LOGIN“Sudah aku bilang, kemarin malam puncak kenikmatan antara kita berdua tetapi kamu nggak mau mengakui kalau itu bagian dari rasanya,” ucap Evanzo dengan sedikit bercanda.
Keia terdiam sedikit ada penyesalan dalam hidupnya, bagaimana tidak dia baru pertama kali merasakan kehidupan yang sebenarnya enggan untuk dia rasakan kembali. Tatapan kosong yang justru mendominasi keheningan antara sepasang kekasih yang tidak saling mencintai. Meskipun rasanya masih membekas jelas di dalam otaknya bagaimana tentang ekspresi Evanzo ketika berada di atas tubuhnya. “Hadiah karena kamu menuruti kemauan aku, nanti sore kita pergi ke kedai es krim ya. Itu kan kesukaan kamu, aku tahu itu salah, aku minta maaf ya, janji jangan ditekuk lagi wajahnya karena itu sangat jelek sekali, Keia,” teriak Evanzo yang sedikit membuat Keia semakin tidak nyaman. “Kenapa? Banyak cara untuk menikmati hidup, tapi kamu lebih memilih menjadi laki-laki brengsek. Kalau hidup aku berantakan sepenuhnya tanggung jawab ada di kamu!” Seru Keia dengan menaikkan nada bicara. Tanpa ingin memperpanjang, justru Evanzo mendekap hangat tubuh wanitanya yang sedang menggerutu. Tentu, sebenarnya dia masih ingin melakukan itu di kemudian hari. Menurutnya itu kenikmatan duniawi yang jelas melebihi segala apa pun. Pikiran itu dia tepiskan sementara untuk kembali menenangkan hati sang wanita. “Kamu tenang saja, pertanggungjawaban itu pasti ada. Hidup kamu kedepannya akan aman bersamaku. Tanpa aku kerja pun harta kekayaan itu masih mengalir dari orang tuaku.” Evanzo mengecup bibir Keia. Tangan kekar itu mengelus puncak kepalanya. Harus percaya atau sebaliknya Keia memilih bungkam, enggan menyampaikan perkataan Evanzo. Tubuh Keia masih berada di dalam dekapan itu, sedikit membuat dia sesak. Rumah besar nan hampa hanya terisi dua manusia saja, sejak 2 tahun lalu Evanzo menetap di salah satu rumah orang tuanya. Meski usianya matang untuk bekerja dia lebih berdiam untuk menikmati harta. Tentu, dia merupakan anak tunggal yang kaya raya, membuat dia lebih arogan dan berani terhadap orang di sekitar. Keia berontak dan melepaskan dekapan itu, dia meletakkan tubuhnya di sofa empuk. Disusul Evanzo tanpa memberi jeda untuk Keia merasa sendiri. “Evan, aku butuh waktu sendiri, loh, walaupun kita ada ikatan tapi rasa cinta apalagi gairah itu sama sekali ngga terlintas dalam hidupku. Di sini aku hanya bertahan hidup, tetapi aku membuat semua berantakan,” ucap Keia pelan. Dia menghela napas kasar dan memejamkan matanya erat. Tangan kekar menarik dagu Keia hingga bisa dia tatap wajahnya dengan sepenuh hati. Lalu dia berkata, “Keia, kenapa masih membahas soal itu. Sudah aku jelaskan berulang kali, aku tetap bertanggung jawab atas semua hidup kamu. Namun untuk kali ini aku belum bisa untuk menikahi kamu, karena banyak yang harus aku urus.” “Apa aku harus mempercayaimu? Tidak Evan, ucapan kamu belum bisa membuat hatiku tenang, banyak sekali keraguan yang hadir dalam hidup aku. Apalagi kamu celap celup di banyak wanita, apa kamu nggak pernah memikirkan kesehatan aku?” tanyanya kesel. “Selama melakukan aku pakai pengaman, Keia. Hanya sama kamu saja aku terbuka,” jawab Evanzo. Tetapan lekat tersebut justru membuat Keia enggan membalas tatapannya. Tentu membuat Keia merasa kebakar seluruh tubuhnya dan ingin sekali menampar laki-laki yang masih saja berada di sampingnya. Selang beberapa menit, Evanzo menarik lengan Keia untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia memastikan kalau wanitanya itu segera ganti pakaian yang lebih cantik. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, di mana Evanzo berjanji untuk mengajak Keia pergi ke kedai es krim yang berada di pusat kota. Tatapan dia tajamkan ketika sehelai benang yang berbentuk bahan itu terlepas dari tubuh putih nan bening. Matanya semakin terbelalak dan terfokus pada bagian atas. Si kembar lagi-lagi membuat pikiran nakal Evanzo berkembang. Bagian ujungnya terlihat tegak, menandakan langsung merespon apa yang diperhatikan oleh Evanzo. Tanpa seizin yang punya, dia menarik lembut memainkan si cokelat muda itu. Kemudian tangannya menjalar dan mendominasi seluruh permukaan empuk. Sial, ini benar-benar kenikmatan yang mengalir lembut dari ujung kepala hingga kaki. “Sakit, seperti maling tiba-tiba merampasnya!” Kesel Keia dengan perbuatan Evanzo. Dia segera menepis tangan kekarnya Evanzo dan mempercepat gerakannya agar tubuhnya itu kembali terbalut oleh pakaian. Dalam hati dia menangis, menjerit, bahkan menyesali hidupnya sendiri. Keia justru semakin terikat oleh keberadaan di tempat tinggal Evanzo. “Maaf, Keia habisnya menggoda sekali, meski tubuhmu mungil tetapi si kembar itu justru tumbuh lebih besar. Jika ada kesempatan aku ingin menyentuh kembali, ya,” ucap Evanzo sembari memohon. Setelah Keia rapi, kemudian dia melangkah menjauh untuk mengganti pakaian juga. Tanpa menunggu waktu lama, mereka segera berangkat menuju kedai es krim. Dalam perjalanan Keia hanya terdiam, memilih untuk tidak mengeluarkan kata-katanya, mungkin menurut dia percuma. Dikarenakan akan tetap kalah oleh busuknya perkataan Evanzo. Sepanjang mobil itu melesat keduanya saling hening dan membuat rasa semakin canggung. Setelah melewati belokan, akhirnya mereka sampai di kedai es krim tersebut. Pertama kali yang Keia lihat, megah dan ramai. Evanzo menuntun tangan lembut itu untuk masuk ke dalam. Dia memasan apa yang sudah diminta oleh wanitanya itu. Meski masih dengan wajah yang cemberut Keia sedikit merasa senang karena bisa menikmati semua yang ada, apalagi semuanya gratis. Walaupun hidupnya menjadi taruhan untuk dia tetap bertahan. Evanzo kembali dengan kedua tangan yang sudah terisi oleh es krim strawberry. Keia menarik salah satunya dan segera dia nikmati. “Terima kasih, Evan, sudah memberi aku ruang untuk merasakan kebahagian ini. Aku hidup dari keluarga miskin, untuk sekedar makan pun rasanya sulit, apalagi untuk makan es krim seperti ini,” ucap Keia, membuat tatapan Evanzo beralih dan menatapnya penuh kelembutan. “Sudah aku bilang, apa yang membuat kamu bahagia semua akan dilakukan. Jika kurang pesan lagi saja, aku sama sekali tidak takut kehabisan uang. Kamu merupakan prioritas aku saat ini.” Alunan musik mulai menjalar ke dalam telinganya, membuat mereka terbawa suasana dan menikmati segala yang ada. Pertama kalinya Evanzo mengajak Keia pergi ke tempat seperti ini, dikarenakan mereka baru satu bulan bersama. Dalam kurung waktu tersebut banyak penyesuaian yang dilakukan Keia, mungkin dia hanya belum terbiasa dengan kehidupan yang cukup membuat rasa trauma itu muncul. Sesekali Evanzo menyentuh sudut bibir Keia yang dipenuhi oleh es krim coklatnya itu, semakin di tatap semakin dia menemukan kecantikan yang rupawan. Bulu mata lentik dengan bola mata yang indah. Perpaduan yang sempurna untuk wanita seukuran Keia. Dengan penuh kesadaran, senyuman itu mengukir kedua sudut bibirnya. “Keia, cantik.”