Share

Bayi Kembar

Author: Erna Azura
last update publish date: 2026-06-15 22:00:00

Tujuh menit kemudian, mobil Satria masuk halaman rumah seperti habis memenangkan balapan.

“LUNA!” Dia berteriak dari luar sambil berlari masuk ke dalam rumah.

Kaluna sedang rebahan di sofa menahan mulas dengan wajah sekusut rambutnya.

“KENAPA LAMA?!”

Dia tiba-tiba marah.

Satria melongo. “Ini aku sampai sini cuma tujuh menit loh, harusnya sep—” Kalimatnya terpotong.

“AKU MAU MELAHIRKAN!”

Satria terperanjat, dia bergegas pergi ke kamar.

Menyambar tas dari
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (10)
goodnovel comment avatar
Ria Nur
nah itu,,,kok g terdeteksi dari awal,,,ya udah lah ya,,, Alhamdulillah ... twins,,, congrats ya Satria Luna
goodnovel comment avatar
Fa-oel Irawan
perjuangan terbayarkan ya satria gpp di jambak² luna
goodnovel comment avatar
virna putri
kecolongan ini mah.. ko baru ketahuan.. USG pertama kali gmn? selamat yaaa satria Luna.. sehat2 mama Luna dan twins
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menantang Kasta   Ayah

    Pagi datang lebih cerah dari biasanya.Sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang rawat dan jatuh lembut di lantai mengkilap.Kaluna sudah jauh lebih segar dibanding semalam meski wajahnya masih pucat dan gerakannya masih sangat hati-hati.Hari ini dia memakai piyama khusus menyusui warna krem yang dibawakan ibu.Rambutnya dikepang longgar.Dan sekarang—di pelukannya ada bayi perempuan kecil yang sedang menyusu dengan tenang.Sementara bayi laki-laki ada di gendongan Satria.Pria itu duduk kaku. Benar-benar kaku. Takut salah posisi. Takut bayinya jatuh.NTakut bernapas terlalu kencang. Tapi ingin menggendongnya.Setiap tiga detik sekali dia melihat ke Kaluna.“Sayang, ini cara aku gendongnya udah bener belum?”Kaluna melirik. “Kalau enggak bener, dia udah protes dari tadi.”Satria menundukan melihat bayinya. Bayi itu tidur pulas. “…oh.”Kaluna menahan senyum.Sejak perawat membawa si kembar ke ruangan itu, Satria sudah berubah jadi ayah paranoid.Bayi bersin—panik.

  • Menantang Kasta   Cucu Pertama Bapak Dan Ibu

    Pelukan mereka terurai pelan.Satria masih duduk di samping Kaluna dengan satu tangan memeluk bahunya.Kaluna menyandarkan kepala sebentar di pundak Satria.Tubuhnya masih lemah. Masih terasa pegal.Tapi entah kenapa—dadanya terasa penuh.Penuh syukur.Penuh bahagia.Dan sangat ingin melihat dua manusia kecil yang baru beberapa jam lalu keluar dari tubuhnya.Belum sempat mereka bicara lagi—terdengar ketukan di pintu.Tok.Tok.Tok.Satria turun dari atas ranjang untuk membuka pintu.Dan detik berikutnya—suasana tenang ruang VIP itu langsung berubah.Ibu masuk paling depan sambil membawa tiga tas besar.Di belakangnya bapak membawa kantong kain dan satu termos besar.Kaluna yang tadi setengah rebahan seketika senyumnya melebar.“Ibuuuu….”Ibu mendekat cepat.“Ya Ampun Neng…” Beliau langsung mengusap kepala Kaluna. “Gimana sekarang?”Kaluna mengangguk kecil. “Masih sakit dikit.”Ibu langsung melotot ke Satria. “Loh kok cuma dikit? Operasi itu sakit.”Satria melongo

  • Menantang Kasta   Arutala Dan Arunika

    Setelah dokter memastikan kondisi Kaluna aman dan stabil, perawat membawa Kaluna ke ruang rawat inap.Satria menunggu Kaluna di luar ruang operasi, begitu mendapati sosok Satria—bibir Kaluna tersenyum.“Aku berhasil,” katanya serak.“Iya sayang … Kamu berhasil, kamu hebat.” Satria mengecup tangan Kaluna yang dia genggam sambil berjalan di samping ranjang di dorong perawat.Dua perawat pria yang mendorong ranjang itupun ikut tersenyum merasakan kebahagiaan pasangan muda yang baru saja menjadi orang tua dari bayi kembar yang sehat.Satria memilih ruangan VIP agar Kaluna nyaman, sekarang saldo di rekeningnya lebih dari cukup untuk memberikan fasilitas terbaik bagi istrinya.Ruang rawat VIP itu cukup tenang.Tidak benar-benar sunyi karena masih ada suara langkah perawat sesekali di koridor dan bunyi mesin monitor yang ritmenya pelan.Kaluna dipindahkan ke ranjang pasien, wajahnya masih pucat dan lemas.Kelopak matanya tampak berat dan bibirnya sedikit kering.Efek obat membuat t

