LOGINGenta sedang menatap pemandangan yang disuguhkan, hal yang membuatnya bersemangat untuk melakukan perjalanan bisnis adalah pemandangan yang disuguhkan tidak mungkin ia temuka di daerah asalnya. Pantai yang mengelilingi dataran rendah dengan pasir putih semakin menjadi panorama indah. Proyek mereka masih belum selesai, hanya bertemu dengan kolega baru namun tidak cukup memakan waktu hanya sehari. Disampingnya ada Sam dan Rani, gadis dari departemen lain yang juga bersangkutan dengan operasi project ini. Ayu, tengah ke kamar mandi. Sam menyalakan rokok dan menghisapnya, ia banr-benar seperti menghilangkan kegundahan hatinya. Tidak hanya Sam namun juga Genta yang memakai kacamata hitam untuk membantunya agar tetap bisa menatap matahari yang memancarkan sinarnya. “Jadi besok mulai terakhir kita ketemu kolega?” Tanya Sam pada Rani yang diikutkan dalam project karena disinilah Rani berasal, dimaksudkan ia yang lebih mengerti daerah sini akan lebih membantu untuk rekan-
Hari perkiraan lahir satu setengah bulan Kembali, Zeta menyiapkan segalanya dari baju hingga perlengkapan bayi lainnya. Ia sudah siap karena sang ibunda hebat yang selalu siaga untuknya. Zeta hanya perlu menyiapkan Kesehatan dan mental untuk hari kelahiran nanti. Mila sekarang hanya menjadi seorang pelayan toko jadi ia tidak perlu untuk pulang terlalu larut malam. Toko tempatnya bekerja juga tidak terlalu jauh, hal itu ia sengaja agar ia mudah untuk segera pulang Ketika Zeta membutuhkannya. Zeta meneguk susu buatan Mila, susu khusus untuk ibu yang sedang hamil. Awalnya Zeta enggan untuk meminumnya karena menurutnya terlalu boros tapi Mila lebih dulu membelikannya yang dimana mau tidak mau ia tetap harus meminumnya. “Mah!” Panggil Zeta pada Mila yang sedang menjemur baju.“Kenapa teriak-teriak segala Ta?” Tanya Mila menatap lembut anaknya yang tampak cantik dengan perut buncitnya. “Mamah ada uang? stok susu sudah habis Mah!” Ucap Zeta kemudian m
Genta terbangun dari tidurnya selama perjalanan menuju ke luar kota, sebuah kota yang lumayan jauh hingga ia harus menggunakan pesawat untuk sampai disana. Ayu disampingnya juga baru saja membuka matanya, mereka harus terbang ke pulau berbeda untuk pertemuan proyek dengan kolega baru. Genta menginjakkan kaki di bandara, menuju hotel penginapannya. Genta teringat, seandainya Zeta masih bekerja mungkin saat ini gadis itu akan ikut untuk proyek perusahaan. Kelebihan Zeta dalam hal intelektual mengakibatkan dirinya terus terlibat dalam kegiatan diluar kantor, termasuk dengan Genta. Genta menyesal ia baru menyadari Ketika semesta terus menempatkan dirinya dan gadis itu dalam sekitar, sayangnya penyesalan selalu berada diakhir. Genta hanya bisa diam, memendam dan mencoba untuk melupakan. Memaksa, dirinya untuk selalu untuk menjalani kehidupannya. Sama seperti Zeta yang mungkin sekarang sudah tidak terbayang-bayang oleh keberadaan Genta. Nampaknya gadis itu benar-benar
