เข้าสู่ระบบ
"Berbeda denganmu, aku berhasil menikahinya, sekarang mana uang taruhanmu itu?"
Langkah kaki Nora membeku di tempat saat mendengar suara dingin William yang tengah melakukan panggilan telepon dengan seseorang. Nora berdiri terpaku di balik dinding, melihat wajah seseorang di layar ponsel suaminya. Luca Castello, mantan tunangannya yang dulu mengkhianatinya dengan tidur bersama sahabat, Zoya Vance. Belum sempat bereaksi, Nora mendengar suara tawa wanita lagi. "Baiklah, baiklah. Kamu memang hebat, Luca pasti akan membayar uang taruhannya sesuai kesepakatan." Suara tawa Zoya itu membuat sekujur tubuh Nora terasa dingin. Ia mencengkeram dinding pembatas ruangan hingga kuku-kukunya menancap keras, meninggalkan bekas. Nora menatap William yang duduk membelakanginya di sofa, dengan mata memerah, air mata menggenang di pelupuknya seolah bisa jatuh kapan saja. Kenapa di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia ini, Nora malah mendengar kenyataan pahit ini? William melakukan taruhan dengan Zoya dan Luca? Untuk menikahinya? William Marchetti, sahabatnya sejak masa kuliah dulu dan kini menjadi suaminya—orang yang ia anggap sebagai penyelamat hidupnya setelah pengkhianatan keji dari sahabat serta tunangannya dulu—ternyata menyembunyikan rahasia segelap ini di belakang punggungnya. Jadi, selama ini, sikap dan kasih sayang William padanya adalah palsu? Tiga tahun lalu, Nora hampir saja menikah dengan Luca Castello, sahabat yang kemudian menyatakan cinta padanya. Nora, Zoya, Luca, dan William adalah sahabat seerat nadi selama kuliah. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama-sama selama empat tahun, setiap hari. Tepat di hari wisuda, Luca menyatakan cinta sekaligus melamarnya. Nora yang memang memiliki perasaan khusus terhadap Luca pun menerimanya dengan senang hati. Namun, sehari sebelum pernikahan, Nora yang sengaja pulang dinas lebih awal untuk memberikan kejutan pada Luca, malah memergoki tunangannya itu tengah bercinta dengan Zoya di kamar mereka, di rumah pernikahan yang dibelikan untuk Nora dan Luca. Saat Luca dan Zoya melihat kedatangannya, Luca langsung panik dan mencoba menjelaskan. Namun, Zoya justru dengan santai menyesap minumannya dan berkata, "Ups! Maaf, Nora, aku dan Luca sama-sama kesepian, jadi... aku pinjam tunanganmu dulu, ya?" Saat itu, Nora langsung membatalkan pernikahannya dengan Luca detik itu juga. Namun, ia tidak dapat memungkiri bahwa ia sangat hancur akibat pengkhianatan itu. Nora mengalami depresi berat hingga harus dirawat di rumah sakit berkali-kali. Ia juga beberapa kali berusaha mengakhiri hidupnya sendiri. Saat itulah, William datang kembali dalam hidupnya. Memberinya dukungan dan semangat tanpa putus asa. Setiap kali Nora menggores tangannya sendiri, William akan menggores tangannya sebanyak dua kali. Saat Nora menolak untuk minum obat, maka William yang akan menggantikannya minum obat. Saat Nora menolak untuk makan, William juga ikut mogok makan. Hingga akhirnya, Nora memiliki semangat lagi untuk bangkit, dan mulai percaya pada William. Setelah benar-benar pulih, William menyatakan cinta padanya dan melamarnya. Nora menerimanya dengan penuh haru, hingga akhirnya kemarin, tepatnya sehari yang lalu, mereka telah resmi menjadi suami istri. Namun, apa yang terjadi saat ini? William ternyata bekerja sama dengan dua orang yang telah mendorongnya ke dalam jurang kehancuran di masa lalu? Melakukan taruhan untuk menikahinya? Membayangkan