MasukSaat mobil memasuki pekarangan rumah Emir, suasana tampak lengang. Hanya Mak Tam yang di rumah."Bapak sedang di kantor sama Mbak Aurel, Mbak. Kalau Ibu ke toko roti karena lagi banjir pesanan katering, terus Mas El paling sebentar lagi pulang sekolah." Mak Tam memberitahu Zahra."Iya, Mak." Kemudian Zahra menoleh pada Zein. "Mas ke kamar saja dulu, istirahat. Aku mau ke belakang sebentar mengurus baju kotor.""Oke," jawab Zein singkat lantas menaiki tangga untuk ke lantai dua."Mbak Zahra, biar Mak saja yang ngurusin nanti. Tinggal saja disitu," seloroh Mak Tam saat melihat Zahra mengeluarkan baju-baju kotor dari koper."Nggak, Mak. Ini tanggung jawab Zahra. Biar Zahra kerjain sendiri," tolak Zahra sopan. Satu jam berlalu, langkah kaki tergesa terdengar dari arah pintu depan. Aurel pulang lebih dulu dan langsung menuju area cucian di dapur belakang. Melihat saudaranya sedang sibuk menjemur pakaian, raut jahil seketika terbit di wajah Aurel."Aduuhh, yang habis honeymoon mukanya cer
Saat malam merayap, suhu dingin pegunungan Batu kian menggigit. Zein dan Zahra duduk berdua di balkon vila, berselimut kain tebal sambil menyesap teh hangat di bawah pendar remang lampu gantung. Zein mendekap istrinya. "Ada yang ingin Mas tanyakan dan ini perlu kita bicarakan.""Tentang apa, Mas?" sahut Zahra lembut."Apa kamu sudah siap kalau kita dikaruniai anak dalam waktu dekat?" tanya Zein penuh kehati-hatian, menyadarkan bahwa topik ini belum pernah mereka bahas sebelumnya.Zahra mengangguk tanpa keraguan, menyunggingkan senyum tulus. "Nggak apa-apa, Mas. Bunda juga sudah bilang, kalau bisa langsung dapat momongan saja.""Oh, ya?""Iya. Bunda menyarankan begitu."Naima memang berkata demikian pada putrinya. Mengingat usia Zein yang sudah berada di pertengahan tiga puluhan.Zein mengukir senyum lega. Alhamdulillah kalau Zahra berpikiran sama. Ia memang berharap segera punya anak. "Semoga tak lama lagi juga ada kebijakan baru dari kesatuan, supaya Mas bisa pindah ke staf kantor sa
Zein- 18 Perpisahan Aroma nasi goreng dan seduhan kopi hitam menguar di dapur rumah Bu Hindun pagi itu. Zahra melangkah canggung dan diliputi rasa malu yang membuat pipinya terus merona. Sebagai pengantin baru di hari pertama berada di rumah mertua, rasa serba salah menyergapnya. Terlebih habis subuh tadi ibu mertua memergokinya sedang menjemur handuk dengan rambut yang masih basah.Namun saat Zahra berniat mengiris bawang membantu ART di sudut meja, Bu Hindun justru mengambil alih pisau dari tangannya sambil tersenyum lembut. "Sudah, Nduk, nggak usah repot-repot," ujar Bu Hindun hangat. "Kamu bersiap-siap saja. Tadi Zein sudah bilang sama Ibu kalau mau mengajakmu stay cation semalam.""Nggak apa-apa, Bu. Saya juga biasa membantu Bunda di rumah," jawab Zahra pelan."Nanti-nanti saja kalau mau bantuin di dapur. Sekarang mumpung suamimu belum kembali ke Jakarta, nikmati waktu kalian."Zahra jadi tersipu. Dalam hati sangat bersyukur memiliki mertua yang baik. Ia ingat bagaimana dulu Ne
Seiring berjalannya waktu, rasa perih yang sempat menyengat itu perlahan terkikis, berganti dengan gelombang kehangatan yang menjalar nyaman ke seluruh rongga dadanya. Zahra membuka matanya, menatap sepasang mata Zein yang dipenuhi kasih sayang tanpa batas. Ternyata, ketakutan hebat yang selama ini membayangi pikirannya tak semenyakitkan yang dibayangkan ketika berada di dalam dekapan pria yang tepat.Dalam temaram lampu kamar yang menjadi saksi bisu, Zahra menyerahkan mahkota paling berharga dalam hidupnya dengan sukarela. Kamar yang menemaninya tumbuh sejak remaja itu kini mengabadikan kepasrahan utuh seorang istri kepada pria yang telah mengikat janji sucinya di hadapan Tuhan.🖤LS🖤"Ra, cara jalanmu dah nggak kayak kemarin. Hmm, sepertinya dah kena kamu semalam," bisik Aurel lirih saat pagi-pagi sekali mereka bertemu di dapur. Ucapan yang membuat Zahra merinding sekaligus malu. Dia tidak bereaksi atas godaan itu."Aurel, apaan sih kamu," tegur Aprilia. Sosok yang dipanggil tante
Namun dari sekian banyak pertanyaan, Zein berpegang teguh pada sumpah jabatannya. Tidak ada cerita tentang misi demi misi yang sukses dijalaninya. Dia bercerita secara umum. Dan bagi Aurel itu terdengar sebagai tugas yang biasa. Namun Emir jauh lebih memahaminya. Dia tahu sebahaya apa misi yang diemban oleh menantunya. Bahkan mungkin, dirinya lebih tahu ketimbang Zahra."Hati-hati. Apapun tetap pentingkan keselamatanmu," ujar Emir."Iya, Pa."Ketika mertua dan menantu itu duduk ngobrol berdua di teras rumah. Emir mulai membahas hal yang bisa dibilang serius. "Apa kamu nggak bisa pindah tugas ke kantor?""Bisa, Pa. Malah itu siklus normal karier perwira AKP di Polri. Untuk intel seperti saya, lapangan dan kantor itu muter terus. Namanya Mutasi Jabatan Fungsional & Struktural. Biar kami paham dua sisi. Memahami operasi di lapangan juga paham birokrasi di kantor.""Syukurlah. Ada kesempatan kamu bakalan di kantor, kan?""Insya Allah, Pa."Seorang AKP harus punya pengalaman Staf/Kabag bia
Zein- 17 Malam Pertama "Rel, tunggu dulu." Zahra menahan Aurel yang hendak meraih gagang pintu. "Bantuin aku ngelepas kancing di punggungku, dong. Susah banget dijangkau."Aurel berbalik menatap saudaranya dengan lirikan jenaka yang jahil. Ah, ternyata Aurel tak bisa menahan diri untuk tidak jahil. Padahal ia bilang seharian ini akan serius. "Ra, minta tolong sama suamimu saja. Aku mau langsung rebahan di kamar sebelah. Capek banget tubuhku seharian berdiri menyapa tamu." Tanpa menunggu jawaban, Aurel menjeling sejenak, lalu melangkah keluar dan menutup pintu.Zahra menghela napas pelan. Ia kembali duduk di depan meja rias, lalu menyisir rambut hitamnya yang terurai panjang melewati bahu.Namun dadanya kembali berdebar saat daun pintu kembali terkuak. Dari pantulan cermin, muncul sosok Zein dengan senyum hangat yang terukir di bibirnya. Padahal kemarin sore mereka sempat bertemu sejenak sewaktu latihan untuk acara pedang pora.Pria itu termangu di tempatnya berdiri, menatap wanita y
MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu da
MARIA- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan
MARIA- 6 Ingin Berpisah "Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi."Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur send
MARIA- 5 Pukulan Telak"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," la







