Mag-log in"Kamu jangan terus mengelak, Dewi! Aku punya buktinya!" seru Rafa dengan menatap lurus ke arah wanita di hadapannya yang kini mulai berkaca-kaca."Apa buktinya?" balas Dewi cepat, berusaha menantang meski nada suaranya bergetar menahan rasa ketakutan di dalam dada.Rafa langsung mengeluarkan selembar kertas yang sudah terlipat dari saku celananya, lalu menyodorkannya di hadapan Dewi."Silakan baca baik-baik."Dewi meraih lembaran kertas putih tersebut. Matanya bergerak cepat membaca baris demi baris istilah medis yang tertera, hingga pandangannya terpaku pada kolom kesimpulan di bagian paling bawah.Persentase kecocokan sembilan puluh sembilan koma sembilan persen membuat napasnya seketika tercekat. Kedua matanya membelalak lebar."Da... darimana kamu dapat tes ini?" Suara Dewi memelan, menatap Rafa dengan pandangan tidak percaya. "Ini pasti palsu, kan? Kamu cuma mau membohongiku!""Aku nggak mungkin selicik itu, Dewi," potong Rafa. Rasa bersalah terpancar jelas di matanya. "Kal
Tanpa membuang waktu, Rafa segera menyodorkan lembaran kertas itu ke hadapan Liam.Liam meraihnya cepat dan mulai membacanya dengan saksama. Baris demi baris, angka demi angka ia cermati sampai matanya tertuju pada persentase keakuratan DNA yang mencapai 99,9%. Liam mendongak, lalu tanpa ragu memeluk sahabatnya itu."Selamat, ya! Aku benar-benar nggak menyangka kalau Rafi itu ternyata anak kandungmu," ucapnya seraya menepuk-nepuk punggung Rafa. "Ini artinya, aku punya keponakan baru yang harus secepatnya kamu kenalkan padaku!"Rafa terkekeh pelan, melepaskan pelukannya sembari merapikan kertas tersebut. "Tunggu dulu, Liam. Malam nanti, aku baru mau bicara dari hati ke hati dengan Dewi.""Dia bersedia?" tanya Liam memastikan."Ya, dia berjanji akan datang," jawab Rafa penuh keyakinan.Ketika malam akhirnya tiba, suasana di kediaman Rafa terasa berbeda. Demi menyambut kedatangan sang pujaan hati, Rafa sibuk membersihkan rumah yang ia sewa itu. Mulai dari menyapu lantai, merapika
Mesin sepeda motor butut yang dikendarai Rafa batuk-batuk kecil sebelum akhirnya mati di dekat portal pintu keluar kompleks perumahan. Atensinya teralih pada sesosok wanita yang baru saja keluar dari gang samping, menuntun sepeda motor matic berwarna merah.Langkah Rafa terhenti. Penglihatannya terkunci pada sosok Dewi yang nampak rapi dan cantik mengenakan seragam rapi khas SPG sebuah brand tas mewah ternama.Ada rasa terkejut yang sempat menyenggol dada Rafa. Melihat Dewi berjuang sekeras ini mendadak menghimpit hatinya.Dewi menyadari keberadaan Rafa, tetapi berusaha keras mengacuhkannya sembari memasang helm.Namun Rafa malah mendekatinya. "Tunggu dulu, Dewi!" serunya."Rafa? Ada apa? Aku mau pergi kerja," kata Dewi berusaha tak menatap mantan kekasihnya itu."Nanti malam, bisa kita bicara sebentar?" tanya Rafa, penuh harap."Soal apa? Kurasa, nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Hubungan kita sudah selesai di masa lalu. Jadi, maaf, aku nggak bisa."Dewi mencoba memutar
Tubuh Rafa melemas saat dirinya mencoba bangun setelah ketiduran di sofa tadi siang. Rafa mengusap wajahnya lalu mengambil ponsel. Diusapnya layar ponsel yang menunjukkan pukul setengah empat sore. "Sudah lebih dari tiga jam ternyata aku ketiduran," gumamnya lirih. Banyak pesan yang masuk di ponselnya tak membuat Rafa ingin segera membuka. Dia memilih memijit pelipis kepalanya yang berdenyut-denyut dengan pelan. Memang hal yang tak biasa bagi Rafa untuk tidur siang, terlebih dia tidur selama kurang lebih tiga jam. Setelah itu ketukan pintu disertai suara salam kembali terdengar. "Assalamu'alaikum."Rafa menajamkan pendengarannya, merasa pernah mendengar suara tamu tersebut di suatu tempat. "Wa'alaikumsalam," serunya seraya mencoba bangkit berdiri.Dengan langkah sedikit terhuyung, Rafa berjalan dengan pelan karena penglihatannya juga terasa berkunang-kunang. Rafa menyipitkan mata karena efek sakit kepala yang dirasakannya."Siapa ya-" Suara Rafa terhenti saat ia membuka pintu dan m