semua itu, tubuh Nora seketika gemetar. Ia ingin sekali berlari ke arah William dan menuntut penjelasan, namun akal sehatnya terus mencegahnya. Di saat yang bersamaan, terdengar lagi suara dari ujung telepon. "William, ingat, jangan sampai Nora tahu. Kalau dia tahu, nanti dia mau bunuh diri lagi." Zoya berkata sambil tertawa mengejek, setelahnya terdengar suara Luca, "Tapi, bagaimana kalau dia sampai tahu beneran?" "Nora nggak akan tahu. Kalaupun tahu, dia nggak akan bisa meninggalkanku. Dia sekarang sangat bergantung padaku. Cintanya padaku lebih dalam dari cintanya padamu, Luca." Setelah itu, kembali terdengar suara tawa Luca dan Zoya di seberang telepon. Nora merasa jantungnya kembali dihujam belati hingga berdarah. Rasa sakit dan sesak menjalar ke seluruh tubuhnya. Tiga tahun lalu, ia kehilangan sahabat sekaligus tunangannya. Sekarang, ia juga kehilangan suaminya, dengan cara yang sama: dikhianati.Langkah kaki Nora terdengar begitu mantap di atas lantai putih rumah sakit. Setiap hentakannya membuat suasana di dalam ruang rawat itu kian menegang. Clara terkesiap, tidak menyangka menantu yang selama ini dikenal pendiam dan kerap diselimuti rasa takut itu kini berani menatap matanya tanpa gentar. Sementara Zoya mengerutkan kening, senyuman remeh di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa tidak nyaman melihat ketenangan di mata Nora. Nora berhenti tepat di samping ranjang, berdiri tegak dengan dagu terangkat. Ia tidak lagi memandang Clara sebagai seorang ibu mertua yang dihormati, melainkan sebagai wanita paruh baya yang telah termakan oleh kebohongan murahan. "Nyonya Marchetti, Anda bilang saya bertingkah seperti korban yang paling menderita di dunia?" Clara mendengkus, mencoba mempertahankan gengsinya meski sorot matanya mulai menyiratkan kebingungan. "Memang benar, kan? Padahal banyak wanita yang pasangannya selingkuh di luar sana, cuma kamu yang sampai depresi berl
Zoya tidak tampak terkejut ataupun takut melihat sorot mata membunuh yang dipancarkan oleh William. Wanita itu justru menegakkan punggungnya, memasang senyuman tipis penuh arti sebelum melangkah mendekat dengan langkah anggun yang dibuat-buat. "Tenang dulu, Will. Jangan pasang muka menyeramkan begitu," ucap Zoya santai, lalu melirik sekilas ke arah Nora yang berdiri di belakang William dengan tatapan dingin. "Aku ke sini karena dihubungi oleh Tante Clara. Beliau sendiri yang meminta aku datang menemaninya." William mengerinyitkan keningnya, rahangnya mengeras. "Tidak mungkin." "Oh, benarkah?" Zoya terkekeh kecil, sebuah suara tawa yang mencuatkan rasa jengkel di dada siapa pun yang mendengarnya. "Tante Clara bilang, sejak kamu menikah dengan Nora, kamu jadi jarang berkunjung dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah mertuamu. Beliau merasa kesepian, Will. Dan kebetulan, aku dan Luca sedang berkunjung, jadi... ya, kami memutuskan untuk menemani beliau." Nora yang berdiri di bali
Mendengar tawaran ibu mertuanya, William langsung menoleh ke arah Nora. Ada secercah harapan di mata pria itu, mengira bahwa menginap di rumah orang tua Nora bisa menjadi kesempatan emas untuk meredakan kemelut di antara mereka berdua. Namun, sebelum William sempat membuka mulut untuk menjawab, Nora lebih dulu menyela dengan suara tenang namun tegas. "Tidak, Mom. Kami harus pulang malam ini." Elena mengerjap pelan, tampak terkejut dengan penolakan yang begitu cepat. "Loh, kenapa buru-buru? Besok kan akhir pekan, William juga pasti libur, kan, Will?" Elena beralih menatap menantunya untuk mencari dukungan. William tersenyum kaku, melirik sekilas ke arah Nora yang memasang wajah sedingin es. "Ah... iya, Mom. Sebenarnya tidak masalah, tapi sepertinya Nora benar-benar lelah..." "Ya, kami ada urusan penting besok pagi," potong Nora tanpa memberi kesempatan William menyelesaikan kalimatnya. Melihat Nora yang bersikeras, William pun akhirnya mengalah. Pria itu kemudian diam. Se