“Boleh nanti saja pulangnya? Aku masih rindu, Babe. Tolong berikan waktu beberapa jam lagi,” rengek wanita itu dengan tatapan memohon. “Nggak bisa aku masih ada urusan, Babe. Nanti kalau sudah waktunya kita akan bertemu kembali, mohon gunakan rasa sabar kamu, ya,” jawab Evanzo membuat wanitanya merasa sedikit sakit hati. Mendengar tanggapan Evanzo wanita itu mempercepat pergerakannya supaya bisa rapi lebih awal, sedikit rasa kecewa namun dia harus menerima kenyataan yang sebenarnya terjadi. Dilakukan meskipun sedikit terpaksa karena dia masih ingin bersama kekasihnya. Dengan raut wajah cemberut dia masih mempersiapkan barang-barangnya agar tersusun dalam tas yang dia pakai. Sementara Evanzo masih dalam posisi yang sama, sesekali dia memperhatikan wanitanya. Evanzo pun sadar dengan tingkah lakunya, namun jika diteruskan akan terjadi pertengkaran hebat akibat dirinya tidak ingin ditinggal berpisah. “Babe.” “Masih ada lain waktu untuk berjumpa, Babe. Sudah siap? Sekarang kita b
Evanzo sudah berada di kafe untuk menunggu seseorang yang sudah berjanji bertemu beberapa waktu lalu. Pakaian rapi membuat dia kelihatan lebih berwibawa, baju putih dengan setelan levis. Sesekali dia menyeruput es kopi untuk menemani dalam waktu sendirinya. Habis setengah cup, ternyata seorang wanita datang langsung menghampiri Evanzo, tanpa diperintah dia segera duduk. “Babe, maaf sudah membuat menunggu lama. Apa kabar? Kita sudah lama nggak jumpa,” ucap wanita itu, kemudian dia mengecup bibir Evanzo. “Kabar baik, Babe. Pesan makanan yang kamu inginkan, mengganti semua waktu yang telah kamu lewati sendiri. Aku minta maaf untuk semuanya, karena banyak faktor yang mengharuskan kita jaga jarak,” balas Evanzo. Jarinya mengelus rambut panjang dan halus. Makanan pun langsung dipesan, beberapa waktu makanan mulai terisi di atas meja penuh. Canda tawa mengisi ruangan yang bernuansa aesthetic. Dingin berwarna coklat muda semakin membuat hati jatuh cinta dengan seisinya. Dua sejoli tam
Malam hari tiba, Keia melangkah kaki keluar dari perumahan yang ditempati oleh Evanzo. Mencari angin malam untuk sejenak membuat pikiran tenang. Dia keluar pun tanpa sepengetahuan Evanzo karena benar-benar ingin merasa sendiri. Dia pun masih kepikiran akan kejadian tadi pagi yang justru membuatnya semakin menyesali segala perbuatan tersebut. Angin mulai berhembus membuat rambut sepanjang bahu ikut beterbangan. Sepanjang jalan cukup ramai kendaraan bermotor ataupun mobil. Mereka melaju dengan tenang hingga membuat Keia semakin menikmati sekitar. Langkahnya menjauh hingga berada di luar perumahan, matanya mencari kenan ke kiri. Banyak tukang jualan berjajar dengan rapi, satu persatu dia telusuri hingga menemukan satu makan yang dia pengen. “Pesan satu porsi, ya,” ucap Keia kepada pedagang pecel lele. Pesanan sudah Keia dapat dia pun segera melanjutkan perjalanan, masih mencari makanan yang dia inginkan lagi. Malam semakin kelabu dia pun memilih untuk duduk sejenak di depan warung
