مشاركة

Bab 4

مؤلف: Ningresia
Pada saat yang sama, udara di dalam ruang VIP itu keruh oleh asap rokok dan alkohol.

Awalnya mereka masih menahan diri, hanya memaksa Emma minum dan tangan mereka hanya meraba di sekitar pinggang. Emma menggertakkan gigi, kukunya menancap ke telapak tangan.

Jam di dinding menunjukkan waktu satu jam sudah hampir tiba. Namun, Oscar belum datang.

Si rambut pirang membanting botol minuman. "Masih sok jadi Nyonya Keluarga Demetrius?"

Satu tangannya tiba-tiba menarik kerah baju Emma. "Suamimu lagi sibuk menenangkan gadis itu!"

"Lepaskan!" Emma meraih gelas kaca dan melemparkannya.

Gelas itu pecah, tetapi hanya dibalas dengan tawa yang lebih keras. Para pria itu tak bisa menahan diri lagi. Empat sampai lima tangan menahannya sekaligus. Pakaiannya robek karena tarikan kasar.

"Jangan!" Emma meronta sekuat tenaga. Lututnya menghantam selangkangan salah satu pria, lalu dibalas dengan tamparan keras.

"Rekam yang jelas." Si rambut pirang menarik rambut Emma, membuatnya menghadap kamera. "Biar semua orang lihat gimana Nyonya Keluarga Demetrius memohon belas kasihan ...."

"Dia akan membunuh kalian .... Oscar nggak akan membiarkan kalian begitu saja!"

"Oscar?" Mereka tertawa semakin liar. "Sekarang dia mungkin lagi di ranjang wanita lain, 'kan?"

Layar ponsel didorong ke depan wajah Emma, menunjukkan sebuah foto. Di foto itu, Oscar menekan Ayla ke badan mobil dan menciumnya. Entah kapan itu diambil diam-diam.

Hati Emma menjadi dingin sepenuhnya. Tali terakhir dalam dirinya tiba-tiba putus.

Sampai terdengar suara logam ikat pinggang dibuka, Emma sontak meraih pecahan kaca di lantai dan menempelkannya erat-erat ke lehernya. Darah langsung merembes keluar.

"Sentuh aku lagi." Suaranya sangat serak, matanya memerah. "Aku akan buat kalian semua terjerat kasus pembunuhan."

Para pria itu akhirnya takut. Awalnya mereka memang hanya ingin bersenang-senang. Kilatan lampu kamera ponsel berkali-kali menyala, merekam wajahnya yang pucat dan tampak terhina.

"Yang patuh sedikit." Si rambut pirang mencengkeram dagu Emma. Layar mengarah ke wajahnya yang penuh air mata. "Kalau kamu berani lapor, foto dan video ini cukup untuk menghancurkan nama baik keluargamu."

"Ayahmu baru-baru ini lagi penilaian jabatan, 'kan?"

Jari Emma menegang. Ayahnya adalah profesor universitas, sangat menjunjung integritas. Saat pemakaman kakeknya, karangan duka memenuhi sepanjang jalan.

"Kalau videonya tersebar, menurutmu keluargamu masih punya nama baik?"

Emma tidak berkata apa-apa. Dia membuka pintu dan pergi.

Sementara itu, Oscar sudah tenggelam dalam kesenangan bersama Ayla hingga melupakan segalanya. Saat dia akhirnya ingat pada Emma, itu sudah keesokan paginya.

Oscar mencari seharian penuh, hampir menggila. Sampai malam hari, dia membuka pintu kamar rumah sakit dan melihat Emma duduk di kursi pendamping.

"Kamu ke mana? Telepon nggak diangkat, orang-orang di bar bilang kamu ...." Ucapannya terhenti.

Dia melihat wajah Emma yang berbalik ke arahnya. Pucat, kantong mata yang hitam, samar-samar terlihat bekas merah di pipinya.

Emma menatapnya dengan tatapan kosong. "Kamu puas dengan keadaanku yang seperti ini?" tanyanya pelan.

Jakun Oscar bergerak, tiba-tiba tak bisa berkata-kata. Setelah beberapa saat, dia baru mengernyit dan bertanya, "Ada apa denganmu? Mereka benar-benar berani menyentuhmu?"

Tanpa menunggu jawaban Emma, tatapannya sudah menjadi suram. Dia berbalik sambil mengeluarkan ponsel dan memerintah, "Cek rekaman CCTV bar itu."

