Share

Bab 3

Author: Ningresia
"Aku menolak." Suara Emma tidak keras, tetapi cukup jelas. Angin malam membawa suaranya ke telinga semua orang.

Oscar langsung menoleh. Alisnya berkerut rapat.

Emma tidak melihatnya, hanya menatap rival itu. Dia memberikan alasan yang masuk akal. "Siapa yang menyebabkan kekalahan, dia yang bertanggung jawab."

"Emma!" Oscar bergegas mendekat, lalu menggenggam pergelangan tangannya dengan kuat. Dia merendahkan suara, "Jangan bikin masalah."

"Bikin masalah?" Emma mendongak menatapnya. "Kalau berani taruhan, ya harus berani mengaku kalah. Bukannya itu aturan yang kamu buat?"

Jakun Oscar bergerak. Suaranya semakin ditekan rendah. "Kalau kamu ikut dia, memangnya apa yang bisa terjadi? Dia nggak mungkin berani menyentuh istri sah Keluarga Demetrius. Tapi Ayla beda ...."

Dia melirik Ayla yang gemetar di dalam mobil. "Dia nggak punya status, nggak punya latar belakang. Kamu juga tahu mereka segila apa. Dia bisa dipermainkan sampai mati."

Emma menatapnya dalam diam, melihat kegelisahan nyata di matanya. Namun, kegelisahan itu bukan untuk dirinya.

"Jadi ... yang sah memang harus jadi tameng?" tanya Emma pelan.

Napas Oscar tersendat. Emma menarik kembali tangannya. Pergelangannya sudah meninggalkan bekas merah.

"Oscar." Untuk pertama kalinya Emma mempertanyakannya dengan dingin dan tegas, "Aturanmu ternyata tergantung orangnya."

Di kejauhan, rival itu bersiul.

Rahang Oscar menegang, akhirnya dia berbalik. Bayangannya memanjang di bawah lampu, lalu dia mengumumkan dengan keras, "Ayla nggak ikut. Biar istriku yang ikut kalian selama satu jam."

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Aku sendiri yang akan menjemputnya nanti. Kalau sampai satu helai rambut istriku hilang, aku akan minta nyawa kalian semua!"

Dua pria berpakaian hitam langsung mencengkeram lengan Emma dengan kasar. Emma berusaha sekuat tenaga, tetapi tidak bisa melepaskan diri.

Dia hanya bisa melihat Oscar berjalan menjauh. Pria itu membungkuk dan mengatakan sesuatu kepada Ayla yang gemetar di dalam mobil. Ayla mengangguk dengan air mata di wajah, sementara jari-jarinya mencengkeram ujung bajunya erat-erat.

"Mau lari ke mana?" Rival itu berjalan ke hadapan Emma, mencubit pipinya. "Bening banget ya."

Samar-samar, ada tangan yang mulai meraba-raba tubuhnya.

"Oscar!" Emma ketakutan sampai suaranya bergetar. Namun, suaranya terdengar begitu lemah di tengah deru mesin di sekitarnya.

Oscar tetap mendengarnya. Gerakan menutup pintu mobilnya sempat terhenti sejenak. Namun, dia tidak menoleh.

Pintu mobil tertutup dengan bunyi keras, mesin mobil sport meraung, memecah kesunyian malam, melaju pergi.

"Oscar, dasar bajingan!" Mulut Emma dipenuhi bau amis darah. Pinggangnya mungkin sudah memar karena dicengkeram. Rasanya sangat sakit.

Mobil Oscar melaju sampai ke bawah apartemen Ayla. Jari Ayla memainkan sabuk pengaman. Suaranya gemetar saat bertanya, "Kak Oscar, antar aku naik ya? Aku agak takut gelap."

Oscar melirik waktu, masih ada 40 menit sebelum satu jam yang dijanjikan. Dia pun membuka pintu dan turun.

Di dalam lift yang sempit dan sunyi, Ayla berdiri sangat dekat. Aroma parfum bercampur keringat tipis tercium.

Tidak seperti Emma, sosok Ayla selalu membawa aura liar dan murahan. Justru karena itu, Oscar tidak merasa terbebani saat bersamanya, juga lebih lepas.

Pintu terbuka. Ayla tidak menyalakan lampu. Tak lama kemudian, dalam gelap terdengar suara gesekan halus. Ayla tiba-tiba mendekat. "Kak Oscar, terima kasih sudah melindungiku hari ini."

