Beranda / Romansa / Memuaskan Tanpa Rasa Gairah / Bab 2 - Kencan Pertama

Share

Bab 2 - Kencan Pertama

Penulis: Aleenaaaa
last update Tanggal publikasi: 2026-09-02 10:09:41

“Sudah aku bilang, kemarin malam puncak kenikmatan antara kita berdua tetapi kamu nggak mau mengakui kalau itu bagian dari rasanya,” ucap Evanzo dengan sedikit bercanda.

  Keia terdiam sedikit ada penyesalan dalam hidupnya, bagaimana tidak dia baru pertama kali merasakan kehidupan yang sebenarnya enggan untuk dia rasakan kembali. Tatapan kosong yang justru mendominasi keheningan antara sepasang kekasih yang tidak saling mencintai. Meskipun rasanya masih membekas jelas di dalam otaknya bagaimana tentang ekspresi Evanzo ketika berada di atas tubuhnya.

  “Hadiah karena kamu menuruti kemauan aku, nanti sore kita pergi ke kedai es krim ya. Itu kan kesukaan kamu, aku tahu itu salah, aku minta maaf ya, janji jangan ditekuk lagi wajahnya karena itu sangat jelek sekali, Keia,” teriak Evanzo yang sedikit membuat Keia semakin tidak nyaman.

 “Kenapa? Banyak cara untuk menikmati hidup, tapi kamu lebih memilih menjadi laki-laki brengsek. Kalau hidup aku berantakan sepenuhnya tanggung jawab ada di kamu!” Seru Keia dengan menaikkan nada bicara.

 Tanpa ingin memperpanjang, justru Evanzo mendekap hangat tubuh wanitanya yang sedang menggerutu. Tentu, sebenarnya dia masih ingin melakukan itu di kemudian hari. Menurutnya itu kenikmatan duniawi yang jelas melebihi segala apa pun. Pikiran itu dia tepiskan sementara untuk kembali menenangkan hati sang wanita.

 “Kamu tenang saja, pertanggungjawaban itu pasti ada. Hidup kamu kedepannya akan aman bersamaku. Tanpa aku kerja pun harta kekayaan itu masih mengalir dari orang tuaku.” Evanzo mengecup bibir Keia. Tangan kekar itu mengelus puncak kepalanya. 

 Harus percaya atau sebaliknya Keia memilih bungkam, enggan menyampaikan perkataan Evanzo. Tubuh Keia masih berada di dalam dekapan itu, sedikit membuat dia sesak. Rumah besar nan hampa hanya terisi dua manusia saja, sejak 2 tahun lalu Evanzo menetap di salah satu rumah orang tuanya. Meski usianya matang untuk bekerja dia lebih berdiam untuk menikmati harta. Tentu, dia merupakan anak tunggal yang kaya raya, membuat dia lebih arogan dan berani terhadap orang di sekitar. 

 Keia berontak dan melepaskan dekapan itu, dia meletakkan tubuhnya di sofa empuk. Disusul Evanzo tanpa memberi jeda untuk Keia merasa sendiri. “Evan, aku butuh waktu sendiri, loh, walaupun kita ada ikatan tapi rasa cinta apalagi gairah itu sama sekali ngga terlintas dalam hidupku. Di sini aku hanya bertahan hidup, tetapi aku membuat semua berantakan,” ucap Keia pelan. Dia menghela napas kasar dan memejamkan matanya erat. 

 Tangan kekar menarik dagu Keia hingga bisa dia tatap wajahnya dengan sepenuh hati. Lalu dia berkata, “Keia, kenapa masih membahas soal itu. Sudah aku jelaskan berulang kali, aku tetap bertanggung jawab atas semua hidup kamu. Namun untuk kali ini aku belum bisa untuk menikahi kamu, karena banyak yang harus aku urus.”

 “Apa aku harus mempercayaimu? Tidak Evan, ucapan kamu belum bisa membuat hatiku tenang, banyak sekali keraguan yang hadir dalam hidup aku. Apalagi kamu celap celup di banyak wanita, apa kamu nggak pernah memikirkan kesehatan aku?” tanyanya kesel.

 “Selama melakukan aku pakai pengaman, Keia. Hanya sama kamu saja aku terbuka,” jawab Evanzo. Tetapan lekat tersebut justru membuat Keia enggan membalas tatapannya. Tentu membuat Keia merasa kebakar seluruh tubuhnya dan ingin sekali menampar laki-laki yang masih saja berada di sampingnya.

 Selang beberapa menit, Evanzo menarik lengan Keia untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia memastikan kalau wanitanya itu segera ganti pakaian yang lebih cantik. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, di mana Evanzo berjanji untuk mengajak Keia pergi ke kedai es krim yang berada di pusat kota. Tatapan dia tajamkan ketika sehelai benang yang berbentuk bahan itu terlepas dari tubuh putih nan bening. Matanya semakin terbelalak dan terfokus pada bagian atas. Si kembar lagi-lagi membuat pikiran nakal Evanzo berkembang. 

 Bagian ujungnya terlihat tegak, menandakan langsung merespon apa yang diperhatikan oleh Evanzo. Tanpa seizin yang punya, dia menarik lembut memainkan si cokelat muda itu. Kemudian tangannya menjalar dan mendominasi seluruh permukaan empuk. Sial, ini benar-benar kenikmatan yang mengalir lembut dari ujung kepala hingga kaki. 

 “Sakit, seperti maling tiba-tiba merampasnya!” Kesel Keia dengan perbuatan Evanzo. Dia segera menepis tangan kekarnya Evanzo dan mempercepat gerakannya agar tubuhnya itu kembali terbalut oleh pakaian. Dalam hati dia menangis, menjerit, bahkan menyesali hidupnya sendiri. Keia justru semakin terikat oleh keberadaan di tempat tinggal Evanzo. 

 “Maaf, Keia habisnya menggoda sekali, meski tubuhmu mungil tetapi si kembar itu justru tumbuh lebih besar. Jika ada kesempatan aku ingin menyentuh kembali, ya,” ucap Evanzo sembari memohon. Setelah Keia rapi, kemudian dia melangkah menjauh untuk mengganti pakaian juga. 

 Tanpa menunggu waktu lama, mereka segera berangkat menuju kedai es krim. Dalam perjalanan Keia hanya terdiam, memilih untuk tidak mengeluarkan kata-katanya, mungkin menurut dia percuma. Dikarenakan akan tetap kalah oleh busuknya perkataan Evanzo. Sepanjang mobil itu melesat keduanya saling hening dan membuat rasa semakin canggung. 

 Setelah melewati belokan, akhirnya mereka sampai di kedai es krim tersebut. Pertama kali yang Keia lihat, megah dan ramai. Evanzo menuntun tangan lembut itu untuk masuk ke dalam. Dia memasan apa yang sudah diminta oleh wanitanya itu. Meski masih dengan wajah yang cemberut Keia sedikit merasa senang karena bisa menikmati semua yang ada, apalagi semuanya gratis. Walaupun hidupnya menjadi taruhan untuk dia tetap bertahan. 

 Evanzo kembali dengan kedua tangan yang sudah terisi oleh es krim strawberry. Keia menarik salah satunya dan segera dia nikmati. “Terima kasih, Evan, sudah memberi aku ruang untuk merasakan kebahagian ini. Aku hidup dari keluarga miskin, untuk sekedar makan pun rasanya sulit, apalagi untuk makan es krim seperti ini,” ucap Keia, membuat tatapan Evanzo beralih dan menatapnya penuh kelembutan. 

 “Sudah aku bilang, apa yang membuat kamu bahagia semua akan dilakukan. Jika kurang pesan lagi saja, aku sama sekali tidak takut kehabisan uang. Kamu merupakan prioritas aku saat ini.”

 Alunan musik mulai menjalar ke dalam telinganya, membuat mereka terbawa suasana dan menikmati segala yang ada. Pertama kalinya Evanzo mengajak Keia pergi ke tempat seperti ini, dikarenakan mereka baru satu bulan bersama. Dalam kurung waktu tersebut banyak penyesuaian yang dilakukan Keia, mungkin dia hanya belum terbiasa dengan kehidupan yang cukup membuat rasa trauma itu muncul.

