Share

2

last update publish date: 2026-08-09 11:58:28

Keesokan sorenya, aroma biji kopi yang dipanggang dan wangi garam dari arah laut bercampur menjadi satu di udara.

​Sesuai rencananya kemarin, Jihan akhirnya menginjakkan kaki di Blue Tides, kafe baru di ujung jalan yang menghadap langsung ke lautan lepas. Hanya saja, ia datang sendirian. Kalandra masih terjebak di rumah sakit, menunggu jadwal kemoterapi ibunya yang mendadak dimajukan.

​Jihan duduk di sudut paling sepi, menghadap jendela kaca besar yang membingkai ombak sore. Layar laptopnya menyala terang, menampilkan draf marketing plan yang sudah dua jam terakhir hanya ia tatap kosong. Kursornya berkedip-kedip seolah mengejek kebuntuannya.

​Gadis itu menghela napas panjang, menenggelamkan wajahnya di lipatan kedua tangan. Kepalanya pening. Perasaan sepi dari rumah besar semalam rupanya masih mengikutinya bak awan kelabu.

​Tiba-tiba, suara derit kaki kursi yang ditarik paksa membuat Jihan mendongak.

​Aroma peppermint yang tajam, bercampur dengan wangi maskulin dari parfum yang sangat familier, menyeruak masuk ke indra penciumannya. Sebelum Jihan sempat protes, sosok jangkung dengan kaus hitam polos dan jaket denim yang disampirkan di bahu sudah duduk santai di seberang mejanya.

​Marvin Alexander. Lagi.

​"Dari sekian banyak kafe di kota ini, kenapa gue harus ketemu manusia setengah iblis kayak lo lagi, sih?" dengus Jihan seketika. Modus defense-nya otomatis menyala. Kesedihannya menguap, digantikan oleh rasa jengkel yang mendidih.

​Marvin tidak langsung menjawab. Pria itu meletakkan segelas Americano dingin di atas meja, lalu menatap Jihan dengan raut datar yang sulit diartikan. Rambut ikalnya sedikit basah karena keringat, membuatnya entah kenapa terlihat... sialan, Jihan benci mengakuinya, tapi Marvin terlihat sangat tampan hari ini.

​"Ge'er banget lo," balas Marvin dengan suara beratnya yang khas. Ia menunjuk ke arah dinding di bawah meja Jihan dengan dagunya. "Colokan di kafe ini yang kosong cuma ada di bawah meja lo. Laptop gue mati, dan gue harus ngirim kodingan tugas akhir ke asdos sekarang juga. Jadi, berhenti mikir gue ngikutin lo, Tuan Putri."

​Jihan mendelik, melongok ke bawah meja dan menyadari memang ada satu stopkontak yang menganggur di dekat sepatunya. Ia mendecak sebal, merapatkan tubuhnya ke kursi, menjaga jarak sejauh mungkin.

​"Ya udah. Colok aja, terus lo bisa duduk di meja lain, kan? Nggak usah di depan gue," usir Jihan ketus.

​"Kabel charger gue pendek. Kalau gue duduk di meja sebelah, kabelnya bakal melintang dan bikin orang kesandung," jawab Marvin santai. Ia membuka ranselnya, mengeluarkan laptop tebal khas anak teknik, lalu membungkuk sedikit untuk menyambungkan kabel pengisi daya ke bawah meja.

​Saat Marvin membungkuk, wajahnya berada cukup dekat dengan lutut Jihan. Gadis itu menahan napas, refleks menarik kakinya mundur hingga menabrak kaki kursi.

​Marvin kembali duduk tegak, jari-jarinya langsung menari cepat di atas keyboard. Ia sama sekali tidak menatap Jihan. "Lanjutin aja ngerjain tugas lo. Anggap aja gue nggak ada. Biasanya juga lo jago kan, pura-pura nggak lihat gue?"

​Ucapan itu dilontarkan dengan nada santai, nyaris tanpa emosi. Namun entah kenapa, Jihan merasa ada sindiran tajam di baliknya. Ia memilih mengabaikan Marvin, kembali memelototi layar laptopnya sendiri.

​Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang canggung. Hanya ada suara ketukan keyboard dan alunan musik indie dari speaker kafe.

