LOGINNora menyandarkan tubuhnya yang gemetar ke dinding. Obrolan William dengan kedua pengkhianat itu membuat Nora seakan terlempar lagi ke masa lalu.
Setelah batal menikah dengan Luca, Nora memang mengalami depresi berat, sampai sering kali tanpa sadar melukai dirinya sendiri. Orang tuanya bahkan sudah hampir putus asa kalau saja tidak ada William, yang akhirnya berhasil mengeluarkannya dari masa-masa suram itu. Namun, sekarang... Nora kembali menatap William yang masih berada dalam panggilan video. Ia ingin menanyakan langsung, apa maksud dari semua ini. Kenapa William tega melakukan ini padanya? Padahal pria itu berjanji akan selalu menyayangi dan menjaganya seumur hidup. Nora merasakan dadanya sesak hingga kesulitan bernapas akibat anxiety-nya tiba-tiba kambuh. Sambil menangis, Nora berlari ke kamarnya, mencari obat antidepresan yang telah lama ia tinggalkan, lalu meminumnya dengan tangan gemetar. Nora duduk di sisi ranjang, wajahnya pucat. Suara tawa Zoya dan Luca di ujung telepon terus menggema di telinganya hingga membuat kepalanya berdengung. Untungnya, obat itu dengan cepat bereaksi. Tubuh Nora yang gemetar mulai tenang, dan pikirannya mulai jernih kembali. "Aku nggak bisa melanjutkan pernikahan ini." Karena semua ini adalah palsu. Nora kemudian teringat bahwa ia dan William baru saja mendaftarkan pernikahan mereka kemarin. Ia pun berpikir untuk kembali ke sana dan membatalkan pendaftaran pernikahan mereka. Nora meraih tasnya dari atas meja, berniat pergi ke kantor catatan sipil saat itu juga. Namun, belum sempat ia keluar kamar, William muncul dari balik pintu. Senyuman manis merekah di bibir pria itu. Jika saja Nora belum mendengar semuanya, ia pasti akan berlari ke pelukan William tanpa ragu seperti biasanya. Namun kali ini, tubuh Nora malah menegang dan tidak bergerak untuk waktu yang lama. "Sayang, kamu sudah bangun? Kenapa nggak langsung turun? Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita berdua." William berjalan mendekat, kemudian berlutut di hadapan Nora, tampak perhatian dan lembut seperti biasanya. Nora tidak menjawab, tenggorokannya terasa kering hingga tidak mampu bersuara. Bagaimana bisa ia tidak tahu bahwa William sangat pandai bersandiwara? Apa karena dia seorang pebisnis ulung, hingga sangat pandai bernegosiasi dengan mangsanya? Nora sampai terlena oleh sikapnya yang begitu lembut dan penyabar. Padahal di luar, William adalah bos yang begitu ditakuti, baik oleh bawahan maupun rivalnya. Namun, saat bersama dengan Nora, William seperti anak kucing yang begitu penurut. Itu sebabnya orang-orang selalu menganggap Nora sangat beruntung. Nora pun tidak menyangkalnya. Karena sikap William, Nora percaya dan jatuh cinta padanya. "Sayang, kenapa diam saja? Apa semalam aku keterlaluan? Kamu kelihatan lelah." Jemari panjang dan kokoh William menyentuh pinggangnya yang ramping. Namun, begitu merasakan kehangatan yang familiar itu, Nora justru merasa mual hingga ingin muntah saat itu juga. "William, bagaimana kamu bisa—" Nora hampir saja kelepasan bertanya, wajahnya terlihat kesakitan. Namun, ekspresi Nora rupanya disalahpahami oleh William. "Baiklah, maafkan aku, Sayang. Semalam aku memang tidak bisa mengendalikan diri, kamu pasti sangat lelah." William berbicara dengan bangga, wajahnya tampak puas seolah habis memenangkan lotre. William sepertinya tidak menyadari perubahan ekspresi Nora yang menjadi dingin. "Sayang, kamu benar-benar kesakitan? Mau ke rumah sakit?" Nora hanya diam. William sepertinya menganggap Nora sedang kesal padanya karena tidak bersikap lembut saat