Share

MJM 45

last update publish date: 2026-06-12 12:19:23

"Assalamu'alaikum." Ucapan salam dari lelaki yang baru datang, spontan membuat para pengurus panti menoleh.

"Wa'alaikumsalam," jawab mereka bersamaan, termasuk Aisyah.

"Mas Zein, Masya Allah, baru muncul lagi," seru Bu Halimah sambil tersenyum ramah pada sosok yang mengenakan kemeja hitam dan celana jeans warna biru.

"Iya, Bu. Rupanya ada acara di panti," ujarnya sambil duduk di kursi plastik yang disodorkan Aisyah. "Makasih, Mbak Aisyah."

"Iya, Mas. Acara yang disponsori oleh bapak-bapak ini.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (15)
goodnovel comment avatar
Haki Surya
aq dukung maria sama zein aja ya mbak lis, smoga aja keluarganya juga baik n menerima maria, kalo balik sama rangga traumanya yg sulit dhilangkan meski smua keluarganya baik
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
eee mas Zein yg di tunggu2 baru muncul ya..km kok seperti mas dewa lo.km baru sadar kan Rangga,Maria gak pernah km liat tp sekali kluar Maria di liatin para laki2 yg pengen langsung memilikinya Lo.
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
makin ketar ketir nih mas Rangga.. para pesaing mulai menunjukkan pesonanya..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 238

    Meninggalkan sepetak trotoar kosong yang kini menyimpan rahasia kecil di antara Zahra dan pria yang kini sedang dalam perjalanan untuk memulai profesi barunya.🖤LS🖤Udara pagi Surabaya yang biasanya hanya dipenuhi deru knalpot, hari ini mendadak pekat oleh desas-desus. Di depan rombong nasi uduk mpok Nur, beberapa ibu-ibu kos dan warga saling mendekatkan kepala, berbicara dengan nada setengah berbisik tapi begitu serius. Zahra dan Aurel berdiri mengantre di belakang mereka. Diam tapi menyimak."Beneran, Bu. Jam dua malam, mobil polisi banyak banget berderet di depan gerbang rumah itu. Pintu pagarnya sampai didobrak, lho!" seru seorang wanita beraster batik sambil menunjuk ke arah seberang jalan."Iya, saya juga dengar samar-samar ada suara teriakan. Kata suami saya yang baru pulang narik malam tadi, rumah mewah itu digerebek karena sarang narkoba sama senjata api," timpal warga lainnya.Mpok Nur yang sedang membungkus nasi uduk pesanan Aurel ikut bicara, "Padahal kelihatan seperti r

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 237

    [Iya, Mbak Zahra. Terima kasih banyak. Selamat malam, selamat istirahat.]Zein mematikan layar ponselnya dan menaruhnya di nakas. Di luar sana angin malam Malang berembus dingin. Ia sudah di rumah, tapi hatinya seakan masih tertinggal di Surabaya. Besok dia akan kembali ke sana, tapi mungkin tidak sempat bertemu Zahra.🖤LS🖤"Sneakers baru nih, ye," sindir Aurel yang sedang bersedekap begitu daun pintu kamar sebelah terbuka. Sepasang matanya langsung tertuju pada alas kaki putih dengan aksen garis denim yang membungkus rapi sepasang kaki mungilnya Zahra.Zahra hanya membalasnya dengan senyuman seraya memutar anak kunci. Memastikan kamarnya aman sebelum mereka berangkat kuliah."Kapan belinya, Ra? Kok aku nggak tahu," cecar Aurel lagi. Masih menatap sepatu yang tampak berkelas dan mahal itu dengan pandangan menyelidik."Kemarin," jawab Zahra santai, menyelipkan anak kunci ke dalam saku ranselnya. "Waktu kamu pergi ke Kenjeran.""Oalah, pantesan kemarin kamu menolak kuajak pergi. Terny

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 236

    Zein- 6 Perwira"Ibu suka melihatmu tampil rapi begitu? Tadi Ibu sampe pangling." Bu Hindun menggeser cangkir teh ke depan Zein, lalu menatap lekat-lekat wajah putranya yang duduk di seberang meja. Laki-laki tegap dengan potongan rambut rapi yang baru saja tiba dari Surabaya. Dan malam itu mereka baru selesai makan."Kurapikan karena aku akan kembali ke Jakarta, Bu," jawab Zein sambil menyesap teh beraroma melati itu."Kapan?" Tatapan matanya yang mulai digerogoti usia memancarkan kerinduan sekaligus kecemasan yang selalu diredamnya rapat-rapat. Dia benar-benar memahami profesi yang dipilih putranya."Dua atau tiga hari lagi. Setelah urusan di Surabaya selesai," jawab Zein. Ia tidak akan menceritakan target operasi yang bakalan terjadi beberapa hari lagi. Tiga bulan menyamar menjadi tukang donat merupakan rahasia dinasnya. Zein hanya ingin ibunya tahu bahwa ia pulang dalam keadaan selamat dan utuh.Bu Hindun sendiri paham dunia anaknya. Seberapa berbahayanya itu. Makanya ia tak perna

