Se connecterSejak pagi, Anindya tidak bisa berhenti memikirkan Arkana. Semalaman ia hampir tidak tidur dengan tenang. Setiap kali memejamkan mata, ia kembali melihat ekspresi Arkana sebelum meninggalkan rumahnya. Wajah yang biasanya tenang itu berubah begitu mendengar ucapannya.Anindya mengembuskan napas panjang. Ia tahu dirinya salah. Bukan karena ia benar-benar menganggap kehamilan sebagai lelucon. Justru sebaliknya. Kalimat itu keluar karena ada sesuatu yang terlalu dalam di dalam hatinya. Kerinduan kepada Arsen. Kerinduan yang semakin hari semakin sulit ia sembunyikan. Namun Arkana tidak mengetahui semua itu. Dan Anindya tidak mungkin menjelaskan alasannya.Bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa ia merindukan seorang anak yang belum pernah dilahirkan dalam kehidupan ini? Bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa dalam ingatannya, Arsen sudah pernah memanggilnya Mama? Tidak. Ia hanya bisa memperbaiki kesalahpahaman itu dengan cara yang sederhana. Meminta maaf.Setelah menyelesaikan beberapa urusan
Malam terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Arkana menatap lurus ke depan sepanjang perjalanan pulang. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari bibirnya sejak meninggalkan rumah Anindya. Sopir yang duduk di depan pun tidak berani mengajaknya berbicara.Arkana sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ia rasakan. Marah? Kecewa? Atau mungkin... Terluka? Ia mengembuskan napas panjang. Kalimat Anindya kembali terngiang di kepalanya.'Atau kita lakukan saja supaya aku hamil dan para kakek tidak punya pilihan lain.'Arkana memejamkan mata sejenak. Seharusnya ia tidak semarah ini. Ia tahu Anindya hanya bercanda. Setidaknya, sebagian dari dirinya memahami itu. Anindya tadi bahkan mengatakannya sambil tersenyum. Tidak ada niat buruk di wajah perempuan itu. Tidak ada keseriusan yang terlihat. Dan kalau dipikir dengan kepala dingin... Kalimat itu memang terdengar seperti candaan spontan setelah mereka membicarakan restu kedua kakeknya.Lalu kenapa? Kenapa dadanya terasa begitu sesak? Ke
Kalau Arkana terlalu mengenal Anindya, maka Anindya juga begitu, terbukti dengan Anindya langsung tahu siapa yang dimaksud. Ia tersenyum kecil. "Kalau jujur?""Memangnya kamu biasanya bohong?""Kadang."Arkana terkekeh. Anindya menyandarkan tubuhnya ke sofa."Awalnya aku takut," jawab Anindya akhirnya."Dengan Kakek Ranaditya?""Iya.""Kenapa?"Anindya berpikir sejenak. "Karena beliau punya aura yang kuat."Arkana mengangguk."Itu memang benar.""Dan beliau lebih banyak mengamati daripada berbicara.""Kamu baru sadar?"Anindya memutar matanya."Ya, baru sekarang."Arkana tersenyum."Itu memang karakter Kakek.""Awalnya aku kira beliau sedang menilaiku.""Memangnya bukan?"Anindya terdiam. "Mungkin."Arkana ikut berpikir. "Kalau Kakek sudah tertarik pada seseorang, biasanya memang begitu.""Mengamati?""Iya."Anindya mengangguk pelan. "Tapi ternyata beliau baik.""Sudah kubilang.""Jangan bangga dulu."Arkana tertawa. Anindya kemudian melanjutkan, "Beliau tidak banyak bicara, tapi perta
Anindya menyadari kesalahan-kesalahannya di kehidupan pertamanya. Dulu... Ia memang terlalu sering menentukan segala sesuatu sendiri. Bahkan dalam hubungannya dengan Arkana. Ia menganggap dirinya tahu apa yang terbaik. Ia menganggap perasaannya sendiri lebih penting daripada perasaan Arkana. Dan pada akhirnya... Ia kehilangan semuanya.Anindya menundukkan pandangan. "Benar, Tuan."Ranaditya tidak mengatakan apa-apa lagi. Beberapa saat kemudian, Tuan Adipati mengajak Arkana membicarakan hal lain. Anindya kembali duduk tenang. Namun pikirannya masih tertinggal pada percakapan tadi. Tanpa sadar, ia mengusap jemarinya sendiri.Ranaditya ternyata tidak sedang mencari kesalahan. Beliau hanya ingin mengetahui bagaimana cara Anindya berpikir. Dan semakin lama... Anindya semakin menyadari bahwa cara lelaki tua itu mengenalnya tidak terasa seperti sebuah pemeriksaan. Lebih seperti... Pengamatan seorang kakek yang ingin memastikan cucunya berada di samping orang yang tepat.Pikiran itu membuat A
Malam semakin larut ketika makan malam akhirnya selesai. Satu per satu pelayan mulai membereskan piring dan gelas yang telah digunakan. Percakapan yang sebelumnya mengalir di meja makan perlahan berpindah menjadi obrolan ringan mengenai hal-hal yang tidak terlalu serius.Anindya masih duduk di samping Arkana. Ketegangan yang tadi memenuhi dadanya sudah jauh berkurang. Ia masih menyadari keberadaan Ranaditya di seberang meja. Namun kini, tatapan lelaki tua itu tidak lagi membuatnya ingin menghindar. Justru ada sesuatu yang mulai membuat Anindya penasaran.Ranaditya tidak banyak berbicara. Tetapi setiap kali beliau bertanya, pertanyaannya selalu terasa memiliki tujuan. Beliau tidak bertanya sekadar untuk mengisi keheningan. Beliau benar-benar mendengarkan jawaban. Dan entah mengapa, hal itu membuat Anindya merasa sedikit dihargai."Kalau begitu, kita pindah ke ruang keluarga saja," ujar Tuan Adipati.Semua orang mulai meninggalkan meja makan. Arkana lebih dahulu menggerakkan kursi rodan
Ruang makan telah disiapkan dengan rapi ketika mereka memasuki ruangan. Meja panjang itu telah tertata dengan berbagai hidangan. Beberapa pelayan berdiri di sisi ruangan, menunggu hingga semua orang mengambil tempat masing-masing.Anindya berjalan di samping Arkana hingga mereka tiba di tempat yang telah disiapkan untuk mereka. Ia kemudian duduk di sisi Arkana. Di seberang meja, Tuan Adipati telah mengambil tempat duduknya. Istri beliau duduk di sampingnya, sementara Ranaditya berada di sisi lain meja.Anindya kembali merasakan sedikit ketegangan. Di ruang keluarga, ia masih memiliki jarak yang cukup dengan Ranaditya. Sekarang mereka duduk dalam satu meja. Tidak ada lagi jarak yang bisa membuatnya merasa aman untuk sekadar mengalihkan pandangan."Silakan makan, Anindya." Istri Tuan Adipati tersenyum kepadanya. "Jangan terlalu sungkan."Anindya membalas senyum itu. "Baik, Nyonya."Tuan Adipati kemudian memastikan posisi Arkana telah nyaman sebelum mengambil tempat duduknya sendiri. Tid
Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal d
Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka
Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe
Sorot lampu memenuhi ballroom Grand Meridia Hotel, memantul dari kristal di langit-langit dan meja-meja kaca yang tersusun mewah. Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mengangkat kartu pemenang dan tersenyum lebar ke arah kamera. “Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah... Anindya Wijaya!” R







