LOGINWilona kembali menatap Rena yang kini sudah melipat kedua tangannya di depan dada, benar-benar menunjukkan aksi protes karena permintaannya belum dikabulkan. "Rena, punya dede bayi itu bukan kayak beli mainan di toko. Harus nunggu lama, harus dijaga di perut Bunda dulu.""Nggak apa-apa! Rena bakal tungguin! Rena janji nggak bakal nakal, Rena janji bakal bantuBunda jagain dedenya!" Rena terus merayu, kali ini dengan nada yang lebih melas.Wilona menghela napas berat, ia kembali menatap Yudha dengan pandangan serius. "Kamu... kamu gimana? Kamu juga mau?" tanya Wilona pelan, kali ini benar-benar ingin mengetahui pendapat suaminya.Yudha mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Ia meraih tangan Wilona di atas meja dan menggenggamnya erat. Sorot matanya yang tadi jenaka kini berubah menjadi hangat dan tulus."Kalau aku sih, sejujurnya terserah kamu, Sayang. Aku tahu yang hamil itu kamu, yang merasakan sakitnya melahirkan itu kamu, dan yang paling banyak ber
Sari berdiri di sisi ranjang, matanya menatap Kenzo dengan binar kagum, namun ada gurat rasa bersalah yang masih dalam di sana. "Bagaimana keadaan kamu? Maaf... Mama baru sempat datang lagi hari ini. Kemarin Jenny tiba-tiba pendarahan hebat dan harus opname juga di rumah sakit seberang. Mama harus menjaganya karena dia terus-terusan memanggil Mama."Deg!Seketika itu juga, senyum di wajah Vera luntur sepenuhnya. Rasanya seperti disiram air es di tengah kehangatan. Di saat ia baru saja melewati maut karena kecelakaan yang dipicu oleh pertemuan dengan Sari, ibunya masih saja menjadikan Jenny sebagai alasan utama atas ketidakhadirannya.Revan yang berdiri di belakang Vera merasakan perubahan suhu emosi istrinya. Ia hanya diam, namun rahangnya mengeras dan ekspresi wajahnya berubah menjadi datar nan dingin. Ia tidak ingin membuat keributan di depan Kenzo, tapi sorot matanya sudah cukup untuk memberi tahu Sari bahwa kehadirannya tidak benar-benar diinginka
"Om Revan, ayolah... cuma lihat sebentar saja. Rena janji nggak bakal berisik. Rena mau kenalan sama dede Ken," rengek Rena untuk kesekian kalinya.Langkah kaki kecil Rena terus mengekor di samping Revan. Gadis kecil itu tidak berhenti menarik-narik ujung kemeja Revan, sesekali mengeluarkan jurus andalannya, wajah memelas dengan mata bulat yang berkedip-kedip. Sejak tiba di rumah sakit, fokusnya bukan lagi pada kue atau balon, melainkan pada sosok mahluk kecil yang disebut "Dede Bayi".Revan, yang sebenarnya masih merasa lelah luar biasa, akhirnya luluh juga. Ia tidak tega melihat antusiasme murni dari putri Wilona itu. Lagi pula, melihat Kenzo melalui kaca ruang NICU mungkin bisa memberikan sedikit ketenangan bagi dirinya sendiri sebelum ia kembali menjaga Vera."Ya sudah, ayo. Tapi janji ya, jangan teriak-teriak. Di sana banyak bayi lain yang lagi bobo," pesan Revan serius."Siap, Om Bos!" seru Rena sambil melakukan gerakan hormat yang lucu.Mereka berjalan menyusuri koridor ruma
Revan merapikan anak rambut yang menempel di dahi Vera yang berkeringat. Ia tersenyum tulus, mencoba memberikan ketenangan yang paling maksimal. "Dia gapapa, Sayang. Kenzo anak yang sangat kuat. Dia mewarisi kekuatan ibunya.""Tapi... dia belum waktunya lahir, Van. Dia selamat kan?" Vera mulai terisak, rasa sakit di perutnya terabaikan oleh rasa sakit di hatinya karena khawatir."Dia selamat, Vera. Dia sekarang ada di ruang NICU, di dalam inkubator. Dokter bilang dia pejuang kecil yang hebat.’’‘’Paru-parunya sedang beradaptasi, dan dia butuh bantuan oksigen sebentar, tapi kondisinya terus membaik," jelas Revan lembut. Ia meraih ponselnya, menunjukkan sebuah foto yang sempat ia ambil pagi tadi melalui kaca ruang NICU.Vera menatap layar ponsel itu. Di sana terlihat sesosok makhluk yang sangat mungil, dibungkus kabel-kabel monitor, namun tangan kecilnya tampak mengepal kuat. Hati Vera mencelos. Ada rasa haru yang luar biasa melihat perjuangan putranya u