malam pertama mereka. William baru saja akan menggendong tubuh Nora, tetapi di saat yang bersamaan, terdengar notifikasi beruntun di ponselnya. Tanpa sengaja, Nora melihat pesan dari grup obrolan dengan nama "Taruhan" dari pop-up notifikasi itu. Melihat nama grup itu, Nora mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik selimut. Apalagi melihat William yang diam-diam tersenyum, sesekali tampak menahan tawa, Nora nyaris tidak bisa menahan air matanya. Tak lama kemudian, William tiba-tiba berkata, "Sayang, ada pertemuan mendadak dengan klien. Kamu ke rumah sakit dengan sopir saja, ya?" Saat itu, Nora langsung tahu bahwa William mungkin akan menemui Zoya dan Luca. Selama tiga tahun terakhir, William memang sering mendapatkan panggilan genting dari klien di tengah kebersamaan mereka. Barulah sekarang Nora menyadari bahwa panggilan genting itu hanyalah alasan William untuk bertemu dengan Zoya dan Luca. Sebelum pergi, William mengecup kening Nora dengan lembut dan posesif seperti biasanya, namun Nora tetap tidak bergerak. Satu-satunya yang ada di pikiran Nora saat ini adalah... membatalkan pendaftaran pernikahannya.Langkah kaki Nora terdengar begitu mantap di atas lantai putih rumah sakit. Setiap hentakannya membuat suasana di dalam ruang rawat itu kian menegang. Clara terkesiap, tidak menyangka menantu yang selama ini dikenal pendiam dan kerap diselimuti rasa takut itu kini berani menatap matanya tanpa gentar. Sementara Zoya mengerutkan kening, senyuman remeh di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa tidak nyaman melihat ketenangan di mata Nora. Nora berhenti tepat di samping ranjang, berdiri tegak dengan dagu terangkat. Ia tidak lagi memandang Clara sebagai seorang ibu mertua yang dihormati, melainkan sebagai wanita paruh baya yang telah termakan oleh kebohongan murahan. "Nyonya Marchetti, Anda bilang saya bertingkah seperti korban yang paling menderita di dunia?" Clara mendengkus, mencoba mempertahankan gengsinya meski sorot matanya mulai menyiratkan kebingungan. "Memang benar, kan? Padahal banyak wanita yang pasangannya selingkuh di luar sana, cuma kamu yang sampai depresi berl
Zoya tidak tampak terkejut ataupun takut melihat sorot mata membunuh yang dipancarkan oleh William. Wanita itu justru menegakkan punggungnya, memasang senyuman tipis penuh arti sebelum melangkah mendekat dengan langkah anggun yang dibuat-buat. "Tenang dulu, Will. Jangan pasang muka menyeramkan begitu," ucap Zoya santai, lalu melirik sekilas ke arah Nora yang berdiri di belakang William dengan tatapan dingin. "Aku ke sini karena dihubungi oleh Tante Clara. Beliau sendiri yang meminta aku datang menemaninya." William mengerinyitkan keningnya, rahangnya mengeras. "Tidak mungkin." "Oh, benarkah?" Zoya terkekeh kecil, sebuah suara tawa yang mencuatkan rasa jengkel di dada siapa pun yang mendengarnya. "Tante Clara bilang, sejak kamu menikah dengan Nora, kamu jadi jarang berkunjung dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah mertuamu. Beliau merasa kesepian, Will. Dan kebetulan, aku dan Luca sedang berkunjung, jadi... ya, kami memutuskan untuk menemani beliau." Nora yang berdiri di bali
