Share

Bab 4 - Perdebatan

Penulis: Aleenaaaa
last update Tanggal publikasi: 2026-09-02 10:12:36

Evanzo merasa pintu kamarnya seperti terbuka, matanya terbelalak kaget ketika dia menyipitkan kedua mata untuk melihat siapa yang datang. “Astaga ayah, kenapa nggak memberi kabar terlebih dahulu,” ucapnya. Dia langsung terburu-buru mencari baju di sekitaran tempat tidur. Sementara Keia masih terlelap dengan tubuh yang belum terbalut oleh baju. Evanzo pun menyelimuti wanitanya sebelum keadaan semakin kacau.

“Semenjak kamu memilih tinggal sendiri, semakin liar juga pergaulannya. Kamu ajak wanita mana lagi untuk tidur bersama, memangnya kamu nggak mau menikah. Hidup dengan layak seperti laki-laki yang lain, umur kamu sudah matang untuk menikah,” ujar Santoso dengan nada sedikit membentak.

“Belum saja ibumu datang melihat tingkah laku anaknya yang kurang ajar ini,” lanjutnya.

Evanzo melangkah kaki keluar kamar diikuti oleh Santoso, bahkan tidak ada kabar apa pun ketika dia datang. Iya, pertanyaan itu mengisi kepalanya hingga terasa begitu penat. Biasanya ada banyak hal yang ingin disampaikan oleh sang ayah. Sebenarnya Evanzo tidak ingin ikut campur dalam urusannya, tetapi bagaimanapun dia adalah anak tunggal di keluarganya.

“Ada keperluan apa ayah datang?”

“Ayah ingin menarik semua asetmu, lagipula nggak ada kemajuan selain ayah yang memberikannya. Kamu semakin hari cuma suapin wanita dengan harta kekayaan ayah. Sementara kamu foya-foya tanpa ada pikiran di otak!” bentak Santoso menatap tajam anaknya.

“Aku mohon jangan ayah, aku janji ke depannya akan memperbaiki semua. Ayah mau menantu dan cucu, akan aku berikan untukmu. Tapi aku mohon ya ayah,” jawab Evanzo dengan nada rendah.

Orang tua dan anaknya tersebut hanya terdiam di atas tempat duduknya masing-masing. Sejujurnya Santoso sejak awal tidak mengizinkan Evanzo tinggal sendiri, bahkan sudah dilengkapi oleh aset. Semakin ditunggu, anak ini semakin kurang ajar. Banyak tagihan masuk, di usia yang tidak lagi muda sang ayah justru masih bekerja, sementara Evanzo anak muda yang hanya berdiam menunggu hasilnya.

“Ayah nggak suka denganmu, keterlaluan. Ayah udah semakin tua, bahkan ayah sudah ngga gagah lagi kayak dulu, kalau ayah tiada siapa yang mengurusmu dan ibumu. Semua kamu limpahkan ke ayah, loh!” seru Santoso masih dengan nada tingginya.

Evanzo memutar bola matanya malas, muak hanya itu yang dapat dia rasakan. Memang salahnya, sebelum melakukan hubungan dengan Keia pintu utama dia tidak kunci, karena biasanya orang tuanya tidak pernah datang sekedar menengok.

Lantas Evanzo hanya bungkam, enggan untuk meneruskan pembicara dengan sang ayah. Sejak lama mereka sudah kehilangan momen bersama, maka itu yang membuatnya canggung.

“Kali ini ayah toleransi, kalau terulang lagi, nggak akan ayah beritahu semua langsung ayah cabut biar kamu tahu rasanya hidup susah.” Saat ucapan itu terlontar, Santoso melangkah pergi menuju pintu, langkahnya semakin jauh dan menghilang dari pandangannya.

Belum sempat dia bangun dari duduknya, Keia datang menghampiri Evanzo. “Kayaknya semua karena aku, ya, bikin pengeluaran kamu bertambah. Kalau begitu besok aku pergi dari sini,” ucapnya tiba-tiba.

Seketika tangan kekar itu mendakap bibir Keia, “Jangan bilang begitu, bukan kamu penyebabnya. Memang aku saja yang kurang bisa mengontrol keuangan. Tolong tinggal lebih lama bersama aku di sini.”

