LOGIN
Udara siang di kafetaria Fakultas Bisnis terasa pengap, tapi Jihan Andexa seolah memiliki pasokan oksigennya sendiri. Jari-jari lentiknya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan ritme cepat, sementara bibirnya tak henti menembakkan rentetan kalimat tanpa koma.
"Pokoknya, abis ini kita harus mampir ke kafe baru yang di ujung jalan itu. Kamu tahu kan, Yang, aku butuh banget ngerjain revisi skripsi dengan view laut lepas," cerocos Jihan, matanya berbinar-binar penuh harap menatap pria di hadapannya. Ia menopang dagu, memajukan wajah. "Biar jiwa aku sejuk. Sama satu lagi, aku butuh banget lari dari kebisingan otakku yang rasanya mau meledak gara-gara ngejar target marketing plan sialan ini!" Di seberang meja, Kalandra Exder hanya tersenyum. Senyum yang selalu sama: teduh, sabar, dan tak pernah menghakimi sekecil apa pun keanehan Jihan. Tangannya terulur lembut, merapikan anak rambut yang menempel di dahi gadis itu, lalu menyelipkannya ke belakang telinga. "Iya, Jihan cantik," suara Kalandra mengalun tenang, bagai air es yang menyiram bara kepanikan di kepala Jihan. "Apa pun buat kamu. Aku bahkan udah siapin tote bag isi baju ganti kamu di mobil. Nanti sore kamu nggak perlu capek bolak-balik ke rumah cuma buat ganti baju." Jihan tertegun. Bahunya yang sejak tadi tegang, perlahan merosot santai. Sorot matanya melembut seketika, menyadari betapa beruntungnya ia memiliki pria ini. "Aaaa... makasih banyak, sayangnya aku. Kamu kok selalu tahu sih apa yang aku butuhin, bahkan sebelum aku minta?" Kalandra mengusap puncak kepala Jihan dengan gerakan sayang. "Dihabisin dulu jusnya. Kita masih ada satu kelas lagi sebelum pulang, oke?" Di sudut lain kampus—tepatnya di pelataran parkir Fakultas Teknik—atmosfernya terasa bertolak belakang. Jauh dari kata manis. Angin siang meniup rambut ikal Marvin Alexander yang sengaja dibiarkan berantakan. Gaya khas seorang berandal kampus yang entah bagaimana justru jadi magnet bagi para perempuan. Jaket kulit hitamnya hanya disampirkan asal di sebelah bahu. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke depan, kosong dan terkesan bosan, sementara gadis di sampingnya terus mengoceh tanpa henti. Maudy Martin melipat kedua tangannya di dada. Wajah cantiknya ditekuk kesal. "Aku nggak mau tahu ya, Marvin! Pokoknya kamu harus pakai pengaruh kamu di anak-anak mesin buat voting aku jadi ketua promosi kampus tahun ini." Marvin menghela napas panjang dan kasar. Ia merogoh saku jeans-nya, mengeluarkan pemantik api besi dan memainkannya di sela-sela jari. Klik. Klik. "Nggak bisa, Dy," jawabnya datar tanpa menoleh. "Kali ini anak-anak milih kandidat murni karena prestasi sama portofolio. Bukan jalur backing." Maudy mendelik. Ia maju selangkah, menuntut atensi penuh dari kekasihnya. "Kamu harus bisa, dong! Kamu itu cowok aku, Marvin! Masa kamu nggak bisa ngusahain hal kecil yang dipengenin cewek kamu sendiri, sih?" tuntutnya egois. Gerakan tangan Marvin terhenti. Ia akhirnya menoleh. Sorot matanya sedingin es, tak ada sisa kehangatan di sana. "Kalau lo butuh validasi orang lain cuma buat ngerasa berharga, jangan jadiin gue alatnya, Dy." Tanpa menunggu balasan Maudy yang mematung karena syok, Marvin menyambar helm full-face miliknya dan menghidupkan mesin motor sport kesayangannya. Deru knalpot membelah pelataran parkir yang bising, meninggalkan Maudy yang menghentakkan kaki dengan amarah meledak-ledak di tengah kepulan asap tipis. Sore itu, awan abu-abu mulai menggantung rendah, menyelimuti langit kampus. Kelas Jihan kebetulan selesai lebih awal. Ia berdiri di lobi fakultas, jempolnya menggeser layar ponsel, membaca pop-up pesan yang baru saja masuk. Kalandra: Sayang, maaf banget ya aku nggak bisa jemput kamu sekarang. Kondisi Mamah lagi