itu erat. Langkah dengan mantap mengikuti Nara. Tangannya sendiri tiba-tiba terulur seperti hendak memanggil Nara.

“Ini ga boleh terjadi.” Sydney mulai panik otaknya bekerja cepat.

Dia sengaja melepaskan gelas dari tangan. Suara gelas yang jatuh menghantam lantai dan pecah. Kopi tumpah membasahi lantai membuat Nara langsung berhenti. Dia perlahan menoleh ke arahnya. Tatapannya dingin dan sulit ditebak.

“Sydney!”

Sydney menatap pecahan gelas di kakinya, lalu menghembuskan nafas lega. Tidak ada kopi yang diberikan. Tidak ada adegan seperti dalam novel. Alurnya berubah.

“Kamu sengaja menjatuhkannya?” ucap Nara ketus dengan tatapannya dingin. Sydney membeku, pertanyaan sederhana itu membuat tengkuknya meremang.

“Enggak. Tanganku tadi tiba-tiba licin.” Dia tersenyum kaku.

“Begitu?” Nara menatap pecahan gelas di lantai, lalu kembali menatap Sydney.

“Iya. Aku benar-benar ga sengaja.” Sydney menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. 

Kei buru-buru mengambil langkah mendekat.

“Biar aku yang bersihkan. Kamu jangan bergerak dulu, nanti kena pecahannya.”

“Nggak perlu. Aku bisa sendiri.” Sydney langsung jongkok sebelum di dahului Kei. 

Nara masih berdiri memperhatikan perempuan itu memunguti pecahan gelas yang berserakan. Ekspresi wajahnya tetap datar, seolah kejadian itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Nara hendak memanggil staf untuk membersihkan sisanya, tetapi matanya menangkap setetes darah jatuh di antara pecahan kaca.

“Sydney, kamu mimisan,” ucapnya tetap tenang. Namun, ada sedikit kekhawatiran yang terselip di balik tatapan matanya.

Sydney mengernyit. Tangannya refleks menyentuh hidung. Dia melihat darah di ujung jarinya.

“Aku bahkan nggak ngerasa.” Wajahnya berubah bingung.

“Sydney, bersihkan pakai ini.” Kei dengan cepat mengambil tisu di sekitarnya, lalu menyerahkan ke Sydney.

“Aku harus balik ke pantry,” gumam Sydney sambil mengelap hidungnya. Namun Nara lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.

“Untuk apa? biarin nanti ada yang akan membersihkannya. Kamu masuk keruangan ku.” Nara menarik Sydney secara paksa.

“Nggak mau, aku masih ada urusan.” 

Sydney menekan hidung dengan jari menahan darah untuk keluar.

“Saya cuma tidak mau sekretaris Marketing Director saya pingsan di tengah kantor.”

Sydney mendecak pelan.

“Cara ngomong kamu memang selalu menyebalkan.” Sydney menghela napas kesal. Kepalanya mulai berdenyut semakin kuat. Dia memejamkan mata sebentar. Sydney mencoba membuka mata, tetapi ruangan terasa berputar.

“Kamu pucat.” Nara memperhatikannya beberapa detik.

“Memangnya aku peduli?”

“Itu bukan sesuatu yang perlu kamu banggakan.” Nara membuka pintu ruangannya.

Sydney ingin membalas, tetapi pandangannya kembali kabur. Tubuhnya tiba-tiba oleng. Nara langsung berdiri dan menahan bahunya. Sydney mencoba menarik napas, tetapi kepalanya semakin berat. Suara Nara terdengar semakin jauh.

Tubuh Sydney kehilangan tenaga jatuh ke arah Nara. 

“Kamu benar-benar merepotkan.” Nara segera menggendong Sydney masuk ke dalam. Satu kakinya mendorong pintu hingga tertutup rapat.

Ruangan kembali sunyi. Sydney tidak tahu berapa lama kesadarannya menghilang. Namun ketika membuka mata, dia tidak lagi berada di dalam kamar. Nafasnya terdengar terburu-buru. Sydney menunduk dan baru menyadari dirinya sedang berlari tanpa alas kaki di atas lantai yang dingin dan kotor.

“Aku di mana?” Sydney melihat sekeliling, bahkan dinding terlihat ada bekas gosong karena terbakar.