Besok harinya dirasa sudah cukup tenang, Evanzo pun menghampiri Keia yang masih mengurung dirinya dalam kamar. Sakit hatinya akibat kebohongan Evanzo masih terasa dalam relungnya. Namun Evanzo tidak sedikitpun merasa bersalah atas perbuatan yang keji. Dia telah mempermainkan perasaan bahkan jiwanya pun dia rusak begitu parah. Jelas, membuat trauma itu hadir. Langkah kakinya semakin membawa dia berada di kamar Keia. Keia terduduk merenung di ujung tempat tidur, matanya sedikit memerah dan bengkak. Keia terdiam dalam lamunan yang begitu terasa hampa. Evanzo meletakkan tubuhnya samping Keia sambil merangkul wanita itu dari belakang. Tidak ingin berbicara Keia memilih bungkam dan seolah tanpa kehadiran Evanzo samping dirinya. “Keia, maafin aku, ya. Kemarin seolah aku nggak menghargai keberadaanmu. Itu cuma teman doang, kan kamu kekasihku,” ucapnya sedikit bercanda. Evanzo mengusap air mata yang sedikit demi sedikit mulai turun membasahi pipinya. “Lihat aku, Keia.” “Aku mohon, Keia
Merasa jengah di dalam kamar, pertama kalinya Keia berani datang ke kamar Evanzo. Sedikit terkejut dia mendapati Evanzo sedang melakukan video call bersama dengan wanita lain. Bukannya selama ini dia mengakui tidak mempunyai pacar ataupun istri. Namun berbeda dengan ucapan yang pernah dia lontarkan ke Keia. “Evanzo, siapa?” tanyanya sedikit bergetar. Kedua matanya terasa panas. Bukan karena cemburu dia hanya takut Evanzo tidak bertanggung jawab atas apa yang pernah dilakukan. Buru-buru Evanzo mematikan ponselnya kemudian dia melempar sembarang di atas kasur. Laki-laki itu terlihat sedikit gugup. Entah jantungnya terasa berdegup kencang, “S—siapa?” Dia justru bertanya kembali kepada Keia. Keia segera pergi dari kamar, namun sebelum dia beranjak tangannya digapai terlebih dahulu. Sontak wanita itu menghentikan langkahnya, lalu menatap Evanzo sembari melotot. “Sejak awal aku sudah nggak percaya sama kamu, terbukti semuanya hari ini.” “Salah paham, Keia. Kamu hanya salah melih
Bermula chatting di sosial media, berujung menjadi pertemuan tatap muka antara Keia dan Evanzo. Mereka memutuskan untuk bertemu pada hari berikutnya, Evanzo mengajak Keia bertemu di taman yang berada pada pusat kota. Sebelumnya Keia hidup sebatang kara di kerasnya Ibukota Jakarta. Dia memilih ngekos di tempat yang kumuh hanya karena harganya terjangkau. Menunggu besok harinya, mereka datang tepat waktu sesuai perjanjian. Waktu masih menunjukan pukul 4 sore, di mana orang-orang ikut serta memenuhi taman yang menjadi tempat pertemuan mereka. Paras cantik dan rupawan, itulah yang menggambarkan mereka berdua. “Kamu tinggal sama siapa di sini?” tanya Evanzo dengan tatapan lekat. Keia merespon dengan senyuman manis. “Sendiri saja, kedua orang tua aku sudah tiada. Aku juga nggak punya keluarga dekat untuk numpang singgah,” jawabnya sedikit mendatarnya nada bicaranya. Sudut bibir Evanzo menyinggung, tentu saja ada hal yang dia sedang rencanakan. Bukan tanpa sebab, melainkan ada banyak







