Home / Romansa Dewasa / Mengandung Anak Suami Musuh / Bab 1 Setuju Dinikahi Berarti Setuju Ditiduri

Share

Mengandung Anak Suami Musuh
Mengandung Anak Suami Musuh
Author: Ratu As

Bab 1 Setuju Dinikahi Berarti Setuju Ditiduri

Author: Ratu As
last update Last Updated: 2026-02-27 13:49:21

"Aku dengannya baru satu jam menikah dan dia sudah berhasil membobolku."

.

"Kenapa menangis? Bukankah ini yang kamu mau?Setuju dinikahi berarti setuju ditiduri."

Bab 1

Thalia meremas selimut yang menutupi tubuh polosnya. Rasa sakit karena baru pertama kali dijamah juga rasa sakit karena dendam membuatnya ingin menjerit.

"Sialan Kak Anna, apa yang dia bilang? Suaminya itu tidak akan mudah menyentuh wanita lain, lalu apa ini?" gumam Thalia dengan mata sembab dan hidung memerah.

Dia baru saja dipaksa untuk menikah dengan suami kakak tirinya. Dalam bayangannya, ini adalah awal Thalia bangkit dan bisa balas dendam. Karena itu dia dengan mudah menyetujui pernikahan itu, meski tahu akan dijadikan sebagai surrogate mothers.

Dendam lama pada Anna yang sudah melenyapkan semua anggota keluarga Thalia, bahkan membuat kakinya lumpuh. Thalia ingin membalasnya perlahan dengan menjadi musuh dalam selimut.

[Kamu hanya perlu mengandung anak suamiku. Setelah menikah nanti, aku akan membujuknya untuk program bayi tabung.]

Thalia kembali membaca pesan Anna dengan mata yang sedikit kabur karena air mata.

Harusnya, dia hanya akan mengandung janin itu saja. Sementara sel telur dan benihnya milik Anna dan Amar.

"Kenapa menangis? Bukankah ini yang kamu mau? Setuju dinikahi berarti setuju ditiduri," ucap Amar dengan senyum miring.

Dia berdiri dengan pakaian yang sudah rapi dan bersih, rambutnya tampak sedikit basah setelah mandi.

Thalia tidak bicara apa pun, dia menatap Amar dengan mata memerah dan sorot permusuhan.

Amar mendekat, dia meraih dagu Thalia dan membuatnya mendongak padanya.

"Harusnya kamu bersyukur kan? Di luar, belum tentu ada lelaki yang mau menikah dengan gadis lumpuh. Tapi aku bahkan tidak mempertimbangkan apa pun saat Anna memaksaku menikahimu."

Cih!

Rasanya Thalia ingin meludah, namun dia tidak berani. Hanya bisa menahan gemertak giginya, menahan rasa sakit dan jengkel.

Amar bukan orang asing, selain suami kakak tirinya, dulu Amar adalah calon suami kakak kandung Thalia yang sudah meninggal.

Dari umur belasan Thalia sudah sering bertemu dengan Amar. Lelaki tampan, mapan, dan punya kesan yang baik di mata orang luar. Namun bagi Thalia, Amar punya penilaian yang berbeda--lelaki itu menyebalkan dan sering merundung Thalia.

Dulu saat Thalia masih bisa berjalan, bahkan dengan terang-terangan Amar sering mengulurkan kakinya dan membuat Thalia tersandung. Memang, dia juga selalu bisa menahan pinggang gadis itu agar tidak jatuh, tapi setelahnya Amar akan berbisik. "Matamu cantik, tapi rabun ya?"

"Lepas!" Thalia menepis tangan Amar yang menekan dagunya dengan ibu jari.

"Memang kenapa kalau aku lumpuh? Sebelum ini, aku tidak menikah bukan karena tidak laku! Tapi aku menunggu momen, momen menikah dengan lelaki yang sangat Kak Anna cintai!" ucap Thalia dengan tawa sumbang.

Terlihat jelas kebencian dan dendam yang berkobar. Namun sebagai suami Anna, Amar tetap tenang dan tidak menanggapi ucapan Thalia dengan berlebihan.

"Ternyata kamu masih saja berpikir Anna yang membunuh Ayah dan kakakmu, ya?"

"Memang siapa lagi kalau bukan dia? Kamu?!" Sorot mata dan ucapan Thalia penuh tuduhan.

Amar kembali berdiri tegap, dia pandangi Thalia dengan lekat, kemudian membalik badan dan pergi begitu saja meninggalkan Thalia yang baru saja dia gauli dengan kamar yang acak-acakan.

Thalia mengepalkan tangan, lalu menjerit dan memukul-mukul kepala ranjang.

Suaranya sampai terdengar keluar. Anna yang baru saja sampai di rumah tua itu berjalan ke kamar Thalia. Berdiri di depan pintu dan menggelengkan kepala.

"Memang gadis gila," gumamnya dengan senyum miring. Dia pikir, Thalia sedang meraung histeris seperti biasa saat sedang kumat. Dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di hari pernikahan suaminya karena dia sengaja tidak ingin menyaksikannya.

Rumah itu milik keluarga Thalia. Hanya ada Thalia dan satu orang pembantu yang menghuni rumah itu. Sementara biasanya Anna tinggal dengan suaminya di rumahnya yang mewah di kawasan perumahan elit di pusat kota.

Dia tidak ingin bertemu Thalia, tujuannya hanya ingin mengajak suaminya pulang setelah menikah. Dia mencari-cari Amar di rumah itu.

