Masuk
“Pegang sedikit, barangkali kamu suka dengan ini, siapa sih wanita yang ngga tergoda, besar dan berurat, loh!” seru Evanzo Bravi Sagara. Laki-laki berusia 30 tahun itu terlihat tengil seraya menatap wanita yang sedang duduk di sampingnya. Kedua alisnya sengaja dia naik turunkan dengan raut wajah mengejek.
“Cih! Nggak sudi untuk melihatnya pun.” Amarah itu terdengar dari seorang wanita yang bernama Keia Evelyn Madison. Meskipun mereka saling menatap rasanya pun jijik untuk saling menyentuh. Terutama Keia, wanita ini dipaksa untuk memuaskan Evanzo yang sedang terikat oleh sebuah gairah. Tangan kekar mulai menjamah bagian dada dan sedikit meremasnya, Keia hanya terdiam seraya menatap kasar. Suara pun enggan untuk dikeluarkan, meski dia merasa kurang suka dengan tindakan Evanzo namun tetap memilih diam. Melihat Keia menikmati, Evanzo semakin menjulurkan tangannya ke bagian yang dia sukai. “Sshhhhh ahh!” Suara itu yang keluar tegas dari bibir Keia. “Sudah aku bilang rasanya akan begitu nikmat, Nona,” ucap Evanzo dengan nada sombong. Dia masih melakukan aktivitasnya dan semakin membuat wanita muda itu terbawa arus dari rasa gairahnya. Iya, Keia masih berusia 28 tahun, memang lebih muda dari Evanzo. Lagi-lagi Keia menepis rasa itu dengan sedikit berontak untuk menjauh. Namun usahanya gagal, tangannya semakin di ganggam kasar agar tetap berada di sampingnya. Tanpa rasa cinta, Keia justru terpaksa untuk tetap mencintai agar dia bisa tetap hidup dan tinggal bersama. Pikiran Evanzo sangat berengsek demi kepuasan dia rela mengorbankan seseorang yang tidak bersalah. Dengan begitu Keia hanya terdiam sembari menikmati sentuhan itu yang masih berlanjut. Evanzo pun semakin terpancing dengan hasrat yang membara. “Masuk lebih nikmat,” bisiknya lembut. Sebelum sempat mendapat jawaban Keia buru-buru menggelengkan kepala, tanda dia menolak ajakan laki-laki itu. “Aku nggak mau, Evan.” Evanzo masih berusaha meyakini Keia untuk menerima ajakannya, tangan kekar itu mulai menyentuh puncak kepala dan semakin membuat aliran darah itu semakin kencang. Namun Keia justru membuang pandangannya ke arah lain seraya menepuk kepalanya ringan. Tentu ini membuat dia berpikir berkali-kali untuk menerima ajakannya. Dia merasa ini cukup jauh dan semakin terasa bahwa ini bukan keinginannya di awal. Masih dengan pendiriannya, Keia menolak. Dia segera bangkit dan melangkah menjauh dari keberadaan Evanzo. Hanya wajah kesel yang terlihat dari laki-laki itu, kemudian sudut bibirnya menyinggung, bertanda dia sedang merencanakan hal selanjutnya. Hasrat masih tetap membara dalam jiwanya, semakin ditolak dia semakin penasaran untuk melanjut aksi tersebut. “Lihat saja, Keia, aku tetap meminta hak itu kepadamu. Jika kamu masih ingin tinggal bersamaku, maka semua keinginan aku harus kamu turuti. Aku ngga peduli jika mahkota kamu akan hilang yang penting hasratku tidak tertahan lebih lama lagi,” gumam Evanzo dengan suara lirih. Evanzo memilih berdiam di ruang tamu dan membiarkan Keia beranjak menuju kamar tidurnya. Matahari mulai tergelincir menuju peristirahatannya, menandakan langit semakin legam. Kicauan burung yang begitu merdu sedikit membuat hati laki-laki itu terasa tenang, meski dalam hatinya tetap saja masih penasaran dengan aktivitas tersebut. Tentu, Evanzo sudah pernah