로그인Keesokan sorenya, aroma biji kopi yang dipanggang dan wangi garam dari arah laut bercampur menjadi satu di udara.
Sesuai rencananya kemarin, Jihan akhirnya menginjakkan kaki di Blue Tides, kafe baru di ujung jalan yang menghadap langsung ke lautan lepas. Hanya saja, ia datang sendirian. Kalandra masih terjebak di rumah sakit, menunggu jadwal kemoterapi ibunya yang mendadak dimajukan. Jihan duduk di sudut paling sepi, menghadap jendela kaca besar yang membingkai ombak sore. Layar laptopnya menyala terang, menampilkan draf marketing plan yang sudah dua jam terakhir hanya ia tatap kosong. Kursornya berkedip-kedip seolah mengejek kebuntuannya. Gadis itu menghela napas panjang, menenggelamkan wajahnya di lipatan kedua tangan. Kepalanya pening. Perasaan sepi dari rumah besar semalam rupanya masih mengikutinya bak awan kelabu. Tiba-tiba, suara derit kaki kursi yang ditarik paksa membuat Jihan mendongak. Aroma peppermint yang tajam, bercampur dengan wangi maskulin dari parfum yang sangat familier, menyeruak masuk ke indra penciumannya. Sebelum Jihan sempat protes, sosok jangkung dengan kaus hitam polos dan jaket denim yang disampirkan di bahu sudah duduk santai di seberang mejanya. Marvin Alexander. Lagi. "Dari sekian banyak kafe di kota ini, kenapa gue harus ketemu manusia setengah iblis kayak lo lagi, sih?" dengus Jihan seketika. Modus defense-nya otomatis menyala. Kesedihannya menguap, digantikan oleh rasa jengkel yang mendidih. Marvin tidak langsung menjawab. Pria itu meletakkan segelas Americano dingin di atas meja, lalu menatap Jihan dengan raut datar yang sulit diartikan. Rambut ikalnya sedikit basah karena keringat, membuatnya entah kenapa terlihat... sialan, Jihan benci mengakuinya, tapi Marvin terlihat sangat tampan hari ini. "Ge'er banget lo," balas Marvin dengan suara beratnya yang khas. Ia menunjuk ke arah dinding di bawah meja Jihan dengan dagunya. "Colokan di kafe ini yang kosong cuma ada di bawah meja lo. Laptop gue mati, dan gue harus ngirim kodingan tugas akhir ke asdos sekarang juga. Jadi, berhenti mikir gue ngikutin lo, Tuan Putri." Jihan mendelik, melongok ke bawah meja dan menyadari memang ada satu stopkontak yang menganggur di dekat sepatunya. Ia mendecak sebal, merapatkan tubuhnya ke kursi, menjaga jarak sejauh mungkin. "Ya udah. Colok aja, terus lo bisa duduk di meja lain, kan? Nggak usah di depan gue," usir Jihan ketus. "Kabel charger gue pendek. Kalau gue duduk di meja sebelah, kabelnya bakal melintang dan bikin orang kesandung," jawab Marvin santai. Ia membuka ranselnya, mengeluarkan laptop tebal khas anak teknik, lalu membungkuk sedikit untuk menyambungkan kabel pengisi daya ke bawah meja. Saat Marvin membungkuk, wajahnya berada cukup dekat dengan lutut Jihan. Gadis itu menahan napas, refleks menarik kakinya mundur hingga menabrak kaki kursi. Marvin kembali duduk tegak, jari-jarinya langsung menari cepat di atas keyboard. Ia sama sekali tidak menatap Jihan. "Lanjutin aja ngerjain tugas lo. Anggap aja gue nggak ada. Biasanya juga lo jago kan, pura-pura nggak lihat gue?" Ucapan itu dilontarkan dengan nada santai, nyaris tanpa emosi. Namun entah kenapa, Jihan merasa ada sindiran tajam di baliknya. Ia memilih mengabaikan Marvin, kembali memelototi layar laptopnya sendiri. Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang canggung. Hanya ada suara ketukan keyboard dan alunan musik indie dari speaker kafe. Jihan mulai menggigit bibir bawahnya—kebiasaannya saat sedang stres. Jari-jarinya mengacak-acak rambutnya sendiri hingga berantakan. Ia menghapus satu paragraf penuh, mengetik ulang, lalu menghapusnya lagi. Argh! Susah banget sih mikirin strategi kampanye yang out of the box?! batin Jihan frustrasi. Matanya mulai memanas. Kombinasi antara kelelahan mental, tugas yang menumpuk, dan rasa sepi yang menumpuk sejak semalam membuat emosinya tidak stabil. Setetes air mata nyaris jatuh, namun Jihan buru-buru menyekanya dengan punggung tangan, berharap pria di depannya tidak menyadari. Namun, Marvin menyadarinya. Selalu. Dari balik layar laptopnya, mata elang Marvin diam-diam mengamati setiap gerak-gerik Jihan. Ia melihat bagaimana bahu gadis itu menegang, bagaimana giginya menyiksa bibir bawahnya sendiri, dan bagaimana sepasang mata bulat itu mulai berkaca-kaca. Ada dorongan kuat dalam diri Marvin untuk menyingkirkan laptopnya, pindah ke kursi di sebelah Jihan, dan memeluk gadis itu erat-erat. Ia benci melihat Jihan seperti ini. Di matanya, Jihan diciptakan hanya untuk tersenyum dan tertawa lepas, bukan untuk menahan tangis sendirian. Kalandra brengsek, maki Marvin dalam hati. Bisa-bisanya dia biarin ceweknya sendirian dengan kondisi seberantakan ini. Marvin menarik napas pelan. Ia tahu ia tidak bisa bertindak sembarangan. Satu langkah yang salah, Jihan akan semakin menjauh dan membencinya. Maka, Marvin menggunakan caranya sendiri. Cara seorang berandal yang tidak tahu bagaimana mengekspresikan rasa pedulinya dengan benar. Tuk. Sebuah pulpen melayang dan mendarat tepat di atas keyboard Jihan. Jihan tersentak, menatap pulpen itu, lalu mendongak menatap Marvin dengan mata yang masih sedikit merah. "Lo apa-apaan sih?!" "Kalau lo stuck bikin marketing plan buat brand kosmetik, berhenti mikir kayak mahasiswa bisnis yang cuma peduli sama profit," ucap Marvin tiba-tiba. Tangannya masih mengetik kodingan, matanya masih menatap layarnya sendiri, seolah ia sedang berbicara dengan angin. Jihan mengerutkan kening. "Maksud lo apa? Lo anak teknik mesin, jangan sok tahu soal tugas anak bisnis." Marvin akhirnya menghentikan ketikannya. Ia menutup laptopnya perlahan, lalu menatap Jihan tepat di manik matanya. Tatapan yang begitu intens, membuat napas Jihan mendadak tercekat. "Gue emang nggak ngerti bisnis. Tapi gue ngerti manusia, Han," ujar Marvin dengan suara yang anehnya terdengar sangat lembut—sebuah nada yang belum pernah Jihan dengar dari seorang Marvin Alexander. "Cewek nggak beli kosmetik cuma buat ngerasa cantik. Mereka beli karena itu ngasih mereka kendali. Ngasih mereka keberanian buat pakai 'topeng' saat dunia lagi jahat-jahatnya. Jual emosi itu, bukan cuma formula bahannya. Bikin tagline yang bikin mereka merasa didengar, bukan cuma disuruh beli." Jihan mematung. Kata-kata Marvin menghantamnya telak. Bukan hanya karena ide itu brilian, tapi karena... kalimat itu seolah sedang mendeskripsikan diri Jihan sendiri. Seseorang yang memakai 'topeng' keceriaan untuk menutupi hancurnya dunia di dalam sana. Untuk sepersekian detik, pandangan mereka terkunci. Di tengah riuhnya kafe dan suara deburan ombak, waktu seakan berhenti. Jihan bisa melihat ada sesuatu yang dalam, kelam, namun sangat tulus di sepasang mata elang milik Marvin. Sesuatu yang membuatnya merasa... telanjang. Seolah Marvin bisa melihat menembus jiwa Jihan yang paling rapuh. Drrrt... Drrrt... Getar ponsel di atas meja menghancurkan sihir sejenak itu. Jihan terkesiap, buru-buru memutus kontak mata mereka dan melihat layar ponselnya. Maudy Calling... Nama itu tertera jelas di layar ponsel Marvin. Jihan menelan ludah, sebuah perasaan aneh yang tak bisa ia jelaskan mendadak mencubit sudut hatinya. Ia kembali memasang wajah datarnya, menarik kembali benteng pertahanannya. "Cewek lo nelfon tuh," ucap Jihan pelan, mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop. "Angkat gih. Nanti ngamuk lagi, repot." Marvin melirik layar ponselnya sekilas. Rahangnya mengeras. Alih-alih mengangkat panggilan itu, tangannya justru meraih ponsel tersebut dan menekan tombol daya lama-lama hingga layarnya mati total. Jihan terbelalak. "Gila lo? Nanti dia nyariin—" "Gue udah selesai kirim tugas gue," potong Marvin cepat, nadanya kembali dingin dan tidak terbaca. Ia membereskan laptopnya, memasukkannya ke dalam ransel, dan berdiri. Sebelum berbalik pergi, pria itu menumpukan satu tangannya di ujung meja Jihan, menunduk sedikit hingga Jihan bisa mencium lagi aroma peppermint-nya. "Jangan nangis sendirian di tempat umum, Jihan," bisik Marvin, suaranya nyaris seperti embusan angin. "Lo jelek kalau lagi nangis." Marvin berbalik dan berjalan keluar dari kafe, menembus senja yang mulai turun, meninggalkan Jihan yang membeku di kursinya dengan jantung yang mendadak berdebar dengan ritme yang sangat, sangat salah.Pelukan Kalandra malam itu seharusnya menjadi penawar dari segala luka. Biasanya, dekapan hangat pria inilah yang menjadi satu-satunya tempat Jihan merengkuh kewarasannya kembali setelah dihancurkan oleh sepinya rumah.Namun malam ini, semuanya terasa berbeda.Di bawah cahaya lampu teras yang temaram, Jihan bisa merasakan bahu Kalandra yang sedikit bergetar, meski pria itu berusaha keras menyembunyikannya. Aroma parfum Kalandra yang menenangkan kini bercampur dengan bau khas rumah sakit dan keringat dingin akibat kelelahan yang ekstrem."Aku nggak butuh kamu berjuang sendirian buat aku, Ndra," bisik Jihan lirih, suaranya teredam di dada Kalandra. Air matanya merembes membasahi kaus pria itu. "Cinta itu bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban sampai hancur. Gimana aku bisa bahagia kalau kebahagiaan itu dibayar pakai kehancuran kamu?"Kalandra mengurai pelukan mereka perlahan. Tangan besarnya menangkup kedua pipi Jihan yang basah, ibu jarinya mengusap jeja
Hujan gerimis malam itu berubah menjadi tirai kelabu yang membungkus jalanan kota. Di atas jok motor sport Marvin, Jihan duduk merosot, membenamkan wajahnya di punggung lebar sang pria. Jaket kulit Marvin yang masih menyisakan kehangatan tubuh dan aroma peppermint-nya membungkus tubuh Jihan yang basah dan gemetar.Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka selama perjalanan. Marvin membawa motornya dengan kecepatan konstan, membelah keheningan malam hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tempat asing—sebuah kedai kopi kecil di sudut distrik seni yang sudah tutup, tapi pintunya dibukakan oleh pemiliknya khusus untuk Marvin.Di dalam kedai yang temaram dan hangat, Marvin menyodorkan segelas cokelat panas mengepul ke tangan Jihan yang masih membeku.Jihan menerima mug itu dengan tangan gemetar. Ia menatap cairan cokelat di dalam cangkir, sementara air matanya kembali meleleh tanpa suara, membasahi pipinya yang dingin. Semua beban yang ia pendam—rumah yang terasa seperti
Kalimat itu jatuh begitu saja di udara, menggantung di antara mereka dengan gravitasi yang luar biasa berat. Jihan merasa oksigen di koridor mendadak lenyap. Otaknya berhenti bekerja, mendadak mengalami buffering hebat mencerna implikasi dari pengakuan telak yang baru saja dilontarkan oleh pria di hadapannya.Orang yang beneran gue mau?Jantung Jihan melompat ke tenggorokan. Ia membuka mulutnya, berniat melontarkan protes atau sekadar sarkasme untuk menutupi salah tingkahnya, tapi tidak ada satu pun suara yang keluar. Matanya berkedip cepat, terpaku pada manik mata elang Marvin yang menatapnya dengan intensitas yang sanggup membakar kulit. Tidak ada topeng berandal, tidak ada seringai mengejek. Yang ada hanya kejujuran yang telanjang—dan itu jauh lebih menakutkan bagi Jihan."Marvin, lo..." cicit Jihan, suaranya nyaris tak terdengar di antara debar jantungnya sendiri.Sebelum Marvin sempat menjawab atau menarik jarak, suara derap langkah kaki dan suara bising sekelompok mahasiswa
Jihan mengerjap. Sekali. Dua kali.Matanya masih terpaku pada pintu kaca kafe yang baru saja tertutup, menelan siluet punggung tegap Marvin dalam temaramnya senja. Aroma peppermint pria itu entah kenapa masih tertinggal di udara, berbaur secara kurang ajar dengan wangi kopi di mejanya, menginvasi indra penciumannya tanpa permisi.Tangannya perlahan naik, meremas ujung kemejanya tepat di atas dada kiri.Gila. Jihan menelan ludah. Sistem saraf gue pasti lagi konslet.Berani-beraninya seorang Marvin Alexander—musuh bebuyutannya, si cowok brengsek bermulut tajam itu—membuat jantungnya berdebar dengan ritme yang memalukan seperti ini?Dengan kasar, Jihan mengusap wajahnya, berusaha mengusir sisa-sisa debaran aneh itu. Ia kembali menatap layar laptopnya. Kursor yang tadi berkedip mengejek kini seolah menunggunya. Kalimat Marvin terngiang kembali di kepalanya, berputar bagai kaset rusak.Ngasih mereka keberanian buat pakai 'topeng' saat dunia lagi jahat-jahatnya.Jari-jari Jihan mulai
Keesokan sorenya, aroma biji kopi yang dipanggang dan wangi garam dari arah laut bercampur menjadi satu di udara.Sesuai rencananya kemarin, Jihan akhirnya menginjakkan kaki di Blue Tides, kafe baru di ujung jalan yang menghadap langsung ke lautan lepas. Hanya saja, ia datang sendirian. Kalandra masih terjebak di rumah sakit, menunggu jadwal kemoterapi ibunya yang mendadak dimajukan.Jihan duduk di sudut paling sepi, menghadap jendela kaca besar yang membingkai ombak sore. Layar laptopnya menyala terang, menampilkan draf marketing plan yang sudah dua jam terakhir hanya ia tatap kosong. Kursornya berkedip-kedip seolah mengejek kebuntuannya.Gadis itu menghela napas panjang, menenggelamkan wajahnya di lipatan kedua tangan. Kepalanya pening. Perasaan sepi dari rumah besar semalam rupanya masih mengikutinya bak awan kelabu.Tiba-tiba, suara derit kaki kursi yang ditarik paksa membuat Jihan mendongak.Aroma peppermint yang tajam, bercampur dengan wangi maskulin dari parfum yang sangat
Udara siang di kafetaria Fakultas Bisnis terasa pengap, tapi Jihan Andexa seolah memiliki pasokan oksigennya sendiri. Jari-jari lentiknya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan ritme cepat, sementara bibirnya tak henti menembakkan rentetan kalimat tanpa koma."Pokoknya, abis ini kita harus mampir ke kafe baru yang di ujung jalan itu. Kamu tahu kan, Yang, aku butuh banget ngerjain revisi skripsi dengan view laut lepas," cerocos Jihan, matanya berbinar-binar penuh harap menatap pria di hadapannya. Ia menopang dagu, memajukan wajah. "Biar jiwa aku sejuk. Sama satu lagi, aku butuh banget lari dari kebisingan otakku yang rasanya mau meledak gara-gara ngejar target marketing plan sialan ini!"Di seberang meja, Kalandra Exder hanya tersenyum. Senyum yang selalu sama: teduh, sabar, dan tak pernah menghakimi sekecil apa pun keanehan Jihan. Tangannya terulur lembut, merapikan anak rambut yang menempel di dahi gadis itu, lalu menyelipkannya ke belakang telinga."Iya, Jihan cantik," suara