Dia menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa. Hanya lorong panjang yang seakan tidak memiliki ujung. Lampu-lampu di atas kepalanya berkedip tidak beraturan, membuat bayangan di dinding ikut bergerak.

“Ada siapa di sana?” Sydney mempercepat langkah. Tubuhnya seperti tahu bahwa dia harus pergi sejauh mungkin dari tempat itu.

Sydney menoleh, ruangan itu tetap kosong. Namun tidak lama terdengar suara semakin dekat. Setiap langkah kaki yang tegas membuat jantungnya berdegup semakin keras.

“Siapapun itu tolong jangan bunuh aku?” Gumam Sydney meremas dressnya. 

“Tunggu … bunuh? apa itu suara langkah Nara.” Sydney menunggu dengan waspada. Namun suara tembakan menggema di sepanjang lorong sebagai jawaban. Sydney kembali berlari sekuat tenaga.

“Sydney!”

Dari kejauhan terdengar suara seseorang berteriak. Suara tembakan kembali menggema, terdengar lebih dekat. Sydney tersentak dan berhenti. Dia mengenali suara itu. Langkah melambat dengan nafas memburu melihat ujung lorong ada seseorang berdiri dalam bayangan. Wajahnya tidak terlihat. 

“Elvan, apa itu kamu? tolong aku.” Tangan Sydney bergetar. Dia hanya terdiam, lalu perlahan mengangkat tangan dengan senapan digenggam dengan erat.

“Kamu jelas Nara.” gumam Sydney mundur beberapa langkah. Tatapan itu terlihat begitu dingin.

“Sydney, kamu harus tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan!” ucapnya dengan suara bergetar. 

“Aku bahkan nggak tahu kesalahan apa yang kamu maksud.” Sydney menggigit bibir menahan suara tangis. Bukan penjelasan yang Sydney dapat. Dia justru menarik senapan tanpa ragu, seakan tubuh Sydney sebagai sasaran.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Melawan Takdir Antagonis    Kematian peran antagonis

    Sydney menghela nafas lega, karena ditempatkan sebagai sekretaris Marketing Director. Dia harga berusaha agar tidak menyela pembicaraan, mencari perhatian, bahkan sengaja menjaga jarak dari Nara dan Kei. Hanya ingin fokus dengan tumpukan berkas di atas meja. Ada jadwal meeting, proposal kerja sama, laporan campaign, dan dokumen internal marketing tersusun di hadapannya. Sydney membuka kalender kerja di komputer.“Meeting dengan klien jam sebelas, evaluasi campaign jam satu, lalu briefing tim jam tiga,” gumamnya sambil mencatat beberapa agenda ke tab. Semua harus diperiksa sebelum diserahkan kepada Marketing Director.“Sydney, ini materi presentasi untuk meeting sore. Pak Direktur minta semuanya sudah siap sebelum jam dua.” Seorang staf marketing datang membawa map, lalu meletakkan di atas meja.“Baik. Aku periksa nanti setelah laporan jadwal meeting.” Sydney berdiri menggenggam tab di tangan.“Kamu bisa kan? aku tinggal dulu kalo butuh bantuan panggil aja.” Staf mengetuk berkas yang t

  • Melawan Takdir Antagonis    Wajah milik antagonis

    Uap hangat masih memenuhi kamar mandi saat Sydney mematikan keran shower. Dia mengusap embun yang menempel di cermin besar di depannya. Pantulan wajah itu membuat sedikit tersentak, lalu terdiam terdiam."Aku masih belum terbiasa.” Dia menghela napas panjang, lalu meraih handuk putih tebal yang tergantung di samping wastafel. Setelah membungkus rambut dan tubuhnya, Sydney menggeser pintu bergeser pelan.Langkahnya langsung terhenti. Sydney berkedip beberapa kali karena kaget ada dua orang pembantu sudah berdiri rapi di dalam kamar. Di atas tempat tidur terbentang beberapa set pakaian dari berbagai merek ternama. Di sampingnya berjejer tas kulit, sepatu hak tinggi, perhiasan sederhana, hingga jam tangan yang masih berada di dalam kotak beludru."Ini semuanya disiapin buat aku." Sydney menatap wajah mereka bergantian. Salah satu dari mereka tersenyum sopan."Selamat pagi, Nona Sydney. Kami sudah menyiapkan pakaian untuk kegiatan hari ini." Sydney masih memandangi deretan barang itu."

