LOGINUdara di dalam Paviliun Kediaman Permaisuri terasa begitu kering, membawa aroma campuran dari rempah-rempah yang direbus dan wangi kayu cendana yang biasanya menenangkan. Namun bagi Diana, aroma itu kini hanya menambah rasa sesak di dadanya. Di atas meja jati yang luas, berbagai macam botol porselen kecil berisi pil herbal dan ekstrak tanaman penguat stamina tertata rapi. Diana memasukkannya satu per satu ke dalam kotak kayu berlapis beludru dengan gerakan yang lambat namun pasti."Uhuk! Uhukk!"Diana terpaksa berhenti. Ia memegangi pinggiran meja, tubuhnya sedikit membungkuk saat batuk itu kembali menyerang. Rasa perih menjalar di tenggorokannya, seolah ada duri yang tersangkut di sana."Yang Mulia!" Embun segera mendekat, tangannya gemetar saat mencoba mengusap punggung Diana.Di sisi lain, Bibi Erna berdiri dengan wajah yang kian hari tampak kian menua karena kecemasan yang mendalam. "Apa tidak sebaiknya
Denada membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah kekosongan yang dingin di sisi tempat tidurnya. Alon sudah tidak ada di sana. Ia bangkit dari posisi meringkuknya. Tubuhnya terasa kaku, bukan karena aktivitas fisik, melainkan karena ketegangan mental yang ia tahan sepanjang malam. Pakaian tidur sutranya yang robek masih tersampir di bahunya, sebuah pengingat bisu tentang betapa rendahnya harga dirinya di mata pria yang baru saja menjadi suaminya. Denada menatap kain yang terkoyak itu dengan pandangan hampa. Tidak ada air mata lagi pagi ini; yang tersisa hanyalah kedinginan yang membeku di dalam dadanya. Ia segera memanggil pelayan untuk menyiapkan pemandian. Di dalam bak kayu besar yang mengepulkan uap air hangat beraroma bunga krisan, Denada menggosok kulitnya dengan keras, seolah-olah ia bisa menghapus jejak sentuhan kasar dan aroma alkohol yang masih terasa menghantui indranya. Ia mem
Angin malam di wilayah Debi menderu melewati celah-celah pilar batu Istana Agung, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Di dalam ruang kerja kekaisaran yang luas, suasananya jauh dari kata megah. Botol-botol porselen berisi arak gandum yang keras berserakan di atas meja jati, beberapa di antaranya sudah terguling dan menumpahkan isinya, membasahi dokumen-dokumen militer yang seharusnya menjadi prioritas utama sang penguasa baru. Alon duduk merosot di kursi kebesarannya. Mahkota naga peraknya diletakkan sembarangan di sudut meja, sementara rambut hitamnya berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang kini merah padam akibat pengaruh alkohol. Matanya yang biasanya tajam dan penuh perhitungan kini tampak sayu, namun berkilat dengan emosi yang gelap dan menyakitkan. "Diana..." gumam Alon, suaranya lemah dan parau. Ia mencengkeram sebuah botol alkohol di tangannya seolah-olah be
"Aku mengganggumu?" tanya Arthur.Suaranya tidak setegas biasanya, ada nada serak yang terselip di balik baritonnya yang berat. Ia masih berdiri di ambang pintu, menatap Diana dengan mata yang tampak sedikit sayu.Diana memaksakan sebuah senyum tipis—jenis senyum yang ia gunakan untuk meyakinkan pasien bahwa semuanya akan baik-baik saja, meski ia tahu kenyataannya berbeda. Ia merapatkan tangan di dalam lengan baju hanfu-nya, memastikan sapu tangan bernoda darah itu tersembunyi jauh di balik lipatan kain."Tentu saja tidak, Yang Mulia," jawab Diana lembut. Ia melangkah mendekat, mencoba menutupi kegugupannya. "Ada apa? Bukankah seharusnya Anda masih berada di ruang strategi bersama Perdana Menteri Mahen?"Arthur tidak menjawab. Ia justru melangkah maju dengan gerakan yang sedikit lunglai. Begitu sampai di depan Diana, ia tidak mengatakan sepatah kata pun, melainkan langsung menjatuhkan kepalanya di bahu Diana.