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 235

    Dalam hati Zahra semakin heran. Sepatu merek ini sama sekali tidak murah. Namun melihat santainya pembawaan Zein, Zahra hanya diam. Toh sneakers yang dipakai Zein sekarang ini juga bermerek. Akhirnya mbak pramuniaga kembali membawa kotak sepatu ukuran besar. Begitu dicoba, sepatu itu membungkus kaki kekar Zein dengan sangat pas. Pria itu tersenyum."Bagaimana, Mas?" tanya si mbak tadi."Saya bayar dua-duanya, Mbak," jawab Zein seraya meraih kotak sepatu milik Zahra dan menyatukannya dengan miliknya."Bang, biar punya saya, saya bayar sendiri saja," sergah Zahra buru-buru mengejar Zein yang melangkah ke meja kasir. Dua pasang sepatu ini nominalnya tidak main-main.Zein tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Zahra sekilas, lalu beralih pada petugas kasir yang sedang memindai kode batang. "Jadikan satu nota saja, Mbak. Saya yang bayar," ucapnya tegas sembari kembali mengeluarkan kartu debit hitamnya ke atas meja konter. Prosesnya begitu cepat hingga Zahra hanya bisa berdiri te

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 234

    Gadis itu bahkan tidak lagi memedulikan sekelilingnya. Kekhawatiran jika ada rekan kuliahnya yang melintas dan melihat mereka kini sirna sepenuhnya. Karisma dan cara Zein menanggapi setiap ceritanya telah berhasil menciptakan ruang aman yang teramat nyaman baginya. Padahal ini kali pertama ia jalan dengan cowok asing. Namun ia merasa tenang.Dari obrolan yang mengalir seru itu, Zein akhirnya mengetahui banyak hal tentang Zahra. Bahkan alamat rumah Zahra di Tulungagung, hingga toko roti milik bundanya yang berada di daerah Papar, Zein akhirnya tahu."Masa kecil saya pernah tinggal di Papar, Bang." Cerita Zahra. Namun ia tidak menceritakan detailnya bagaimana. Zein pun tak banyak bertanya. Dia harus hati-hati, jangan terlalu jauh dulu untuk bertanya hal yang mungkin privasi dan menjadi rahasia. Untuk sekarang, sudah tahu alamat gadis itu saja sudah cukup. Dari alamat itu ia akan tahu banyak hal.Mereka berdua tenggelam dalam keakraban yang begitu lekat. Merasa sangat cocok satu sama lai

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 233

    Zein - 5 Couple Semua berubah begitu cepat. Waktu seolah dipaksa berlalu dengan tangkas, meninggalkan rasa berat yang mendadak menggelayuti dada keduanya. Namun Zahra buru-buru menarik napas dalam-dalam, mengulas senyum manis demi menutupi kegundahan yang mulai merayap di dadanya. "Semoga ini menjadi awal yang baik buat masa depan, Bang Zein," ujar Zahra tulus, meski ada nada getir yang terselip dalam kalimatnya. Zein menatap sepasang mata jernih di hadapannya, lalu tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang menyiratkan rasa berat mendalam. "Terima kasih banyak, Mbak Zahra. Kita saling mendoakan. Saya juga berdoa semoga skripsimu lancar, wisudamu cepat, dan kelak Mbak Zahra bisa menjadi seorang akuntan yang hebat." Mendengar doa itu, Zahra tersenyum lagi. Namun di balik lengkungan bibirnya, hatinya mendadak terasa pedih. Suasana di sudut restoran itu tiba-tiba berubah melankolis. "Aamiin. Makasih, Bang. Mulai besok trotoar di depan kampus itu pasti akan kosong." Zein terkekeh re

  • Mencari Jejak Maria   MJM 6

    MARIA- 6 Ingin Berpisah "Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi."Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur send

  • Mencari Jejak Maria   MJM 5

    MARIA- 5 Pukulan Telak"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," la

  • Mencari Jejak Maria   MJM 4

    MARIA- 4 Maria"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh."Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya."Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menungg

  • Mencari Jejak Maria   MJM 3

    MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status