“Merepotkan, Evan.”

“Aku mau pergi saja, aku merasa capek harus setiap hari menyeimbangkan gairah kamu. Aku butuh ketenangan jiwa dan aku dibuat berdamai dengan keadaan yang sekarang.”

“Keia, aku mohon jangan pergi.”

Mereka memilih mengheningkan ruang tamu, hanya suara malam yang saling bersahutan. Penyesalan tentu masih dirasakan oleh Keia, kehormatannya sudah hilang dan entah apakah orang lain akan menerima sepenuh hati. Pikirannya mulai menghantui tentang masa depan, serta perjalanan hidup.

Laki-laki itu masih mematung di samping Keia, tidak ada sepatah dua kata keluar dari bibirnya. Permasalahan ini sepertinya akan berlanjut, meskipun rasa emosi terus berdatangan dan memenuhi sekujur tubuh.

Keia melangkah kembali menuju kamar tidurnya, lagipula duduk bersama Evanzo tidak membuat masalah usai. Dia berusaha menenangkan pikirannya yang semakin terasa penuh. Jalan hidupnya semakin berantakan dan tidak memilih arah ke mana harus berjalan maju.

Evanzo justru menghampiri Keia, “Kenapa ninggalin aku sendiri, Keia. Aku butuh kamu, aku nggak bisa sendiri, aku butuh dukungan juga. Sekarang bantu aku untuk kembali tanpa rasa bersalah. Kali ini aku nggak ajak kamu, tapi aku benar-benar butuh ketenangan.”

“Kamu pikir saja sendiri, ayahmu benar. Kalau saja dia tahu kelakuan anaknya setiap hari bisa dimaki habis-habisan sama dia. Untung saja dia hanya melihat sekilas perbuat busuk anaknya itu.”

“Aku nggak peduli dengan ucapan kamu, intinya aku minta tolong tetap tinggal bersamaku,” ucap Evanzo sangat memohon kepada wanitanya. Keia hanya merespon dengan helaan napas kasar. Rasanya semakin jengah berada di samping Evanzo. Ingin sekali dia tampar namun jiwanya tidak seburuk itu untuk melakukannya.

“Iya.” Jawaban singkat yang terdengar.

Bukannya marah Evanzo justru mendekati bibir Keia, kecupan itu mendarat sempurna. Ketika kedua bibir saling bertaut, mereka memulai lumatan dengan gairah yang perlahan memuncak. Jantung Keia lagi-lagi terasa ingin lepas dari tempatnya, tentu perbuatan ini semakin menjadi rutinitas sehari-hari. Meskipun dia sudah merasa cukup enak atas segala aktivitasnya.

“Enak, ya.” Bibir Evanzo berulang kali mengecup, jarinya menjamah rahang tegas sang empu.

“Kamu nggak bisa marah ke aku, Keia, sekali kecup tubuhmu melemas,” ucap Evanzo dengan tertawa ringan.

“Hei, kamu pikir—” Setiap perkataan yang ingin keluar dari bibir Keia, justru dibuat tertahan oleh laki-laki itu.

Perlahan gairah Evanzo memuncak, tanpa sadar dia melepaskan bajunya. Lantas membuat Keia menahan segala aktivitas. Kemudian dia berbisik, “Aku nggak mau, jangan paksa aku terus menerus Evan, tolong hargai keputusan aku juga jangan egois.”

Tidak peduli atas ucapan yang baru saja didengar, aktivitas tetap dia lakukan sesuai kata hatinya. “Aku tetap ingin melakukannya, bagaimana pun tubuhmu membuat hasratku membara. Sekali ini saja, besok aku nggak akan mengajak kamu. Pegang janjiku untuk kamu.”

“Lepaskan!” Keia berontak, meninggalkan laki-laki yang sudah bertelanjang dada di atas tempat tidurnya. Tubuh Keia sedikit menjauh seraya mengatur napasnya yang mulai terasa sesak.