Seorang lelaki tengah berteduh sejenak di sebuah emperan toko, apakah lelaki itu meneduh dari hujan? Tidak panas hari ini begitu terik. Tapi lelaki itu tengah memandang rumah di seberang jalan yang kini tertempel sebuah papan bertuliskan ‘dikontrakan’. Tandanya sang penghuni lama telah meninggalkan rumah tersebut. Genta menghisap putung rokok yang sejak tadi sudah ia hisap, sampai hampir habis. Genta tidak bosan, ia menatap kosong bagaikan seseorang yang sedang menikmati pemandangan padahal hanya sebuah rumah. Kenangannya yang paling dalam, biasanya disini ya tepat disini Genta biasanya menurunkan Zeta, dengan alasan perempuan itu tidak ada yang menjemputnya atau alasan lainnya yang terkadang membuat Genta muak dan terkadang Genta sengaja pulang lebih dulu agar Zeta tidak meminta bantuan kepadanya. Tiba-tiba, ada seseorang yang keluar dari toko yang Genta gunakan untuk berteduh. Genta menyipitkan matanya seperti familiar dengan wajah seorang gadis yang keluar dar
"Genta!” Ucap Ayu yang sejak tadi berdiri disamping Genta namun diabaikan oleh lelaki itu, terlalu sibuk melamun. “Ya?” Tanya Genta terhenyak dari pandangan kosongnya berganti menatap Ayu. “Nggak denger ya tadi ngajak ngobrol.” Ucap Ayu dengan wajah cemberutnya. Genta hanya tersenyum canggung ia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Ia terlalu terlena dengan bayangan Zeta yang terus menghantuinya tanpa ampun menyiksanya dengan caranya sendiri seolah tidak menerima dengan sepenuh hati apa yang sudah dilakukan Genta kepadanya. Ayu tampak tidak suka dengan Genta yang semenjak kepergian Zeta, terus melamun dan menghabiskan waktu sendiri untuk merenung, Ayu memandang sinis meja kerja yang dulunya Zeta tempati. Lagi pula kenapa tidak ada segera digantikan jutsru meja itu dibiarkan kosong. “Genta kangen Zeta ya?” Tanya Ayu dengan wajah sinisnya membuat Genta menatap Ayu dalam diam. “Lo mendingan cabut deh, Yu! Tidak ada urusan denga
Seorang lelaki yang tak kunjung pulang, ia sedang menatap meja kerjanya, ah bukan lebih tepatnya ia sedang menatap sebuah tulisan yang sedikit berdebu yang ia tempelkan sebagai note untuk ia baca setiap harinya, Tulisan seorang gadis yang dulunya satu ruangan dengannya, kini mejanya kosong belum juga mendapatkan pengganti. Hampa, benar-benar Genta rasakan. Ia tidak memungkiri perasaannya bahwa ia merindukan Zeta. Gadis yang kini entah ia tidak mengetahuinya beberapa kali ia coba menanyakan pada Salsa tapi sahabat Zeta itu tetap diam memilih tidak tahu menahu sesuatu yang ditanyakan Genta. Berpura-pura tidak memahaminya, Genta setengah gila yang dilakukannya sekarang hanya menatap layer ponselnya barang kali Zeta sudi mengirimkan pesan kepadanya seperti dulu lagi. Sayangnya, harapan tinggalah harapan. Di ponselnya tidak ada seseorang yang menghubunginya Genta membaca satu pesan pertamanya untuk Zeta, pesan pertama yang tidak meninggalkan kesan baik sama sekali.
“Ira!” Panggil Zeta dengan suara yang sedikit bervolume dibandingkan sebelumnya. Membuat sag pemilik nama Ira menghentikan motornya yang baru saja ia akan menancap gas.“Ini, lupa kan?” Tanya Zeta menyodorkan sebuah kotak bekal yang rupanya berisikan bolu yang ditawarkan.“Oh iya lupa Ta!” Ucap Ira
Hari masih sedikit gelap, sang mentari belum juga menampakkan diri pasanya. Sedangkan perempuan yang tengah memeluk dirinya sendiri dengan selimut itu sedikit terusik tidurnya karena mendengar kebisingan diluar kamarnya. Ia memaksa dirinya untuk membuka matanya. Merenggangkan sedikit ototnya, tidak