Nora menggeleng pelan."William tidak ikut."Nora menjawab dengan singkat, tidak seperti biasanya.Meskipun setelah sembuh dari depresinya Nora hampir setiap hari bersama dengan William hingga jarang berkumpul bersama orang tuanya, namun setiap kali mereka bertemu Nora hanya akan menceritakan segala sesuatu tentang William.William begini.William begitu.Tiba-tiba, hari ini putri mereka tampak enggan saat menyebut nama William.Elena sedikit mengerutkan keningnya dan bertanya dengan hati-hati, "Kalian bertengkar?"Nora terdiam, namun tidak menyangkal."Mom, Dad... aku ingin mengatakan sesuatu."Pengakuan Nora membuat Sergio dan Elena saling menatap, wajah mereka dipenuhi kekhawatiran.Namun, mereka tidak ingin mendesak putri mereka. Melihat wajah murung Nora sudah cukup membuat mereka sedih."Kita makan malam dulu, baru cerita, oke?""Ayahmu benar, curhat juga butuh energi."Mendengar jawaban ayah ibunya, Nora pun tidak kuasa menahan tawanya.Orang tuanya paling tahu cara membuatnya
Clara melangkah mendekat, tangannya terangkat seolah ingin melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi Nora. Nora tidak menghindar. Ia berdiri tegak, menatap lurus mata ibu mertuanya dengan sorot penuh perlawanan, siap menerima apa pun untuk membuktikan bahwa dia tidak akan membiarkan siapapun menginjak-injak harga dirinya, terutama di hadapan Zoya dan Luca. Namun, sebelum tangan Clara sempat menyentuh wajahnya, sebuah gerakan cepat terjadi di samping Nora. William dengan sigap menepis tangan sang ibu, berdiri tepat di antara Nora dan Clara. Napas pria itu memburu, sorot matanya menatap sang ibu dengan kilatan emosi yang sulit diartikan. "Cukup, Ma!" suara William memecah keheningan ruangan VVIP itu. Semua orang tertegun. Bahkan Zoya dan Luca tampak terkejut melihat William membela Nora di hadapan ibunya sendiri. Clara membelalakkan mata tidak percaya. "William! Kamu membela perempuan ini dan membentak Mama?!" William menatap Nora sekilas, lalu kembali menatap sang ibu den
William baru saja akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun Zoya lebih dulu bersuara, "Nora, jangan marah sama William. Tante Clara lah yang mengundang kami makan malam bersama hari ini." Wanita berambut pendek itu tersenyum ceria, Nora bisa melihat bahwa Zoya sangat menikmati ekspresinya yang berubah murung. Saat itu, ibu mertuanya, Clara Marchetti, ikut menatap Nora. Tatapannya tampak dingin dan tidak sabar. Padahal, Clara dulu sangat baik dan hangat kepadanya. Entah kenapa, selama setahun belakangan, sikap ibu mertuanya sedikit berubah. Sekarang, setelah melihat Zoya yang tampak begitu akrab dengannya, Nora seketika paham dengan perubahan ibu mertuanya. Tanpa sadar, sudut bibir Nora terangkat sedikit, menyunggingkan senyuman tipis penuh sindiran. "Nora, duduklah. Jangan menatapku dan Zoya seperti musuh. Yang lalu biarlah berlalu, kenapa kamu tidak bisa melepaskan masa lalu?" "Tante Clara benar. Dan lagi, biar ku ulangi, kalau nggak ada kejadian hari itu,