Keia tidak ingin membuat Evanzo semakin membuat dirinya terasa murah, dia berharap dapat bertahan hidup lebih lama dengan ketenangan hati. Sisi lain Evanzo terlihat murung, gairahnya tidak tersalurkan dengan baik. Tanpa pamit Evanzo keluar dari kamar, kemudian dia membanting pintu cukup keras.

Hanya bungkam, Keia sebenarnya tidak ingin ikut terlibat namun banyak hal yang membuat dia semakin berpikir. Sesekali dia tolak mungkin tidak begitu pengaruh, lagian hari terus berlalu tidak berhenti di satu titik saja.

Namun sisi lain Evanzo justru terlihat dengan amarahnya, “Lihat saja, besok atau lusa kamu ngga akan lepas dari aku, Keia.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 6 - Tak Terduga

    Merasa jengah di dalam kamar, pertama kalinya Keia berani datang ke kamar Evanzo. Sedikit terkejut dia mendapati Evanzo sedang melakukan video call bersama dengan wanita lain. Bukannya selama ini dia mengakui tidak mempunyai pacar ataupun istri. Namun berbeda dengan ucapan yang pernah dia lontarkan ke Keia. “Evanzo, siapa?” tanyanya sedikit bergetar. Kedua matanya terasa panas. Bukan karena cemburu dia hanya takut Evanzo tidak bertanggung jawab atas apa yang pernah dilakukan. Buru-buru Evanzo mematikan ponselnya kemudian dia melempar sembarang di atas kasur. Laki-laki itu terlihat sedikit gugup. Entah jantungnya terasa berdegup kencang, “S—siapa?” Dia justru bertanya kembali kepada Keia. Keia segera pergi dari kamar, namun sebelum dia beranjak tangannya digapai terlebih dahulu. Sontak wanita itu menghentikan langkahnya, lalu menatap Evanzo sembari melotot. “Sejak awal aku sudah nggak percaya sama kamu, terbukti semuanya hari ini.” “Salah paham, Keia. Kamu hanya salah melih

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 5 - Awal Pertemuan

    Bermula chatting di sosial media, berujung menjadi pertemuan tatap muka antara Keia dan Evanzo. Mereka memutuskan untuk bertemu pada hari berikutnya, Evanzo mengajak Keia bertemu di taman yang berada pada pusat kota. Sebelumnya Keia hidup sebatang kara di kerasnya Ibukota Jakarta. Dia memilih ngekos di tempat yang kumuh hanya karena harganya terjangkau. Menunggu besok harinya, mereka datang tepat waktu sesuai perjanjian. Waktu masih menunjukan pukul 4 sore, di mana orang-orang ikut serta memenuhi taman yang menjadi tempat pertemuan mereka. Paras cantik dan rupawan, itulah yang menggambarkan mereka berdua. “Kamu tinggal sama siapa di sini?” tanya Evanzo dengan tatapan lekat. Keia merespon dengan senyuman manis. “Sendiri saja, kedua orang tua aku sudah tiada. Aku juga nggak punya keluarga dekat untuk numpang singgah,” jawabnya sedikit mendatarnya nada bicaranya. Sudut bibir Evanzo menyinggung, tentu saja ada hal yang dia sedang rencanakan. Bukan tanpa sebab, melainkan ada banyak

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 4 - Perdebatan

    Evanzo merasa pintu kamarnya seperti terbuka, matanya terbelalak kaget ketika dia menyipitkan kedua mata untuk melihat siapa yang datang. “Astaga ayah, kenapa nggak memberi kabar terlebih dahulu,” ucapnya. Dia langsung terburu-buru mencari baju di sekitaran tempat tidur. Sementara Keia masih terlelap dengan tubuh yang belum terbalut oleh baju. Evanzo pun menyelimuti wanitanya sebelum keadaan semakin kacau. “Semenjak kamu memilih tinggal sendiri, semakin liar juga pergaulannya. Kamu ajak wanita mana lagi untuk tidur bersama, memangnya kamu nggak mau menikah. Hidup dengan layak seperti laki-laki yang lain, umur kamu sudah matang untuk menikah,” ujar Santoso dengan nada sedikit membentak. “Belum saja ibumu datang melihat tingkah laku anaknya yang kurang ajar ini,” lanjutnya. Evanzo melangkah kaki keluar kamar diikuti oleh Santoso, bahkan tidak ada kabar apa pun ketika dia datang. Iya, pertanyaan itu mengisi kepalanya hingga terasa begitu penat. Biasanya ada banyak hal yang ingin d

