LOGINAku tidak tahu berapa lama mereka masih berbicara.Suara Pak Irwan perlahan menjauh.Kemudian hanya terdengar suara langkah kaki mendekat.Aku masih belum mampu membuka mata.Sampai sebuah suara memanggil namaku.“Karin.”Aku mengenal suara itu.Perlahan, kubuka mata.Pandangan masih buram. Namun sosok yang berdiri di samping tempat tidurku mulai terlihat jelas.Pak Franky menatapku, beliau berdiri tepat di hadapanku.Tegap dengan setelan yang masih terlihat rapi meskipun jelas baru menempuh perjalanan jauh. Wajahnya terlihat lebih tegas dari yang kuingat. Garis rahangnya jelas, sorot matanya tajam, dan ada wibawa yang membuat suasana di dalam ruangan seketika berubah hanya karena kehadirannya.Aku bahkan sempat lupa bahwa aku sedang terbaring di rumah sakit.Lalu tiba-tiba ucapan Chintya melalui telepon kembali terngiang di kepalaku.“Kamu benar-benar tidak menyadari perhatian Pak Franky kepadamu?”Aku langsung mengalihkan pandangan.Entah mengapa, mengingat kalimat itu saat beliau s
Menjelang siang, tiba-tiba perutku terasa mengeras.Awalnya hanya sebentar.Aku mengira itu hal biasa.Tetapi beberapa saat kemudian rasa sakit itu kembali.Lebih kuat.Aku memejamkan mata sambil menarik napas panjang.“Dinda…”Adikku yang sedang duduk di dekat jendela segera menoleh.“Kak?”“Perut Kakak sakit.”Dinda langsung bangkit dan mendekat.“Sakitnya bagaimana?”“Aku juga nggak tahu.”Aku mencoba mengubah posisi duduk. Namun rasa nyeri justru semakin kuat. Perutku kembali menegang.Aku meringis.“Dinda… panggil perawat.”Wajah Dinda langsung berubah panik.“Iya, Kak.”Setelah itu semuanya berlangsung cepat.Perawat datang, kemudian dokter dipanggil.Aku hanya bisa menahan rasa sakit yang datang berulang kali. Tubuhku terasa lemas. Keringat dingin mulai membasahi pelipis.“Tenang, Bu Karin. Tarik napas perlahan.”Aku berusaha menurut.Namun rasa takut mulai memenuhi pikiranku.Bayiku belum waktunya lahir.Jangan sekarang.Tolong jangan sekarang.Aku memegang perutku dengan tang
Dan malam itu, tanpa kusadari, sesuatu di dalam diriku mulai berubah.Bukan rasa cintaku kepada Aldo yang tiba-tiba hilang.Aku memang sudah sendiri sejak waktu yang lama. Sejak aku memutuskan membantu suamiku untuk menutupi kebutuhan hidup. Mengapa baru sekarang aku menyadarinya. Ketika ada seseorang yang tepat datang mendampinginya dan membawanya kepada sebuah kesuksesan. Akhirnya aku tak berarti apa-apa dimatanya. Tak terasa airmataku menetes.“Kak, ada Pak Irwan.”Aku segera menghapus air mataku.“Pak Irwan?”Dinda mengangguk.“Beliau datang menjenguk.”Aku sedikit terkejut.Aku tidak menyangka Pak Irwan akan datang langsung ke rumah sakit secepat ini.Aku merapikan posisi dudukku ketika beliau masuk ke ruang rawat bersama Ibu.“Bagaimana keadaan Ibu sekarang?” tanya Pak Irwan.“Sudah lebih baik, Pak.”“Syukurlah.”Pak Irwan menarik kursi dan duduk di dekat tempat tidurku. Kami berbincang sebentar tentang kecelakaan yang kualami dan kondisi kesehatanku."Kemungkinan pak Franky ak
Dinda..!"Jariku mencengkeram baju bagian pinggangnya. Motor oleng.Dalam hitungan detik, keseimbangan kami hilang.Dinda terjatuh ke sisi sawah, sementara tubuhku terlempar ke arah jalan.Kepalaku membentur sesuatu.Masih kudengar suara Dinda memanggil-manggil namaku."Kak Karin..bangun kak.."Setelah itu, semuanya terasa gelap.Aku tidak pernah membayangkan sebuah perjalanan bisa membuat keluargaku panik setengah mati.Semuanya terjadi begitu cepat.Aku hanya mengingat suara rem yang berdecit, tubuhku yang terlempar, lalu rasa nyeri hebat di bagian perut.Setelah itu semuanya gelap.Ketika membuka mata, hal pertama yang kulakukan adalah memegang perutku.“Bayiku...”Suaraku bahkan nyaris tidak terdengar.Dinda yang duduk di samping tempat tidur langsung berdiri.“Kak!”Aku menatapnya dengan pandangan kabur.“Bayiku gimana?”Dinda menggenggam tanganku erat.“Dokter masih memeriksa, Kak. Jangan banyak bergerak dulu.”Aku bisa melihat matanya sembap.Ibu berdiri tidak jauh dari tempat
“Sidang pertama akan dilaksanakan pada hari Senin...”Suara Dinda dari ruang tamu membuat jantungku berdegup.Aku yang sedang melipat pakaian Alka segera meletakkannya, lalu keluar dari kamar.“Siapa, Din?”“Kak...”Suara kami nyaris bersamaan.Dinda menatapku dengan wajah serba salah. Tangannya masih memegang sebuah amplop.“Maaf, Kak. Aku lancang membukanya. Surat ini dari Pengadilan Agama.”Aku langsung mengambil surat itu dari tangannya.Begitu melihat kop surat di bagian atas, langkahku terhenti.Pengadilan Agama.Tanganku mulai terasa dingin.“Mas Aldo?”Dinda hanya mengangguk kaku.Saat itu Ibu keluar dari dapur. Namun, begitu melihatku dan surat di tanganku, langkahnya ikut terhenti. Tangannya masih menggenggam ujung celemek.Aku tidak mengatakan apa-apa.Aku kembali menatap surat itu, lalu duduk di sofa.Mataku jatuh pada nama yang tercetak jelas di sana.Pemohon: Aldo Satria.Termohon: Karin Adelia.Dadaku terasa sesak.Jadi, selama lebih dari tiga bulan tidak ada kabar dari
Ibu menarikku ke dalam pelukannya.“Kalau nanti Mas Aldo benar-benar memilih pergi, kamu tidak harus langsung tahu harus melakukan apa.”Aku menangis di bahunya.“Kalau nanti kamu belum siap memikirkan laki-laki lain, tidak apa-apa.”Tanganku mencengkeram ujung pakaian Ibu.“Kalau kamu masih mencintai suamimu, tidak apa-apa.”Ibu mengusap rambutku.“Dan kalau suatu hari nanti hatimu berubah, itu juga bukan sesuatu yang harus kamu putuskan hari ini.”Aku terisak.“Jadi sekarang aku harus bagaimana, Bu?”Ibu mencium keningku.“Pulanglah dulu kepada dirimu sendiri.”Aku terdiam.“Jangan memilih siapa pun karena sedang terluka,” lanjut Ibu lembut. “Jangan bertahan karena takut sendirian. Dan jangan menerima seseorang hanya karena dia datang ketika orang lain pergi.”Aku memejamkan mata.Untuk pertama kalinya hari itu, dadaku terasa sedikit lebih ringan.Karena mungkin Ibu benar.Aku tidak harus menjawab semuanya hari ini.Malam itu, setelah Ibu dan Dinda meninggalkan kamar, aku masih dudu