Suasana di Aula Harem mendadak mencekam setelah kalimat tajam Isabella terlontar. Denada, yang duduk di singgasana Permaisuri, merasakan tenggorokannya mendadak gatal dan kering. Ia terbatuk pelan, sebuah reaksi fisik yang coba ia samarkan dengan mengangkat telapak tangannya yang terbalut lengan baju sutra lebar.Setelah berhasil menguasai diri, Denada menarik napas panjang. Ia berusaha menjaga martabatnya sebagai pemimpin tertinggi harem, meskipun guncangan di hatinya belum sepenuhnya reda. Ia kembali memaksakan sebuah senyum tenang, sebuah topeng yang telah ia pelajari sejak kecil di kediaman Raja Debi."Adikmu?" tanya Denada dengan nada ringan, seolah-olah ia hanya sedang mendiskusikan cuaca. "Siapa yang kau maksud, Selir Kehormatan? Aku tidak tahu kalau keluarga Sinclair memiliki putri lain yang kau anggap begitu berkesan."Isabella tidak langsung menjawab. Ia justru tertawa kecil—suara tawa yang terdengar hampa dan sediki
Di dalam paviliun utama yang megah, Denada duduk dengan tenang di depan meja makan kayu hitam yang dipoles hingga mengilap. Di hadapannya tersaji mangkuk porselen putih berisi sup ayam dengan irisan ginseng dan beberapa piring kecil berisi kudapan ringan.Cucu, pelayan pribadinya yang paling setia, bergerak dengan cekatan di sampingnya. Gadis itu mengenakan seragam pelayan istana yang baru, tampak sedikit gugup namun berusaha memberikan pelayanan terbaik. Ia menuangkan teh melati hangat ke dalam cangkir giok milik Denada dengan tangan yang sedikit gemetar."Kaisar menolak datang?" tanya Denada pelan. Suaranya datar, tanpa nada kekecewaan sedikit pun, seolah ia sudah mengetahui jawaban itu sebelum pertanyaannya terucap.Gerakan tangan Cucu terhenti sejenak. Ia meletakkan teko keramik itu dengan hati-hati, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Raut wajahnya tampak sedih, seolah ia sendiri yang merasakan kepahitan dari penolaka
Di tengah sorak penyambutan yang menggema di seluruh Paviliun Seni, tidak semua mata memandang dengan kekaguman atau kegembiraan. Di balik tepuk tangan dan seruan hormat, ada tatapan-tatapan dingin yang tersembunyi rapi di balik senyum bangsawan dan sikap santun.Di ruang VIP t
Keesokan paginya, Diana bangun seperti biasa, tepat ketika cahaya matahari pagi menyelinap lembut melewati celah tirai tipis di kamarnya. Udara musim gugur yang dingin membuatnya sedikit menggeliat sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang. Tidak ada mimpi aneh semalam, tetapi perasaannya terasa ber
Lantai marmer istana Selir Agung memantulkan cahaya lampu minyak yang bergetar lembut, menciptakan bayangan panjang yang tampak seolah menari di dinding. Di tengah ruangan luas itu, seorang pria berlutut dengan kepala tertunduk dalam, punggungnya kaku, napasnya ditahan hati-hati.
Acara perjamuan penutupan akhirnya mencapai ujungnya. Lentera-lentera di lapangan utama masih menyala terang, memantulkan cahaya keemasan di atas permadani merah yang membentang dari pintu tenda hingga halaman terbuka. Musik telah berhenti, gelas-gelas anggur terakhir disingkirkan, dan para bang