LOGINWanita itu mengenakan pakaian putih sederhana. Wajahnya tanpa ekspresi, aura dingin yang terpancar dari tubuhnya membuat orang-orang di sekitarnya secara alami menjaga jarak. Namun, yang paling mencolok adalah wajahnya yang cantik.Kecantikannya begitu menonjol hingga membuatnya tampak seperti sosok yang tidak seharusnya berada di tengah kerumunan manusia biasa.Revan juga segera menyadari bagwa wanita itu sangat kuat dan berbahaya. Bahkan dari kejauhan, dia bisa merasakan tekanan samar yang membuatnya waspada.Karena penasaran, Revan menyenggol Bram dan bertanya pelan, “Siapa wanita itu?”Bram mengikuti arah pandangan Revan. Begitu melihat sosok berpakaian putih tersebut, ekspresinya langsung menjadi serius.“Namanya Livia,” bisiknya. “Dia berada di tingkat ke delapan Fase Roh dan merupakan nona muda Keluarga Varenza. Dari semua peserta yang datang kali ini, kabarnya dia adalah salah satu yang paling kuat.”“Keluarga Varenza?” Revan sedikit terkejut.Dia pernah mendengar nama keluarg
Di sisi lain, Naren tampak jauh lebih serius daripada sebelumnya. Kekuatan Revan sudah cukup mengerikan bahkan sebelum menerobos. Sekarang tingkat kultivasinya telah meningkat lagi, kekuatan pemuda itu jelas tidak bisa dianggap sama seperti sebelumnya.Naren menatap Revan beberapa saat sebelum akhirnya berbalik. Dia kemudian menyusul Dito yang telah lebih dulu pergi.Pertarungan mereka memang belum menghasilkan akhir yang benar-benar memuaskan, tetapi setelah menerima sejumlah keuntungan dari Dito, membantu orang itu sekali lagi juga bukan sesuatu yang berlebihan.***Tiga hari berlalu dalam sekejap. Dengan hanya dua hari tersisa sebelum seleksi murid Perguruan Sangkara dimulai, jumlah peserta yang berdatangan telah melampaui lima ribu orang.Sebagian besar di antara mereka merupakan talenta muda dari berbagai tempat. Namun, bangunan penginapan yang disediakan perguruan hanya mampu menampung sekitar tiga ribu orang. Bahkan setelah seluruh Paviliun Kecil yang tersedia digunakan, masih
Di atas langit, dua sosok berdiri melayang tanpa menyentuh tanah. Salah satunya adalah seorang lelaki tua berambut putih, sedangkan yang lain merupakan pria paruh baya dengan aura berwibawa. Pria paruh baya itulah sosok misterius yang sebelumnya turun tangan untuk menyelamatkan Revan dari hukuman.“Anak ini benar-benar bukan orang biasa.” Lelaki tua berjubah putih tersenyum tipis, tetapi ada kilatan licik di matanya. “Dia baru saja menembus tingkat ke tujuh Fase Roh, tetapi sudah mampu menimbulkan gejolak sebesar ini.”Pria paruh baya di sampingnya ikut mengamati halaman yang bergetar. “Memang tidak sederhana. Saat masih berada di tingkat ke enam Fase Roh, kekuatannya sudah mampu mencapai tingkat ke sembilan. Setelah sekarang mencapai tingkat tujuh...”Dia tidak melanjutkan kalimatnya, tetapi lelaki tua itu sudah memahami maksudnya.“Jenius seperti ini sudah lama tidak muncul di Perguruan Sangkara.”Semakin tinggi tingkat lawan yang mampu dihadapi seseorang, semakin luar biasa pula ba
Paviliun Kecil itu telah berubah menjadi reruntuhan. Hanya bangunan kecil di bagian dalam yang masih berdiri kokoh, seolah tidak terpengaruh oleh pertarungan sengit sebelumnya.Revan masuk ke dalam bangunan tersebut tanpa banyak bicara. Bram hanya bisa tinggal di luar sambil membersihkan halaman yang berantakan dengan wajah masam.Untungnya, Bram tidak perlu bekerja sendirian terlalu lama. Tidak lama kemudian, sejumlah murid Perguruan Sangkara berjubah abu-abu datang dan ikut membantu membersihkan puing-puing.Revan sempat menanyakan identitas mereka kepada Bram. Ternyata, Bram sendiri merupakan murid dengan status paling rendah di Perguruan Sangkara. Dia sebelumnya gagal dalam seleksi masuk, tetapi tidak ingin meninggalkan perguruan sehingga memilih menetap dan mengerjakan berbagai pekerjaan kasar dengan harapan suatu hari nanti mendapat kesempatan menjadi murid luar.Sementara itu, para murid yang mengenakan jubah biru memiliki status lebih tinggi. Mereka merupakan murid dalam, sepe
Pengurus itu menatap Revan dengan dingin. “Revan Cakrawala, karena telah membuat keributan, merusak bangunan perguruan, dan tidak menghormati para tetua, kau dijatuhi hukuman mematahkan kedua lenganmu. Hukuman akan dilaksanakan sekarang.”Suaranya menggema ke seluruh area sehingga setiap orang yang berada di sekitar dapat mendengarnya dengan jelas.Para pemuda yang datang untuk mengikuti seleksi Perguruan Sangkara langsung menunjukkan ekspresi terkejut. Mereka memang tidak menyaksikan awal pertarungan secara langsung, namun dilihat dari situasi yang terjadi, mereka bisa menduga bahwa Dito dan rombongannyalah yang lebih dahulu membuat masalah.Namun, orang yang akhirnya dijatuhi hukuman justru Revan. Tidak ada seorang pun yang berani bersuara. Tidak ada yang cukup bodoh untuk menyinggung seorang pengurus perguruan hanya demi membela orang yang sama sekali tidak mereka kenal.“Tuan, tunggu!” Bram buru-buru maju. “Bukankah tadi Anda mengatakan hukuman hanya seratus cambukan? Bukan sepert
“Bocah, siapa sangka kau ternyata seorang menantu yang tinggal serumah dengan keluarga istrimu.” Dito menyeringai mengejek. “Kalau begitu, bukankah seharusnya kau tetap di rumah dan mengurus istrimu? Untuk apa repot-repot datang ke sini?”Empat orang yang berdiri di belakang Dito sebenarnya ingin ikut mencemooh. Namun, begitu melihat tatapan Revan yang dingin, mereka langsung menelan kembali kata-kata yang sudah berada di ujung lidah.Dito boleh saja berani tertawa karena memiliki sandaran. Mereka tidak memiliki keberanian yang sama.Pengurus Perguruan Sangkara yang berdiri di hadapan mereka justru mencibir. “Jadi kau memang seorang menantu yang tinggal di rumah keluarga istrimu.”Tatapannya terhadap Revan berubah semakin merendahkan. “Orang yang hidup dari seorang wanita seharusnya menerima hukuman lebih berat. Aku akan mematahkan salah satu lenganmu sebagai pelajaran. Setelah ini, ingat baik-baik aturan Perguruan Sangkara dan jangan membuat masalah lagi.”Pengurus itu pernah mendeng







