LOGINKeesokan harinya Evanzo menghampiri Keia yang masih mendakap dalam kamarnya. Rasa lelah begitu dia rasakan, mata indahnya pun masih terpejam erat. Namun dia merasakan ada tangan yang mulai membelai rambutnya yang tidak terikat. Perlahan matanya dia buka dan pandangan langsung dipenuhi oleh Evanzo.
Senyuman manis menyapa Keia, bukan lagi rasa kesel atau emosi. “Aku kayaknya beneran jatuh cinta sama kamu, Keia, rasanya beda. Sejak satu bulan lalu, hatiku selalu bergetar setiap kali berada di sampingmu. Aku tahu ini terjadi secara mendadak dan membuat kamu harus banyak berpikir,” ucapnya lembut. Kemudian disusul dengan kecupan hangat. Keia justru mematung, bingung. Sebenarnya ini hanya jebakan atau janji manis yang terucap oleh Evanzo. Selama satu bulan belakangan ini dia hanya merasa bahwa dirinya dipermainkan untuk melengkapi gairah saja. Namun kali ini berbeda, bukan Evanzo yang dia kenal, seperti orang asing yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Masih mencerna perkataan itu, Keia seraya mengikat rambutnya agar terlihat rapi. Baru saja membuka matanya, tetapi dia harus memikirkan hal yang cukup membuatnya sakit kepala. Bagaimana tidak, karena dari awal Evanzo tidak menunjukkan kalau dia benar-benar suka kepada dirinya. Apakah dia harus membuka hati demi kepuasan yang tidak ada habisnya. “Aku nggak percaya, banyak wanita diluar sana yang kamu permainkan hatinya. Aku tidak mau menjadi salah satunya, kalau kamu sekedar singgah—” Keia terdiam saat jari telunjuk berhenti tepat di depan bibirnya. “Kamu masih nggak percaya dengan aku? Selama ini aku banyak berjuang untuk hidup kamu. Kali ini beda rasanya, Keia. Aku jatuh cinta, walaupun kita sudah menjalani hubungan tapi itu tanpa rasa cinta di dalamnya. Aku ingin memperbaiki semua yang ada, beri aku kesempatan untuk membuktikannya,” jelas Evanzo meyakinkan. “Maaf, Evan, aku nggak bisa. Terlalu berat untuk aku, entah aku bahagia atau justru merasa tersiksa. Bukan hal yang mudah untuk menerima kamu, aku takut semakin dalam dan semakin membuat aku nggak tahu diri. Kamu cari saja wanita lain yang benar-benar mencintaimu,” jawab Keia sedikit bergetar. Perasaan mulai tercampur antara gelisah dan bimbang, pertama kalinya dia mendengar langsung dari bibir Evanzo. Kemudian perlahan dia menatap kontak matanya dengan berusaha meyakinkan kalau bukan dia orang yang tepat untuk menetap di hatinya. Tangan mulusnya penepuk pundak untuk menyadari Evanzo dari sebuah lamunannya. Tanpa sadar Keia justru mendekap tubuh kekar itu, meski dia sama sekali tidak memiliki rasa, namun rasa iba itu justru membuatnya tersadar. Kasihan, itulah yang membuat dia terasa sedikit terpukul oleh banyaknya harapan. Di antara semua rasa tetap dia memilih untuk tidak menaruh hati dan melangkah lebih dalam lagi untuk memberikan cinta kepada Evanzo. Evanzo kembali mengecup bibir Keia dengan hati-hati, kemudian dia berkata, “Jalani saja dulu, urusan kamu nanti akan tumbuh perasaan itu kepada aku atau ngga aku akan menerima semua. Tapi aku mohon kepada kamu untuk tetap tinggal bersama aku di sini ya.” Jemari nakal itu menjamah keseluruh bagian tubuh yang membuat Keia mendesah pelan. Sial, hasrat itu membuat Evanzo terbawa arus dan rasanya kembali