​Jihan mulai menggigit bibir bawahnya—kebiasaannya saat sedang stres. Jari-jarinya mengacak-acak rambutnya sendiri hingga berantakan. Ia menghapus satu paragraf penuh, mengetik ulang, lalu menghapusnya lagi.

​Argh! Susah banget sih mikirin strategi kampanye yang out of the box?! batin Jihan frustrasi. Matanya mulai memanas. Kombinasi antara kelelahan mental, tugas yang menumpuk, dan rasa sepi yang menumpuk sejak semalam membuat emosinya tidak stabil. Setetes air mata nyaris jatuh, namun Jihan buru-buru menyekanya dengan punggung tangan, berharap pria di depannya tidak menyadari.

​Namun, Marvin menyadarinya. Selalu.

​Dari balik layar laptopnya, mata elang Marvin diam-diam mengamati setiap gerak-gerik Jihan. Ia melihat bagaimana bahu gadis itu menegang, bagaimana giginya menyiksa bibir bawahnya sendiri, dan bagaimana sepasang mata bulat itu mulai berkaca-kaca.

​Ada dorongan kuat dalam diri Marvin untuk menyingkirkan laptopnya, pindah ke kursi di sebelah Jihan, dan memeluk gadis itu erat-erat. Ia benci melihat Jihan seperti ini. Di matanya, Jihan diciptakan hanya untuk tersenyum dan tertawa lepas, bukan untuk menahan tangis sendirian.

​Kalandra brengsek, maki Marvin dalam hati. Bisa-bisanya dia biarin ceweknya sendirian dengan kondisi seberantakan ini.

​Marvin menarik napas pelan. Ia tahu ia tidak bisa bertindak sembarangan. Satu langkah yang salah, Jihan akan semakin menjauh dan membencinya.

​Maka, Marvin menggunakan caranya sendiri. Cara seorang berandal yang tidak tahu bagaimana mengekspresikan rasa pedulinya dengan benar.

​Tuk.

​Sebuah pulpen melayang dan mendarat tepat di atas keyboard Jihan.

​Jihan tersentak, menatap pulpen itu, lalu mendongak menatap Marvin dengan mata yang masih sedikit merah. "Lo apa-apaan sih?!"

​"Kalau lo stuck bikin marketing plan buat brand kosmetik, berhenti mikir kayak mahasiswa bisnis yang cuma peduli sama profit," ucap Marvin tiba-tiba. Tangannya masih mengetik kodingan, matanya masih menatap layarnya sendiri, seolah ia sedang berbicara dengan angin.

​Jihan mengerutkan kening. "Maksud lo apa? Lo anak teknik mesin, jangan sok tahu soal tugas anak bisnis."

​Marvin akhirnya menghentikan ketikannya. Ia menutup laptopnya perlahan, lalu menatap Jihan tepat di manik matanya. Tatapan yang begitu intens, membuat napas Jihan mendadak tercekat.

​"Gue emang nggak ngerti bisnis. Tapi gue ngerti manusia, Han," ujar Marvin dengan suara yang anehnya terdengar sangat lembut—sebuah nada yang belum pernah Jihan dengar dari seorang Marvin Alexander.

​"Cewek nggak beli kosmetik cuma buat ngerasa cantik. Mereka beli karena itu ngasih mereka kendali. Ngasih mereka keberanian buat pakai 'topeng' saat dunia lagi jahat-jahatnya. Jual emosi itu, bukan cuma formula bahannya. Bikin tagline yang bikin mereka merasa didengar, bukan cuma disuruh beli."

​Jihan mematung. Kata-kata Marvin menghantamnya telak. Bukan hanya karena ide itu brilian, tapi karena... kalimat itu seolah sedang mendeskripsikan diri Jihan sendiri. Seseorang yang memakai 'topeng' keceriaan untuk menutupi hancurnya dunia di dalam sana.

​Untuk sepersekian detik, pandangan mereka terkunci. Di tengah riuhnya kafe dan suara deburan ombak, waktu seakan berhenti. Jihan bisa melihat ada sesuatu yang dalam, kelam, namun sangat tulus di sepasang mata elang milik Marvin. Sesuatu yang membuatnya merasa... telanjang. Seolah Marvin bisa melihat menembus jiwa Jihan yang paling rapuh.

​Drrrt... Drrrt...

​Getar ponsel di atas meja menghancurkan sihir sejenak itu. Jihan terkesiap, buru-buru memutus kontak mata mereka dan melihat layar ponselnya.

​Maudy Calling...

​Nama itu tertera jelas di layar ponsel Marvin.

​Jihan menelan ludah, sebuah perasaan aneh yang tak bisa ia jelaskan mendadak mencubit sudut hatinya. Ia kembali memasang wajah datarnya, menarik kembali benteng pertahanannya.

​"Cewek lo nelfon tuh," ucap Jihan pelan, mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop. "Angkat gih. Nanti ngamuk lagi, repot."

​Marvin melirik layar ponselnya sekilas. Rahangnya mengeras. Alih-alih mengangkat panggilan itu, tangannya justru meraih ponsel tersebut dan menekan tombol daya lama-lama hingga layarnya mati total.

​Jihan terbelalak. "Gila lo? Nanti dia nyariin—"

​"Gue udah selesai kirim tugas gue," potong Marvin cepat, nadanya kembali dingin dan tidak terbaca. Ia membereskan laptopnya, memasukkannya ke dalam ransel, dan berdiri. Sebelum berbalik pergi, pria itu menumpukan satu tangannya di ujung meja Jihan, menunduk sedikit hingga Jihan bisa mencium lagi aroma peppermint-nya.

​"Jangan nangis sendirian di tempat umum, Jihan," bisik Marvin, suaranya nyaris seperti embusan angin. "Lo jelek kalau lagi nangis."

​Marvin berbalik dan berjalan keluar dari kafe, menembus senja yang mulai turun, meninggalkan Jihan yang membeku di kursinya dengan jantung yang mendadak berdebar dengan ritme yang sangat, sangat salah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   1

    ​Tujuh tahun setelah malam kelulusan sarjana Aria, ruang keluarga townhouse Jihan dan Marvin kembali berubah menjadi arena gladiator berdarah dingin. Bara, yang kini telah bermetamorfosis menjadi seorang arsitek muda sukses beraura tenang, duduk dengan punggung tegak lurus seolah sedang berhadapan dengan regu tembak. Di atas meja kaca tepat di hadapannya, tergeletak sebuah kotak beludru merah kecil yang terbuka, memamerkan cincin berlian berpotongan zamrud. ​"Sebuah cincin yang manis, anak muda," Marx Vance memecah keheningan yang mencekik, ujung tongkat singanya menunjuk kotak tersebut dengan gerakan meremehkan. "Tapi apakah kau tahu bahwa cucuku memiliki akses langsung ke tambang berlian mentah di Afrika Selatan? Apa yang membuatmu berpikir sepotong karbon berkilau ini cukup untuk membeli sisa umur pewarisku?" ​Di seberang sofa, Pak Darmawan sibuk mengetuk-ngetuk layar tabletnya tanpa mengangkat wajah. "Aku sudah menyiapkan draf perjanjian pranikah setebal tiga ratus halaman. Ini

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   30

    Angin pegunungan Wonosobo yang menggigit tulang menyambut kedatangan Aria beserta konvoi kecilnya. Kabut tebal turun merayap lambat, menyelimuti hamparan kebun teh yang berundak hijau sejauh mata memandang. Di tengah jalanan makadam yang terjal dan licin, deru mesin motor custom Aria memecah keheningan alam dengan ritme yang stabil, membuktikan bahwa ketangguhan rakitan gadis itu sama liarnya dengan insting sang ayah.​Setelah berjam-jam membelah rute pedalaman yang menguji adrenalin, mata elang Aria menangkap sebuah plang kayu usang di persimpangan jalan tanah. Sebuah tulisan pudar berbunyi 'Cito-Oko' terpampang di sana, persis seperti informasi rahasia yang ia dapatkan dari forum perajin mesin bawah tanah. Tempat itu sama sekali tidak menyerupai bengkel modern, melainkan sebuah pelataran luas beralaskan tanah padat di belakang rumah kayu. Di sana, para montir lokal tengah menempa bongkahan logam tua menjadi suku cadang handmade bernilai tinggi.​Kedatangan sekelompok mahas

