MasukBegitu menyadari kehadiran Maria dan Ibrahim, wajah pucat pria itu seketika sirna digantikan oleh binar kebahagiaan. Seulas senyum tulus terukir di bibirnya yang kering."Kakung, cakit apa?" tanya Ibrahim saat diajak mendekat."Sakit panas. Doakan Kakung cepat sembuh, ya," jawab Pak Ali sambil tersenyum. Dia bahagia sekali Rangga mengajak Maria dan Ibrahim pulang. "Masmu sana mbakmu juga baru pulang. Mau mandi sama sholat. Nanti ke sini lagi sekalian ngajak anak-anak," kata Bu Hasna.Mendengar hal itu, dada Maria berdebar. Tak lama lagi ia akan bertemu kakak angkatnya itu. Ada rasa rindu, canggung, sekaligus malu yang menyergap. Rangga juga cerita kalau ia sudah mendapatkan rumah untuk Ibrahim dan Maria. Bu Hasna turut senang. Suasana kamar perawatan itu mendadak diselimuti kehangatan. Celoteh jenaka Ibrahim yang menceritakan dinosaurus di Jatim Park 3 sukses memicu tawa renyah Pak Ali dan Bu Hasna. Lelaki tua itu seakan mendapatkan obat untuk sakitnya.Bu Hasna menatap lekat-lekat
"Aku jawab telepon dulu, Mas." Maria bangkit untuk menjauh. Dada Rangga semakin panas. Kenapa harus menjauh kalau sekedar ingin menjawab telepon.Maria berdiri di dekat pilar masjid, beberapa meter dari tempat Rangga yang tengah mengawasi Ibrahim berlarian di serambi."Halo, Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam.""Tumben banget Mas Zein menelepon saya. Ada apa, Mas?""Aneh, ya." Terdengar Zein terkekeh di seberang. "Aku percaya kamu selalu baik-baik saja di panti, makanya aku tak pernah nelepon.""Lalu apa sekarang kami nggak baik-baik saja?" canda Maria."Bukan begitu. Tadi aku ke panti nganterin snack dan sepatu untuk A'im. Tapi Bu Halimah bilang kamu ke Kediri. Aku senang akhirnya kamu bertemu keluargamu lagi, Aisyah. Ibrahim pasti juga bahagia.""Bapak sakit, jadi aku pulang, Mas. Bareng papanya A'im.""Tidak apa-apa. Salam buat A'im, ya. Malam ini aku kembali ke Jakarta.""Oh, iya. Nanti saya bilang ke A'im.""Baiklah. Kamu hati-hati. Assalamu'alaikum.""Wa'alaikumsalam." Maria t
MARIA- 33 Gelisah Maria terdiam. Pulang sekarang bersama Rangga belum siap dengan perkataan tetangga. Tapi jika tidak ikut, ia mendengar sendiri bapak angkatnya sakit. Radit bilang hanya panas biasa, tapi ia tahu Pak Ali punya riwayat sakit apa. Maria tidak ingin menyesal kalau terjadi sesuatu. Pria itu yang membesarkan dan membiayai sekolahnya selama ini. Tapi besok pagi ia harus masuk kerja, apa harus izin ke bosnya saja?Rangga masih bergeming menatap Maria. Menunggu jawaban dengan dada yang berdebar cemas. Hingga akhirnya Maria mengangguk. "Ya, aku ikut."Mendengar keputusan itu, seulas senyum lega terbit di wajah Rangga. Kemudian mereka bersiap-siap kembali ke panti lebih dulu untuk pamitan. Sampai di panti, mereka langsung menemui Bu Syarifah dan Bu Halimah untuk izin. Kemudian bergegas ke paviliun mengemas beberapa pakaiannya dan Ibrahim. Tidak lupa selain susu, ia membawakan mainan untuk anaknya. "Maaf, Sit. Mbak nggak bisa ngajak kamu kali ini. Bulan depan kalau ke sana l
Maria mengajak Siti untuk pamitan dulu pada Bu Halimah. Setelah itu langsung ke depan. Rangga yang sudah menggedong Ibrahim di samping mobil, tersenyum padanya.Perjalanan menuju rumah kontrakan baru itu hanya memakan waktu beberapa menit saja. Rumah satu lantai berdesain minimalis modern rupanya sudah selesai dibersihkan.Mereka melangkah masuk ke dalam rumah yang masih kosong itu. Lantai granitnya berkilau. Bangunan ini memiliki tatanan yang sangat ideal. Tiga kamar tidur yang cukup luas, satu kamar mandi bersih berkeramik putih, ruang makan yang menyatu tanpa sekat dengan area dapur bersih, serta sebuah ruang tengah yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk meletakkan televisi. Ruang makan sudah ada meja kursinya.Rangga berjalan mendekati Maria yang sedang memperhatikan sudut-sudut ruangan, lalu menyodorkan sebuah buku katalog tebal dari toko furnitur ternama. "Maria, kamu pilih tempat tidur yang kamu mau. Dan apa-apa yang kamu butuhkan. Nanti kupesan dan besok sudah di an