Suasana di depan ruang operasi terasa begitu mencekam. Lorong rumah sakit yang biasanya sunyi, kini seolah dipenuhi oleh gema langkah kaki Revan yang tidak bisa tenang. Pria itu berjalan mondar-mandir, dari ujung pintu kayu besar yang tertutup rapat hingga ke deretan kursi tunggu, lalu kembali lagi. Kemeja kerjanya yang tadi pagi tampak rapi, kini sudah kusut masai, dengan noda keringat dan sisa debu aspal yang menempel di lutut celananya.Wajahnya pucat pasi. Setiap kali lampu merah di atas pintu operasi menyala, jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar. Pikirannya melayang pada momen-momen manis tadi pagi, tentang bagaimana mereka bercanda di dapur soal mie instan, tentang pelukan hangat di kamar mandi, dan tentang janji-janji masa depan yang baru saja mereka susun. Kini, semua itu terasa begitu rapuh, terancam hancur oleh sebuah kecelakaan tragis."Van, duduklah. Percayakan semuanya sama dokter. Kamu kalau begini terus nanti malah
‘’Vera, bukan gitu maksud Mama.’’ Kata Sari hendak menjelaskan, ‘’Mama dan papa sayang sama kamu, begitupun juga anak kamu nanti.’’‘’Tapi, keadaan nya berbeda sayang. Kamu juga tahu, Jenny dari dulu gak punya orang tua.’’‘’Cukup Ma, vera bosan denger alasan mama!’’ Sari hendak meraih tangan Vera, namun Vera menariknya pelan. "Vera kesini cuma mau bilang. Kalau Mama memang mau berubah,’’‘’buktikan. Jangan cuma karena rasa bersalah sesaat. Karena kalau besok Mama lebih memilih membela Jenny lagi di depan Vera, maka jangan salahkan Vera kalau Kenzo nanti tidak akan pernah tahu siapa nenek dari ibunya !’’‘’K—kenzo?’’ Sari menatap perut Vera, ‘’Dia sudah memiliki nama,’’Vera tidak menjawab, dia hanya memeluk perut besarnya dengan tatapan kesamping enggan melihat ibunya.‘’Dia laki laki juga ?’’‘’Hemmm,”‘’Mama janji, akan berubah. Mama akan lebih sering menjenguk kamu, mama janji. Mama akan perbaiki semuanya. Demi kamu dan cucu mama, Kenzo,”’
Ruang keluarga itu berubah menjadi medan perang tanpa suara.Udara terasa berat. Bahkan jam dinding yang biasanya berdetak pelan kini seperti menghitung detik kehancuran hubungan ibu dan anak itu.Dengan suara parau yang tertahan, Yudha akhirnya bicara, “Yudha kecewa sama Mama!”Kalimat itu tidak d
“Kabur? Kabur ke mana?” tanya Dirga.Suaranya rendah, tapi jelas menekan. Salah satu pria menelan ludah keras sampai terdengar.“K—kami tidak tahu Pak… kami juga sedang mencari… karena kami juga sudah kena amukan bos kami!”Dirga menyipitkan mata. Ia melangkah satu langkah lebih dekat
Beberapa tahun kemudian …. Sinar matahari sore jatuh lembut di halaman rumah sederhana itu. Angin desa berembus pelan, menggoyangkan daun-daun mangga di samping pagar bambu. Suasana biasanya ramai oleh suara anak-anak, tawa, dan langkah kaki kecil yang berlarian. Tapi sore ini, hanya ada satu sos
Mobil hitam itu akhirnya berhenti di halaman kantor pusat. Gedung tinggi dengan dinding kaca menjulang, terlihat begitu gagah tetapi bagi Yudha, semua itu masih terasa seperti tempat asing yang kebetulan memakai namanya.Begitu mobil berhenti, supir segera turun membuka pintu.Yudha