ingin mencicipi Keia semakin besar. Lalu dia berbisik lirih tepat di telinganya, “Kalau begitu aku akan membuat kamu merasakan kenikmatan itu lagi. Walaupun kamu menolak aku sudah merasakan apa yang ada di tubuh kamu dengan sesuka hatiku.” Perkataan licik itu hanya membuat Keia terdiam, dia sedang merasakan seluruh tubuhnya mendapatkan sentuhan hangat dari laki-laki itu. Rasanya berontak pun tidak akan bisa selain diam dan ikut merasakan apa yang dia berikan. Gongnya Keia menyeimbangkan perbuatan Evanzo itu, tangannya dia ulurkan dan perlahan memasuki celana pendek yang masih terbalut di pinggangnya. Keia menyentuh dan memainkan secara perlahan, semakin membuat desahan mengisi seisi kamar tidurnya. Setelah puas, dia menurunkan dan menarik celana Evanzo hingga terlepas. Panjang dan berurat yang pertama kali mendominasi pandangan indahnya. Tubuh laki-laki itu sedikit didorong hingga terjatuh di tempat tidur Keia. Dia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Evanzo dan jarinya menjamah dada hingga bagian yang bisa membuat laki-laki itu mendesah. Tanpa ingin melewati kesempatan, Evanzo ikut menyingkir baju yang dikenakan oleh Keia. Kedua pasangan itu terlihat tanpa busana, Evanzo menjilat lembut bagian dada keira membuat sang empu melejit kenikmatan. “Evan, perlahan jangan digigit,” bisiknya lembut. Namun Evanzo membiarkan ucapan itu mengudara aksi gilanya semakin dia tunjukkan. Evanzo segera bangkit memposisikan yang tepat agar mendapatkan cela, benda panjang dan berurat itu dia pegang dengan perlahan mulai memasuki area sensitif. “Tahan ya Keia, ini akan terasa lebih nikmat, punyamu pun sudah basah jadi memudahkan aku untuk mendorong.” “Ev—ahhh!” “Evanzo!” “Sshhhhhahh, Keia, sempurna.” Evanzo semakin mementokkan dengan sekuat tenaga, sehingga tubuh mereka saling bertaut. Hembusan napas kasar begitu terasa di leher belakang Keia. Kedua tangan Keia justru dia letakkan di atas pundaknya sehingga mereka saling berdekapan. Kehangatan yang mereka rasa saat ini, keduanya semakin terbawa. Suara desahan kembali mengisi ruang tidurnya. Ruangan hampa berubah menjadi syahdu, keringat saling bercucuran membaluti tubuh mereka. Evanzo masih bergoyang seraya menyentuh dada dan sambil meremas kasar. Dia tidak peduli, hanya kenikmatan yang membuat dia semakin egois. “Lepaskan, aaahh, Evanzo aku mohon.” Badan Keia bergerak hebat akibat guncangan yang diberikan sang kekasih. Bukannya menghentikan dia justru menambah kecepatan. “Aku cinta kamu, Keia,” ucap Evanzo. “Sungguh aku belum pernah merasakan, perawan memang lebih menarik untuk aku coba.” Perkataan yang tiba-tiba keluar dari bibir Evanzo, membuat dia berhenti sejenak. Tatapan tajam dia sapu ke arah Keia yang masih berada di bawah tubuh kekarnya. Perlahan bagian kaki dia goyangkan hingga kembali merasa benda panjang keluar masuk, Keia meremas seprai dengan kuat. Tentu rasanya begitu perih namun ada sensasi yang tidak bisa dijelaskan. Melihat Keia masih menikmati dia pun memberi dorongan begitu kencang, sehingga cairan putih pekat menebak masuk. “Keia, keluar di dalam.” “Kamu keterlaluan, Evan!” “Tolong kocok, aku sudah nggak kuat lagi, Keia.” Keia menarik tubuhnya ke pinggir kasur, sedikit memberi jarak kepada