Share

Malaikatku

Penulis: Erna Azura
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-08 20:26:17

“Sayang … aku mandi dulu ya.” Reyhan bergumam dengan suara serak dan beratnya.

Dia menarik tangan yang menjadi Keinarra berbantal semalaman lalu mengecup pipinya pelan sebelum bangkit dari tempat tidur.

Sementara Keinarra mengubah posisi tidurnya dengan mata terpejam, masih enggan meninggalkan alam mimpi.

Bagaimana tidak mereasa nyaman, udara di villa itu segar dan dingin jauh dengan udara di Jakarta dan beraroma kayu lembab dan kabut. Dari luar terdengar suara burung camar bersahut-sahutan, menandai pagi yang baru di tepi Lake Bled.

Saat Reyhan keluar dari kamar mandi, Keinarra berjalan mendekat dengan langkah gontai, rambut acak-acakan dan mata setengah terpejam.

“Hey … buka dulu matanya,” kata Reyhan sembari menahan tubuh Keinarra dengan memegang pundaknya.

Keinarra membuka mata lebar, di hadapannya tubuh jangkung dan atletis bertelanjang dada hanya melilitkan handuk di pinggang.

Keinarra lantas mendongak mempertemukan tatap.

“Ih … Mas ….” Keinarra menutup wajah menggunakan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Memohon Pertolongan

    Langit pagi di Jakarta belum benar-benar biru ketika Keinarra terbangun. Hanya garis tipis cahaya yang menyusup dari sela tirai, tetapi tubuhnya sudah terasa resah sejak menjelang subuh—seperti ada sesuatu yang belum selesai, yang harus ia lakukan sebelum hari berjalan terlalu jauh.Dia menatap layar baby monitor.Arelio masih terlelap di box bayi. Napasnya naik turun dengan ritme yang begitu tenang, seolah dunia ini tidak punya satu pun beban yang patut ia khawatirkan. Di sisi ranjang, Reyhan tertidur tengkurap dengan lengan terulur ke arah Keinarra—entah mencari tubuhnya atau hanya kebiasaan.Untuk sesaat, Keinarra menatap keduanya secara bergantian dalam diam.Ada kehangatan di rumah ini itu. Ada keluarga. Ada kehidupan baru. Namun, ada pula sesuatu yang mengganjal—bayangan lelaki tua di kursi roda, suara Nadya yang berteriak histeris, tangan sekuriti yang mendorong mereka keluar dari rumah sakit.Dan rasa sakit itu—anehnya—bukan rasa sakit balas dendam atau kemenangan. Melain

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Hati yang Pemaaf

    Pagi itu datang dengan cara yang sibuk.Tidak sempat pelan, tidak sempat manis,hanya penuh dengan jadwal dan barang-barang yang harus dibawa.“Popok, tisu basah, baju ganti, selimut… apa lagi?” Keinarra bergumam sambil memasukkan perlengkapan ke dalam tas bayi.Nanny yang berdiri di sampingnya mengangguk dengan penuh kesiapan. “Susu formula cadangan, Bu. Dan kartu rumah sakit.”“Ya ampun, iya.” Keinarra menepuk kening sendiri pelan.Arelio yang kini berusia enam bulan duduk di kursi bayi dengan pipi montok dan mata yang sibuk berpindah dari satu benda ke benda lainnya. Tangan mungilnya mencakar boneka kecil dengan antusias.“Dia tidak sadar hari ini adalah hari imunisasi,” kata Keinarra sambil menatapnya penuh cinta. “Kalau dia sadar… pasti sudah protes dari pagi.”Nanny tertawa kecil. “Bayi biasanya nangis ketika disuntik.”Keinarra menggeleng santai. “Anak aku ini pemberani loh, Nan …,” kata Keinarra ringan.“Nangisnya nanti malam saja ya kalau ada Ayah.” Keinarra berujar

