Share

Chapter 154

Penulis: Nyctus
last update Tanggal publikasi: 2026-09-08 22:24:11

Berita mengenai insiden di kantin itu menyebar jauh lebih cepat daripada yang Rafael bayangkan. Belum sampai satu jam setelah ia meninggalkan rumah Citra, video-video yang direkam mahasiswa di kafetaria Universitas Garuda Nasional sudah beredar di berbagai platform media sosial.

Awalnya hanya satu video. Kemudian muncul video lain dari sudut berbeda. Ada yang merekam ketika Citra datang dan menarik rambut Anindya. Ada yang menangkap momen ketika tamparan itu mendarat di wajah Anindya. Ada pula
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 245

    Suasana kamar rawat kembali hening. Anindya masih menggenggam tangan Arkana. Ada begitu banyak hal yang baru saja mereka ungkapkan malam itu. Tentang kehidupan pertama, tentang Arsen, dan tentang perasaan yang ternyata tidak sesederhana yang pernah mereka kira. Namun, masih ada satu hal yang ingin Anindya ketahui.Ia mengangkat wajah, menatap Arkana dengan hati-hati. "Arkana, boleh aku bertanya sesuatu?""Tentu.""Setelah kamu mengetahui semuanya... setelah kamu tahu bagaimana aku memperlakukanmu dan Arsen di kehidupan sebelumnya, bagaimana perasaanmu kepadaku sekarang?"Arkana menatapnya.Anindya sedikit mengeratkan genggamannya. "Apakah kamu marah? Atau kecewa?" Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Aku tahu aku sudah meminta maaf. Tapi mengetahui apa yang pernah kulakukan tentu tidak mudah bagimu. Aku tidak akan menyalahkanmu kalau ternyata masih ada kemarahan atau kekecewaan yang kamu rasakan."Arkana terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Pandangannya sempat beralih ke tangan A

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 244

    Arkana terdiam cukup lama. Kemudian ia mengajukan pertanyaan lain."Kalau begitu..."Anindya menunggunya."Jadi itu sebabnya kamu tidak keberatan ketika mengandung anakku?"Anindya tertegun.Arkana menatapnya dengan serius. "Karena kamu sudah tahu bahwa dari kehamilan itu kamu akan mendapatkan Arsen?"Pertanyaan itu membuat Anindya terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Ada begitu banyak kenangan tentang Arsen yang kembali memenuhi pikirannya. Wajah kecilnya, suaranya, tingkah lakunya, dan caranya menyambut Arkana setiap kali lelaki itu pulang."Aku..." Suara Anindya tertahan. Ia menunduk, berusaha mengendalikan perasaannya. "Aku sangat merindukan Arsen."Air mata Anindya akhirnya jatuh. "Aku merindukan anak kita."Arkana memandangnya tanpa berkata-kata."Aku tahu kehamilan itu dulu terjadi dalam keadaan yang tidak seharusnya. Aku tahu pernikahan kita juga berawal dari alasan yang salah. Tapi Arsen tidak pernah menjadi sesuatu yang kusesali." Anindya menggeleng pelan. "Dia anak kita, Ar

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 243

    Anindya tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu ternyata masih menjadi hal yang paling mengganggu pikiran Arkana."Aku sudah menceritakan bagaimana kehidupan kita sebelumnya," lanjutnya. "Aku tahu kamu mengejar Rafael. Kamu menginginkannya, bahkan sampai akhirnya kita menikah karena kamu mengandung anakku."Arkana menarik napas perlahan. "Aku juga tahu kamu tidak benar-benar menginginkan kehidupan bersama kami saat itu."Anindya menunduk. "Aku tahu.""Jadi, ketika kamu mendapatkan kesempatan untuk mengulang semuanya, kenapa kamu justru mendekatiku?" Arkana mengalihkan pandangan sejenak. "Apakah karena Arsen?"Anindya kembali menatapnya."Karena kamu merasa bersalah telah mengabaikan anak kita? Karena kamu ingin memberikan kehidupan yang lebih baik kepadanya? Atau karena kamu takut kehilangan kami lagi?" Arkana kembali menatap Anindya. "Atau ada hal lain yang tidak kuketahui?"Pertanyaan terakhir itu terdengar lebih pelan. Namun Anindya bisa merasakan bahwa Arkana sungguh-sungguh ingin

