LOGINSari berdiri di sisi ranjang, matanya menatap Kenzo dengan binar kagum, namun ada gurat rasa bersalah yang masih dalam di sana.
"Bagaimana keadaan kamu? Maaf... Mama baru sempat datang lagi hari ini. Kemarin Jenny tiba-tiba pendarahan hebat dan harus opname juga di rumah sakit seberang. Mama harus menjaganya karena dia terus-terusan memanggil Mama."Deg!Seketika itu juga, senyum di wajah Vera luntur sepenuhnya. Rasanya seperti disiram air es di tengah kehangatan.Di saat iaSari berdiri di sisi ranjang, matanya menatap Kenzo dengan binar kagum, namun ada gurat rasa bersalah yang masih dalam di sana. "Bagaimana keadaan kamu? Maaf... Mama baru sempat datang lagi hari ini. Kemarin Jenny tiba-tiba pendarahan hebat dan harus opname juga di rumah sakit seberang. Mama harus menjaganya karena dia terus-terusan memanggil Mama."Deg!Seketika itu juga, senyum di wajah Vera luntur sepenuhnya. Rasanya seperti disiram air es di tengah kehangatan. Di saat ia baru saja melewati maut karena kecelakaan yang dipicu oleh pertemuan dengan Sari, ibunya masih saja menjadikan Jenny sebagai alasan utama atas ketidakhadirannya.Revan yang berdiri di belakang Vera merasakan perubahan suhu emosi istrinya. Ia hanya diam, namun rahangnya mengeras dan ekspresi wajahnya berubah menjadi datar nan dingin. Ia tidak ingin membuat keributan di depan Kenzo, tapi sorot matanya sudah cukup untuk memberi tahu Sari bahwa kehadirannya tidak benar-benar diinginka
"Om Revan, ayolah... cuma lihat sebentar saja. Rena janji nggak bakal berisik. Rena mau kenalan sama dede Ken," rengek Rena untuk kesekian kalinya.Langkah kaki kecil Rena terus mengekor di samping Revan. Gadis kecil itu tidak berhenti menarik-narik ujung kemeja Revan, sesekali mengeluarkan jurus andalannya, wajah memelas dengan mata bulat yang berkedip-kedip. Sejak tiba di rumah sakit, fokusnya bukan lagi pada kue atau balon, melainkan pada sosok mahluk kecil yang disebut "Dede Bayi".Revan, yang sebenarnya masih merasa lelah luar biasa, akhirnya luluh juga. Ia tidak tega melihat antusiasme murni dari putri Wilona itu. Lagi pula, melihat Kenzo melalui kaca ruang NICU mungkin bisa memberikan sedikit ketenangan bagi dirinya sendiri sebelum ia kembali menjaga Vera."Ya sudah, ayo. Tapi janji ya, jangan teriak-teriak. Di sana banyak bayi lain yang lagi bobo," pesan Revan serius."Siap, Om Bos!" seru Rena sambil melakukan gerakan hormat yang lucu.Mereka berjalan menyusuri koridor ruma
Revan merapikan anak rambut yang menempel di dahi Vera yang berkeringat. Ia tersenyum tulus, mencoba memberikan ketenangan yang paling maksimal. "Dia gapapa, Sayang. Kenzo anak yang sangat kuat. Dia mewarisi kekuatan ibunya.""Tapi... dia belum waktunya lahir, Van. Dia selamat kan?" Vera mulai terisak, rasa sakit di perutnya terabaikan oleh rasa sakit di hatinya karena khawatir."Dia selamat, Vera. Dia sekarang ada di ruang NICU, di dalam inkubator. Dokter bilang dia pejuang kecil yang hebat.’’‘’Paru-parunya sedang beradaptasi, dan dia butuh bantuan oksigen sebentar, tapi kondisinya terus membaik," jelas Revan lembut. Ia meraih ponselnya, menunjukkan sebuah foto yang sempat ia ambil pagi tadi melalui kaca ruang NICU.Vera menatap layar ponsel itu. Di sana terlihat sesosok makhluk yang sangat mungil, dibungkus kabel-kabel monitor, namun tangan kecilnya tampak mengepal kuat. Hati Vera mencelos. Ada rasa haru yang luar biasa melihat perjuangan putranya u