 Sesekali Evanzo menyentuh sudut bibir Keia yang dipenuhi oleh es krim coklatnya itu, semakin di tatap semakin dia menemukan kecantikan yang rupawan. Bulu mata lentik dengan bola mata yang indah. Perpaduan yang sempurna untuk wanita seukuran Keia. Dengan penuh kesadaran, senyuman itu mengukir kedua sudut bibirnya. 

 “Keia, cantik.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 6 - Tak Terduga

    Merasa jengah di dalam kamar, pertama kalinya Keia berani datang ke kamar Evanzo. Sedikit terkejut dia mendapati Evanzo sedang melakukan video call bersama dengan wanita lain. Bukannya selama ini dia mengakui tidak mempunyai pacar ataupun istri. Namun berbeda dengan ucapan yang pernah dia lontarkan ke Keia. “Evanzo, siapa?” tanyanya sedikit bergetar. Kedua matanya terasa panas. Bukan karena cemburu dia hanya takut Evanzo tidak bertanggung jawab atas apa yang pernah dilakukan. Buru-buru Evanzo mematikan ponselnya kemudian dia melempar sembarang di atas kasur. Laki-laki itu terlihat sedikit gugup. Entah jantungnya terasa berdegup kencang, “S—siapa?” Dia justru bertanya kembali kepada Keia. Keia segera pergi dari kamar, namun sebelum dia beranjak tangannya digapai terlebih dahulu. Sontak wanita itu menghentikan langkahnya, lalu menatap Evanzo sembari melotot. “Sejak awal aku sudah nggak percaya sama kamu, terbukti semuanya hari ini.” “Salah paham, Keia. Kamu hanya salah melih

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 5 - Awal Pertemuan

    Bermula chatting di sosial media, berujung menjadi pertemuan tatap muka antara Keia dan Evanzo. Mereka memutuskan untuk bertemu pada hari berikutnya, Evanzo mengajak Keia bertemu di taman yang berada pada pusat kota. Sebelumnya Keia hidup sebatang kara di kerasnya Ibukota Jakarta. Dia memilih ngekos di tempat yang kumuh hanya karena harganya terjangkau. Menunggu besok harinya, mereka datang tepat waktu sesuai perjanjian. Waktu masih menunjukan pukul 4 sore, di mana orang-orang ikut serta memenuhi taman yang menjadi tempat pertemuan mereka. Paras cantik dan rupawan, itulah yang menggambarkan mereka berdua. “Kamu tinggal sama siapa di sini?” tanya Evanzo dengan tatapan lekat. Keia merespon dengan senyuman manis. “Sendiri saja, kedua orang tua aku sudah tiada. Aku juga nggak punya keluarga dekat untuk numpang singgah,” jawabnya sedikit mendatarnya nada bicaranya. Sudut bibir Evanzo menyinggung, tentu saja ada hal yang dia sedang rencanakan. Bukan tanpa sebab, melainkan ada banyak

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 4 - Perdebatan

    Evanzo merasa pintu kamarnya seperti terbuka, matanya terbelalak kaget ketika dia menyipitkan kedua mata untuk melihat siapa yang datang. “Astaga ayah, kenapa nggak memberi kabar terlebih dahulu,” ucapnya. Dia langsung terburu-buru mencari baju di sekitaran tempat tidur. Sementara Keia masih terlelap dengan tubuh yang belum terbalut oleh baju. Evanzo pun menyelimuti wanitanya sebelum keadaan semakin kacau. “Semenjak kamu memilih tinggal sendiri, semakin liar juga pergaulannya. Kamu ajak wanita mana lagi untuk tidur bersama, memangnya kamu nggak mau menikah. Hidup dengan layak seperti laki-laki yang lain, umur kamu sudah matang untuk menikah,” ujar Santoso dengan nada sedikit membentak. “Belum saja ibumu datang melihat tingkah laku anaknya yang kurang ajar ini,” lanjutnya. Evanzo melangkah kaki keluar kamar diikuti oleh Santoso, bahkan tidak ada kabar apa pun ketika dia datang. Iya, pertanyaan itu mengisi kepalanya hingga terasa begitu penat. Biasanya ada banyak hal yang ingin d