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 3 - Sebuah Rasa

    Keesokan harinya Evanzo menghampiri Keia yang masih mendakap dalam kamarnya. Rasa lelah begitu dia rasakan, mata indahnya pun masih terpejam erat. Namun dia merasakan ada tangan yang mulai membelai rambutnya yang tidak terikat. Perlahan matanya dia buka dan pandangan langsung dipenuhi oleh Evanzo. Senyuman manis menyapa Keia, bukan lagi rasa kesel atau emosi. “Aku kayaknya beneran jatuh cinta sama kamu, Keia, rasanya beda. Sejak satu bulan lalu, hatiku selalu bergetar setiap kali berada di sampingmu. Aku tahu ini terjadi secara mendadak dan membuat kamu harus banyak berpikir,” ucapnya lembut. Kemudian disusul dengan kecupan hangat. Keia justru mematung, bingung. Sebenarnya ini hanya jebakan atau janji manis yang terucap oleh Evanzo. Selama satu bulan belakangan ini dia hanya merasa bahwa dirinya dipermainkan untuk melengkapi gairah saja. Namun kali ini berbeda, bukan Evanzo yang dia kenal, seperti orang asing yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Masih mencerna perkataan i

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 2 - Kencan Pertama

    “Sudah aku bilang, kemarin malam puncak kenikmatan antara kita berdua tetapi kamu nggak mau mengakui kalau itu bagian dari rasanya,” ucap Evanzo dengan sedikit bercanda. Keia terdiam sedikit ada penyesalan dalam hidupnya, bagaimana tidak dia baru pertama kali merasakan kehidupan yang sebenarnya enggan untuk dia rasakan kembali. Tatapan kosong yang justru mendominasi keheningan antara sepasang kekasih yang tidak saling mencintai. Meskipun rasanya masih membekas jelas di dalam otaknya bagaimana tentang ekspresi Evanzo ketika berada di atas tubuhnya. “Hadiah karena kamu menuruti kemauan aku, nanti sore kita pergi ke kedai es krim ya. Itu kan kesukaan kamu, aku tahu itu salah, aku minta maaf ya, janji jangan ditekuk lagi wajahnya karena itu sangat jelek sekali, Keia,” teriak Evanzo yang sedikit membuat Keia semakin tidak nyaman. “Kenapa? Banyak cara untuk menikmati hidup, tapi kamu lebih memilih menjadi laki-laki brengsek. Kalau hidup aku berantakan sepenuhnya tanggung jawab ada di k

  • Memuaskan Tanpa Rasa Gairah   Bab 1 - Meminta Hak

    “Pegang sedikit, barangkali kamu suka dengan ini, siapa sih wanita yang ngga tergoda, besar dan berurat, loh!” seru Evanzo Bravi Sagara. Laki-laki berusia 30 tahun itu terlihat tengil seraya menatap wanita yang sedang duduk di sampingnya. Kedua alisnya sengaja dia naik turunkan dengan raut wajah mengejek. “Cih! Nggak sudi untuk melihatnya pun.” Amarah itu terdengar dari seorang wanita yang bernama Keia Evelyn Madison. Meskipun mereka saling menatap rasanya pun jijik untuk saling menyentuh. Terutama Keia, wanita ini dipaksa untuk memuaskan Evanzo yang sedang terikat oleh sebuah gairah. Tangan kekar mulai menjamah bagian dada dan sedikit meremasnya, Keia hanya terdiam seraya menatap kasar. Suara pun enggan untuk dikeluarkan, meski dia merasa kurang suka dengan tindakan Evanzo namun tetap memilih diam. Melihat Keia menikmati, Evanzo semakin menjulurkan tangannya ke bagian yang dia sukai. “Sshhhhh ahh!” Suara itu yang keluar tegas dari bibir Keia. “Sudah aku bilang rasanya akan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status