Evanzo. Sialnya penyesalan itu mengisi semua ruang di kepala. “Evanzo, bagaimana kalau aku hamil, apa mudah untuk kamu tanggung jawab. Aku semakin merusak nasibku karena tinggal bersamamu.” Setelah mengucapkan itu matanya terasa berat, tanpa mendengar jawaban mereka justru ketiduran dalam keadaan tanpa busana. Baju berceceran di mana-mana, bahkan beberapa lembar tisu mengisi sebagian ruangan. Kamar tidurnya Keia berubah menjadi kapal pecah. Kedua pasangan itu semakin terlelap di dalam mimpinya.“Boleh nanti saja pulangnya? Aku masih rindu, Babe. Tolong berikan waktu beberapa jam lagi,” rengek wanita itu dengan tatapan memohon. “Nggak bisa aku masih ada urusan, Babe. Nanti kalau sudah waktunya kita akan bertemu kembali, mohon gunakan rasa sabar kamu, ya,” jawab Evanzo membuat wanitanya merasa sedikit sakit hati. Mendengar tanggapan Evanzo wanita itu mempercepat pergerakannya supaya bisa rapi lebih awal, sedikit rasa kecewa namun dia harus menerima kenyataan yang sebenarnya terjadi. Dilakukan meskipun sedikit terpaksa karena dia masih ingin bersama kekasihnya. Dengan raut wajah cemberut dia masih mempersiapkan barang-barangnya agar tersusun dalam tas yang dia pakai. Sementara Evanzo masih dalam posisi yang sama, sesekali dia memperhatikan wanitanya. Evanzo pun sadar dengan tingkah lakunya, namun jika diteruskan akan terjadi pertengkaran hebat akibat dirinya tidak ingin ditinggal berpisah. “Babe.” “Masih ada lain waktu untuk berjumpa, Babe. Sudah siap? Sekarang kita b
Evanzo sudah berada di kafe untuk menunggu seseorang yang sudah berjanji bertemu beberapa waktu lalu. Pakaian rapi membuat dia kelihatan lebih berwibawa, baju putih dengan setelan levis. Sesekali dia menyeruput es kopi untuk menemani dalam waktu sendirinya. Habis setengah cup, ternyata seorang wanita datang langsung menghampiri Evanzo, tanpa diperintah dia segera duduk. “Babe, maaf sudah membuat menunggu lama. Apa kabar? Kita sudah lama nggak jumpa,” ucap wanita itu, kemudian dia mengecup bibir Evanzo. “Kabar baik, Babe. Pesan makanan yang kamu inginkan, mengganti semua waktu yang telah kamu lewati sendiri. Aku minta maaf untuk semuanya, karena banyak faktor yang mengharuskan kita jaga jarak,” balas Evanzo. Jarinya mengelus rambut panjang dan halus. Makanan pun langsung dipesan, beberapa waktu makanan mulai terisi di atas meja penuh. Canda tawa mengisi ruangan yang bernuansa aesthetic. Dingin berwarna coklat muda semakin membuat hati jatuh cinta dengan seisinya. Dua sejoli tam
Malam hari tiba, Keia melangkah kaki keluar dari perumahan yang ditempati oleh Evanzo. Mencari angin malam untuk sejenak membuat pikiran tenang. Dia keluar pun tanpa sepengetahuan Evanzo karena benar-benar ingin merasa sendiri. Dia pun masih kepikiran akan kejadian tadi pagi yang justru membuatnya semakin menyesali segala perbuatan tersebut. Angin mulai berhembus membuat rambut sepanjang bahu ikut beterbangan. Sepanjang jalan cukup ramai kendaraan bermotor ataupun mobil. Mereka melaju dengan tenang hingga membuat Keia semakin menikmati sekitar. Langkahnya menjauh hingga berada di luar perumahan, matanya mencari kenan ke kiri. Banyak tukang jualan berjajar dengan rapi, satu persatu dia telusuri hingga menemukan satu makan yang dia pengen. “Pesan satu porsi, ya,” ucap Keia kepada pedagang pecel lele. Pesanan sudah Keia dapat dia pun segera melanjutkan perjalanan, masih mencari makanan yang dia inginkan lagi. Malam semakin kelabu dia pun memilih untuk duduk sejenak di depan warung
