Share

Chapter 157

Author: Nyctus
last update publish date: 2026-09-11 13:16:15

Rafael pulang menjelang siang. Begitu mobilnya memasuki halaman rumah, ia sudah bisa melihat kedua orang tuanya menunggu di ruang tengah. Tidak seperti biasanya, ayah dan ibunya sama-sama belum melanjutkan aktivitas masing-masing. Keduanya jelas sedang menunggunya.

Begitu Rafael masuk, ibunya langsung berdiri. “Bagaimana?”

Pertanyaan itu keluar begitu cepat sampai Rafael hampir tersenyum. “Tenang, Ma.”

Rafael meletakkan kunci mobil di atas meja, lalu duduk di sofa.

“Aku sudah bertemu Nenek Anin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 157

    Rafael pulang menjelang siang. Begitu mobilnya memasuki halaman rumah, ia sudah bisa melihat kedua orang tuanya menunggu di ruang tengah. Tidak seperti biasanya, ayah dan ibunya sama-sama belum melanjutkan aktivitas masing-masing. Keduanya jelas sedang menunggunya.Begitu Rafael masuk, ibunya langsung berdiri. “Bagaimana?”Pertanyaan itu keluar begitu cepat sampai Rafael hampir tersenyum. “Tenang, Ma.”Rafael meletakkan kunci mobil di atas meja, lalu duduk di sofa.“Aku sudah bertemu Nenek Anindya dan Anindya.”Ayahnya ikut mendekat. “Bagaimana tanggapan keluarga Wijaya?”“Baik.” Rafael menghela napas pelan. “Mereka menerima permintaan maafku. Nenek Anindya memang menegurku, tapi beliau tidak menyalahkanku atas apa yang Citra lakukan. Beliau hanya mengingatkanku supaya masalah hubungan kami tidak lagi menyeret Anindya.”Ibunya mengembuskan napas lega. “Syukurlah.”Ayahnya yang sejak tadi terlihat tegang akhirnya bersandar. “Bagaimana dengan Anindya?”Rafael terdiam sesaat. “Dia juga b

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 156

    Pagi itu, Rafael benar-benar datang ke rumah keluarga Wijaya. Ia datang sendirian. Bahkan Rafael meminta sopir menunggunya di luar.Sejak meninggalkan rumah Citra semalam, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ucapan ayah dan ibunya masih terngiang-ngiang.'Kami tidak akan lagi membela Citra.'Dan yang lebih mengganggunya adalah satu hal sederhana. Untuk pertama kalinya, Rafael sendiri tidak memiliki keinginan untuk membela Citra.Ia menekan bel. Tidak lama kemudian, seorang pelayan membukakan pintu dan mempersilakannya masuk. Beberapa menit kemudian, Nenek Anindya datang ke ruang tamu.Rafael langsung berdiri. "Selamat pagi, Nyonya.""Rafael."Tatapan Nenek Anindya tidak sehangat biasanya. Rafael bisa memahami alasannya."Silakan duduk."Rafael duduk. Nenek Anindya mengambil tempat di seberangnya. Tidak ada basa-basi."Saya sudah melihat videonya."Rafael menundukkan kepala. "Saya juga.""Saya tidak akan menyalahkanmu atas tindakan Citra."Rafael mengangkat wajah."Tetapi saya

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 155

    Anindya duduk di atas ranjang dengan punggung bersandar pada kepala tempat tidur. Lampu kamar hanya menyala redup.Di tangannya, ponsel terus menampilkan video yang sejak beberapa jam terakhir memenuhi media sosial. Video Citra menjambak rambutnya. Video ketika Citra menamparnya. Video ketika Rafael berusaha menahan Citra. Video ketika Arkana datang dengan kursi rodanya. Semuanya sudah tersebar. Bukan hanya di lingkungan kampus. Orang-orang yang bahkan tidak mengenal mereka pun kini ikut membicarakannya.Anindya mengembuskan napas panjang sebelum membuka salah satu unggahan yang baru saja muncul. Jumlah tayangannya sudah sangat tinggi. Jarinya bergulir ke bagian komentar. Sebagian besar membelanya."Jelas-jelas Anindya yang diserang duluan. Kenapa malah dia yang disalahkan?""Citra kelewatan banget. Kalau cemburu, bicara, bukan main tangan.""Kasihan Anindya, dia bahkan kelihatan nggak ngerti apa-apa."Anindya membaca beberapa komentar itu tanpa banyak perasaan. Ia bersyukur masih ad

