Share

2. Menuju Lelang

Penulis: Hans Mafaza
last update Tanggal publikasi: 2026-02-16 10:14:24

Sebulan kemudian ...

Di sebuah ruang rumah sakit dengan penjagaan super ketat, seorang wanita menatap pantulan wajahnya sendiri di depan cermin kamar mandi.

Luka-luka di wajahnya sudah menghilang sepenuhnya. Sementara luka-luka yang lain di seluruh tubuh juga sudah hilang tak berbekas. Wajah dan seluruh tubuhnya kini sudah kembali mulus seperti sebelumnya.

Wanita itu tersenyum puas setelah memperhatikan seluruh bagian tubuhnya dengan seksama.

"Kekuatan uang memang luar biasa," gumamnya sambil mengagumi tubuh serta wajahnya sendiri di cermin.

"Tapi rambutku perlu sedikit dirapikan," katanya sambil mengacak rambutnya sendiri.

"Ck, aku perlu ke salon. Tapi bagaimana caranya?"

Wanita itu mendengus kesal. Andai dirinya bukan tawanan, tentu ia sudah pergi ke salon saat itu juga.

Memikirkan kenyataan yang sedang dihadapi membuat sorot mata wanita itu tiba-tiba menajam. Kejadian sebulan lalu, yang membuat hidupnya berubah dari seorang putri mafia kaya raya menjadi tawanan kembali terngiang.

Bayangan sang ayah yang terkulai bersimbah darah karena ditembak oleh seseorang kembali terlintas. Serta pesan terakhir sebelum ayahnya tidak bergerak juga kembali terngiang.

"Jangan bertindak bodoh, Mi cielito. Kamu harus tetap hidup untuk Ayah," bisik sang ayah kala itu.

Mata wanita itu berkaca-kaca ketika teringat pesan terakhir sang ayah. Bahkan di detik-detik terakhirnya, sang ayah hanya ingin ia tetap hidup. Ayahnya tidak meminta wanita itu untuk balas dendam, padahal bisa saja pria malang itu mati karena di bu nuh.

Wanita itu tidak tahu apakah ayahnya masih hidup atau sudah mati. Dan jika sudah mati, apakah ayahnya itu dikuburkan dengan layak atau tidak. Ia sama sekali tidak tahu kabar beritanya.

Ia hanya tahu bahwa ayahnya sudah tidak bergerak ketika ia dipukul hingga pingsan dan dipisahkan dari sang ayah secara paksa. Ketika wanita itu terbangun, ia sudah berada di ruang bawah tanah yang dingin dan lembab. Ia disiksa agar mau membuka mulut. Tapi wanita itu tetap pada pendiriannya. Tetap diam, bahkan ketika nyawanya hampir melayang karena kepalanya dibenturkan dengan keras ke dinding.

Kini tubuh wanita itu sudah pulih. Namun, kebebasannya masih tergadai di tangan orang-orang yang bahkan belum ia ketahui siapa. Ia juga tidak mengerti kenapa rumah ayahnya bisa di serang padahal ayahnya itu tidak punya musuh sama sekali.

Untuk itulah wanita itu memang harus hidup dan mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Perlahan wanita itu menghapus air mata yang menetes. Kemudian ia membasuh wajahnya dengan air untuk menghilangkan sisa-sisa air mata yang mengalir hingga pipi.

"Aku pasti akan merebut kembali apa yang sudah direnggut dariku. Bukan hanya sekedar kebebasan pergi ke salon, tapi seluruh dunia yang pernah aku miliki pasti akan aku dapatkan kembali. Ayah, aku pasti akan tetap hidup apa pun yang terjadi."

Dia menatap pantulan wajahnya di cermin sekali lagi, kemudian merapikan baju pasien yang ia kenakan sebelum melangkah keluar dari kamar mandi.

Di depan pintu kamar mandi, dua orang pria bertubuh tinggi tegap dengan setia menunggunya. Mereka bukan anak buah wanita itu, tetapi penjaga yang ditugaskan untuk memastikan bahwa dirinya tidak akan bisa melarikan diri.

Seorang penjaga mendekatinya lalu mengulurkan sebuah paperbag kepadanya.

"Ganti bajumu! Hari ini kau akan meninggalkan rumah sakit bersama kami," katanya.

Wanita itu menatap sesaat kepada penjaga sebelum kemudian ia menerima paperbag dan kembali masuk ke kamar mandi tanpa berbicara.

"Wanita itu sangat keras kepala. Sampai hari ini, dia belum pernah berbicara. Dan namanya juga belum kita ketahui siapa," kata penjaga itu setelah wanita tadi menutup pintu kamar mandi.