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   29

    Dua minggu sebelum masa orientasi mahasiswa dimulai, langit Kota Bandung menjadi saksi bisu kegilaan dua kakek super kaya yang menolak keras membiarkan cucu mereka hidup seperti mahasiswa biasa. Kesepakatan awal untuk membiarkan Aria "hidup mandiri" ternyata diterjemahkan secara sangat ekstrem oleh Marx Vance dan Pak Darmawan.​Perang akuisisi properti dimulai dalam senyap. Pak Darmawan lebih dulu mengutus tim pengacaranya untuk membeli seluruh lantai penthouse di apartemen paling elite di Ciumbuleuit, lengkap dengan taman gantung dan sistem filtrasi air setara rumah sakit. Namun, Marx Vance sang raja mafia merasa itu belum cukup aman. Hanya dalam kurun waktu dua hari, Marx membeli seluruh gedung apartemen tersebut, mengusir sisa penghuni dengan kompensasi sepuluh kali lipat, dan menyulap lobi gedung menjadi pos komando taktis yang dijaga oleh anak buah Carlo yang menyamar secara bergantian sebagai satpam, kurir paket, hingga tukang sapu jalanan.​Jihan hanya bisa mengurut d

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   28

    ​Waktu melesat lebih cepat dari putaran mesin V8. Aria Vance kini duduk di kelas dua belas, dan kata 'kuliah' resmi menjadi pemicu kepanikan nasional tingkat tinggi di kediaman keluarga Vance-Darmawan.​Malam itu, ruang keluarga townhouse Jihan dan Marvin tidak lagi terlihat seperti tempat bersantai, melainkan ruang konferensi intelijen. Meja kaca di tengah ruangan tertutup rapat oleh dua tumpukan dokumen yang saling bersaing.​Di sisi kiri, Pak Darmawan menyusun rapi setumpuk brosur universitas Ivy League, lengkap dengan cetak biru rencana ekspansi perusahaan propertinya sepuluh tahun ke depan. Di sisi kanan, Marx Vance membentangkan peta geopolitik dunia, brosur akademi militer swasta dari Swiss, dan dokumen kepemilikan pabrik senjata yang baru saja ia beli atas nama Aria.​"Harvard Business School adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal, Vance!" Pak Darmawan memulai persidangan, mengetuk brosurnya dengan pena emas murni. "Aria akan mewarisi takhta Darmawan Group.

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   27

    ​Keheningan romantis di gazebo itu akhirnya pecah oleh derit halus ban mobil yang bergesekan dengan aspal paving pelataran rumah. Marvin melirik jam tangan chronograph di pergelangan kirinya di bawah temaram lampu gantung. ​Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lewat lima puluh sembilan menit. Sisa enam puluh detik sebelum ancaman ban kempes dari sang mantan penguasa dunia bawah itu benar-benar dieksekusi. ​Dari balik pagar kayu, terdengar suara pintu mobil ditutup dengan sangat tergesa-gesa. Beberapa detik kemudian, Aria berjalan santai memasuki halaman belakang, sementara siluet Bara di kejauhan terlihat berlari kembali ke kursi kemudi seolah nyawanya sedang dipertaruhkan. Deru mesin mobil pemuda itu melesat pergi tepat saat jarum detik menyentuh angka dua belas. ​Jihan terkekeh pelan di dalam pelukan suaminya. "Nyali anak itu patut diacungi jempol. Dia benar-benar berani menantang batas kecepatan kota Jakarta demi mengalahkan tenggat waktu dari algojo

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   26

    ​Deru mesin mobil Bara kembali terdengar di pelataran rumah pada malam Minggu berikutnya. Kali ini, remaja itu terlihat sedikit lebih rileks, meski postur tubuhnya tetap tegap layaknya prajurit yang sedang menjalani wajib militer. Aria turun dari lantai dua mengenakan dress selutut berwarna navy dan cardigan tipis, memancarkan pesona Jihan di masa mudanya namun dengan langkah merdeka ala Marvin.​"Papa, Mama, Aria pergi dulu," pamit gadis itu seraya mencium pipi kedua orang tuanya.​Marvin mengangguk, melipat lengannya di depan dada. "Jam sepuluh tepat, Bara. Lewat semenit, ban mobil lo otomatis gue kempesin dari jauh pakai remote."​Bara menelan ludah dan mengangguk kaku, berjanji dengan sungguh-sungguh akan mengembalikan Aria tanpa kurang satu lecet pun. Begitu siluet mobil mereka menghilang di balik gerbang, keheningan yang asing namun mendamaikan turun menyelimuti rumah tersebut. Jihan menoleh menatap suaminya, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa min

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status