melakukan dengan wanita lain, namun menurutnya terasa kurang dikarenakan dia mencicipi janda beranak satu. Rasa nikmat itu seperti terhempas dan semakin membuat dia kehilangan rasa gairah. “Sial, kenapa sih selalu ada tolakan dari Keia, dia tuh terasa menggoda banget dari wanita lain. Bagian yang atas pun sangat besar dan tentunya kenyal. Bahkan nyaman untuk dipegang apalagi dimainkan dengan begitu lembut,” ucapnya sembari tertawa kecil. Sedikit berubah pikiran Evanzo melangkahkan kakinya menuju kamar Keia. Tanpa memberi ucapan, tentu membuat Keia terbelalak kaget, karena dia sedang menggunakan pakaian mini dengan tali tipis tersangkut di pundak mulusnya. Evanzo kemudian memberikan tawaran itu, “Yakin kamu ngga tergoda dengan ajakan aku, meskipun aku banyak mencoba tapi kamu tetap beda. Atau aku sentuh sedikit bagian puncaknya?” tanyanya dengan nada sedikit diturunkan. Gelengan itu tetap menjadi jawaban Keia, kekhawatiran mulai memenuhi isi kepalanya. Keringat dingin membasahi kedua pelipis dan tubuhnya semakin bergetar. “Aku tetap ngga mau, tapi jika kamu meminta untuk disentuh akan aku lakukan dan kamu harus tahu ini hanya terpaksa!” tegasnya dengan mata sedikit melotot. Senyuman puas itu terlihat dari raut wajahnya, kemudian tanpa berpikir panjang dia mulai menurunkan celananya sebatas betis. Tangan halus nan putih itu terpaksa menggerakkan ke atas dan ke bawah guna membuat sang empu merasa puas. Desiran darah semakin memuncak dan membuat laki-laki itu mengeluarkan kata-kata nikmatnya. “Aahhh, enak sekali sayang. Coba tangan kamu dibuat semakin erat menyentuh urat-uratku. Aku sebelumnya ngga pernah merasakan ini, jauh lebih nikmat daripada janda itu!” Suara Evanzo berubah mendayu. Matanya terlihat berkedip berkali-kali dan semakin hilang kendali. Keia tidak menggubris perkataan tersebut, dia memainkan benda panjang itu dengan sisa tenaga yang ada. Bola matanya memutar malas, enggan menyikapi lebih lanjut tindakan Evanzo. Dia hanya tidak ingin mendengarkan permohonan itu kembali, rasanya telinga dia ingin meledak serta memanas. “Aku nggak akan melakukan ini, aku hanya terpaksa Evanzo. Kamu camkan itu baik-baik, tidak perlu senang karena punyamu aku mainkan sesuai dengan perintah kamu yang sangat menjijikan. Pertama dalam hidupku menyentuh area sensitif orang lain, mana tidak pernah dicukur ini sangat rimbun dan membuatku ingin muntah,” ujar Keia begitu emosi. Kemudian dia melepas genggaman benda panjang itu dan memilih diam. Usahanya sia-sia, tangan lembut itu kembali dirampas, “Sudah aku bilang jangan dilepas, puncak kenikmatan yang tidak tara. Nanti jika ingin gantian aku sangat berkenan untuk menyentuh inti dari punyamu, sudah aku pastikan suara desahan kamu memenuhi kamar ini.” Kemudian disusul oleh ketawa ringan. “Evanzo! Jangan berbicara seenak jidat, ya. Meski begini aku wanita yang ngga pernah sudi melakukan itu kepada laki-laki manapun, memang kamu saja yang berengsek. Memaksa hasratku itu hadir bersama hasratmu, kemudian kamu memilih kesempatan untuk menjamah seluruh tubuhku. Itu sangat—” Perkataan Keia terhenti, ketika dia merasa sentuhan yang menlajar pada area bawahnya. Sedikit rasa geli, namun begitu nikmat. Keia merasakan apa yang dirasakan Evanzo, darah itu semakin mengalir dan membuat mereka terbawa arus. Hanya suara desahan saling bersahutan merdu mengisi ruang hampa yang semakin terasa nikmat. Sesuatu yang panjang terasa memasuki lubang sempit dengan dorongan lembut dan perlahan mulai masuk sempurna. Dorongan demi dorongan yang semakin membuat keringat Evanzo bercucuran membasahi tubuh mulus milik Keia. “Perih, Evan. Pelan-pelan. Aahh!” “Ini terlalu nikmat sayang, aku ngga bisa kalau hanya pelan-pelan. Butuh konsentrasi agar kamu tetap merasa kenikmatan yang paling enak di dunia ini.” “Aahhh, Evanzo. Hentikan!” Evanzo menghentikan sejak, serta mengeluarkannya. Lalu dia berkata, “Sedikit berdarah, Keia.”Merasa jengah di dalam kamar, pertama kalinya Keia berani datang ke kamar Evanzo. Sedikit terkejut dia mendapati Evanzo sedang melakukan video call bersama dengan wanita lain. Bukannya selama ini dia mengakui tidak mempunyai pacar ataupun istri. Namun berbeda dengan ucapan yang pernah dia lontarkan ke Keia. “Evanzo, siapa?” tanyanya sedikit bergetar. Kedua matanya terasa panas. Bukan karena cemburu dia hanya takut Evanzo tidak bertanggung jawab atas apa yang pernah dilakukan. Buru-buru Evanzo mematikan ponselnya kemudian dia melempar sembarang di atas kasur. Laki-laki itu terlihat sedikit gugup. Entah jantungnya terasa berdegup kencang, “S—siapa?” Dia justru bertanya kembali kepada Keia. Keia segera pergi dari kamar, namun sebelum dia beranjak tangannya digapai terlebih dahulu. Sontak wanita itu menghentikan langkahnya, lalu menatap Evanzo sembari melotot. “Sejak awal aku sudah nggak percaya sama kamu, terbukti semuanya hari ini.” “Salah paham, Keia. Kamu hanya salah melih
Bermula chatting di sosial media, berujung menjadi pertemuan tatap muka antara Keia dan Evanzo. Mereka memutuskan untuk bertemu pada hari berikutnya, Evanzo mengajak Keia bertemu di taman yang berada pada pusat kota. Sebelumnya Keia hidup sebatang kara di kerasnya Ibukota Jakarta. Dia memilih ngekos di tempat yang kumuh hanya karena harganya terjangkau. Menunggu besok harinya, mereka datang tepat waktu sesuai perjanjian. Waktu masih menunjukan pukul 4 sore, di mana orang-orang ikut serta memenuhi taman yang menjadi tempat pertemuan mereka. Paras cantik dan rupawan, itulah yang menggambarkan mereka berdua. “Kamu tinggal sama siapa di sini?” tanya Evanzo dengan tatapan lekat. Keia merespon dengan senyuman manis. “Sendiri saja, kedua orang tua aku sudah tiada. Aku juga nggak punya keluarga dekat untuk numpang singgah,” jawabnya sedikit mendatarnya nada bicaranya. Sudut bibir Evanzo menyinggung, tentu saja ada hal yang dia sedang rencanakan. Bukan tanpa sebab, melainkan ada banyak
Evanzo merasa pintu kamarnya seperti terbuka, matanya terbelalak kaget ketika dia menyipitkan kedua mata untuk melihat siapa yang datang. “Astaga ayah, kenapa nggak memberi kabar terlebih dahulu,” ucapnya. Dia langsung terburu-buru mencari baju di sekitaran tempat tidur. Sementara Keia masih terlelap dengan tubuh yang belum terbalut oleh baju. Evanzo pun menyelimuti wanitanya sebelum keadaan semakin kacau. “Semenjak kamu memilih tinggal sendiri, semakin liar juga pergaulannya. Kamu ajak wanita mana lagi untuk tidur bersama, memangnya kamu nggak mau menikah. Hidup dengan layak seperti laki-laki yang lain, umur kamu sudah matang untuk menikah,” ujar Santoso dengan nada sedikit membentak. “Belum saja ibumu datang melihat tingkah laku anaknya yang kurang ajar ini,” lanjutnya. Evanzo melangkah kaki keluar kamar diikuti oleh Santoso, bahkan tidak ada kabar apa pun ketika dia datang. Iya, pertanyaan itu mengisi kepalanya hingga terasa begitu penat. Biasanya ada banyak hal yang ingin d
