ログイン
Plak
"Katakan siapa namamu, j*lang!" "Kau benar-benar keras kepala! Katakan siapa namamu jika tidak ingin aku semakin menyiksamu." Tamparan serta umpatan itu menggema di gudang bawah tanah tempat dimana seorang wanita di sekap dan di siksa. Sebelah mata wanita itu sudah bengkak hingga tidak mampu lagi terbuka. Darah mengalir dari pelipis juga sudut bibir dengan memar menghiasi kedua pipinya. Dan kini, tidak hanya warna biru keunguan saja yang mewarnai pipinya, tapi bekas tamparan yang baru saja diterima juga meninggalkan bekas berwarna merah gelap. Kedua tangan wanita itu diikat ke belakang, sedang kakinya sudah diinjak berulang kali hingga menyisakan sakit dan nyeri luar biasa. Wanita itu kembali jatuh meringkuk setelah dipaksa duduk hanya untuk ditampar dan ditendang perutnya. "Uhuk." Ia terbatuk dengan memuntahkan darah segar. Penyiksaan terhadapnya baru berhenti ketika terdengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat menggema di lorong ruang bawah tanah itu. Tap Tap Tap Suara langkahnya terdengar tegas dengan irama beraturan. Seolah menunjukkan bahwa orang yang sedang berjalan adalah orang yang memiliki pengaruh kuat dan berbahaya. Sedang pria yang sejak tadi menyiksa si wanita, mundur dengan sendirinya ketika seseorang masuk ke dalam sel tahanan, tempat wanita itu disekap dan di siksa. Wanita yang tengah disiksa itu tidak mampu melihat siapa sosok yang mendatanginya. Namun, telinganya masih bisa mendengar dengan baik setiap pembicaraan yang mereka lakukan. "Bagaimana? Apa dia sudah mengaku?" "Belum, Patron. Wanita ini benar-benar keras kepala. Dia tidak berkata sepatah katapun sejak dia dibawa kemari." Patron, adalah bahasa Latin yang berarti Bos, panggilan yang digunakan untuk menunjukkan rasa hormat dari anak buah kepada pemimpinnya. "Hmm." Pria yang dipanggil Patron itu bergumam sambil memperhatikan wanita yang sudah dihajar habis-habisan dan kini terkulai lemas di hadapannya itu. Meski demikian wanita itu sebenarnya masih bisa membaca pergerakan dan merasakan keadaan di sekitarnya. Dan kini wanita itu juga bisa merasakan bahwa pria yang baru datang itu tengah berjongkok di hadapannya. Tangan pria itu terulur, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya. "Aku dengar wanita ini ditangkap ketika dia berada di dalam ruang pribadi Don Carlos. Apa itu benar?" Sang Patron bertanya dengan suara dingin dan datar, namun terasa begitu berwibawa dan tegas di saat yang bersamaan. "Es verdad, Patron. Dia tidak hanya sedang berada di ruang pribadi Don Carlos. Tapi wanita ini sedang duduk di pangkuannya ketika pasukan kita melakukan penyergapan." "Estupido! Apa salahnya aku berada di pangkuan ayahku sendiri!" Wanita itu mengumpat mendengar laporan si anak buah. Tapi semua itu hanya bisa ia lakukan di dalam hati. Tubuhnya terlalu lemah bahkan hanya untuk menggerakkan satu jarinya saja. "Hmm ... jadi dia adalah wanitanya Don Carlos. Pantas saja dia sangat keras kepala dan angkuh. Tapi .... " Sang Patron menjeda kalimatnya hanya untuk berdiri dan meminta sebatang cerutu dari salah satu anak buahnya. Dengan cekatan, anak buahnya menyodorkan sebatang cerutu lalu menyalakan api dari pemantik yang sudah ia bawa. Pria itu menyesap cerutu itu dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya perlahan. "Keangkuhan dan keras kepalanya tidak akan berguna lagi di sini. Dia tetap tawananku, dan aku bisa melakukan apa saja yang aku inginkan padanya," lanjutnya. Seorang anak buah yang lain lagi berjalan mendekat sambil menunduk penuh hormat. "Lalu apa yang akan Anda lakukan pada wanita ini, Patron?" Hening menjeda sejenak, membuat wanita yang diam-diam menguping itu mengira jika dirinya sudah tidak sadarkan diri karena sudah tidak mendengar apa pun lagi. Namun, helaan napas yang terdengar membuat wanita itu sadar bahwa pembicaraan masih akan berlanjut. "Gustavo berkata bahwa wanita ini sangat cantik. Terlalu murah jika aku hanya