Mag-log inAeri memang tidak ingat dengan wajahnya, tapi tidak mungkin dia lupa dengan orang yang membantunya saat bertengkar dengan Rullistya di kantor saat itu. Meski hanya sebuah bantuan kecil, namun bantuan tetaplah bantuan."Kamu ke sini buat ketemu Arvan, kan?" Karena tidak mungkin juga untuk bertemu dirinya. "Sudah lama di sini? sudah makan?" Rentetan pertanyaan Aeri membuat Kyran tidak tahu harus menjawab dari mana."Aeri, dari mana saja kamu, kenapa baru pulang?" Beruntung Arvan datang. "Kamu tahu, sudah berapa lama aku nunggu kamu." Akhirnya pertanyaan itu dapat dia tanyakan ke orang yang seharusnya.Aeri menggaruk pelipisnya, menghindari tatapan Arvan yang menuntut jawabannya. "Itu ..., di jalan tadi macet."Arvan menyipitkan matanya, tidak sepenuhnya percaya dengan alasan Aeri. "Semacet apa sampai dari sore tadi, kamu baru pulang sekarang?""Kemacetan sampai 5 KM jauhnya dari pusat demo." Beritahu Kyran yang tadi juga terjebak kemacetan panjang."Thanks, gentleman sudah ngejelasin."
"Nanti malam aku masak, jadi jangan makan di luar." Pesan Aeri dari sore tadi.Namun sudah mau jam 8 malam, perempuan itu belum juga pulang. Arvan yang terpaksa pulang tepat waktu hari ini hampir 3 jam kelaparan karena satu pesan darinya.Berkali-kali dia menelpon Aeri yang belum juga membaca pesan yang dia kirim. Berkali-kali juga teleponnya berakhir secara otomatis. Saat akhirnya dia memutuskan untuk memesan online saja untuk makan malam. Terdengar suara ketukan dari pintu masuk."Tahu nggak sudah berapa lama aku nunggu, kamu dari mana ...." Arvan kira orang yang mengetuk adalah Aeri, dia tidak mengira ternyata yang datang adalah orang yang tidak dia duga. "Kyran, ngapain kamu ke sini?"Wajah Kyran tidak datar seperti biasanya, tapi kusut seperti baju kotor yang tadi sudah Arvan masukan ke mesin cuci."Kamu tahu, normalnya orang yang datang bertamu disuruh masuk dulu."Arvan menyilangkan tangannya di dada, "Ku rasa kedatanganmu ke sini bukan untuk bertamu."Kyran mendengkus, dia ber
Karena demo, kemacetan mengular sepanjang perjalanan pulang Arika ke apartemen. Hampir tidak ada celah untuknya menyalip di antara mobil yang saling berdempetan."Huft." Dia menghembuskan napasnya, kesal, saat lagi-lagi harus menghentikan motornya."Halo cantik." Belum lagi dia mengalami cat calling dari penumpang mobil yang ada di sebelahnya."Mau ikut Abang, nggak, naik mobil? Kasihan neng cantik macet-macetan di luar."Arika memutar bola matanya, menghiraukan laki-laki di mobil carry yang mengganggunya itu. Saat ada sedikit celah untuk jalan, tidak ragu-ragu dia menjalankan motornya, meski untuk itu, dia harus berdempetan dengan mobil di depannya."Neng nggak usah buru-buru, macetnya masih panjang. Mending neng kenalan aja sama kita-kita." Terdengar suara cekikikan dari teman laki-laki sialan itu.Arika melirik tajam, dia terlalu malas meladenin SDM rendah yang bisanya menggoda cewek."Pul, si neng cantik kayaknya tipe cewek sombong, deh."Si Pul yang dimaksud temannya malah tertaw
"Rik, kalau Aeri nyuruh kamu pose gini, gini." Lian memperagakan pose-pose yang biasanya untuk tema foto ceria dan imut. "Please kamu tolak, usahaku bergantung sama pemotretan ini." Liam memeluk Arika dengan tatapan memelas.Bukannya bersimpati, Arika menatap jijik Lian. Jika bukan karena foto sialannya yang viral itu. Dia tidak mau Kembali jadi model pakaian. Untungnya, gaji untuk modelingnya dua kali lipat lebih banyak dari modeling sebelumnya. Setidaknya dengan gaji sebanyak itu, Arika bisa menahan sikap clingy Liam.Bagi Liam, viralnya foto Arika dan Mita sebagai model pakaiannya tidak dia duga sama sekali. Selain banyak yang bertanya siapa nama model-model cantik itu, lebih banyak yang notice brand fashionnya. Karena itu, tidak menyia-nyiakan kesempatan, Liam akhirnya memutuskan untuk melakukan pemotretan pada style fashionnya yang lain. Tentunya dengan Arika dan Mita sebagai modelnya.Karena itu, pemotretan kali ini tidak boleh lebih gagal dari pemotretan sebelumnya. Apalagi ke