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 242

    Hari itu, pemeriksaan Arkana terus dilakukan secara bertahap. Beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan dalam posisi berbaring telah diselesaikan. Pemeriksaan lainnya dijadwalkan mengikuti kondisi fisik dan hasil evaluasi awal. Dokter juga menjelaskan bahwa hasil MRI tidak bisa langsung memberikan jawaban mengenai seluruh kemungkinan penyebab gangguan berjalan Arkana. Hasil pencitraan harus dibaca bersama pemeriksaan neurologis, evaluasi fungsi otot dan saraf, serta riwayat kesehatannya. Untuk sementara, mereka masih harus menunggu.Kedua kakek Arkana tetap berada di rumah sakit. Anindya pun tidak meninggalkan kamar rawat. Ketika sore mulai menjelang, Arkana akhirnya kembali beristirahat setelah menjalani serangkaian pemeriksaan. Tuan Adipati memastikan cucunya sudah makan. Tuan Ranaditya menanyakan perkembangan hasil pemeriksaan kepada perawat. Sementara Anindya duduk di samping ranjang, menggenggam tangan Arkana."Seharian ini merepotkan, ya?" tanya Arkana pelan.Anindya menggeleng.

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 241

    Tidak lama setelah dokter meninggalkan kamar, seorang perawat kembali datang membawa beberapa dokumen pemeriksaan. Jadwal pemeriksaan Arkana ternyata sudah mulai disusun. Mengingat kondisinya baru saja pulih setelah sepuluh hari tidak sadarkan diri, dokter memutuskan untuk memprioritaskan pemeriksaan yang bisa dilakukan tanpa mengharuskannya banyak bergerak. Pemeriksaan yang membutuhkan perpindahan posisi atau tenaga lebih besar akan dilakukan setelah kondisi Arkana dinilai cukup stabil."Kami akan memulai dari pemeriksaan darah dan beberapa pemeriksaan neurologis sederhana terlebih dahulu," jelas perawat. "Setelah itu, Tuan Arkana akan dibawa untuk pemeriksaan MRI sesuai jadwal."Arkana mengangguk. "Baik."Anindya yang duduk di samping ranjang segera berdiri ketika perawat mulai menyiapkan peralatan. "Kamu tidak perlu khawatir," katanya pelan kepada Arkana. "Kami semua ada di sini."Arkana meliriknya. "Aku tidak khawatir."Anindya tersenyum tipis. "Bagus kalau begitu."Tuan Adipati y

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 240

    "Benar. Kami perlu memahami apakah ada faktor psikologis yang mungkin memengaruhi kemampuan motorik Anda. Beberapa kondisi dapat melibatkan hubungan antara fungsi sistem saraf dan faktor psikologis. Namun, kami tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa itulah penyebab kondisi Arkana sebelum pemeriksaan fisik dan neurologis dilakukan secara menyeluruh," jelas dokter.Ranaditya menatap dokter dengan serius. "Jadi, pemeriksaan psikologis bukan berarti Anda sudah memastikan kelumpuhannya berasal dari faktor psikologis?""Tepat sekali, Tuan. Itu baru salah satu kemungkinan yang perlu dievaluasi. Kami tidak boleh mengabaikan kemungkinan adanya gangguan fisik yang belum teridentifikasi." Dokter kemudian kembali menatap Arkana. "Jika pemeriksaan menunjukkan bahwa Anda memiliki potensi untuk berdiri dan berjalan, kami akan menyusun program latihan secara bertahap. Fisioterapi akan membantu melatih kekuatan, keseimbangan, koordinasi, dan kemampuan bergerak. Sementara itu, psikolog dapat membantu m

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 6

    Sudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-d

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 5

    Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 4

    Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal d

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 3

    Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status