mengambil organnya untuk kujual ke pasar gelap." "Si, Patron. Wanita ini memang berparas sangat cantik dengan tubuh tak kalah seksi. Tapi sekarang semuanya tertutup oleh luka dan memar," kata si anak buah membenarkan. "Hmm." "Perintahkan kepada kami apa yang harus kami lakukan kepada wanita ini, Patron," si anak buah berbicara lagi, seolah sudah tidak sabar untuk melakukan eksekusi setelah perintah diberikan nanti. Akan tetapi, lagi-lagi suasana mendadak hening. Membuat wanita yang masih meringkuk di lantai itu kembali mengumpat dalam hati. Sejak tadi ia menguping. Dan sama seperti si anak buah, dirinya juga sudah tidak sabar untuk mendengar keputusan apa yang akan diberikan oleh sang bos terkait masa depannya selanjutnya. "Bawa dia ke rumah sakit dan obati seluruh luka-lukanya. Pastikan dia pulih dalam sebulan karena aku akan menjualnya ke pasar lelang. Setidaknya uangku harus kembali setelah terlalu banyak yang harus aku keluarkan untuk mengalahkan Don Carlos." Andai tidak sedang sekarat, semua orang pasti bisa melihat bahwa wanita yang sedang mereka bicarakan itu kini tengah tertawa terbahak-bahak sekarang. Ia bersorak dalam hati, merasa keputusan sang Patron adalah keputusan paling bodoh karena tidak menghabisinya saja saat itu juga. Wanita itu tahu, lelang bukanlah akhir dari hidupnya. Tapi awal baru untuknya memulai perjalanan balas dendamnya. Acara lelang yang dibicarakan oleh Sang Patron barusan, mana mungkin si wanita tidak tahu apa artinya. Ia sangat tahu. Bahkan ia tahu harus berbuat apa agar dirinya tidak berakhir mengenaskan setelah dimenangkan. Tubuh wanita yang sudah tidak berdaya itu terasa melayang ketika diangkat untuk dipindahkan, sejalan dengan suasana hatinya yang juga diterbangkan oleh banyak rencana dan harapan. "Jangan menyesal karena menyelamatkanku hari ini, Culero," kata wanita tawanan itu, yang hanya mampu diucapkannya dalam hatinya sendiri.Mateo memejamkan matanya sambil menarik napas dalam-dalam. Jelas terlihat jika ia sedang berusaha meredam emosi dengan apa yang dilakukannya saat ini."Berhentilah memikirkan sesuatu yang tidak perlu kau pikirkan, Diablita. Sudah kukatakan bahwa anak buahku yang akan mengurusnya." Mateo berbicara dengan suara rendah penuh penekanan.Suara Mateo yang seperti itu membuat Camila menoleh ke arahnya. Ia menatap pria itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat kedua bahunya tanda tidak mau lagi peduli."Ya, ya, baiklah. Urusan ini memang bukan urusanku. Lagipula ini hanya berkaitan dengan bisnismu dan bukan bisnisku. Tapi, Mateo .... Aku tidak mau jika kelak bisnismu terganggu hanya karena kelalaian yang terjadi hari ini. Sebagai budakmu, aku tidak ingin hidup menderita karena memiliki tuan yang miskin suatu hari nanti," katanya.Mendengar kata-katanya itu membuat Mateo kembali mencengkram rahang Camila."Kenapa tidak memanggilku Mi Senor seperti dulu, hm? Apa kau merasa pantas men
Mateo tidak berbicara sepatah katapun. Pria itu memusatkan seluruh perhatiannya pada sepatu yang telah menarik perhatian Camila. "Kau, ambil sepatu itu dan periksa!" kata Mateo kepada salah satu anak buahnya yang sudah berdiri di dekatnya entah sejak kapan. "Si." Tanpa membuang waktu, anak buah itu mendekat lalu berusaha mengambil sepatu tanpa kesulitan yang berarti. Ia lalu menyerahkan sepatu itu kepada Mateo setelah berhasil mendapatkannya. Mateo menerima sepatu itu dan memeriksanya sekilas sebelum menunjukkan sepatu itu tepat di depan wajah Camila. "Ini yang kau anggap mencurigakan? Hanya sepatu jelek yang sudah tak layak pakai dan pantas dibuang," kata Mateo. Pria itu kemudian melempar sepatu begitu saja setelah tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan menurutnya. "Tapi ...." Camila ingin mengatakan pendapatnya tetapi Mateo sudah lebih dulu mengangkat tangan. Ia membuat gestur agar Camila diam hingga membuat Camila mendengus karena kesal. Setelahnya, Mateo berb
