LOGINKurang terpelajar apa coba, seorang lulusan universitas dan seorang General Manager, tapi bisa-bisanya mereka terjebak dalam praduga dan asumsi konyol yang tidak berdasar ilmiah sama sekali. Hanya karena anak pertama dan kedua mereka laki-laki, maka secara otomatis anak ketiga pasti perempuan.Dan puncaknya saat hari persalinan itu. Begitu suara tangis bayi memecah ketegangan di ruang bersalin, dokter kandungan dengan senyum lebar mengangkat sang bayi ke arah mereka. "Selamat ya, Pak Rangga, Ibu Maria. Bayinya laki-laki, tampan dan sangat sehat."Mendengar kata 'laki-laki', Maria dan Rangga seketika saling pandang di atas ranjang bersalin. Detik itu juga ketegangan berubah menjadi momen paling kocak. Rangga terdiam, sementara Maria langsung tersenyum di tengah rasa haru dan sisa-sisa letihnya. Bisa-bisanya ia memercayai 'ramalan' suaminya yang sok tahu itu.Namun begitu tubuh mungil itu diletakkan di atas dada Maria untuk proses inisiasi menyusu dini, air mata kebahagiaan tak lagi bis
Setelah hampir setahun lamanya terpisah oleh jarak, gengsi, dan badai kehidupan, pertemuan siang itu menjadi sebuah penanda bahwa badai telah benar-benar reda. Meninggalkan pelangi baru yang damai bagi masa depan mereka semua.🖤LS🖤Setahun kemudian ....Karpet tebal di ruang tengah rumah kediaman General Manager itu layaknya sebuah medan perang mini yang riuh. Potongan-potongan lego, mobil-mobilan, robot, dan bola berbagai warna menjadi saksi bisu betapa energi anak laki-laki seolah tidak memiliki batas akhir. Di tengah-tengah kekacauan yang menyenangkan itu, seorang bayi laki-laki berusia sembilan bulan tengah bertumpu pada kedua lututnya dan merangkak mengejar kedua kakaknya.Ilyas Rayan Alfarezel. Nama seorang bayi yang memiliki lipatan-lipatan menggemaskan di lengan dan pahanya. Mirip sekali dengan Ibrahim dan Yusuf saat masih seumurannya. Montok, berkulit bersih, dan beraroma khas bedak bayi yang bercampur minyak telon.Baby Ray, begitu ia dipanggil. Menjadi pelengkap di hidup
MARIA- 80 Ending Seminggu kemudian ....Gemercik air dari kolam buatan yang membelah area outdoor rumah makan di tengah Kota Malang berpadu dengan riuh rendah obrolan pengunjung siang itu. Aroma gurami bakar berlumur bumbu rempah dan sambal terasi menguar di udara, membangkitkan selera. "Hai, anak ganteng. Lucunya kamu." Susi yang siang itu tampil anggun dalam balutan gamis pastel dan hijab senada, mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil Nathan dari pangkuan Tamara. Bayi berusia tiga bulan itu memandang sosok yang baru dikenalnya, ia memberikan senyuman saat Susi memangkunya.Tamara tersenyum, meski ada sedikit rasa canggung yang masih tersisa di sudut hatinya. Namun melihat bagaimana hangatnya sambutan Susi dan Rudi, perlahan-lahan ia bisa mulai santai.Pasangan di hadapannya ini begitu luar biasa. Mereka seolah telah mengubur dalam-dalam seluruh memori kelam masa lalu yang pernah menorehkan luka. Susi kini memancarkan aura wanita yang sepenuhnya bahagia, kedamaian hidup baru
Rangga bahagia. Pria itu mencondongkan tubuhnya, menatap Maria dengan tatapan mata yang mendadak berubah intens, sarat akan percikan gairah yang mulai menyala di kamar mereka."Jadi apa hadiah untuk Mas dari istri yang cantik malam ini, hmm?" Rangga mengedipkan sebelah matanya penuh godaan, jemarinya mulai menelusuri raga Maria.Wanita itu merasakan pipinya menghangat. Ia tersenyum, lalu tangan mungilnya mendorong pelan dada bidang suaminya. "Mandi dulu. Setelah Mas bersih dan wangi, nanti hadiahnya menanti.""Siap, Nyonya Rangga," sahut Rangga jenaka. Pria itu langsung menyambar handuk dan menghilang di balik pintu kamar mandi dengan langkah panjangnya.Sambil menunggu Rangga, Maria melepas mukenana. Menyisakan gaun tidur berbahan sutra lembut berwarna merah marun. Membungkus lekuk tubuhnya yang tengah berbadan dua. Memang semenjak kehamilan anak ketiga ini, Rangga sengaja membatasi dan mengurangi intensitas permintaan hubungan biologis mereka. Pria itu selalu diliputi rasa tidak teg
Empat bulan kemudian ...."Sayang, coba tebak kabar apa yang Mas bawa sekarang ini?" Suara berat Rangga memecah keheningan kamar utama. Pria itu menghampiri sang istri yang baru saja selesai menunaikan salat isya. Rangga memang pulang terlambat hari itu karena urusan pekerjaan yang menyita waktu. Maria yang masih berbalut mukena, menatap heran pada suaminya. Wajah Rangga terlihat sangat berseri-seri, gurat lelah seolah menguap begitu saja dari sepasang matanya, padahal pria itu sudah seharian penuh memeras pikiran di kantor."Apa, Mas?" tanya Maria. Ia tidak bisa menebak apa pun.Rangga tidak langsung menjawab. Ia sengaja mengikis jarak dan duduk di depan Maria, lalu menggenggam kedua tangan istrinya erat-erat. "Minggu depan, surat keputusan resminya keluar. Mas resmi naik jabatan menjadi General Manager."Maria terkesiap. Napasnya tertahan sedetik di tenggorokan akibat rasa terkejut yang bercampur dengan luapan kebahagiaan yang membuncah. Matanya berbinar-binar indah di bawah lampu
MARIA- 79 General Manager Tamara melangkah dari dapur, membawa secangkir kopi hitam lalu meletakkannya di atas meja depan Nino. Pria itu baru saja sampai setengah jam yang lalu dari Malang. Wajahnya masih menyiratkan sisa-sisa lelah setelah sibuk dengan pekerjaan."Mari makan, Mas." Maria menyodorkan piring pada Nino. Biar laki-laki itu mengambil makanannya sendiri."Makasih." Nino mengambil nasi, tumis brokoli, dan sepotong ayam goreng.Mereka kemudian menyantap makan malam berdua saja. Bu Arsi sengaja memilih beristirahat lebih awal di kamar, untuk memberikan ruang agar Tamara dan Nino bisa mengobrol dengan leluasa."Mas, aku sudah memikirkan semuanya beberapa hari ini. Dan aku sudah mengambil keputusan." Sambil makan Tamara memulai percakapan.Nino yang sedang mengunyah nasi terdiam sejenak. Ia memandang lurus pada perempuan yang statusnya masih menjadi istri sirinya tersebut. Ada kilat kecemasan sekaligus harapan di matanya. Sebenarnya ia juga sudah capek dengan hidup penuh petu
"Sebelum ke sini, A'im sudah pernah diajak pergi ke mana?" tanya Rangga menoleh pada Maria."Belum," jawab Maria singkat.Ini kali pertama dalam hidup Ibrahim, bocah itu menginjakkan kaki di sebuah tempat wisata megah seperti ini. Selama ini, Maria hanya mengajaknya berjalan-jalan di taman kota yan
MARIA- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan
MARIA- 6 Ingin Berpisah "Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi."Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur send
MARIA- 5 Pukulan Telak"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," la