"Diamlah. Dia adalah wanitanya Don Carlos sebelum ditangkap dan dijadikan tawanan oleh El Patron. Wajar jika identitasnya sangat dirahasiakan. Tapi aku yakin, El Patron pasti punya cara agar wanita itu mau buka mulut dan mengatakan segalanya. Atau mungkin, El Patron tidak peduli dengan identitasnya asalkan dia bisa terjual dengan harga tinggi di pelelangan nanti."

"Ya, kau benar, Pablo. Dengan wajah dan tubuh sebagus itu, para peserta lelang pasti akan memperebutkannya. Sayang sekali kita tidak punya kesempatan untuk mencicipinya. Nyawa kita menjadi taruhannya jika kita berani mengusik barang dagangan El Patron."

"Saranku, buang jauh-jauh pikiran kotormu itu dari kepalamu jika kau sudah tahu konsekuensinya."

Pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan berakhirnya obrolan dua orang anak buah itu. Wanita yang sejak tadi mereka bicarakan muncul dengan dress pendek offsoulder berwarna golden brown yang menunjukkan pundak serta kaki jenjangnya yang mulus tanpa cela.

Hampir-hampir mata dua orang pengawal itu keluar dari rongganya demi melihat penampilan si wanita tawanan yang benar-benar sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Terlihat lebih segar dengan kecantikan para wanita khas Amerika Latin yang sangat menawan.

Butuh beberapa detik untuk dua pengawal itu menemukan kesadarannya kembali. Salah satu dari mereka mengerjap lalu mengambil borgol dan memborgol tangan wanita itu.

"Jangan takut. Kami tidak akan menyakitimu, tapi kami tidak bisa mengambil resiko jika kami tidak memborgolmu. Jadi jangan mencoba kabur dan aku pastikan kamu selamat," kata si pengawal dengan suara yang terdengar lebih lembut dari biasanya.

Mendengar ucapan pengawal yang tiba-tiba lembut itu membuat senyum tipis terbit di bibir si wanita. Sangat tipis hingga dua pengawal sama sekali tidak menyadarinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (9)
goodnovel comment avatar
Iin Huang
siapa wanita itu?? knp identitas ny di sembunyikan??
goodnovel comment avatar
Marimar Chan
misterius banget sih wanita ini siapa dia sebenarnya
goodnovel comment avatar
Masruroh Masruroh
sebenarnya siapa sih wanita ini,kok kyknya bukan wanita biasa,,,,
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menaklukkan El Patron   25.

    Mateo memejamkan matanya sambil menarik napas dalam-dalam. Jelas terlihat jika ia sedang berusaha meredam emosi dengan apa yang dilakukannya saat ini."Berhentilah memikirkan sesuatu yang tidak perlu kau pikirkan, Diablita. Sudah kukatakan bahwa anak buahku yang akan mengurusnya." Mateo berbicara dengan suara rendah penuh penekanan.Suara Mateo yang seperti itu membuat Camila menoleh ke arahnya. Ia menatap pria itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat kedua bahunya tanda tidak mau lagi peduli."Ya, ya, baiklah. Urusan ini memang bukan urusanku. Lagipula ini hanya berkaitan dengan bisnismu dan bukan bisnisku. Tapi, Mateo .... Aku tidak mau jika kelak bisnismu terganggu hanya karena kelalaian yang terjadi hari ini. Sebagai budakmu, aku tidak ingin hidup menderita karena memiliki tuan yang miskin suatu hari nanti," katanya.Mendengar kata-katanya itu membuat Mateo kembali mencengkram rahang Camila."Kenapa tidak memanggilku Mi Senor seperti dulu, hm? Apa kau merasa pantas men

  • Menaklukkan El Patron   24.

    Mateo tidak berbicara sepatah katapun. Pria itu memusatkan seluruh perhatiannya pada sepatu yang telah menarik perhatian Camila. "Kau, ambil sepatu itu dan periksa!" kata Mateo kepada salah satu anak buahnya yang sudah berdiri di dekatnya entah sejak kapan. "Si." Tanpa membuang waktu, anak buah itu mendekat lalu berusaha mengambil sepatu tanpa kesulitan yang berarti. Ia lalu menyerahkan sepatu itu kepada Mateo setelah berhasil mendapatkannya. Mateo menerima sepatu itu dan memeriksanya sekilas sebelum menunjukkan sepatu itu tepat di depan wajah Camila. "Ini yang kau anggap mencurigakan? Hanya sepatu jelek yang sudah tak layak pakai dan pantas dibuang," kata Mateo. Pria itu kemudian melempar sepatu begitu saja setelah tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan menurutnya. "Tapi ...." Camila ingin mengatakan pendapatnya tetapi Mateo sudah lebih dulu mengangkat tangan. Ia membuat gestur agar Camila diam hingga membuat Camila mendengus karena kesal. Setelahnya, Mateo berb

  • Menaklukkan El Patron   23.