Suara Ayla lembut dan manja. Oscar mengerutkan kening. "Jangan ...."

Namun, sebelum dia selesai berbicara, ujung hidungnya sudah disambut aroma manis krim.

Cahaya bulan yang dingin memperlihatkan penampilan Ayla saat ini. Entah sejak kapan pakaiannya sudah dilepas dan tubuhnya dilumuri krim putih yang mengalir perlahan di kulitnya.

Ayla menjulurkan lidah, menjilat sisa krim di sudut bibirnya. Matanya bersinar tajam dalam gelap. Napasnya menyapu leher Oscar. "Kak Emma pasti nggak pernah main seperti ini sama kamu, 'kan?"

Jakun Oscar bergerak keras. Ingatan tubuhnya bangkit lebih dulu daripada akal. Itu adalah dorongan yang familier, liar, dan lepas. Rangsangan yang tidak akan pernah diberikan Emma padanya.

Oscar mengangkat tangan. Ujung jarinya menyentuh krim yang lengket. Suaranya menjadi serak. "Waktu kita nggak banyak. Aku masih harus jemput istriku."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 18

    Setelah kembali ke dalam negeri, Oscar membeli semua lukisan Emma dengan harga tinggi. Karya-karya awalnya serta seluruh seri "Malam Kutub". Total 14 lukisan. Semuanya disumbangkan tanpa imbalan kepada museum seni.Dalam perjanjian donasi hanya ada satu syarat tambahan. Dipamerkan secara permanen, tetapi tidak boleh mengungkap identitas penyumbang.Kurator menanyakan alasannya.Saat itu, Oscar sudah sangat kurus dan wajahnya pucat. Suaranya sangat pelan saat menyahut, "Lukisan-lukisan ini seharusnya dilihat, tapi nggak perlu diketahui siapa yang membuatnya bisa dilihat."Pada hari penandatanganan, cuacanya cerah. Pena menggores kertas, mengeluarkan suara halus.Setelah menulis huruf terakhir, Oscar mendongak dan melihat ke luar jendela. Musim semi di ibu kota telah tiba, bunga magnolia bermekaran.Dia memandang lama, lalu berkata pelan, "Seperti ini sudah cukup."Emma membeli sebuah rumah tua di Provence. Bangunannya sangat tua, tetapi tamannya luas, dipenuhi lavender dan pohon zaitun.

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 17

    Di luar jendela, hujan turun. Di dalam negeri, hujan akhir musim gugur turun deras, udara dingin menusuk.Oscar teringat lama sekali dulu, juga di hari hujan seperti ini, Emma meringkuk di sofa menggambar sketsa. Saat dia pulang dalam keadaan basah, Emma meletakkan pensilnya dan mendekat, lalu menggunakan handuk untuk mengeringkan rambutnya.Gerakannya sangat lembut. Ujung jarinya sesekali menyentuh dahinya, terasa hangat. Waktu itu, apa yang dia katakan? Sepertinya dia mengeluh bahwa Emma membuang-buang waktunya, lalu mendorongnya dan masuk ke ruang kerja.Sekarang dipikir-pikir, momen seperti itu tak akan pernah ada lagi seumur hidup.Oscar berdiri lama. Suara hujan berderai, seperti hitungan mundur yang panjang.Ayla sudah gila, neneknya telah meninggal, Emma telah pergi. Dia tetap tinggal di sini, menjaga rumah yang penuh dengan kenangan dan dosa, seperti menjaga sebuah makam besar yang sunyi.Oscar tiba di Norwegia saat malam kutub. Dia menyewa sebuah apartemen, setiap hari memand

