FAZER LOGINMateo memejamkan matanya sambil menarik napas dalam-dalam. Jelas terlihat jika ia sedang berusaha meredam emosi dengan apa yang dilakukannya saat ini."Berhentilah memikirkan sesuatu yang tidak perlu kau pikirkan, Diablita. Sudah kukatakan bahwa anak buahku yang akan mengurusnya." Mateo berbicara dengan suara rendah penuh penekanan.Suara Mateo yang seperti itu membuat Camila menoleh ke arahnya. Ia menatap pria itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat kedua bahunya tanda tidak mau lagi peduli."Ya, ya, baiklah. Urusan ini memang bukan urusanku. Lagipula ini hanya berkaitan dengan bisnismu dan bukan bisnisku. Tapi, Mateo .... Aku tidak mau jika kelak bisnismu terganggu hanya karena kelalaian yang terjadi hari ini. Sebagai budakmu, aku tidak ingin hidup menderita karena memiliki tuan yang miskin suatu hari nanti," katanya.Mendengar kata-katanya itu membuat Mateo kembali mencengkram rahang Camila."Kenapa tidak memanggilku Mi Senor seperti dulu, hm? Apa kau merasa pantas men
Mateo tidak berbicara sepatah katapun. Pria itu memusatkan seluruh perhatiannya pada sepatu yang telah menarik perhatian Camila. "Kau, ambil sepatu itu dan periksa!" kata Mateo kepada salah satu anak buahnya yang sudah berdiri di dekatnya entah sejak kapan. "Si." Tanpa membuang waktu, anak buah itu mendekat lalu berusaha mengambil sepatu tanpa kesulitan yang berarti. Ia lalu menyerahkan sepatu itu kepada Mateo setelah berhasil mendapatkannya. Mateo menerima sepatu itu dan memeriksanya sekilas sebelum menunjukkan sepatu itu tepat di depan wajah Camila. "Ini yang kau anggap mencurigakan? Hanya sepatu jelek yang sudah tak layak pakai dan pantas dibuang," kata Mateo. Pria itu kemudian melempar sepatu begitu saja setelah tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan menurutnya. "Tapi ...." Camila ingin mengatakan pendapatnya tetapi Mateo sudah lebih dulu mengangkat tangan. Ia membuat gestur agar Camila diam hingga membuat Camila mendengus karena kesal. Setelahnya, Mateo berb
Dor! Suara tembakan terdengar lagi sebelum Camila tersadar dari keterkejutannya. "Apa-apaan ini," desisnya. Wanita itu segera menyingkir dan bersembunyi di sela-sela tumpukan kontainer yang sempit. Ia semakin merapatkan tubuhnya ketika terdengar suara langkah kaki yang berlari mendekat. "Chert! Etot Meksikanets pod"yekhal tak bystro!" "Zatknis'! Samoye gravnoye-nam nuzhno nemedlenno otsyuda ubrat'sya. Bystro!" Kening Camila mengernyit mendengar percakapan dalam bahasa asing itu. Meski tidak paham makna kata yang mereka ucapkan, tapi Camila tahu jika itu adalah bahasa Rusia. Satu-satunya kata yang Camila tahu hanyalah kata bystro yang mereka ucapkan. Bystro berarti cepat, sedangkan selebihnya wanita itu tidak mengerti sama sekali. Namun, satu kata tersebut sudah cukup bagi Camila untuk memahami situasinya. Jika ia tidak salah tebak, maka orang-orang itu tengah berusaha melarikan diri dari tempat tersebut. Camila mengintip dari tempat persembunyiannya ketika orang yan
Camila menghempas tangan Mateo yang masih memegangi pergelangan tangannya. Ia lalu menarik kembali kakinya dan mengurungkan niatnya untuk berpindah tempat. "Dasar gi la," gumam wanita itu. "Dengar, Diablita. Aku sedang tidak ada waktu bermain-main denganmu. Jadi patuhlah dan jangan berbuat ulah. Mengerti?" Mateo berbicara dengan penuh penekanan tapi Camila sama sekali tidak peduli. Ia justru melipat tangan di depan dada. Wanita itu tidak menjawab serta enggan menatap Mateo hingga membuat pria itu semakin dikuasai emosi karena merasa diabaikan. Dengan satu gerakan cepat, tangan Mateo meraih bagian belakang kepala Camila, menarik rambutnya kuat dan memaksa Camila menoleh dengan kepala mendongak. "Argh!" pekik Camila sambil memegangi tangan Mateo yang menjambak rambutnya. "Kau benar-benar tidak tahu diuntung, Diablita. Tunggu sampai urusanku selesai dan kau akan tahu bagaimana aku menghukummu," kata Mateo. Ia lalu menghempaskan kepala Camila dengan kuat hingga kepala wanit
Camila yang tidak siap dengan tindakan Mateo refleks mengalungkan tangannya ke leher pria itu guna mencari pegangan. "Apalagi yang akan kau lakukan kali ini, Mi Senor?" tanya Camila tanpa melepaskan rangkulannya di leher Mateo. "Diamlah atau aku akan menyeretmu hingga mobil." Camila mencebik tak suka. Namun, ia tetap patuh dan membiarkan Mateo menggendongnya ala brydal. Bahkan ia tetap diam saat melihat Santiago mengikutinya bersama beberapa anak buah Mateo yang lain. Camila didudukkan di kursi penumpang bagian belakang setelah sampai di mobil, dengan Mateo yang menyusul duduk di sebelahnya. Sedangkan Santiago yang mengikuti mereka sejak tadi bertugas sebagai sopir dan duduk di depan sendirian. "Katakan pada Paulo untuk pergi ke Jalisco bersama beberapa anak buahnya mengantarkan pesanan. Ingatkan dia agar tetap waspada karena barang yang akan dibawanya bernilai lebih dari satu juta dolar. Dia boleh membawa berapapun anak buah yang dia mau. Urusan di sini, biarkan Pablo yang m
Santiago menunduk dan mengangguk patuh. Ia menyingkir dari depan pintu agar tidak menghalangi langkah Mateo. "Dan ingat! Jangan pernah meninggalkan wanita itu meski hanya sedetik. Mengerti?" lanjut Mateo setelah mendadak menghentikan langkah tepat di sebelah Santiago. "Si, El Patron," jawab Santiago. Mateo menepuk pundak Santiago dua kali sebelum benar-benar melangkah meninggalkan kamar hotel. Setelah Mateo pergi, barulah Santiago masuk ke dalam kamar bersama seorang dokter wanita yang datang bersamanya tadi. Camila terlihat membersihkan wajahnya dari jejak air mata ketika Santiago dan dokter itu datang menghampirinya. Wanita itu lalu tersenyum meski senyumnya tidak sampai ke matanya. "Apa kau anak buah yang ditugaskan untuk menjagaku, Caballero?" Santiago mengangguk. "Cukup panggil aku Santiago saja, Nona," katanya. "Jadi namamu Santiago? Baiklah, aku akan memanggilmu dengan namamu. Dan kau bisa memanggilku Alma. Ah, ya. Apa dia adalah dokter yang ditugaskan untuk me