drop, aku harus temenin beliau terapi hari ini. Tapi tenang aja, aku udah suruh Pak Maman bawa mobil buat jemput kamu di lobi. Hati-hati ya pulangnya. Jihan menghela napas pelan. Kecewa? Bohong kalau ia bilang tidak. Namun, ia buru-buru menepis perasaan egois itu. Ia tahu betul seberapa berat beban Kalandra merawat ibunya yang mengidap kanker. Dengan cepat, jempolnya mengetik balasan. Jihan: Iya, Sayangku. Nggak apa-apa, fokus aja ke Mamah, ya. Titip salam buat beliau. Kamu juga hati-hati. Love you more. Gadis itu baru saja memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Belum sempat ia melangkah mencari tempat duduk, suara deru knalpot yang memekakkan telinga sengaja digeber, tepat di depannya. Brummm! Jihan terperanjat kaget, mundur selangkah sambil memegang dadanya. Asap knalpot mengepul dari motor sport hitam yang berhenti tepat di depan anak tangga lobi. Sang pengendara membuka kaca helmnya perlahan, menampilkan senyum miring—senyum smirk menyebalkan yang paling Jihan benci di muka bumi ini. Marvin Alexander. "Tuan Putri sepertinya butuh tumpangan?" ledek Marvin. Suara baritonnya terdengar mengejek, diiringi kilat jenaka di kedua matanya. Jihan memutar bola mata malas, refleks melipat tangan di depan dada. Sentimennya pada pria di depannya ini sudah mendarah daging sejak mereka masih berseragam putih abu-abu. "Makasih udah repot-repot nawarin, Alexander. Tapi sorry, gue nggak butuh tumpangan dari cowok playboy cap buaya bermulut tajam kayak lo," balas Jihan super sarkas. Marvin malah terkekeh pelan, suaranya terdengar renyah berbaur dengan gerimis yang mulai turun. "Yakin? Syukurlah kalau gitu." Pria itu memajukan sedikit tubuhnya, menumpu kedua lengan di atas tangki motor, menatap Jihan lekat. "Soalnya biasanya, gue bakal kena sial tujuh turunan kalau jarak gue terlalu dekat sama cewek galak plus aneh kayak lo." "Sialan lo, Marvin!" desis Jihan tajam, wajahnya memerah menahan kesal. Tepat saat Jihan berniat melontarkan makian kebun binatang, klakson mobil Alphard hitam berbunyi dari arah gerbang. Itu mobil jemputannya. Pak Maman. "Jemputan gue udah datang. Minggir, lo ngalangin jalan!" Jihan mengibaskan tangan seolah mengusir lalat, lalu berjalan menyamping menghindari motor Marvin dengan wajah ditekuk rapat. Ia bahkan tidak sudi menoleh lagi saat masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya menutup. Alphard hitam itu perlahan melaju, membelah gerimis sore yang perlahan berubah menjadi hujan. Namun di belakang sana, di depan lobi yang mulai sepi, Marvin tidak langsung memutar kemudinya. Ia mematikan mesin motor. Senyum mengejek yang tadi terlukis sempurna di wajahnya perlahan luntur, digantikan oleh raut lelah yang begitu kelam. Mata elangnya terus terpaku ke arah mobil Jihan, menatap tanpa kedip hingga kendaraan itu menghilang di belokan jalan. Tangan Marvin mencengkeram stang motornya erat-erat, urat-urat di punggung tangannya menonjol hingga buku-buku jarinya memutih. Gue masih di sini, Han, batinnya merintih lirih. Sejak kita SMA, gue selalu nunggu di tempat yang nggak pernah lo lihat. Lo selalu mandang terlalu jauh ke depan. Ada nyeri yang berdenyut konstan di dada Marvin setiap kali ia melihat gadis itu. Bagi semua orang, ia adalah pangeran kegelapan fakultas. Walking red flag yang harus dijauhi. Tak ada yang tahu, dan tak ada yang pernah sudi melihat lebih dalam, bahwa di balik semua topeng berandal yang ia kenakan, ada hati yang terus berdarah. Berdarah karena sibuk mencintai seseorang yang tak bisa ia genggam. Senang rasanya lihat senyum lo masih sama, Jihan. Sangat indah. Bahkan senja sore ini pun kalah telak. Marvin memejamkan mata sejenak, membiarkan rintik hujan yang makin deras menyamarkan setitik air yang menggenang di sudut matanya. Dengan embusan napas berat, ia kembali menghidupkan mesin, membawa pergi luka lamanya menembus badai. Setengah jam kemudian, Jihan melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya. Pintu kayu jati berukir itu tertutup di belakangnya, menciptakan suara debuman yang menggema ke seluruh sudut ruangan. Sepi. Hening. Lampu-lampu gantung kristal menyala begitu terang dan megah, namun entah kenapa rumah ini selalu terasa sedingin lemari es. Tidak ada suara televisi yang menyala, tidak ada aroma masakan hangat dari dapur, tidak ada tegur sapa. Kedua orang tuanya, seperti biasa, tengah sibuk mengurus kerajaan bisnis mereka di luar negeri—atau entah di belahan bumi mana lagi sekarang. Jihan bahkan berhenti menghafal jadwal penerbangan mereka. Gadis itu melempar tasnya sembarangan ke atas sofa ruang tamu. Ia menjatuhkan diri di sana, menatap nanar langit-langit rumah yang menjulang tinggi. Perlahan, topeng gadis cerewet dan ceria yang ia pakai mati-matian seharian ini di kampus mulai retak. Luruh, hancur bersama rasa lelah yang menggerogoti jiwanya hingga ke tulang. Jihan menarik kedua kakinya, merapatkan lutut ke dada, lalu memeluk dirinya sendiri erat-erat. Hanya Kalandra. Ya, di dunianya yang bising namun terasa begitu sunyi dan hampa ini, hanya Kalandra yang menjadi pelindungnya. Sosok hangat yang menjadi satu-satunya jangkar kewarasannya. Memikirkan senyum lembut Kalandra, Jihan memejamkan mata rapat-rapat. Berusaha keras mencari secuil kehangatan di tengah dinginnya rumah yang perlahan menelannya hidup-hidup bak penjara.Tujuh tahun setelah malam kelulusan sarjana Aria, ruang keluarga townhouse Jihan dan Marvin kembali berubah menjadi arena gladiator berdarah dingin. Bara, yang kini telah bermetamorfosis menjadi seorang arsitek muda sukses beraura tenang, duduk dengan punggung tegak lurus seolah sedang berhadapan dengan regu tembak. Di atas meja kaca tepat di hadapannya, tergeletak sebuah kotak beludru merah kecil yang terbuka, memamerkan cincin berlian berpotongan zamrud. "Sebuah cincin yang manis, anak muda," Marx Vance memecah keheningan yang mencekik, ujung tongkat singanya menunjuk kotak tersebut dengan gerakan meremehkan. "Tapi apakah kau tahu bahwa cucuku memiliki akses langsung ke tambang berlian mentah di Afrika Selatan? Apa yang membuatmu berpikir sepotong karbon berkilau ini cukup untuk membeli sisa umur pewarisku?" Di seberang sofa, Pak Darmawan sibuk mengetuk-ngetuk layar tabletnya tanpa mengangkat wajah. "Aku sudah menyiapkan draf perjanjian pranikah setebal tiga ratus halaman. Ini
Angin pegunungan Wonosobo yang menggigit tulang menyambut kedatangan Aria beserta konvoi kecilnya. Kabut tebal turun merayap lambat, menyelimuti hamparan kebun teh yang berundak hijau sejauh mata memandang. Di tengah jalanan makadam yang terjal dan licin, deru mesin motor custom Aria memecah keheningan alam dengan ritme yang stabil, membuktikan bahwa ketangguhan rakitan gadis itu sama liarnya dengan insting sang ayah.Setelah berjam-jam membelah rute pedalaman yang menguji adrenalin, mata elang Aria menangkap sebuah plang kayu usang di persimpangan jalan tanah. Sebuah tulisan pudar berbunyi 'Cito-Oko' terpampang di sana, persis seperti informasi rahasia yang ia dapatkan dari forum perajin mesin bawah tanah. Tempat itu sama sekali tidak menyerupai bengkel modern, melainkan sebuah pelataran luas beralaskan tanah padat di belakang rumah kayu. Di sana, para montir lokal tengah menempa bongkahan logam tua menjadi suku cadang handmade bernilai tinggi.Kedatangan sekelompok mahas
Dua minggu sebelum masa orientasi mahasiswa dimulai, langit Kota Bandung menjadi saksi bisu kegilaan dua kakek super kaya yang menolak keras membiarkan cucu mereka hidup seperti mahasiswa biasa. Kesepakatan awal untuk membiarkan Aria "hidup mandiri" ternyata diterjemahkan secara sangat ekstrem oleh Marx Vance dan Pak Darmawan.Perang akuisisi properti dimulai dalam senyap. Pak Darmawan lebih dulu mengutus tim pengacaranya untuk membeli seluruh lantai penthouse di apartemen paling elite di Ciumbuleuit, lengkap dengan taman gantung dan sistem filtrasi air setara rumah sakit. Namun, Marx Vance sang raja mafia merasa itu belum cukup aman. Hanya dalam kurun waktu dua hari, Marx membeli seluruh gedung apartemen tersebut, mengusir sisa penghuni dengan kompensasi sepuluh kali lipat, dan menyulap lobi gedung menjadi pos komando taktis yang dijaga oleh anak buah Carlo yang menyamar secara bergantian sebagai satpam, kurir paket, hingga tukang sapu jalanan.Jihan hanya bisa mengurut d
Waktu melesat lebih cepat dari putaran mesin V8. Aria Vance kini duduk di kelas dua belas, dan kata 'kuliah' resmi menjadi pemicu kepanikan nasional tingkat tinggi di kediaman keluarga Vance-Darmawan.Malam itu, ruang keluarga townhouse Jihan dan Marvin tidak lagi terlihat seperti tempat bersantai, melainkan ruang konferensi intelijen. Meja kaca di tengah ruangan tertutup rapat oleh dua tumpukan dokumen yang saling bersaing.Di sisi kiri, Pak Darmawan menyusun rapi setumpuk brosur universitas Ivy League, lengkap dengan cetak biru rencana ekspansi perusahaan propertinya sepuluh tahun ke depan. Di sisi kanan, Marx Vance membentangkan peta geopolitik dunia, brosur akademi militer swasta dari Swiss, dan dokumen kepemilikan pabrik senjata yang baru saja ia beli atas nama Aria."Harvard Business School adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal, Vance!" Pak Darmawan memulai persidangan, mengetuk brosurnya dengan pena emas murni. "Aria akan mewarisi takhta Darmawan Group.
Keheningan romantis di gazebo itu akhirnya pecah oleh derit halus ban mobil yang bergesekan dengan aspal paving pelataran rumah. Marvin melirik jam tangan chronograph di pergelangan kirinya di bawah temaram lampu gantung. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lewat lima puluh sembilan menit. Sisa enam puluh detik sebelum ancaman ban kempes dari sang mantan penguasa dunia bawah itu benar-benar dieksekusi. Dari balik pagar kayu, terdengar suara pintu mobil ditutup dengan sangat tergesa-gesa. Beberapa detik kemudian, Aria berjalan santai memasuki halaman belakang, sementara siluet Bara di kejauhan terlihat berlari kembali ke kursi kemudi seolah nyawanya sedang dipertaruhkan. Deru mesin mobil pemuda itu melesat pergi tepat saat jarum detik menyentuh angka dua belas. Jihan terkekeh pelan di dalam pelukan suaminya. "Nyali anak itu patut diacungi jempol. Dia benar-benar berani menantang batas kecepatan kota Jakarta demi mengalahkan tenggat waktu dari algojo
Deru mesin mobil Bara kembali terdengar di pelataran rumah pada malam Minggu berikutnya. Kali ini, remaja itu terlihat sedikit lebih rileks, meski postur tubuhnya tetap tegap layaknya prajurit yang sedang menjalani wajib militer. Aria turun dari lantai dua mengenakan dress selutut berwarna navy dan cardigan tipis, memancarkan pesona Jihan di masa mudanya namun dengan langkah merdeka ala Marvin."Papa, Mama, Aria pergi dulu," pamit gadis itu seraya mencium pipi kedua orang tuanya.Marvin mengangguk, melipat lengannya di depan dada. "Jam sepuluh tepat, Bara. Lewat semenit, ban mobil lo otomatis gue kempesin dari jauh pakai remote."Bara menelan ludah dan mengangguk kaku, berjanji dengan sungguh-sungguh akan mengembalikan Aria tanpa kurang satu lecet pun. Begitu siluet mobil mereka menghilang di balik gerbang, keheningan yang asing namun mendamaikan turun menyelimuti rumah tersebut. Jihan menoleh menatap suaminya, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa min