Keesokan harinya Evanzo menghampiri Keia yang masih mendakap dalam kamarnya. Rasa lelah begitu dia rasakan, mata indahnya pun masih terpejam erat. Namun dia merasakan ada tangan yang mulai membelai rambutnya yang tidak terikat. Perlahan matanya dia buka dan pandangan langsung dipenuhi oleh Evanzo. Senyuman manis menyapa Keia, bukan lagi rasa kesel atau emosi. “Aku kayaknya beneran jatuh cinta sama kamu, Keia, rasanya beda. Sejak satu bulan lalu, hatiku selalu bergetar setiap kali berada di sampingmu. Aku tahu ini terjadi secara mendadak dan membuat kamu harus banyak berpikir,” ucapnya lembut. Kemudian disusul dengan kecupan hangat. Keia justru mematung, bingung. Sebenarnya ini hanya jebakan atau janji manis yang terucap oleh Evanzo. Selama satu bulan belakangan ini dia hanya merasa bahwa dirinya dipermainkan untuk melengkapi gairah saja. Namun kali ini berbeda, bukan Evanzo yang dia kenal, seperti orang asing yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Masih mencerna perkataan i
“Sudah aku bilang, kemarin malam puncak kenikmatan antara kita berdua tetapi kamu nggak mau mengakui kalau itu bagian dari rasanya,” ucap Evanzo dengan sedikit bercanda. Keia terdiam sedikit ada penyesalan dalam hidupnya, bagaimana tidak dia baru pertama kali merasakan kehidupan yang sebenarnya enggan untuk dia rasakan kembali. Tatapan kosong yang justru mendominasi keheningan antara sepasang kekasih yang tidak saling mencintai. Meskipun rasanya masih membekas jelas di dalam otaknya bagaimana tentang ekspresi Evanzo ketika berada di atas tubuhnya. “Hadiah karena kamu menuruti kemauan aku, nanti sore kita pergi ke kedai es krim ya. Itu kan kesukaan kamu, aku tahu itu salah, aku minta maaf ya, janji jangan ditekuk lagi wajahnya karena itu sangat jelek sekali, Keia,” teriak Evanzo yang sedikit membuat Keia semakin tidak nyaman. “Kenapa? Banyak cara untuk menikmati hidup, tapi kamu lebih memilih menjadi laki-laki brengsek. Kalau hidup aku berantakan sepenuhnya tanggung jawab ada di k
“Pegang sedikit, barangkali kamu suka dengan ini, siapa sih wanita yang ngga tergoda, besar dan berurat, loh!” seru Evanzo Bravi Sagara. Laki-laki berusia 30 tahun itu terlihat tengil seraya menatap wanita yang sedang duduk di sampingnya. Kedua alisnya sengaja dia naik turunkan dengan raut wajah mengejek. “Cih! Nggak sudi untuk melihatnya pun.” Amarah itu terdengar dari seorang wanita yang bernama Keia Evelyn Madison. Meskipun mereka saling menatap rasanya pun jijik untuk saling menyentuh. Terutama Keia, wanita ini dipaksa untuk memuaskan Evanzo yang sedang terikat oleh sebuah gairah. Tangan kekar mulai menjamah bagian dada dan sedikit meremasnya, Keia hanya terdiam seraya menatap kasar. Suara pun enggan untuk dikeluarkan, meski dia merasa kurang suka dengan tindakan Evanzo namun tetap memilih diam. Melihat Keia menikmati, Evanzo semakin menjulurkan tangannya ke bagian yang dia sukai. “Sshhhhh ahh!” Suara itu yang keluar tegas dari bibir Keia. “Sudah aku bilang rasanya akan







