LOGINDalam hati Zahra semakin heran. Sepatu merek ini sama sekali tidak murah. Namun melihat santainya pembawaan Zein, Zahra hanya diam. Toh sneakers yang dipakai Zein sekarang ini juga bermerek. Akhirnya mbak pramuniaga kembali membawa kotak sepatu ukuran besar. Begitu dicoba, sepatu itu membungkus kaki kekar Zein dengan sangat pas. Pria itu tersenyum."Bagaimana, Mas?" tanya si mbak tadi."Saya bayar dua-duanya, Mbak," jawab Zein seraya meraih kotak sepatu milik Zahra dan menyatukannya dengan miliknya."Bang, biar punya saya, saya bayar sendiri saja," sergah Zahra buru-buru mengejar Zein yang melangkah ke meja kasir. Dua pasang sepatu ini nominalnya tidak main-main.Zein tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Zahra sekilas, lalu beralih pada petugas kasir yang sedang memindai kode batang. "Jadikan satu nota saja, Mbak. Saya yang bayar," ucapnya tegas sembari kembali mengeluarkan kartu debit hitamnya ke atas meja konter. Prosesnya begitu cepat hingga Zahra hanya bisa berdiri te
Gadis itu bahkan tidak lagi memedulikan sekelilingnya. Kekhawatiran jika ada rekan kuliahnya yang melintas dan melihat mereka kini sirna sepenuhnya. Karisma dan cara Zein menanggapi setiap ceritanya telah berhasil menciptakan ruang aman yang teramat nyaman baginya. Padahal ini kali pertama ia jalan dengan cowok asing. Namun ia merasa tenang.Dari obrolan yang mengalir seru itu, Zein akhirnya mengetahui banyak hal tentang Zahra. Bahkan alamat rumah Zahra di Tulungagung, hingga toko roti milik bundanya yang berada di daerah Papar, Zein akhirnya tahu."Masa kecil saya pernah tinggal di Papar, Bang." Cerita Zahra. Namun ia tidak menceritakan detailnya bagaimana. Zein pun tak banyak bertanya. Dia harus hati-hati, jangan terlalu jauh dulu untuk bertanya hal yang mungkin privasi dan menjadi rahasia. Untuk sekarang, sudah tahu alamat gadis itu saja sudah cukup. Dari alamat itu ia akan tahu banyak hal.Mereka berdua tenggelam dalam keakraban yang begitu lekat. Merasa sangat cocok satu sama lai
Zein - 5 Couple Semua berubah begitu cepat. Waktu seolah dipaksa berlalu dengan tangkas, meninggalkan rasa berat yang mendadak menggelayuti dada keduanya. Namun Zahra buru-buru menarik napas dalam-dalam, mengulas senyum manis demi menutupi kegundahan yang mulai merayap di dadanya. "Semoga ini menjadi awal yang baik buat masa depan, Bang Zein," ujar Zahra tulus, meski ada nada getir yang terselip dalam kalimatnya. Zein menatap sepasang mata jernih di hadapannya, lalu tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang menyiratkan rasa berat mendalam. "Terima kasih banyak, Mbak Zahra. Kita saling mendoakan. Saya juga berdoa semoga skripsimu lancar, wisudamu cepat, dan kelak Mbak Zahra bisa menjadi seorang akuntan yang hebat." Mendengar doa itu, Zahra tersenyum lagi. Namun di balik lengkungan bibirnya, hatinya mendadak terasa pedih. Suasana di sudut restoran itu tiba-tiba berubah melankolis. "Aamiin. Makasih, Bang. Mulai besok trotoar di depan kampus itu pasti akan kosong." Zein terkekeh re