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 154

    Berita mengenai insiden di kantin itu menyebar jauh lebih cepat daripada yang Rafael bayangkan. Belum sampai satu jam setelah ia meninggalkan rumah Citra, video-video yang direkam mahasiswa di kafetaria Universitas Garuda Nasional sudah beredar di berbagai platform media sosial.Awalnya hanya satu video. Kemudian muncul video lain dari sudut berbeda. Ada yang merekam ketika Citra datang dan menarik rambut Anindya. Ada yang menangkap momen ketika tamparan itu mendarat di wajah Anindya. Ada pula video ketika Rafael menahan Citra dan Arkana datang dengan kursi rodanya, lalu berdiri di antara mereka.Potongan-potongan video itu kemudian disebarkan dengan berbagai judul. Nama Anindya mulai dicari. Nama Rafael ikut muncul. Begitu pula nama Arkana.Dan ketika orang-orang mulai mengetahui siapa mereka sebenarnya, berita itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar keributan antar mahasiswa.Pewaris keluarga Mahendra. Pewaris keluarga Pratama. Pewaris keluarga Wijaya. Tig

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 153

    Perkataan Rafael membuat Citra terdiam. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Universitas Garuda Nasional, tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya.Rafael pun memilih diam. Ia hanya menyalakan mesin mobil dan membawa mobilnya meninggalkan area kampus.Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa berat. Tidak ada musik. Tidak ada percakapan. Hanya suara mesin dan kendaraan dari luar yang sesekali terdengar.Rafael masih memikirkan kejadian di kafetaria. Ia tahu Citra cemburu. Tetapi apa yang dilakukan perempuan itu sudah jauh melewati batas.Anindya tidak melakukan apa-apa. Bahkan ketika Rafael datang menemuinya, Anindya justru menyuruhnya memperbaiki hubungan dengan Citra.Namun Citra datang, menarik rambut Anindya, menamparnya, lalu mempermalukannya di depan banyak orang.Dan yang paling membuat Rafael lelah adalah kenyataan bahwa setiap kali ia mencoba menjelaskan, Citra selalu menemukan alasan baru untuk menyalahkannya.Beberapa puluh menit kemudian, mob

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 152

    Rafael menarik Citra keluar dari gedung tanpa mengatakan apa-apa. Langkahnya cepat. Citra beberapa kali mencoba menarik lengannya, tetapi Rafael tidak melepaskannya sampai mereka tiba di area parkir.Begitu sampai di mobil, Rafael membuka pintu penumpang dan mendorongnya masuk."Bisa tidak kamu berhenti membuat keributan?" tanya Rafael, suaranya menahan emosi. Citra menatapnya tidak percaya. "Kamu malah menyalahkanku?"Rafael tidak menjawab. Ia masuk ke sisi pengemudi, membanting pintu, lalu menyalakan mesin. Namun tangannya masih menggenggam kemudi dengan erat.Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Kemarahannya belum turun. Justru semakin terasa. Ia masih bisa membayangkan wajah Anindya ketika ditampar. Masih bisa melihat mahasiswa-mahasiswa yang menonton. Masih bisa mendengar bisikan mereka.Dan yang paling membuatnya muak adalah kenyataan bahwa semua itu terjadi hanya karena Citra tidak mampu mengendalikan emosinya.Rafael akhirnya menoleh. "Kamu sebenarnya mau apa?"Citra lang

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 7

    Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 3

    Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 2

    Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 1

    Sorot lampu memenuhi ballroom Grand Meridia Hotel, memantul dari kristal di langit-langit dan meja-meja kaca yang tersusun mewah. Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mengangkat kartu pemenang dan tersenyum lebar ke arah kamera. “Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah... Anindya Wijaya!” R

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status