Begitu Oscar pergi, Ayla yang sejak tadi menunggu di luar kamar pun masuk sambil membawa keranjang buah. Langkahnya ringan.

"Kak Emma, aku datang jenguk Nenek." Ayla berjalan mendekat, membungkuk melihat Sandra. Suaranya lembut saat berucap, "Nenek, aku Ayla. Cepat sembuh ya."

Setelah mendengarnya, kelopak mata wanita tua itu bergerak. Pandangannya yang keruh pun perlahan menjadi fokus, tertuju pada wajah Ayla.

"Nenek masih ingat aku." Ayla berdiri tegak, lalu menoleh ke Emma sambil tersenyum. "Kak Oscar pernah bawa aku ke sini. Waktu itu Nenek sadar, bahkan sempat mengangguk padaku."

Emma mengangkat pandangannya. "Keluar."

Ayla seolah-olah tidak mengerti, malah duduk di kursi di ujung ranjang. "Kak Emma, jangan marah. Kadang ada hal-hal yang kalau kamu lihat lebih santai, hasilnya akan lebih baik. Pria seperti Kak Oscar mana mungkin cuma punya satu wanita?"
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 18

    Setelah kembali ke dalam negeri, Oscar membeli semua lukisan Emma dengan harga tinggi. Karya-karya awalnya serta seluruh seri "Malam Kutub". Total 14 lukisan. Semuanya disumbangkan tanpa imbalan kepada museum seni.Dalam perjanjian donasi hanya ada satu syarat tambahan. Dipamerkan secara permanen, tetapi tidak boleh mengungkap identitas penyumbang.Kurator menanyakan alasannya.Saat itu, Oscar sudah sangat kurus dan wajahnya pucat. Suaranya sangat pelan saat menyahut, "Lukisan-lukisan ini seharusnya dilihat, tapi nggak perlu diketahui siapa yang membuatnya bisa dilihat."Pada hari penandatanganan, cuacanya cerah. Pena menggores kertas, mengeluarkan suara halus.Setelah menulis huruf terakhir, Oscar mendongak dan melihat ke luar jendela. Musim semi di ibu kota telah tiba, bunga magnolia bermekaran.Dia memandang lama, lalu berkata pelan, "Seperti ini sudah cukup."Emma membeli sebuah rumah tua di Provence. Bangunannya sangat tua, tetapi tamannya luas, dipenuhi lavender dan pohon zaitun.

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 17

    Di luar jendela, hujan turun. Di dalam negeri, hujan akhir musim gugur turun deras, udara dingin menusuk.Oscar teringat lama sekali dulu, juga di hari hujan seperti ini, Emma meringkuk di sofa menggambar sketsa. Saat dia pulang dalam keadaan basah, Emma meletakkan pensilnya dan mendekat, lalu menggunakan handuk untuk mengeringkan rambutnya.Gerakannya sangat lembut. Ujung jarinya sesekali menyentuh dahinya, terasa hangat. Waktu itu, apa yang dia katakan? Sepertinya dia mengeluh bahwa Emma membuang-buang waktunya, lalu mendorongnya dan masuk ke ruang kerja.Sekarang dipikir-pikir, momen seperti itu tak akan pernah ada lagi seumur hidup.Oscar berdiri lama. Suara hujan berderai, seperti hitungan mundur yang panjang.Ayla sudah gila, neneknya telah meninggal, Emma telah pergi. Dia tetap tinggal di sini, menjaga rumah yang penuh dengan kenangan dan dosa, seperti menjaga sebuah makam besar yang sunyi.Oscar tiba di Norwegia saat malam kutub. Dia menyewa sebuah apartemen, setiap hari memand

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 16

    Pada hari persidangan, kursi pengunjung cukup penuh.Ayla mengenakan seragam tahanan yang tidak pas di tubuhnya. Rambutnya dipotong pendek secara asal-asalan, memperlihatkan dagu yang runcing dan kurus.Hakim membacakan satu per satu dakwaan. Menghasut untuk melukai, pemerasan, pencemaran nama baik, pelanggaran privasi ....Saat itu, Ayla tiba-tiba berdiri, mencengkeram pagar sambil berteriak, "Aku melakukan semua ini demi cinta! Aku mencintainya sampai gila! Emma itu siapa? Dia pura-pura angkuh, pura-pura suci, padahal dalam hatinya ...."Petugas menahannya. Ayla meronta, matanya merah, seperti binatang yang terjebak.Dokumen putusan sangat panjang. Karena beberapa kejahatan digabungkan, hukuman penjara menjadi 12 tahun.Saat mendengar 12 tahun, Ayla tertegun sejenak, lalu mulai tertawa terbahak-bahak. Dia tertawa sampai batuk, sampai air mata keluar.Dia menatap ke arah kursi kosong di barisan belakang, lalu bergumam, "Dia bahkan nggak pernah datang menemuiku."Ruang kunjungan tahana