  • Melawan Takdir Antagonis    Alur yang mulai berubah

    Sydney menarik napas panjang sebelum membuka pintu kamarnya. Seharusnya dia tidak perlu khawatir soal pertemuan ini, tapi tetap saja dia sedikit takut. Saat pintu terbuka pelan menampilkan koridor rumah itu begitu sunyi. Hingga suara langkah kakinya terdengar jelas di antara dinding yang menjulang tinggi."Ini cuma pertemuan biasa. Harusnya ga seburuk itu," batin Sydney menenangkan diri, di ujung kepalanya kembali berdenyut dengan cemas tangannya meraih handrail sebagai tumpuan.Kilasan ingatan bermunculan begitu saja. Meja makan keluarga sudah dipenuhi berbagai hidangan. Aroma sup krim, steak, dan roti panggang memenuhi ruangan. Ayah Sydney duduk di kursi paling ujung sambil membuka beberapa berkas. Di sebelahnya duduk Nara sambil memainkannya gelas berisi air.“Nona, maaf, tadi saya berniat untuk ke atas. Bapak meminta anda turun,” ucap pembantu rumah sambil menunduk sopan. Spontan Sydney menegakkan tubuhnya lagi.“Makasih, tapi jangan panggil nona itu membuat ku canggung, mulai har

  • Melawan Takdir Antagonis    Tubuh yang lain

    “Ini bukan rumah sakit,” ucap Sydney seperti lebih berbicara pada dirinya sendiri.Kei mengernyit. “Ya jelas bukan. Kamu ada di kamar kamu sendiri.“Kamar aku?Aku masuk ke cerita ini.” Sydney menggigit ujung ibu jarinya. Semua terlalu nyata untuk disebut mimpi, tapi rasanya terlalu asing untuk menjadi hidupnya sendiri. Kei buru-buru menarik tangannya, bahkan sedikit menyakitkan karena kekuatan yang diberikan terlalu besar.“Aduh! Jangan sembarangan nyentuh dong! Kamu jelas sengaja kasar sama aku kan.” Sydney menghentakkan genggaman Kei dengan kasar, tatapan mata yang tadinya bingung berubah menjadi marah. “Kamu kenapa sih, Aku cuma khawatir kamu menyakitkan dirimu sendiri.” Kei mundur dengan langkah bingung.Sydney menyeringai dengan nada sinis, meskipun dalam hatinya dia tidak benar-benar marah. Dia merasa harus bertindak sesuai dengan karakter Sydney yang dia kenal dari cerita. “Kamu pasti senang liat aku seperti ini kan? Pingsan dan tidak ingat apa-apa, jadi kamu bisa melakukan a

  • Melawan Takdir Antagonis    Nama yang bukan miliknya

    “Makasih pak.” Satu lembar uang lima puluh ribu dia serahkan.Letta menatap jalan basah di gang menuju rumah Zayn. Lampu kendaraan memantul di aspal yang licin. Kotak kue yang sempat tertinggal dia ambil kembali. Hujan belum benar-benar reda, tapi dia tetap berjalan cepat. Hari ini mungkin akan menjadi momen yang ditunggu mengingat ini ulang tahun Zayn. Hadiah sudah disiapkan dengan matang dan detak jantungnya yang kian tak beraturan. Di balik itu ada harapan yang masih dia genggam.“Kan jadi basah.” Letta mengusap baju dan ujung rambutnya begitu sampai di halaman rumah milik Zayn. “Tapi rotinya aman sih.” Dia mengeluarkan roti dari kardus kemudian memasang lilin dan menghidupkan api dengan hati-hati.“Semoga kamu suka,” gumamnya pelan. Dia menarik napas dalam-dalam. Tangannya terangkat untuk mengetuk. Namun tidak ada sahutan, dia memutuskan melangkah masuk dengan pintu sudah sedikit terbuka. Langkahnya membeku melihat Zayn mencium perempuan lain di depan matanya. Pandangannya turun

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status