Dor! Suara tembakan terdengar lagi sebelum Camila tersadar dari keterkejutannya. "Apa-apaan ini," desisnya. Wanita itu segera menyingkir dan bersembunyi di sela-sela tumpukan kontainer yang sempit. Ia semakin merapatkan tubuhnya ketika terdengar suara langkah kaki yang berlari mendekat. "Chert! Etot Meksikanets pod"yekhal tak bystro!" "Zatknis'! Samoye gravnoye-nam nuzhno nemedlenno otsyuda ubrat'sya. Bystro!" Kening Camila mengernyit mendengar percakapan dalam bahasa asing itu. Meski tidak paham makna kata yang mereka ucapkan, tapi Camila tahu jika itu adalah bahasa Rusia. Satu-satunya kata yang Camila tahu hanyalah kata bystro yang mereka ucapkan. Bystro berarti cepat, sedangkan selebihnya wanita itu tidak mengerti sama sekali. Namun, satu kata tersebut sudah cukup bagi Camila untuk memahami situasinya. Jika ia tidak salah tebak, maka orang-orang itu tengah berusaha melarikan diri dari tempat tersebut. Camila mengintip dari tempat persembunyiannya ketika orang yan
Camila menghempas tangan Mateo yang masih memegangi pergelangan tangannya. Ia lalu menarik kembali kakinya dan mengurungkan niatnya untuk berpindah tempat. "Dasar gi la," gumam wanita itu. "Dengar, Diablita. Aku sedang tidak ada waktu bermain-main denganmu. Jadi patuhlah dan jangan berbuat ulah. Mengerti?" Mateo berbicara dengan penuh penekanan tapi Camila sama sekali tidak peduli. Ia justru melipat tangan di depan dada. Wanita itu tidak menjawab serta enggan menatap Mateo hingga membuat pria itu semakin dikuasai emosi karena merasa diabaikan. Dengan satu gerakan cepat, tangan Mateo meraih bagian belakang kepala Camila, menarik rambutnya kuat dan memaksa Camila menoleh dengan kepala mendongak. "Argh!" pekik Camila sambil memegangi tangan Mateo yang menjambak rambutnya. "Kau benar-benar tidak tahu diuntung, Diablita. Tunggu sampai urusanku selesai dan kau akan tahu bagaimana aku menghukummu," kata Mateo. Ia lalu menghempaskan kepala Camila dengan kuat hingga kepala wanit
Camila yang tidak siap dengan tindakan Mateo refleks mengalungkan tangannya ke leher pria itu guna mencari pegangan. "Apalagi yang akan kau lakukan kali ini, Mi Senor?" tanya Camila tanpa melepaskan rangkulannya di leher Mateo. "Diamlah atau aku akan menyeretmu hingga mobil." Camila mencebik tak suka. Namun, ia tetap patuh dan membiarkan Mateo menggendongnya ala brydal. Bahkan ia tetap diam saat melihat Santiago mengikutinya bersama beberapa anak buah Mateo yang lain. Camila didudukkan di kursi penumpang bagian belakang setelah sampai di mobil, dengan Mateo yang menyusul duduk di sebelahnya. Sedangkan Santiago yang mengikuti mereka sejak tadi bertugas sebagai sopir dan duduk di depan sendirian. "Katakan pada Paulo untuk pergi ke Jalisco bersama beberapa anak buahnya mengantarkan pesanan. Ingatkan dia agar tetap waspada karena barang yang akan dibawanya bernilai lebih dari satu juta dolar. Dia boleh membawa berapapun anak buah yang dia mau. Urusan di sini, biarkan Pablo yang m
Santiago menunduk dan mengangguk patuh. Ia menyingkir dari depan pintu agar tidak menghalangi langkah Mateo. "Dan ingat! Jangan pernah meninggalkan wanita itu meski hanya sedetik. Mengerti?" lanjut Mateo setelah mendadak menghentikan langkah tepat di sebelah Santiago. "Si, El Patron," jawab Santiago. Mateo menepuk pundak Santiago dua kali sebelum benar-benar melangkah meninggalkan kamar hotel. Setelah Mateo pergi, barulah Santiago masuk ke dalam kamar bersama seorang dokter wanita yang datang bersamanya tadi. Camila terlihat membersihkan wajahnya dari jejak air mata ketika Santiago dan dokter itu datang menghampirinya. Wanita itu lalu tersenyum meski senyumnya tidak sampai ke matanya. "Apa kau anak buah yang ditugaskan untuk menjagaku, Caballero?" Santiago mengangguk. "Cukup panggil aku Santiago saja, Nona," katanya. "Jadi namamu Santiago? Baiklah, aku akan memanggilmu dengan namamu. Dan kau bisa memanggilku Alma. Ah, ya. Apa dia adalah dokter yang ditugaskan untuk me