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 15

    Oscar menyewa tim humas s terbaik, memantau seluruh internet selama 24 jam. Semua kata kunci negatif terkait "Emma" dan "mantan istri Tuan Muda Keluarga Demetrius", dalam waktu tiga menit setelah muncul akan ditekan ke bawah atau diganti dengan cara teknis.Beberapa akun pemasaran yang selama ini mencari keuntungan dari membocorkan privasi selebritas pun langsung diblokir dalam semalam.Masalah yang ditimbulkan Ayla lebih banyak. Setelah usahanya memeras ibu Oscar gagal, dia kembali mengalihkan target ke mitra kerja Keluarga Demetrius, mengirim email massal dengan klaim bahwa dia memegang rahasia bisnis Keluarga Demetrius.Oscar langsung menyuruh orang mengumpulkan seluruh rantai bukti, beserta laporan lengkap insiden di arena balap, lalu menyerahkannya ke polisi.Hari ketika pemberitahuan pembukaan kasus turun, Ayla sedang makan mi instan di kamar sewaannya. Saat polisi mengetuk pintu, dia menjatuhkan mangkuknya. Kuah panas tumpah ke seluruh tubuhnya. Dia melarikan diri.Ponselnya ter

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 14

    Pada malam pembukaan pameran di Milan, galeri dipenuhi orang. Emma berdiri di sudut ruang pameran, melihat kerumunan berdiri di depan lukisan.Lukisan berukuran dua kali tiga meter itu memenuhi satu dinding penuh. Di sisi kiri adalah aliran merah gelap yang bergolak. Lapisan cat tebal menciptakan tekstur yang menyesakkan. Di sisi kanan adalah warna putih murni, rata seperti salju pertama.Emma mengenakan gaun panjang hitam sederhana. Rambut panjangnya disanggul longgar, memperlihatkan garis rahang yang tegas.Hans berjalan mendekat dan berbisik, "Art Times ingin mengatur wawancara eksklusif.""Tolak saja, karya ini sudah menyampaikan semua yang perlu dikatakan.""Kamu yakin? Ini kesempatan bagus ...."Emma menoleh menatapnya. Tatapannya tenang di bawah cahaya lampu galeri. "Hans, aku sudah cukup bernilai. Aku nggak butuh itu."Di kejauhan, orang-orang sedang membicarakan identitas pelukisnya."Katanya perempuan, masih muda.""Gaya sekeras ini nggak seperti lukisan perempuan."Emma diam

  • Membuang Bulan Demi Batu Biasa   Bab 13

    Gelombang besar yang terjadi di internet sama sekali tidak dipedulikan oleh Emma. Dia baru saja menyelesaikan sapuan terakhir lukisan barunya.Dalam wawancara majalah bulanan, ada pertanyaan pribadi yang pernah diajukan. "Setelah melewati badai seperti itu, apakah Anda masih percaya pada cinta?"Emma menatap layar lama sekali. Di luar jendela adalah pemandangan pegunungan kota kecil Swiss di akhir musim gugur. Daun pohon ek sudah berubah menjadi kuning keemasan.Dia teringat bertahun-tahun lalu, ada yang pernah menanyakan pertanyaan serupa. Saat itu, bagaimana dia menjawab? Sepertinya dia tersipu, lalu berkata pelan, "Percaya."Dia mengetik sesuatu.[ Pernah percaya. Kemudian lebih percaya pada cat dan kanvas. Mereka nggak akan mengkhianati, hanya diam menampung semua warna. ]Setelah email terkirim, dia menutup komputer dan masuk ke studio lukis.Di dalam negeri, di rumah Keluarga Demetrius.Ayla yang diserang balik oleh opini publik akhirnya nekat mencari ibu Oscar karena sudah buntu

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status