แชร์

Bab 58. Retakan Di Balik Senyum

ผู้เขียน: nanadvelyns
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-09 07:30:29

Isabella menatap Diana tanpa sedikit pun usaha menyembunyikan ekspresinya.

Tidak ada lagi senyum manis yang biasa ia gunakan di hadapan orang lain.

Wajahnya kini dingin, keras, dan dipenuhi emosi yang bergejolak.

Lorong itu sepi. Lampu-lampu minyak di dinding memantulkan cahaya redup, menciptakan bayangan panjang di lantai batu.

Udara terasa berat, seolah menyadari bahwa percakapan di antara dua wanita ini tidak akan berakhir baik.

Diana mengerutkan keningnya sekilas. Ia memiringkan kepala sedikit, mempertahankan senyum tipis yang nyaris sopan.

“Ada apa, kak?” tanyanya lembut, seolah benar-benar tidak memahami suasana tegang yang menggantung di antara mereka.

Isabella mengepalkan kedua tangannya diam-diam.

Kukunya menekan telapak tangannya sendiri, menahan emosi yang sejak tadi mendidih. Dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia membuka mulut.

“Apa kau bahagia dengan pernikahanmu?” tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan itu datang tanpa peri
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 63. Daftar Nama dan Jarak yang Mengganggu

    “Apa yang kau lakukan di sini?”Suara Arthur terdengar datar, dingin, dengan kening yang terlipat sedikit. Nada itu cukup untuk membuat para pelayan yang berada di sekitar halaman menunduk lebih dalam, sementara udara pagi yang semula terasa ringan mendadak menegang tanpa alasan yang jelas.Diana yang baru saja menata ekspresi manisnya seketika menoleh ke arah Arthur. Tatapan matanya sempat melirik sekilas ke arah rombongan peti-peti besar yang masih terus diangkut masuk ke dalam istana, lalu kembali menatap pria di hadapannya dengan senyum sopan yang dipaksakan.“Ah… ini…” Diana menunjuk samar ke arah peti-peti itu. “Aku sedang mengawasi bahan herbal serta alat pembuatan obat baru.”Nada suaranya terdengar santai, seolah ia hanya sedang mengawasi pengiriman kain atau perhiasan biasa. Namun sebelum Arthur sempat bereaksi atau melontarkan komentar pedas seperti biasanya, Diana dengan sigap menambahkan kalimat lanjutan,

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 62. Ada Apa Dengan Putra Mahkota?

    Pagi itu, halaman depan Istana Putra Mahkota tampak jauh lebih ramai dibanding hari-hari biasanya. Sejak matahari baru saja naik dan sinarnya menimpa atap-atap bangunan istana, para pelayan sudah lalu-lalang dengan langkah cepat dan wajah penuh konsentrasi. Beberapa di antara mereka memanggul peti-peti besar dari kayu tebal, sementara yang lain membantu membuka jalan atau memberi aba-aba agar barang-barang itu tidak saling berbenturan.Deretan peti besar itu disusun rapi, satu per satu diangkat melewati gerbang utama menuju bagian dalam istana. Dari luar saja sudah terlihat bahwa isinya bukan barang biasa. Kayunya kokoh, diikat kuat dengan tali tebal, dan beberapa peti bahkan diberi tanda khusus berupa kain merah kecil di sudutnya—penanda barang penting yang harus diperlakukan ekstra hati-hati.Diana duduk santai di kursi yang sudah disiapkan pelayan di sisi halaman. Kakinya menyilang anggun, tangannya menopang dagu

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 61. Ambang Selir Shofia

    PRANG!!Suara nyaring gelas yang terjatuh memecah keheningan malam, menggema keras di dalam kamar istirahat Pangeran Keempat. Bunyi itu begitu mendadak, begitu kasar, hingga membangunkan Selir Shofia yang semula terlelap dengan tubuh setengah bersandar di tepi ranjang putranya.Selir Shofia tersentak bangun. Matanya langsung membelalak kaget, napasnya tertahan ketika melihat pemandangan di hadapannya.Deon—putranya—meringis kesakitan. Tubuh pemuda itu menegang, jemarinya gemetar hebat. Air dari cangkir yang terjatuh barusan membasahi lengan dan bagian kulit di sisi tubuhnya. Kulit yang sudah rusak karena penyakit panas beracun itu langsung memerah lebih parah, bahkan terlihat mengilap seolah terbakar.“A—ah… ibu…” Deon mengerang lemah.“Deon!” Selir Shofia bangkit seketika. Jantungnya terasa seolah diremas. “Pelayan! Pelayan!!”Teriakannya menggema panik.Pintu kamar segera terbuka lebar. Be