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 3 - Sebuah Rasa

    Keesokan harinya Evanzo menghampiri Keia yang masih mendakap dalam kamarnya. Rasa lelah begitu dia rasakan, mata indahnya pun masih terpejam erat. Namun dia merasakan ada tangan yang mulai membelai rambutnya yang tidak terikat. Perlahan matanya dia buka dan pandangan langsung dipenuhi oleh Evanzo. Senyuman manis menyapa Keia, bukan lagi rasa kesel atau emosi. “Aku kayaknya beneran jatuh cinta sama kamu, Keia, rasanya beda. Sejak satu bulan lalu, hatiku selalu bergetar setiap kali berada di sampingmu. Aku tahu ini terjadi secara mendadak dan membuat kamu harus banyak berpikir,” ucapnya lembut. Kemudian disusul dengan kecupan hangat. Keia justru mematung, bingung. Sebenarnya ini hanya jebakan atau janji manis yang terucap oleh Evanzo. Selama satu bulan belakangan ini dia hanya merasa bahwa dirinya dipermainkan untuk melengkapi gairah saja. Namun kali ini berbeda, bukan Evanzo yang dia kenal, seperti orang asing yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Masih mencerna perkataan i

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 2 - Kencan Pertama

    “Sudah aku bilang, kemarin malam puncak kenikmatan antara kita berdua tetapi kamu nggak mau mengakui kalau itu bagian dari rasanya,” ucap Evanzo dengan sedikit bercanda. Keia terdiam sedikit ada penyesalan dalam hidupnya, bagaimana tidak dia baru pertama kali merasakan kehidupan yang sebenarnya enggan untuk dia rasakan kembali. Tatapan kosong yang justru mendominasi keheningan antara sepasang kekasih yang tidak saling mencintai. Meskipun rasanya masih membekas jelas di dalam otaknya bagaimana tentang ekspresi Evanzo ketika berada di atas tubuhnya. “Hadiah karena kamu menuruti kemauan aku, nanti sore kita pergi ke kedai es krim ya. Itu kan kesukaan kamu, aku tahu itu salah, aku minta maaf ya, janji jangan ditekuk lagi wajahnya karena itu sangat jelek sekali, Keia,” teriak Evanzo yang sedikit membuat Keia semakin tidak nyaman. “Kenapa? Banyak cara untuk menikmati hidup, tapi kamu lebih memilih menjadi laki-laki brengsek. Kalau hidup aku berantakan sepenuhnya tanggung jawab ada di k

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 1 - Meminta Hak

    “Pegang sedikit, barangkali kamu suka dengan ini, siapa sih wanita yang ngga tergoda, besar dan berurat, loh!” seru Evanzo Bravi Sagara. Laki-laki berusia 30 tahun itu terlihat tengil seraya menatap wanita yang sedang duduk di sampingnya. Kedua alisnya sengaja dia naik turunkan dengan raut wajah mengejek. “Cih! Nggak sudi untuk melihatnya pun.” Amarah itu terdengar dari seorang wanita yang bernama Keia Evelyn Madison. Meskipun mereka saling menatap rasanya pun jijik untuk saling menyentuh. Terutama Keia, wanita ini dipaksa untuk memuaskan Evanzo yang sedang terikat oleh sebuah gairah. Tangan kekar mulai menjamah bagian dada dan sedikit meremasnya, Keia hanya terdiam seraya menatap kasar. Suara pun enggan untuk dikeluarkan, meski dia merasa kurang suka dengan tindakan Evanzo namun tetap memilih diam. Melihat Keia menikmati, Evanzo semakin menjulurkan tangannya ke bagian yang dia sukai. “Sshhhhh ahh!” Suara itu yang keluar tegas dari bibir Keia. “Sudah aku bilang rasanya akan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status