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Penuh Dengan Kebahagiaan

    Dunia bisnis punya cara sendiri untuk menyambut anak-anak para pemiliknya.Dan kini, dunia itu mulai mengenal satu nama baru yaitu Keinarra Athaletha Anggoro.Malam itu, Gunawan menjemput Keinarra dengan Bentley hitam. Reyhan menyusul dari kantor dengan mobil mewah yang berbeda. Tidak ada iring-iringan besar, tapi elegan, presisi, dan jelas kalau acara yang akan dihadiri Keinarra ini bukan undangan biasa.“Sayang … apa papa kamu sudah datang?” Reyhan sedang mengenakan jasnya, earphone bluetooth menempel di telinga.Mereka sedang berada di tempat berbeda, Keinarra di rumah dan Reyhan di kantor.“Kayanya sudah sampai, tadi aku denger suara mobil masuk.” Keinarra menjawab.Hening. Mereka sedang sibuk memperbaiki penampilan untuk acara malam ini.“Mas ….” Suara Keinarra terdengar ragu.“Ya sayang ….” Reyhan menyahut cepat.“Acara koperasi bank? Konferensi investor? Atau gala sosial?” tanya Keinarra sambil memakai anting kecil.“Semua dalam satu,” jawab Reyhan sambil mengancing

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Cinta yang Tumbuh Lebih Besar

    Waktu ternyata bisa berlari dan menari dalam diam.Tanpa disadari, enam bulan sudah berlalu sejak Arelio lahir—enam bulan sejak Keinarra menemukan versi dirinya yang pernah ia takutkan, pernah ia rindukan, dan akhirnya ia terima di mana sekarang Keinarra memiliki gelar baru yaitu seorang ibu.Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi, angin masih terasa sejuk, dan kamar bayi dipenuhi aroma sabun bayi dan bedak talc yang ringan. Arelio duduk di kursi bayi dengan pipi chubby yang menggemaskan, rambut tipisnya mulai tumbuh acak, dan matanya yang besar memandang dunia tanpa sedikit pun rasa takut.“Selamat pagi, Pangeran,” kata Keinarra sambil mencium pipi kanan lalu kiri. “Hari ini kita mandi pagi, makan bubur, terus bunda ajak jalan-jalan di taman.”Arelio menjawab dengan gumaman tidak jelas.“Pa-pa-ba-ba.”Keinarra terbelalak. “Kamu barusan manggil siapa? Papa? Atau Bapak? Atau lagi latihan baca mantra?”Arelio menatapnya dengan kerjapan pelan, lalu tertawa tanpa suara sambil mene

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Panik

    Malam pertama di rumah seharusnya tenang. Setidaknya, begitu yang dibayangkan Reyhan. Lampu kamar utama telah diredupkan. Tirai ditutup setengah. Udara sejuk dari pendingin ruangan mengalir pelan, tidak terlalu dingin, tidak terlalu hangat—hasil kompromi panjang antara Reyhan yang paranoid dan Keinarra yang masih menyesuaikan tubuh pascamelahirkan. Keinarra berbaring miring, satu lengan melingkar di sekitar Arelio yang tertidur di boks bayi kecil tepat di sisi ranjang. Bayi itu tampak damai—mulutnya sedikit terbuka, napasnya teratur, wajahnya tenang seolah dunia memang diciptakan khusus untuknya. “Mas,” bisik Keinarra pelan. “Hm?” “Dia tidur nyenyak banget.” Reyhan tersenyum, suaranya ikut direndahkan. “Aku sampai takut bernapas terlalu keras, takut dia terganggu.” Keinarra terkekeh kecil, lalu memejamkan mata. Akhirnya. Malam pertama. Bertiga. Setelah drama panjang hubungan mereka. Dua puluh menit pertama berlalu dalam keheningan yang hampir sakral. Lalu—

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Pulang

    Hari ini, Keinarra dan Arelio akhirnya diperbolehkan pulang.Keinarra sangat bersemangat,Ia berdiri di depan cermin kecil di kamar rawat, mengenakan gaun longgar berwarna krem yang Reyhan pilihkan khusus—sederhana, nyaman, dan tidak menekan tubuhnya yang masih dalam masa pemulihan. Rambutnya diikat rendah, wajahnya nyaris tanpa riasan, tapi ada ketenangan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.Di lengannya, Arelio terlelap.Dibedong rapi, topi kecil menutupi kepalanya. Wajah mungil itu tampak damai, seolah dunia memang diciptakan untuk menyambutnya dengan penuh suka cita.“Sebentar lagi kita pulang,” bisik Keinarra pelan.Arelio tidak bergerak, hanya menghela napas kecil.Reyhan berdiri di belakangnya, memperhatikan dari cermin. Dadanya terasa penuh—terlalu penuh untuk diberi nama. Ia melangkah mendekat, menyentuh bahu Keinarra dengan hati-hati.“Siap, sayang?” tanyanya.Keinarra mengangguk. “Lebih dari siap.”Reyhan tersenyum kecil. “Aku sudah cek semuanya. Kursi bayi di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status