  • Menantang Kasta   Bayi Kembar

    Tujuh menit kemudian, mobil Satria masuk halaman rumah seperti habis memenangkan balapan.“LUNA!” Dia berteriak dari luar sambil berlari masuk ke dalam rumah.Kaluna sedang rebahan di sofa menahan mulas dengan wajah sekusut rambutnya.“KENAPA LAMA?!”Dia tiba-tiba marah.Satria melongo. “Ini aku sampai sini cuma tujuh menit loh, harusnya sep—” Kalimatnya terpotong.“AKU MAU MELAHIRKAN!”Satria terperanjat, dia bergegas pergi ke kamar.Menyambar tas dari atas lemari kemudian memasukan bantal, lalu charger, dan dompet.Pria itu panik jadi benaknya tidak bisa berpikir jernih.“Satriaaaaaa, kamu apa bawa bantal? Di rumah sakit banyak bantal!”Satria seketika tersadar. “… oh iya sayang.” Mengeluarkan bantal dan memasukan keperluan Kaluna.“Bu, kami pergi ya.” Satria pamit sambil menggendong Kaluna.“Iya … iya, nanti Ibu dan bapak menyusul.” Ibu membantu membawakan tas ke dalam mobil.Lima menit kemudian mereka berangka

  • Menantang Kasta   Belum Mau Keluar

    Pagi datang dengan tenang.Sinar matahari masuk dari sela tirai ruang rawat.Kaluna masih berbaring dengan rambut sedikit berantakan sementara Satria duduk di sofa kecil sambil memangku laptop tapi sejak lima belas menit lalu tidak ada satu pekerjaan pun yang benar-benar masuk ke kepalanya.Tatapannya lebih sering pindah ke Kaluna.Ke perut Kaluna.Ke monitor.Lalu kembali lagi ke Kaluna.Dokter masuk ketika visite pagi.Mengecek tekanan darah.Mengecek kondisi janin.Memeriksa beberapa hal.Lalu mengangguk puas. “Bagus.”Satria yang berdiri di samping ranjang seketika menegakan punggung. Dokter tersenyum. “Boleh pulang ya Bu.”Kaluna tampak lega sementara Satria membeku. “…pulang?”Dokter mengangguk. “Masih belum ada pembukaan.”Satria tampak berpikir keras. “…tapi semalam kontraksi.”Dokter tersenyum sabar. “Kontraksi palsu.”Satria masih mencoba bertahan. “Kalau nanti malam lahiran bagaimana?”Dokter tertawa kecil. “Kalau nanti malam lahiran ya balik lagi.”Sat

  • Menantang Kasta   Kontraksi Palsu

    Meski bukan pagi lagi dan Satria juga bapak sudah berangkat ke tempat mereka mencari nafkah, tapi dari dapur rumah—masih tercium aroma bawang putih yang ditumis.Kaluna sedang memasak makan siang untuk suami tercinta. Dia berdiri atau lebih tepatnya setengah berdiri setengah bersandar.Perut delapan bulan lebih itu sekarang benar-benar sudah menguasai hidupnya.Untuk mengambil mangkuk yang jatuh saja dia perlu strategi.Untuk memakai sandal perlu negosiasi dengan gravitasi.Dan hari ini—dia sedang semangat untuk menyenangkan suaminya.Suaminya yang beberapa minggu lalu harus berjuang meluluhkan hatinya yang sedang diliputi cemburu.Ibu sebenarnya sudah melarang Kaluna memasak.“Udah, Neng… Ibu aja yang masak.”Tapi Kaluna tetap ngotot.“Enggak Bu… aku mau masak untuk Satria.”Ibu menghela napas.“Kenapa sih maksain banget? Perut kamu sudah besar.Kaluna menjawab santai sambil mengaduk.“Enggak maksain kok, Luna seneng masak buat Satria. Biar kaya istri-istri Solehah be

  • Menantang Kasta   Akan Selalu Ada

    Ruang rawat VIP itu sunyi.Kaluna tertidur setelah infus bekerja.Satria duduk di sofa dekat jendela. Laptop terbuka. Slide presentasi terpampang.Ia memeriksa ulang angka.Mengoreksi tata bahasa.Menandai potensi pertanyaan yang mungkin muncul dari klien Jepang.Sesekali ia melirik ke arah r

  • Menantang Kasta   Bentakan Karena Cemas

    Presentasi dengan klien besar dari Jepang tinggal hitungan hari. Ruang CEO berubah seperti markas perang.Meja panjang penuh dengan berkas, grafik, catatan tangan, sticky notes warna-warni, dan iPad yang tidak pernah benar-benar mati.Kaluna sedang berdiri di depan layar proyektor, mengulang s

  • Menantang Kasta   Yang Harus Di Bayar Dari Sebuah Pengkhianatan

    Di sisi lain, Satria berjalan menyusuri koridor kantor dengan langkah tenang.Ia tidak merasa tersinggung apalagi merasa diusir, Satria mengerti.Kaluna sedang membangun tembok agar tidak goyah.Dan ia tidak akan menjadi orang yang meruntuhkannya.Jika jarak itu membuat Kaluna

  • Menantang Kasta   Mulai Berbahaya

    Ruang arsip itu tidak pernah menjadi tempat favorit siapa pun.Dingin. Berdebu tipis. Dindingnya dipenuhi lemari besi tinggi berderet seperti barisan prajurit tua yang menyimpan sejarah puluhan tahun perusahaan.Namun bagi Kaluna, tempat itu justru terasa seperti ruang belajar paling jujur.Dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status