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 16

    Pada hari persidangan, kursi pengunjung cukup penuh.Ayla mengenakan seragam tahanan yang tidak pas di tubuhnya. Rambutnya dipotong pendek secara asal-asalan, memperlihatkan dagu yang runcing dan kurus.Hakim membacakan satu per satu dakwaan. Menghasut untuk melukai, pemerasan, pencemaran nama baik, pelanggaran privasi ....Saat itu, Ayla tiba-tiba berdiri, mencengkeram pagar sambil berteriak, "Aku melakukan semua ini demi cinta! Aku mencintainya sampai gila! Emma itu siapa? Dia pura-pura angkuh, pura-pura suci, padahal dalam hatinya ...."Petugas menahannya. Ayla meronta, matanya merah, seperti binatang yang terjebak.Dokumen putusan sangat panjang. Karena beberapa kejahatan digabungkan, hukuman penjara menjadi 12 tahun.Saat mendengar 12 tahun, Ayla tertegun sejenak, lalu mulai tertawa terbahak-bahak. Dia tertawa sampai batuk, sampai air mata keluar.Dia menatap ke arah kursi kosong di barisan belakang, lalu bergumam, "Dia bahkan nggak pernah datang menemuiku."Ruang kunjungan tahana

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 15

    Oscar menyewa tim humas s terbaik, memantau seluruh internet selama 24 jam. Semua kata kunci negatif terkait "Emma" dan "mantan istri Tuan Muda Keluarga Demetrius", dalam waktu tiga menit setelah muncul akan ditekan ke bawah atau diganti dengan cara teknis.Beberapa akun pemasaran yang selama ini mencari keuntungan dari membocorkan privasi selebritas pun langsung diblokir dalam semalam.Masalah yang ditimbulkan Ayla lebih banyak. Setelah usahanya memeras ibu Oscar gagal, dia kembali mengalihkan target ke mitra kerja Keluarga Demetrius, mengirim email massal dengan klaim bahwa dia memegang rahasia bisnis Keluarga Demetrius.Oscar langsung menyuruh orang mengumpulkan seluruh rantai bukti, beserta laporan lengkap insiden di arena balap, lalu menyerahkannya ke polisi.Hari ketika pemberitahuan pembukaan kasus turun, Ayla sedang makan mi instan di kamar sewaannya. Saat polisi mengetuk pintu, dia menjatuhkan mangkuknya. Kuah panas tumpah ke seluruh tubuhnya. Dia melarikan diri.Ponselnya ter

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 14

    Pada malam pembukaan pameran di Milan, galeri dipenuhi orang. Emma berdiri di sudut ruang pameran, melihat kerumunan berdiri di depan lukisan.Lukisan berukuran dua kali tiga meter itu memenuhi satu dinding penuh. Di sisi kiri adalah aliran merah gelap yang bergolak. Lapisan cat tebal menciptakan tekstur yang menyesakkan. Di sisi kanan adalah warna putih murni, rata seperti salju pertama.Emma mengenakan gaun panjang hitam sederhana. Rambut panjangnya disanggul longgar, memperlihatkan garis rahang yang tegas.Hans berjalan mendekat dan berbisik, "Art Times ingin mengatur wawancara eksklusif.""Tolak saja, karya ini sudah menyampaikan semua yang perlu dikatakan.""Kamu yakin? Ini kesempatan bagus ...."Emma menoleh menatapnya. Tatapannya tenang di bawah cahaya lampu galeri. "Hans, aku sudah cukup bernilai. Aku nggak butuh itu."Di kejauhan, orang-orang sedang membicarakan identitas pelukisnya."Katanya perempuan, masih muda.""Gaya sekeras ini nggak seperti lukisan perempuan."Emma diam

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 13

    Gelombang besar yang terjadi di internet sama sekali tidak dipedulikan oleh Emma. Dia baru saja menyelesaikan sapuan terakhir lukisan barunya.Dalam wawancara majalah bulanan, ada pertanyaan pribadi yang pernah diajukan. "Setelah melewati badai seperti itu, apakah Anda masih percaya pada cinta?"Emma menatap layar lama sekali. Di luar jendela adalah pemandangan pegunungan kota kecil Swiss di akhir musim gugur. Daun pohon ek sudah berubah menjadi kuning keemasan.Dia teringat bertahun-tahun lalu, ada yang pernah menanyakan pertanyaan serupa. Saat itu, bagaimana dia menjawab? Sepertinya dia tersipu, lalu berkata pelan, "Percaya."Dia mengetik sesuatu.[ Pernah percaya. Kemudian lebih percaya pada cat dan kanvas. Mereka nggak akan mengkhianati, hanya diam menampung semua warna. ]Setelah email terkirim, dia menutup komputer dan masuk ke studio lukis.Di dalam negeri, di rumah Keluarga Demetrius.Ayla yang diserang balik oleh opini publik akhirnya nekat mencari ibu Oscar karena sudah buntu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status