Suasana di depan ruang operasi terasa begitu mencekam. Lorong rumah sakit yang biasanya sunyi, kini seolah dipenuhi oleh gema langkah kaki Revan yang tidak bisa tenang. Pria itu berjalan mondar-mandir, dari ujung pintu kayu besar yang tertutup rapat hingga ke deretan kursi tunggu, lalu kembali lagi. Kemeja kerjanya yang tadi pagi tampak rapi, kini sudah kusut masai, dengan noda keringat dan sisa debu aspal yang menempel di lutut celananya.Wajahnya pucat pasi. Setiap kali lampu merah di atas pintu operasi menyala, jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar. Pikirannya melayang pada momen-momen manis tadi pagi, tentang bagaimana mereka bercanda di dapur soal mie instan, tentang pelukan hangat di kamar mandi, dan tentang janji-janji masa depan yang baru saja mereka susun. Kini, semua itu terasa begitu rapuh, terancam hancur oleh sebuah kecelakaan tragis."Van, duduklah. Percayakan semuanya sama dokter. Kamu kalau begini terus nanti malah
‘’Vera, bukan gitu maksud Mama.’’ Kata Sari hendak menjelaskan, ‘’Mama dan papa sayang sama kamu, begitupun juga anak kamu nanti.’’‘’Tapi, keadaan nya berbeda sayang. Kamu juga tahu, Jenny dari dulu gak punya orang tua.’’‘’Cukup Ma, vera bosan denger alasan mama!’’ Sari hendak meraih tangan Vera, namun Vera menariknya pelan. "Vera kesini cuma mau bilang. Kalau Mama memang mau berubah,’’‘’buktikan. Jangan cuma karena rasa bersalah sesaat. Karena kalau besok Mama lebih memilih membela Jenny lagi di depan Vera, maka jangan salahkan Vera kalau Kenzo nanti tidak akan pernah tahu siapa nenek dari ibunya !’’‘’K—kenzo?’’ Sari menatap perut Vera, ‘’Dia sudah memiliki nama,’’Vera tidak menjawab, dia hanya memeluk perut besarnya dengan tatapan kesamping enggan melihat ibunya.‘’Dia laki laki juga ?’’‘’Hemmm,”‘’Mama janji, akan berubah. Mama akan lebih sering menjenguk kamu, mama janji. Mama akan perbaiki semuanya. Demi kamu dan cucu mama, Kenzo,”’
Tanpa memberikan kesempatan bagi Vera untuk membantah lagi, Revan langsung menyibakkan selimut. Dengan gerakan yang sangat sigap namun penuh kehati-hatian karena perut Vera yang sudah besar, Revan mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongannya. Vera refleks melingkarkan lengannya di leher Revan, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya sambil tertawa kecil."Revan, turunkan! Aku berat, tahu!" rengek Vera, meski hatinya merasa sangat dilindungi."Kamu tidak berat sama sekali, Ver. Kamu dan jagoan kita ini adalah beban paling ringan dan paling berharga yang pernah aku angkat," sahut Revan sambil mengecup pipi Vera sebelum melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang luas dan mewah itu.Di dalam kamar mandi, suasana seketika berubah menjadi hangat. Revan menyalakan *shower* dengan suhu air yang hangat, membiarkan uap tipis mulai memenuhi ruangan kaca tersebut. Suara gemericik air yang jatuh ke lantai marmer menjadi musik latar bagi mereka berdua.Awalnya, ni
Drrtt… Drrtt… Drrtt…Ponsel di atas meja kerja itu kembali bergetar tanpa henti. Getaran kecil itu terasa seperti mengetuk kesabaran Revan yang sejak pagi sudah terkuras oleh pekerjaan. Tumpukan berkas masih menggunung di depannya, proposal yang harus ia pelajari belum juga selesai, sementara emai
Seperginya Evelyn, pintu ruang perawatan itu tertutup pelan. Suara kecil itu terasa seperti garis batas memisahkan masa lalu dan masa kini.Ruangan mendadak sangat hening. Cahaya lampu putih menerangi wajah pucat anak itu, sementara di sudut ruangan, dua orang dewasa berdiri saling berhadapan denga
Di depan ruang perawatan Rena, suasana terasa begitu berat. Lampu lorong rumah sakit menyala terang, tapi tak mampu mengusir dingin yang menjalar di dada masing-masing orang yang berdiri di sana. Melalui kaca transparan, terlihat seorang gadis kecil terbaring lemah di atas ranjang pasien. Wajahnya
Siang harinya, Wilona terbangun dengan rambut acak-acakan dan mata masih sayu. Kepala terasa sedikit berat, tapi hidungnya menangkap sesuatu yang jauh lebih kuat daripada rasa malas yang menempel di tubuhnya, aroma masakan.Perutnya langsung keroncongan tanpa permisi.Dengan langkah gontai, tanpa







