LOGINBiasanya abang itu libur hanya sehari. Tapi ini sudah beberapa hari. Apa dia mencari pekerjaan lain? Hasil jualan donat mana bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Terlebih kalau sudah punya anak. Zahra tahu sendiri, sampai ia pulang kuliah, dagangan abang itu masih banyak. Mendadak ia merasa iba. Zahra selalu salut pada lelaki-lelaki yang bekerja keras demi menafkahi keluarga. "Ayolah, Ra. Nanti kugendong kamu," seru Aurel lagi sembari menggandeng paksa pergelangan tangan Zahra untuk diajak menyeberang jalan."Rel, kamu ini kalau lapar dah kayak mau makan orang saja," balas Zahra.🖤LS🖤Asap mengudara dari embusan napas Zein, lalu memudar ditelan angin yang menerobos masuk di warung kopi pinggir jalan. Tatapannya jatuh ke jalanan. Sudah tiga hari ini ia menghilang dari trotoar kampus. Alasan klasik pulang kampung menjenguk ibu, telah sukses meyakinkan si ibu pemilik dagangan donat. Padahal ia tidak bergeser dari kota Surabaya.Hari ini penyamaran lusuhnya ditanggalkan sejenak. Zein bar
Di seberang jalan, di balik gerobak Donat Kampung Maknyus, Zein kembali duduk di kursi plastik. Tangan kanannya memegang ponsel pintar, jemarinya bergerak-gerak di atas layar seolah sedang asyik bermain game seperti orang kebanyakan. Padahal dia sedang membagikan informasi pada atasannya.Dan disamping itu, sepasang mata Zein bekerja dengan tingkat fokus yang mengerikan. Lensa matanya bergerak berirama, membidik setiap pergerakan yang menuju ke rumah mewah lantai dua seberang jalan. Merekam plat nomor sebuah sedan hitam yang baru saja meluncur cepat keluar pintu pagar.Di sela-sela ketegangan analisis taktisnya, ia teringat tentang interaksi beberapa menit yang lalu, menyelinap masuk ke dalam benaknya. Sebuah nama terucap pelan di dalam hatinya. Zahra.Tanpa sadar Zein tersenyum."Bang, ngapain senyum-senyum sendiri, gitu," teriak penjual siomay yang mangkal tak jauh darinya.Spontan Zein menoleh. Kemudian menunjukkan ponselnya pada lelaki setengah baya itu. Seakan bilang dia sedang t
Zein- 2 Gelisah"Panggil saja Zahra, Bang."Sebuah senyuman terbit di sudut bibir Zein. Sepasang mata sang intelejen merekam binar jernih dari mata gadis di hadapannya. Ada rasa hangat yang aneh menyergap dadanya. Gadis itu sama sekali tidak ragu menyebutkan namanya kepada seorang lelaki yang beraroma minyak goreng seperti dirinya."Oke. Mbak Zahra. Saya panggil Mbak saja ya," ujar Zein.Zahra membetulkan letak tali tas ranselnya di pundak. Hari ini gadis itu mengenakan jilbab bermotif bunga-bunga kecil dengan warna dasar pastel yang lembut, senada dengan blus longgar yang dikenakannya. "Abang sendiri asli Surabaya?" ganti Zahra yang melempar tanya, suaranya terdengar santai di antara deru mesin kendaraan yang lalu lalang."Bukan, Mbak. Saya cuma perantau di sini, cari sesuap nasi," jawab Zein dengan senyum terbit di bibirnya. Tangannya bergerak lincah menata kotak putih berisi donat. "Kalau Mbak Zahra sendiri, aslinya dari mana?""Tulungagung, Bang." "Oh, kota marmer." "Iya.""Kul
"Bang, Donat cokelatnya masih ada?" Suara dari seorang mahasiswa berjaket almamater memutus pergolakan batin Zein. Laki-laki itu tersentak kecil, lalu dengan cepat mengubah raut wajahnya kembali menjadi si Abang Donat yang ramah. "Masih ada, Mas. Mau berapa?" "Tiga saja. Lapar saya, Bang. Tapi malas mau makan nasi," jawab pemuda itu. Dan mereka berbasa-basi ramah layaknya penjual dan pembeli. Setelah itu sepasang matanya kembali melirik sekilas ke arah gerbang kampus. Berharap siluet gadis hijab warna navy itu muncul di antara kerumunan mahasiswa yang hendak pulang. 🖤LS🖤 "Bang Zein, besok libur dulu, ya. Saya lagi ada kerepotan di rumah saudara. Lusa baru jualan lagi." Suara parau seorang wanita paruh baya memecah keheningan dari ponsel milik Zein malam itu. Beliau adalah pemilik dari jenama 'Donat Kampung Maknyus'. Sosok yang setiap subuh menyuplai berkotak-kotak donat untuk dijajakan Zein di trotoar depan kampus. "Oh, iya, Bu. Tidak apa-apa," jawab Zein datar, berusaha m
Mengingatkannya pada sosok Maria. Wanita masa lalunya yang kini telah hidup bahagia bersama suami dan anak-anaknya. Ironisnya, setelah hampir tiga bulan gadis itu menjadi pelanggan setianya, Zein bahkan belum mengetahui siapa nama gadis itu. Ia terlalu menutup diri karena penyamarannya menuntut untuk tidak terlalu banyak meninggalkan jejak pribadi. Zein mengembuskan napas panjang, mengalihkan fokusnya kembali ke dunia nyata. Surabaya siang ini sedang tidak baik-baik saja di bawah permukaan yang tampak tenang. Tugas utamanya di kota ini teramat berat dan berbahaya. Menyelidiki jaringan gembong narkoba skala internasional sekaligus jalur penyelundupan senjata api terlarang yang diduga memanfaatkan area sekitar kampus sebagai zona transit mereka. Demi melancarkan misi rahasia negara tersebut, gerobak donat ini adalah tameng terbaiknya. Setiap hari, dari pukul 06.00 hingga 09.00 adalah waktu krusial di mana ia harus tampil se-normal mungkin sebagai pedagang kaki lima. Di jam-jam itulah
Zein - 1 Gadis Berjilbab Navy Di atas trotoar yang retak-retak oleh akar pohon peneduh, sebuah gerobak kayu sederhana bercat putih dengan tulisan "Donat Kampung Maknyus" sudah standby di sana sejak pagi. Riuh klakson motor, asap knalpot, dan derap langkah kaki para mahasiswa yang terburu-buru mengejar kelas jam tujuh pagi menjadi musik latar yang akrab di telinga. Di balik etalase kaca yang sedikit berembun, seorang pria yang memakai topi warna abu-abu kumal tengah duduk di atas kursi plastik tanpa sandaran. Ia mengenakan kaos oblong hitam dan celana jin pudar yang ujungnya sengaja digulung kasar di atas sepatu hitamnya. Handuk kecil berwarna biru pudar melingkar di leher, sesekali digunakannya untuk menyeka peluh yang menetes di pelipis. Penampilannya adalah definisi sempurna dari seorang abang penjual donat jalanan yang bertarung mengais rezeki di dekat area kampus ternama Kota Pahlawan tersebut. Namun jika ada yang jeli memperhatikan di balik bayangan topi yang sengaja di
"Sebelum ke sini, A'im sudah pernah diajak pergi ke mana?" tanya Rangga menoleh pada Maria."Belum," jawab Maria singkat.Ini kali pertama dalam hidup Ibrahim, bocah itu menginjakkan kaki di sebuah tempat wisata megah seperti ini. Selama ini, Maria hanya mengajaknya berjalan-jalan di taman kota yan
MARIA- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan
MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas pan
MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu da