Yang tampak di mata Zein hanyalah keteduhan, ketenangan, dan sebuah bentuk kepedulian murni seorang sahabat. Pria itu benar-benar tulus ikut bahagia melihat Ibrahim bisa hidup dengan layak."Ya Allah, apa pria ini benar-benar nggak punya perasaan khusus pada Aisyah?" batin Bu Halimah heran. Di saat pria-pria lain seperti Pak Rudi datang menggebu-gebu menawarkan hidup enak, atau Tony yang datang membawa restu orang tua, Zein adalah satu-satunya pria yang terlihat paling anteng, paling santai, tapi gerak-gerik dan perhatiannya selama tiga tahun ini begitu konsisten dan dalam pada Maria dan Ibrahim.Padahal ia dan Bu Syarifah sejak tahun kemarin berharap kalau Zein bisa jadian dengan Aisyah. Namun sampai Aisyah bertemu kembali dengan mantan suaminya, pria itu tetap diam. Rasanya mustahil dia tidak ada rasa, tapi kenapa diam saja. Bu Halimah meninggalkan ruangan itu sebelum Zein dan Maria menyadari keberadaannya. "Mas Zein, mau berapa hari di Malang?""Mungkin hanya beberapa hari saja.
MARIA- 32 ZeinGerakan tangan Zein yang sedang merapikan kerah kaus Ibrahim mendadak terhenti. Pria itu terhenyak sejenak. Jantungnya berdetak lebih cepat. Papa? Siapa papa yang dimaksud oleh Ibrahim?Ada kabar apa di panti ini selama beberapa waktu terakhir dia absen berkunjung?Zein membetulkan posisi gendongannya, membawa Ibrahim duduk di kursi teras kantor yang teduh. "Siapa Papanya A'im?" tanya Zein, berusaha menjaga suaranya."Papa Om Angga," jawab Ibrahim polos, kombinasi panggilan yang terdengar menggemaskan sekaligus janggal karena sebutan 'Om' yang masih ikut disebut.Dada Zein mendadak berdesir aneh, ada rasa hampa yang tiba-tiba menyergap, tapi garis bibirnya tetap memahat senyum ramah yang tulus. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman. Sepi. Anak-anak panti yang lain sepertinya sedang sibuk beraktivitas di belakang. Bu Syarifah dan Bu Halimah pun tak tampak.Siapa Angga? Selama ini Maria tidak pernah menyebut nama itu. Atau dirinya yang memang tidak tahu. Sebab ta
Rangga mengangguk pelan. Meskipun hatinya masih diselimuti kegelisahan yang luar biasa. Harapan adalah satu-satunya hal yang ia miliki sekarang, di tengah puing-puing penyesalan yang membelenggunya selama ini. Apalagi dia banyak pesaingnya. Salah satunya teman sendiri. Belum lagi pria bermobil mewa
Keputusan baru saja diketuk oleh hakim di ruang sidang. Sidang kedua berjalan jauh lebih lancar dari yang dibayangkan. Tanpa perdebatan panjang, tanpa drama tuntutan harta yang berarti. Sebab Rangga tak mengambil bagiannya. Biar saja. Yang penting sidang lancar dan cepat selesai.Palu hakim telah m
MARIA - 21 Cemburu Rangga tiba-tiba merasakan tubuhnya panas dingin mendengar ucapan sahabatnya. Napasnya juga mendadak sesak. Detak jantung berpacu liar. Maria. Wajah cantik itu terbayang jelas dalam benak."Lho, serius kamu, Ton? Kamu belum pernah lihat wajahnya. Aisyah kan bercadar. Bagaimana
Hening. Rangga mendengar isakan lirih di seberang. Walaupun tak pernah mengabari, ibu dan bapaknya tak pernah sakit hati atau membenci Maria. Mereka selalu bilang kalau terus mendoakan Maria."Dia nggak akan pulang karena menganggap Tamara pasti akan tetap menjadi menantu di rumah ini. Sekuat-kuat