    Dor! Suara tembakan terdengar lagi sebelum Camila tersadar dari keterkejutannya. "Apa-apaan ini," desisnya. Wanita itu segera menyingkir dan bersembunyi di sela-sela tumpukan kontainer yang sempit. Ia semakin merapatkan tubuhnya ketika terdengar suara langkah kaki yang berlari mendekat. "Chert! Etot Meksikanets pod"yekhal tak bystro!" "Zatknis'! Samoye gravnoye-nam nuzhno nemedlenno otsyuda ubrat'sya. Bystro!" Kening Camila mengernyit mendengar percakapan dalam bahasa asing itu. Meski tidak paham makna kata yang mereka ucapkan, tapi Camila tahu jika itu adalah bahasa Rusia. Satu-satunya kata yang Camila tahu hanyalah kata bystro yang mereka ucapkan. Bystro berarti cepat, sedangkan selebihnya wanita itu tidak mengerti sama sekali. Namun, satu kata tersebut sudah cukup bagi Camila untuk memahami situasinya. Jika ia tidak salah tebak, maka orang-orang itu tengah berusaha melarikan diri dari tempat tersebut. Camila mengintip dari tempat persembunyiannya ketika orang yan

  • Menaklukkan El Patron   22.

    Camila menghempas tangan Mateo yang masih memegangi pergelangan tangannya. Ia lalu menarik kembali kakinya dan mengurungkan niatnya untuk berpindah tempat. "Dasar gi la," gumam wanita itu. "Dengar, Diablita. Aku sedang tidak ada waktu bermain-main denganmu. Jadi patuhlah dan jangan berbuat ulah. Mengerti?" Mateo berbicara dengan penuh penekanan tapi Camila sama sekali tidak peduli. Ia justru melipat tangan di depan dada. Wanita itu tidak menjawab serta enggan menatap Mateo hingga membuat pria itu semakin dikuasai emosi karena merasa diabaikan. Dengan satu gerakan cepat, tangan Mateo meraih bagian belakang kepala Camila, menarik rambutnya kuat dan memaksa Camila menoleh dengan kepala mendongak. "Argh!" pekik Camila sambil memegangi tangan Mateo yang menjambak rambutnya. "Kau benar-benar tidak tahu diuntung, Diablita. Tunggu sampai urusanku selesai dan kau akan tahu bagaimana aku menghukummu," kata Mateo. Ia lalu menghempaskan kepala Camila dengan kuat hingga kepala wanit

  • Menaklukkan El Patron   21.

    Camila yang tidak siap dengan tindakan Mateo refleks mengalungkan tangannya ke leher pria itu guna mencari pegangan. "Apalagi yang akan kau lakukan kali ini, Mi Senor?" tanya Camila tanpa melepaskan rangkulannya di leher Mateo. "Diamlah atau aku akan menyeretmu hingga mobil." Camila mencebik tak suka. Namun, ia tetap patuh dan membiarkan Mateo menggendongnya ala brydal. Bahkan ia tetap diam saat melihat Santiago mengikutinya bersama beberapa anak buah Mateo yang lain. Camila didudukkan di kursi penumpang bagian belakang setelah sampai di mobil, dengan Mateo yang menyusul duduk di sebelahnya. Sedangkan Santiago yang mengikuti mereka sejak tadi bertugas sebagai sopir dan duduk di depan sendirian. "Katakan pada Paulo untuk pergi ke Jalisco bersama beberapa anak buahnya mengantarkan pesanan. Ingatkan dia agar tetap waspada karena barang yang akan dibawanya bernilai lebih dari satu juta dolar. Dia boleh membawa berapapun anak buah yang dia mau. Urusan di sini, biarkan Pablo yang m

  • Menaklukkan El Patron   20.

    Santiago menunduk dan mengangguk patuh. Ia menyingkir dari depan pintu agar tidak menghalangi langkah Mateo. "Dan ingat! Jangan pernah meninggalkan wanita itu meski hanya sedetik. Mengerti?" lanjut Mateo setelah mendadak menghentikan langkah tepat di sebelah Santiago. "Si, El Patron," jawab Santiago. Mateo menepuk pundak Santiago dua kali sebelum benar-benar melangkah meninggalkan kamar hotel. Setelah Mateo pergi, barulah Santiago masuk ke dalam kamar bersama seorang dokter wanita yang datang bersamanya tadi. Camila terlihat membersihkan wajahnya dari jejak air mata ketika Santiago dan dokter itu datang menghampirinya. Wanita itu lalu tersenyum meski senyumnya tidak sampai ke matanya. "Apa kau anak buah yang ditugaskan untuk menjagaku, Caballero?" Santiago mengangguk. "Cukup panggil aku Santiago saja, Nona," katanya. "Jadi namamu Santiago? Baiklah, aku akan memanggilmu dengan namamu. Dan kau bisa memanggilku Alma. Ah, ya. Apa dia adalah dokter yang ditugaskan untuk me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status