"Apa sekarang kau juga berani mempertanyakan keputusanku sekarang, Xavier?" Liam tak kalah berani dihadapan Xavier. Liam sungguh merasa tersinggung dengan ucapan Xavier, seolah Xavier benar-benar sedang merendahkan dirinya.Sial! Xavier memaki dirinya dalam hati. Rupanya Liam bukanlah pria yang mudah untuk dihasut. Liam lebih sulit dari Rafa yang mudah dibohongi. "Tidak, Pak."Liam menghela napasnya berat, dia mendudukkan pantat di atas kursi dan menatap seksama wajah Xavier dan Rafa. Sesaat Liam melihat gelagat Rafa yang menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Xavier. Aku tidak akan memperpanjang masalah ini selama kau mau untuk diajak bekerja sama."Kening Xavier mengerut dalam, merasa aneh dengan Liam. "Kerja sama?""Ya. Kau tahu Berlian Company bukan?" Mata Xavier berbinar mendengar kata Berlian Company. Berlian Company merupakan perusahaan yang sudah menduduki peringkat pertama di dalam negeri sebagai perusahaan terbesar. Terlebih Aliee-sang istri memiliki hubungan pertemanan dengan
"Hentikan!"Seruan dari arah eskalator seketika membuat gerakan Xavier terhenti di udara. Semua orang ikut menatap ke arah seruan tersebut dengan tercengang, mengubah ekspresi wajah mereka menjadi tegang.Kedatangan sang bos pengganti membuat suasana menjadi dingin dan mencekam. Hawa amarah menyelimutinya saat ia berjalan mendekat. "Apa yang sedang kau lakukan, hah?" teriaknya murka. Tatapan Liam begitu tajam, seolah ingin mencabik-cabik wajah Xavier secara sadis."P-pak Liam." Bergetar bibir Xavier saat bersuara. Ia tak menyangka, Liam dapat menampilkan wajah murka yang begitu menyeramkan. Ingin rasanya Xavier kabur dan berlari menjauh dari hadapannya.Jika semua orang sedang bergidik ngeri melihat kemurkaan yang ditampilkan di wajah Liam, berbeda dengan Pevita yang memang sejatinya angkuh, menganggap Liam sebelah mata hanya karena Liam dulunya adalah sahabat Rafa. Tak sedikitpun kepala Pevita menunduk rendah untuk menunjukkan rasa hormatnya."Aku tanya apa yang kau lakukan pada Rafa
Hari ini adalah hari kedua Rafa akan menjalani tugasnya sebagai Cleaning Service. Tidak ada semangat seperti kemarin, karena seharian nanti, dia akan berada di wc lantai 2 dan 3. Ketika dia sudah bersiap berdiri di depan pintu luar dengan mengenakan seragamnya, tiba-tiba ada bola kecil
Suara dentingan sendok beserta garpu yang beradu dengan piring terdengar di seluruh ruangan kantin. Riuh ramah orang berbincang pun nampak berpadu apik dengan suara dentingan sendok tersebut. Berbeda dengan para staf dan karyawan yang menyantap makan siang dengan para kawannya, Rafa menyantap mak
Hari berganti, Rafa sudah bersiap menaiki sepeda motor maticnya untuk berangkat ke perusahaannya. Bukan lagi sebagai CEO, melainkan sebagai cleaning servis sesuai yang diinginkan Liam.Sial! Liam benar-benar sedang mengerjaiku! umpatnya dalam hati jika mengingat pekerjaannya sekarang.
Suara tawa terdengar menggema di ruang santai milik pria berambut coklat bernama Liam. Tangannya menepuk keras bahu kawannya yang bernama Rafa-duduk di sampingnya. Rafa tak menggubris Liam yang masih tertawa bahagia di atas penderitaannya. Wajahnya masih bertekuk masam sambil memandang malas ke a