Mendengar tawaran ibu mertuanya, William langsung menoleh ke arah Nora. Ada secercah harapan di mata pria itu, mengira bahwa menginap di rumah orang tua Nora bisa menjadi kesempatan emas untuk meredakan kemelut di antara mereka berdua. Namun, sebelum William sempat membuka mulut untuk menjawab, Nora lebih dulu menyela dengan suara tenang namun tegas. "Tidak, Mom. Kami harus pulang malam ini." Elena mengerjap pelan, tampak terkejut dengan penolakan yang begitu cepat. "Loh, kenapa buru-buru? Besok kan akhir pekan, William juga pasti libur, kan, Will?" Elena beralih menatap menantunya untuk mencari dukungan. William tersenyum kaku, melirik sekilas ke arah Nora yang memasang wajah sedingin es. "Ah... iya, Mom. Sebenarnya tidak masalah, tapi sepertinya Nora benar-benar lelah..." "Ya, kami ada urusan penting besok pagi," potong Nora tanpa memberi kesempatan William menyelesaikan kalimatnya. Melihat Nora yang bersikeras, William pun akhirnya mengalah. Pria itu kemudian diam. Se
Nora menggeleng pelan."William tidak ikut."Nora menjawab dengan singkat, tidak seperti biasanya.Meskipun setelah sembuh dari depresinya Nora hampir setiap hari bersama dengan William hingga jarang berkumpul bersama orang tuanya, namun setiap kali mereka bertemu Nora hanya akan menceritakan segala sesuatu tentang William.William begini.William begitu.Tiba-tiba, hari ini putri mereka tampak enggan saat menyebut nama William.Elena sedikit mengerutkan keningnya dan bertanya dengan hati-hati, "Kalian bertengkar?"Nora terdiam, namun tidak menyangkal."Mom, Dad... aku ingin mengatakan sesuatu."Pengakuan Nora membuat Sergio dan Elena saling menatap, wajah mereka dipenuhi kekhawatiran.Namun, mereka tidak ingin mendesak putri mereka. Melihat wajah murung Nora sudah cukup membuat mereka sedih."Kita makan malam dulu, baru cerita, oke?""Ayahmu benar, curhat juga butuh energi."Mendengar jawaban ayah ibunya, Nora pun tidak kuasa menahan tawanya.Orang tuanya paling tahu cara membuatnya
Clara melangkah mendekat, tangannya terangkat seolah ingin melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi Nora. Nora tidak menghindar. Ia berdiri tegak, menatap lurus mata ibu mertuanya dengan sorot penuh perlawanan, siap menerima apa pun untuk membuktikan bahwa dia tidak akan membiarkan siapapun menginjak-injak harga dirinya, terutama di hadapan Zoya dan Luca. Namun, sebelum tangan Clara sempat menyentuh wajahnya, sebuah gerakan cepat terjadi di samping Nora. William dengan sigap menepis tangan sang ibu, berdiri tepat di antara Nora dan Clara. Napas pria itu memburu, sorot matanya menatap sang ibu dengan kilatan emosi yang sulit diartikan. "Cukup, Ma!" suara William memecah keheningan ruangan VVIP itu. Semua orang tertegun. Bahkan Zoya dan Luca tampak terkejut melihat William membela Nora di hadapan ibunya sendiri. Clara membelalakkan mata tidak percaya. "William! Kamu membela perempuan ini dan membentak Mama?!" William menatap Nora sekilas, lalu kembali menatap sang ibu den
William baru saja akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun Zoya lebih dulu bersuara, "Nora, jangan marah sama William. Tante Clara lah yang mengundang kami makan malam bersama hari ini." Wanita berambut pendek itu tersenyum ceria, Nora bisa melihat bahwa Zoya sangat menikmati ekspresinya yang berubah murung. Saat itu, ibu mertuanya, Clara Marchetti, ikut menatap Nora. Tatapannya tampak dingin dan tidak sabar. Padahal, Clara dulu sangat baik dan hangat kepadanya. Entah kenapa, selama setahun belakangan, sikap ibu mertuanya sedikit berubah. Sekarang, setelah melihat Zoya yang tampak begitu akrab dengannya, Nora seketika paham dengan perubahan ibu mertuanya. Tanpa sadar, sudut bibir Nora terangkat sedikit, menyunggingkan senyuman tipis penuh sindiran. "Nora, duduklah. Jangan menatapku dan Zoya seperti musuh. Yang lalu biarlah berlalu, kenapa kamu tidak bisa melepaskan masa lalu?" "Tante Clara benar. Dan lagi, biar ku ulangi, kalau nggak ada kejadian hari itu,







