LOGINPagi itu, Rafael benar-benar datang ke rumah keluarga Wijaya. Ia datang sendirian. Bahkan Rafael meminta sopir menunggunya di luar.Sejak meninggalkan rumah Citra semalam, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ucapan ayah dan ibunya masih terngiang-ngiang.'Kami tidak akan lagi membela Citra.'Dan yang lebih mengganggunya adalah satu hal sederhana. Untuk pertama kalinya, Rafael sendiri tidak memiliki keinginan untuk membela Citra.Ia menekan bel. Tidak lama kemudian, seorang pelayan membukakan pintu dan mempersilakannya masuk. Beberapa menit kemudian, Nenek Anindya datang ke ruang tamu.Rafael langsung berdiri. "Selamat pagi, Nyonya.""Rafael."Tatapan Nenek Anindya tidak sehangat biasanya. Rafael bisa memahami alasannya."Silakan duduk."Rafael duduk. Nenek Anindya mengambil tempat di seberangnya. Tidak ada basa-basi."Saya sudah melihat videonya."Rafael menundukkan kepala. "Saya juga.""Saya tidak akan menyalahkanmu atas tindakan Citra."Rafael mengangkat wajah."Tetapi saya
Anindya duduk di atas ranjang dengan punggung bersandar pada kepala tempat tidur. Lampu kamar hanya menyala redup.Di tangannya, ponsel terus menampilkan video yang sejak beberapa jam terakhir memenuhi media sosial. Video Citra menjambak rambutnya. Video ketika Citra menamparnya. Video ketika Rafael berusaha menahan Citra. Video ketika Arkana datang dengan kursi rodanya. Semuanya sudah tersebar. Bukan hanya di lingkungan kampus. Orang-orang yang bahkan tidak mengenal mereka pun kini ikut membicarakannya.Anindya mengembuskan napas panjang sebelum membuka salah satu unggahan yang baru saja muncul. Jumlah tayangannya sudah sangat tinggi. Jarinya bergulir ke bagian komentar. Sebagian besar membelanya."Jelas-jelas Anindya yang diserang duluan. Kenapa malah dia yang disalahkan?""Citra kelewatan banget. Kalau cemburu, bicara, bukan main tangan.""Kasihan Anindya, dia bahkan kelihatan nggak ngerti apa-apa."Anindya membaca beberapa komentar itu tanpa banyak perasaan. Ia bersyukur masih ad
Berita mengenai insiden di kantin itu menyebar jauh lebih cepat daripada yang Rafael bayangkan. Belum sampai satu jam setelah ia meninggalkan rumah Citra, video-video yang direkam mahasiswa di kafetaria Universitas Garuda Nasional sudah beredar di berbagai platform media sosial.Awalnya hanya satu video. Kemudian muncul video lain dari sudut berbeda. Ada yang merekam ketika Citra datang dan menarik rambut Anindya. Ada yang menangkap momen ketika tamparan itu mendarat di wajah Anindya. Ada pula video ketika Rafael menahan Citra dan Arkana datang dengan kursi rodanya, lalu berdiri di antara mereka.Potongan-potongan video itu kemudian disebarkan dengan berbagai judul. Nama Anindya mulai dicari. Nama Rafael ikut muncul. Begitu pula nama Arkana.Dan ketika orang-orang mulai mengetahui siapa mereka sebenarnya, berita itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar keributan antar mahasiswa.Pewaris keluarga Mahendra. Pewaris keluarga Pratama. Pewaris keluarga Wijaya. Tig
Perkataan Rafael membuat Citra terdiam. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Universitas Garuda Nasional, tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya.Rafael pun memilih diam. Ia hanya menyalakan mesin mobil dan membawa mobilnya meninggalkan area kampus.Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa berat. Tidak ada musik. Tidak ada percakapan. Hanya suara mesin dan kendaraan dari luar yang sesekali terdengar.Rafael masih memikirkan kejadian di kafetaria. Ia tahu Citra cemburu. Tetapi apa yang dilakukan perempuan itu sudah jauh melewati batas.Anindya tidak melakukan apa-apa. Bahkan ketika Rafael datang menemuinya, Anindya justru menyuruhnya memperbaiki hubungan dengan Citra.Namun Citra datang, menarik rambut Anindya, menamparnya, lalu mempermalukannya di depan banyak orang.Dan yang paling membuat Rafael lelah adalah kenyataan bahwa setiap kali ia mencoba menjelaskan, Citra selalu menemukan alasan baru untuk menyalahkannya.Beberapa puluh menit kemudian, mob
Rafael menarik Citra keluar dari gedung tanpa mengatakan apa-apa. Langkahnya cepat. Citra beberapa kali mencoba menarik lengannya, tetapi Rafael tidak melepaskannya sampai mereka tiba di area parkir.Begitu sampai di mobil, Rafael membuka pintu penumpang dan mendorongnya masuk."Bisa tidak kamu berhenti membuat keributan?" tanya Rafael, suaranya menahan emosi. Citra menatapnya tidak percaya. "Kamu malah menyalahkanku?"Rafael tidak menjawab. Ia masuk ke sisi pengemudi, membanting pintu, lalu menyalakan mesin. Namun tangannya masih menggenggam kemudi dengan erat.Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Kemarahannya belum turun. Justru semakin terasa. Ia masih bisa membayangkan wajah Anindya ketika ditampar. Masih bisa melihat mahasiswa-mahasiswa yang menonton. Masih bisa mendengar bisikan mereka.Dan yang paling membuatnya muak adalah kenyataan bahwa semua itu terjadi hanya karena Citra tidak mampu mengendalikan emosinya.Rafael akhirnya menoleh. "Kamu sebenarnya mau apa?"Citra lang
Kursi roda Arkana akhirnya berhenti di tengah kerumunan. Kehadirannya membuat suasana yang sejak tadi riuh mendadak sedikit mereda. Rafael yang masih menahan Citra menoleh. Begitu melihat Arkana, ekspresi wajahnya berubah."Arkana..."Namun Arkana tidak menjawab. Tatapannya hanya tertuju kepada Anindya. Perempuan itu masih berdiri di tempatnya. Wajahnya pucat, satu tangannya masih berada di pipi yang baru saja ditampar. Matanya terus menatap Arkana seolah-olah hanya keberadaan lelaki itu yang mampu membuatnya kembali sadar pada keadaan di sekelilingnya.Arkana mendekat. Anindya tidak bergerak. Ia bahkan tidak menyadari ketika Arkana mengangkat tangannya dan menyentuh pipinya dengan hati-hati."Apakah sakit?" Suara Arkana terdengar rendah.Anindya masih terdiam. Matanya berkedip pelan. Seolah-olah otaknya membutuhkan waktu untuk memproses pertanyaan sederhana itu. Arkana mengusap sangat pelan bagian pipi Anindya yang memerah."Anindya?"Baru kali ini Anindya seperti tersadar. "Ah..."S
Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men
Sudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-d
Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid
Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal d