"Cuman lebih satu hari doang.""Waktu bersih-bersih, kamu cuman bersih rumah, tapi aku sama halaman depan dan belakang?""Kamu kan laki-laki, jelas dong bagianmu lebih banyak. Lagian aku yang masak.""Tapi aku yang cuci baju?""Lebih tepatnya yang masukin baju ke mesin cuci." Perjelas Aeri tidak mau kalah."Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu revisi ulang jadwal ini, aku nggak terima.""Eits, ingat perjanjian kita semalam, nggak boleh protes, dan kamu setuju soal itu.""Tapi ini nggak adil!""Dan aku nggak peduli, kamu sendiri yang setuju, jadi jangan banyak protes tinggal jalanin aja.""Aeri, kamu ...,""Sudah ya, aku sibuk, bye." Aeri memutuskan panggilan telepon secara sepihak.Ingin rasanya Arvan membanting benda pipih di genggamannya itu. Rasanya kepalanya semakin pusing, tidak lagi habis ini akan ada rapat yang terpaksa harus dia ikuti.Sekali lagi, Arvan membaca pembagian tugas yang dikirim Aeri. Dia menghela napas, mencoba menenangkan dirinya.Saat itu ponselnya kembali berderin
"Oke, dengan ini semua selesai," ucap Aeri pada dirinya sendiri selesai membuat jadwal. Arika yang sejak tadi memperhatikan apa yang dilakukan mbaknya itu, mencuri pandang pada kertas yang sekarang tengah Aeri foto. "Jadwal? Jadwal piket? Kayak anak SD aja, buat gituan." Arika dengan tenang menyeruput es tehnya. "Kalau sudah berumah tangga, mengatur jadwal pembagian tugas itu penting." "Ya, ya, ya ..., terserah mbak saja." Jika menyangkut urusan rumah tangga Aeri, Arika sudah tidak mau ikut campur. Setidaknya sekarang wajah mbaknya itu kembali cerah seperti biasa, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang datang ke studio langsung mengeluh karena rumah kotor lah, suaminya yang nggak mau bantu urusan rumah tangga lah, suaminya inilah, itulah, and lah, lah, lah ... yang f*ck mah kata Arika buat tahu. "Morning ladies." Lian yang datang ke studio dengan wajah ceria menambah beban mental yang dirasakan Arika. "Satu lagi orang bodoh berwajah ceria." Arika memutar bola matanya. Dia tidak
Berbeda dengan Arvan yang tidak bisa tertidur nyenyak, maka berbeda halnya dengan Aeri. Selimut hangat yang menyelimutinya membuat Aeri tidak mau beranjak dari sana, hingga sesuatu tiba-tiba memeluknya yang masih terbungkus selimut.“Hei, Arvan! Aku kan sudah bilang kalau kamu tidak juga bangun pa
“Kalau begitu, kenapa kamu tadi setuju menikah denganku? Berarti, kau bodoh?” Arvan kini ikut mencondongkan wajahnya. Tak lupa, dia menaruh jarinya di dahi Aeri. “Dan, tolong berhentilah mengumpat!”“Sayangnya, kenyataannya memang seperti itu. Aku tadi terlanjur berbuat bodoh. Tapi, aku tidak mau
Keduanya sontak menoleh ke arah sang ibu yang sedang menatap Aeri tajam.“Ya, ampun! Ucapannya kasar sekali …. Kenapa bisa perempuan seperti itu menjadi bagian keluarga Candra?”“Padahal bercadar, tapi ternyata bukan perempuan baik-baik.“Percuma memakai jilbab, tapi tidak bisa menjaga mulutnya.”B
“Bagaimana saksi, sah?”Begitu penghulu mengatakannya, status Aeri berubah.Dia bukan lagi teman Arvan, melainkan istrinya.Aeri lantas menoleh pada pria di sampingnya itu yang terlihat tampan dan mengenakan setelan baju pengantin warna putih–senada dengan gaun yang digunakan Aeri saat ini.Meski t