Dan yang paling menusuk indra penciuman Zahra adalah aroma tubuhnya. Saat pria itu bergeser mendekat, ia mencium wangi parfum mahal yang sangat berkelas. Postur tubuh Zein yang tegap kini terlihat sangat dominan tanpa balutan pakaian lusuh yang biasa ia kenakan untuk menyamar. Dada Zahra mendadak berdesir hebat. Rasa panas dingin yang aneh mendadak menjalar ke seluruh permukaan kulitnya. Duh, ada apa dengan jantungku?"Bang Zein? Masya Allah, saya hampir nggak mengenali Abang," ujar Zahra ramah. Berusaha mengendalikan diri demi menutupi rasa gugup yang luar biasa.Zein terkekeh rendah, suara tawanya terdengar sangat maskulin di telinga Zahra. "Kenapa, Mbak? Apa penampilan saya hari ini terlihat aneh?""Eh, bukan! Sama sekali nggak aneh, Bang. Hanya berbeda sekali. Saya pikir Abang belum sampai.""Saya sudah sampai sini sejak setengah jam yang lalu, Mbak," jawab Zein, matanya menatap Zahra dengan binar lembut yang meneduhkan. Zahra melihat jam tangannya. "Hmm, saya juga nggak telat d
Aurel memang tidak akan menghina status sosial seseorang, tapi sifat cerewet dan kejahilannya yang tingkat tinggi dipastikan akan membuat telinga Zahra tergelitik.🖤LS🖤"Zahra, aku pergi dulu, ya," pamit Aurel mengintip sedikit dari pintu."Sudah dijemput?" Zahra menghampiri."Sudah, itu." Aurel memandang mobil yang berhenti di luar pagar kosan. Pemiliknya seorang teman mereka yang asli Surabaya. Zahra dan Aurel sebenarnya juga sudah bisa nyetir mobil. Tapi di Surabaya, mereka berdua berlaku seperti anak kosan pada umumnya."Ya, sudah. Hati-hati di jalan.""Oke." Aurel melangkah pergi. Salah seorang teman di mobil berteriak, kenapa Zahra tidak ikut. Gadis itu tersenyum sambil melambaikan tangannya.Setelah mereka pergi, Zahra langsung beranjak untuk bersiap-siap. Ia membuka lemari pakaian lebar-lebar.Sepasang matanya bergerak memperhatikan tumpukan bajunya. Gaun terusan floral? Terlalu mencolok. Gamis? Eh, jangan. Kemeja formal putih? Seperti mau sidang skripsi. Mengapa mendadak me
Zein - 4 Penampilan Berbeda [Mbak Zahra, besok saya tunggu di Foodcourt Galaxy Mall lantai 3, ya. Jam 12.]Layar ponsel di atas meja belajar menyala, menampilkan sebaris pesan singkat yang dikirimkan oleh kontak bernama "Bang Zein" tepat pukul tujuh malam. Zahra menatap pendar cahaya itu sesaat setelah ia selesai melipat mukena pasca menunaikan salat isya. Kamar kosnya yang hening mendadak terasa sedikit berbeda, ada desir aneh yang menggelitik dadanya. Dengan cekatan, Zahra mengetik jawaban singkat.[Oke, Bang.]Kemudian Zein membalasnya dengan emoticon jempol.Setelah termangu beberapa saat memandangi layar yang kembali gelap, Zahra menghela napas pelan. Ia melangkah menuju meja belajar, menarik kursi kayu lalu duduk menghadap sebungkus nasi Padang dengan lauk rendang yang tadi sore ia beli bersama Aurel. Harum pekat gulai dan sambal ijo seolah menguap, kalah telak oleh isi kepalanya yang mendadak riuh.Zahra dan Aurel memang tidak berbagi satu kamar yang sama. Sejak awal menginj
MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas pan
MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu da
"Sebelum ke sini, A'im sudah pernah diajak pergi ke mana?" tanya Rangga menoleh pada Maria."Belum," jawab Maria singkat.Ini kali pertama dalam hidup Ibrahim, bocah itu menginjakkan kaki di sebuah tempat wisata megah seperti ini. Selama ini, Maria hanya mengajaknya berjalan-jalan di taman kota yan
MARIA- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan







