ログインBimo, sang detektif swasta, sedang berbincang dengan Marco.“Saya akan memulai penyelidikan dari data kiriman Iptu. Binsar, yaitu temuan m@yat bayi perempuan yang tersangkut di saluran air. Menurut data polisi, jenazah bayi itu dievakuasi ke sebuah RSU di Kabupaten Bandung. Saya akan ke RSU itu untuk mencari tahu keberadaan jenazah bayi.”“Iya Pak.”“Kalau ada, saya ingin melihat foto seluruh keluargamu, orang tua, saudara kandung, dan istrimu. Jangan khawatir, foto itu tidak akan disalahgunakan. Saya butuh untuk identifikasi, jika diperlukan saja.”Marco mencari beberapa foto dari galeri ponselnya, dikirim ke nomor Pak Bimo.“Apakah ada kerabat dekat yang tinggal di Bandung?” tanya Bimo lagi.“Hampir semua keluarga besar dari papa saya tinggal di Bandung, di kota, maupun di kabupatennya.”“Pada saat istrimu melahirkan, kamu tidak bisa mendampingi, yang mendampingi adalah kakakmu beserta istrinya. Orang tuamu ke mana?”“Saat itu kedua orang tua saya sedang berobat ke Penang, Malaysia.
Marco membicarakan kecurigaannya pada beberapa hal berkaitan dengan bayi yang dikuburkan di pemakaman keluarganya. Inspektur Binsar mengatakan bahwa dirinya tidak dapat membantu, jika Marco tidak mau melaporkan perkara tersebut, secara resmi, ke markas polisi. Namun Binsar melontarkan sebuah alternatif, katanya ada orang yang bilang membantu Marco menyelidiki masalah itu, walau secara tidak resmi.“Kamu bisa minta bantuan pada detektif swasta.” “Memangnya di Indonesia ada detektif swasta?”“Secara legal, tidak ada, karena penyidikan kasus hukum di Indonesia hanya boleh dilakukan oleh kepolisian dan kejaksaan. Tapi karena kebutuhan untuk menyelidiki seseorang, atau sebuah perusahaan, maka ada yang buka jasa detektif swasta. Pada mulanya jasa detektif swasta ini bukan untuk menyelidiki kasus kriminal, melainkan hanya untuk menyelidiki calon suami dari putri konglomerat, misalnya. Apakah layak atau tidak untuk dijadikan menantu. Atau menyelidiki sebuah perusahaan, oleh pihak yang mau j
Selepas latihan climbing di Pajajaran Sport Hall, Marco dan Binsar beristirahat di tepi lapangan. Marco menceritakan perihal bayi itu kepada Inspektur Binsar Siagian.Binsar bertanya, “So, pada awalnya kau enggak punya rasa curiga sama sekali?”Marco mengangguk, “Pada awalnya saya menerima semua hal yang diceritakan oleh kakakku. Katanya bayi yang dilahirkan istri saya sudah meninggal saat lahir. Istri saya juga bilang kalau dia tidak mendengar suara tangis bayi pada saat dia menjalani operasi caesar. Lalu saya dan istri mendatangi pemakaman keluarga, melihat kuburan bayi kami. Di nisannya tertulis “Putri binti Marco”, kata kakak saya itu nama yang dia beri untuk penanda nisan, kalau mau ganti nama, silakan. Saya bilang, bayinya juga sudah tiada, buat apa lagi namanya diganti? Jadi pada awalnya, saya sudah ikhlas menerima takdir kematian anak saya.”Marco lanjut bertutur, “Tiba-tiba saja, kuncen bilang kalau kakak saya menggali lagi makam bayi itu, dua hari setelah pemakamannya. Alasa
Hari itu, saat istirahat kerja, Marco datang ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA, yang menurut dokter sudah dikirim dari rumah sakit besar. Mulanya Marco biasa saja ketika menerima sebuah amplop dari asisten dokter. Kemudian Marco kembali ke mobilnya di halaman parkir.“Bagaimana kalau ....” Marco menggeleng, tidak mau lanjut memikirkan hal buruk. Namun tangannya sedikit gemetar ketika membuka amplop putih panjang yang berisi lembar hasil tes DNA dari bayi yang ada di pemakaman keluarganya. Dia membaca beberapa keterangan yang bahasanya sangat ilmiah, kemudian tiba pada bagian akhir yang tampaknya merupakan kesimpulan dari seluruh tes tersebut.Kesimpulan itu ditulis dalam Bahasa Inggris: “Mr. Marco R. Wiratama is not biological father ....” Marco tidak lanjut membaca, jari jemarinya meremas kertas itu.Ponselnya berdering, dari nomor Maryam.“Ada apa?” tanya Marco.“Bang, aku sudah sampai di bengkel, tapi Abang enggak ada. Aku cari di rumah makan seberang bengkel, enggak ada
Menunggu adalah hal yang paling menjengkelkan. Marco sedang menunggu keluarnya hasil tes DNA dari jenazah bayi. Seminggu telah lewat, Marco telah menelepon pihak rumah sakit, namun jawabannya adalah hasil tes belum ada.Marco berpikir, apapun hasilnya, kondisi bayi tetap menjadi tanda tanya besar. Kenapa hasil autopsi menunjukkan kalau bayi itu sempat bernapas secara normal, namun kemudian mengalami kesulitan bernapas akibat tenggelam di air yang berlumpur? Sebenarnya yang bisa menjawab semua pertanyaan itu adalah Zakki, karena dia yang membawa jenazah bayi untuk dimakamkan. Namun Marco tidak yakin jika Zakki mau menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Saat ini, satu-satunya cara untuk mencari tahu, adalah dengan melakukan tes medis, yaitu autopsi dan tes DNA. Hasil tes medis tentang jenazah bayi itu akan menjadi dokumen yang punya kekuatan hukum andai nanti perlu membuktikan sesuatu.Hari Minggu Marco libur kerja, dia mengajak Maryam jalan-jalan.“Ke mana, Bang?”“Ke lokasi wisata
Maryam mengaku agak pusing, dan ingin istirahat sebentar. Marco menunjukkan sebuah dipan kecil dengan kasur busa di atasnya. Dipan itu ditaruh di pojok ruangan, terhalang rak yang cukup lebar, sehingga tak terlihat oleh orang yang masuk ke ruangan itu. Maryam berbaring di atas dipan, dan Marco kembali ke kursinya.Kemunculan Windy di bengkel, menerbitkan kembali rasa cemburu dan curiga di hati Maryam. Barusan memang Windy sudah pergi, dan Marco baru muncul setelah Windy pergi. Namun Maryam ingin tahu, ingin membuktikan, jika mereka ada hubungan, maka akan ada yang menelepon. Maryam berbaring sembari mendengarkan suara Marco. Beberapa kali memang terdengar Marco menjawab telepon, ataupun menelepon, tapi percakapannya hanya seputar urusan bengkel.Maryam berpikir, tidak semestinya dia terus saja curiga dan cemburu pada suaminya. Kemudian dia melihat Marco menengoknya.“Kamu enggak tidur?”“Enggak bisa tidur.”“Di sini memang berisik sama suara motor. Eh, kamu mau makan sate? Aku pesan y
Ketika Zakki pulang kerja, Anita menanyakan keberadaan kedua mertuanya.“Papaku lagi berobat di rumah sakit, di Penang, Malaysia,” jawab Zakki, “enggak mungkin lah kalau sembunyi di Puncak. Papa kan, enggak mungkin diajak bohong soal urusan Maryam. Si Marco itu kan, sekutu papa yang paling dekat. P
Zakki agak kesal karena dia merasa lelah baru pulang kerja, tapi istrinya malah memberondongnya dengan banyak pertanyaan tentang boneka bayi yang dibawa pulang.Anita masih bicara dengan nada yang menuntut jawaban segera, “Kang, kalau nanti anak Marco diberitakan meninggal, aku kira beberapa keraba
Selesai sarapan, Anita bicara pada Maryam.“Aku mau ikut Kang Zakki ke bengkel, mau ambil mobilku. Nanti aku pasti buru-buru pulang, nggak mampir-mampir dulu.”“Iya.”Zakki turut bicara, “Kamu enggak sendirian di rumah, ada ART dan satpam. Sudah aku wanti-wanti sama mereka untuk ikut jagain kamu.”
Zakki sedang menatap layar ponselnya waktu Teguh muncul membawa lunc box. Zakki membuka tutup lunc box, isinya daging sapi yang dimasak menjadi gepuk, ada lima potong.“Wah, enak nih, kesukaan saya. Berapa Om?”“Bawa aja, nggak usah nanyain harga!” ujar Teguh.“Eh, jangan begitu, Om. Ini kan, bisni