Besok harinya dirasa sudah cukup tenang, Evanzo pun menghampiri Keia yang masih mengurung dirinya dalam kamar. Sakit hatinya akibat kebohongan Evanzo masih terasa dalam relungnya. Namun Evanzo tidak sedikitpun merasa bersalah atas perbuatan yang keji. Dia telah mempermainkan perasaan bahkan jiwanya pun dia rusak begitu parah. Jelas, membuat trauma itu hadir. Langkah kakinya semakin membawa dia berada di kamar Keia. Keia terduduk merenung di ujung tempat tidur, matanya sedikit memerah dan bengkak. Keia terdiam dalam lamunan yang begitu terasa hampa. Evanzo meletakkan tubuhnya samping Keia sambil merangkul wanita itu dari belakang. Tidak ingin berbicara Keia memilih bungkam dan seolah tanpa kehadiran Evanzo samping dirinya. “Keia, maafin aku, ya. Kemarin seolah aku nggak menghargai keberadaanmu. Itu cuma teman doang, kan kamu kekasihku,” ucapnya sedikit bercanda. Evanzo mengusap air mata yang sedikit demi sedikit mulai turun membasahi pipinya. “Lihat aku, Keia.” “Aku mohon, Keia
Merasa jengah di dalam kamar, pertama kalinya Keia berani datang ke kamar Evanzo. Sedikit terkejut dia mendapati Evanzo sedang melakukan video call bersama dengan wanita lain. Bukannya selama ini dia mengakui tidak mempunyai pacar ataupun istri. Namun berbeda dengan ucapan yang pernah dia lontarkan ke Keia. “Evanzo, siapa?” tanyanya sedikit bergetar. Kedua matanya terasa panas. Bukan karena cemburu dia hanya takut Evanzo tidak bertanggung jawab atas apa yang pernah dilakukan. Buru-buru Evanzo mematikan ponselnya kemudian dia melempar sembarang di atas kasur. Laki-laki itu terlihat sedikit gugup. Entah jantungnya terasa berdegup kencang, “S—siapa?” Dia justru bertanya kembali kepada Keia. Keia segera pergi dari kamar, namun sebelum dia beranjak tangannya digapai terlebih dahulu. Sontak wanita itu menghentikan langkahnya, lalu menatap Evanzo sembari melotot. “Sejak awal aku sudah nggak percaya sama kamu, terbukti semuanya hari ini.” “Salah paham, Keia. Kamu hanya salah melih
Bermula chatting di sosial media, berujung menjadi pertemuan tatap muka antara Keia dan Evanzo. Mereka memutuskan untuk bertemu pada hari berikutnya, Evanzo mengajak Keia bertemu di taman yang berada pada pusat kota. Sebelumnya Keia hidup sebatang kara di kerasnya Ibukota Jakarta. Dia memilih ngekos di tempat yang kumuh hanya karena harganya terjangkau. Menunggu besok harinya, mereka datang tepat waktu sesuai perjanjian. Waktu masih menunjukan pukul 4 sore, di mana orang-orang ikut serta memenuhi taman yang menjadi tempat pertemuan mereka. Paras cantik dan rupawan, itulah yang menggambarkan mereka berdua. “Kamu tinggal sama siapa di sini?” tanya Evanzo dengan tatapan lekat. Keia merespon dengan senyuman manis. “Sendiri saja, kedua orang tua aku sudah tiada. Aku juga nggak punya keluarga dekat untuk numpang singgah,” jawabnya sedikit mendatarnya nada bicaranya. Sudut bibir Evanzo menyinggung, tentu saja ada hal yang dia sedang rencanakan. Bukan tanpa sebab, melainkan ada banyak