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 60. Tunas, Racun, dan Strategi yang Bertumbuh

    Kereta kuda baru saja berhenti sempurna di halaman Istana Putra Mahkota ketika seorang pelayan berlari tergesa dari arah dalam istana. Napasnya tampak sedikit terengah, namun ia tetap menjaga sikapnya dengan membungkuk dalam di hadapan kereta.“Yang Mulia Putri Mahkota,” ucapnya cepat namun jelas, “tanaman Anda sudah bertunas pagi ini!”Kalimat itu membuat Diana yang tengah bersandar malas di dalam kereta seketika membelalakkan mata. Wajahnya yang sejak tadi tampak lelah langsung berubah cerah.“Sungguh?” balas Diana spontan, bahkan sebelum Embun sempat membantunya turun.Arthur yang duduk berhadapan dengannya ikut terangkat alisnya.“Tanaman apa?” tanyanya datar, meski jelas terdengar sedikit heran.Namun Diana tidak menjawab. Wanita itu hanya tersenyum lebar, lalu tanpa menunggu bantuan siapa pun, ia turun dari kereta dan berlari kecil menuju arah kediaman pribadinya. Hanfunya berkibar tertiup angin sore, la

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 59. Kepercayaan Dan Dahi Yang Memar

    “Alon… kau tidak percaya padaku?”Suara Isabella terdengar lirih, nyaris tenggelam oleh keheningan ruangan yang kini hanya mereka tempati berdua. Harsa telah pergi sejak beberapa saat lalu, meninggalkan udara yang terasa lebih pengap, seolah emosi yang tertahan tadi belum benar-benar sirna.Alon berdiri mematung sesaat, seakan baru tersadar dari pusaran pikirannya sendiri. Tatapan pria itu sempat kosong, lalu perlahan beralih ke arah Isabella yang menatapnya dengan mata sedikit memerah, campuran antara marah, takut, dan kecewa.Tanpa berkata apa pun, Alon melangkah mendekat dan memeluk Isabella. Lengannya melingkar di bahu wanita itu, satu tangannya mengusap lembut kepala Isabella dengan gerakan menenangkan, seperti yang biasa ia lakukan setiap kali Isabella merasa tidak aman.“Aku…” Alon menghela napas pelan sebelum melanjutkan, “bukan tidak mempercayaimu. Hanya saja bentuk kejadiannya terlihat jelas oleh Putra Mahkota dan Pangeran Kedua.”Isabella menggertakkan giginya kesal. Tan

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 58. Retakan Di Balik Senyum

    Isabella menatap Diana tanpa sedikit pun usaha menyembunyikan ekspresinya. Tidak ada lagi senyum manis yang biasa ia gunakan di hadapan orang lain. Wajahnya kini dingin, keras, dan dipenuhi emosi yang bergejolak.Lorong itu sepi. Lampu-lampu minyak di dinding memantulkan cahaya redup, menciptakan bayangan panjang di lantai batu. Udara terasa berat, seolah menyadari bahwa percakapan di antara dua wanita ini tidak akan berakhir baik.Diana mengerutkan keningnya sekilas. Ia memiringkan kepala sedikit, mempertahankan senyum tipis yang nyaris sopan.“Ada apa, kak?” tanyanya lembut, seolah benar-benar tidak memahami suasana tegang yang menggantung di antara mereka.Isabella mengepalkan kedua tangannya diam-diam. Kukunya menekan telapak tangannya sendiri, menahan emosi yang sejak tadi mendidih. Dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia membuka mulut.“Apa kau bahagia dengan pernikahanmu?” tanyanya tiba-tiba.Pertanyaan itu datang tanpa peri

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status