"Sayang," panggil Anna pada Amar yang sekarang berdiri di taman samping rumah, dia melihat kolam ikan dengan air mancur kecil.

Tidak ada yang Amar lakukan selain diam dan menyesap dalam rokoknya.

"Ayo pulang," bujuk Anna memeluk suaminya dari belakang. Dia juga menyenderkan kepalanya dan bersikap manja.

"Pulang?"

Anna mengangguk masih dengan memeluk erat dan mesra. "Ya."

"Bukankah sebagai pengantin baru, nanti malam, adalah malam pertamaku dengan Thalia?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 14 Ciuman Amar

    Suaranya terdengar tajam, memecah keheningan di antara mereka. "Lucu sekali. Pria yang membiarkan istrinya menyiksaku selama bertahun-tahun, tiba-tiba sekarang berperan jadi guru penasihat." ​Amar tidak menarik kembali sendoknya. Ia justru menatap Thalia lebih dalam, seolah sedang membedah isi kepala gadis itu. ​"Aku tidak mengajarimu cara melawan," balas Amar tenang, suaranya berat dan stabil. "Aku hanya memberimu senjata. Bagaimana kamu menggunakannya, itu urusanmu. Tapi senjata itu tidak akan berguna jika pemegangnya mati kelaparan atau pingsan karena kekurangan nutrisi." ​Thalia tertawa kecil, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Senjata? Maksudmu janin ini? Kamu dan Anna sama saja. Kalian menganggap janin ini sebagai alat. Bedanya, Anna ingin menggunakannya untuk harga diri, dan kamu...." Thalia menggantung kalimatnya, menatap Amar penuh selidik. "Aku belum tahu apa tujuanmu sebenarnya." ​"Tujuanku sederhana, Thalia," Amar memajukan wajahnya, "Aku ingin melihat siapa yang bert

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 13 Bagaimana Cara Melawan Anna?

    ​"Janinnya selamat," ucap Dokter Haikal lirih namun tegas. "Ini benar-benar sebuah keajaiban. Benturannya cukup keras dan sempat terjadi pendarahan hebat, tapi posisinya sangat kuat. Kami sudah menyuntikkan penguat rahim dosis tinggi."​Anna langsung terduduk di kursi tunggu, bahunya yang tegang seketika merosot. Ia menangis sesenggukan, bukan karena empati pada adiknya, melainkan rasa lega karena 'tiket' masa depannya tidak hancur. "Terima kasih, Tuhan ... anakku selamat."​Namun, Amar tidak menampakkan kelegaan yang sama. Ia berdiri mematung, menatap pintu ruang ICU yang tertutup rapat. Matanya yang dingin tidak sedikit pun beralih ke arah istrinya yang sedang meratap.​"Tapi ada satu hal yang harus Anda perhatikan," lanjut dokter itu, suaranya merendah. "Thalia mengalami trauma fisik dan psikologis yang berat. Jika hal seperti ini terulang kembali, saya tidak bisa menjamin keselamatan janin maupun ibunya. Rahimnya sedang dalam kondisi sangat sensitif sekarang."Anna mengangguk pah

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 12 Dibawa Ke Rumah Sakit

    Suaranya yang biasa merdu kini bergetar karena cemburu buta. Pikirannya tidak lagi jernih, obsesinya pada Amar dan harga dirinya sebagai seorang diva legendaris melunturkan sisa-sisa kewarasannya. Ia lupa pada kondisi kehamilan yang harus dijaga, lupa bahwa Thalia adalah "wadah" bagi ambisinya.​"Dasar jalang!" sentak Anna kalap.​Tanpa peringatan, Anna merangsek maju dan mencengkeram tangan Thalia dengan tenaga yang tak terduga. Ia menarik tubuh Thalia dari atas ranjang dengan sentakan kasar, membuat wanita muda yang tak berdaya itu terpelanting ke lantai.​Buuughh!​Suara benturan keras itu menggema di dalam kamar. Thalia terjatuh dengan posisi yang sangat buruk. Selimut yang menutupinya tersingkap, meninggalkan tubuhnya yang memar terpapar dinginnya lantai marmer. Namun, rasa malu itu segera terkalahkan oleh rasa sakit yang luar biasa yang menjalar dari perut bagian bawahnya.​"Akhh..." Thalia mengerang, kedua tangannya refleks memegangi perutnya yang terasa seperti diremas hebat.

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 11 Kamu Merayu Amar saat Aku Tidak Ada?

    Amar tidak melepaskan tatapannya, bahkan saat tetesan air es itu membasahi kerah kemejanya. Alih-alih merasa terancam atau mundur karena gertakan Thalia, rahangnya justru mengeras, dan kilat di matanya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya.​Tanpa peringatan, Amar merangsek maju. Sebelum Thalia sempat menekan tombol panggil di ponselnya, Amar sudah lebih dulu menepis benda itu hingga terlempar ke atas sofa. Dengan satu gerakan dominan yang tak terduga, ia membungkuk dan menyusupkan lengannya di bawah tubuh Thalia, lalu membopong tubuh mungil itu dari kursi rodanya.​"Apa yang kamu lakukan, Kak Amar! Turunkan aku!"Thalia histeris. Ia memukul bahu Amar dengan tangannya yang gemetar, namun pria itu terasa seperti dinding beton yang tak tergoyahkan.​Amar tidak menyahut. Ia melangkah lebar dengan napas yang masih memburu, membawa Thalia masuk ke dalam kamar dan menendang pintunya hingga tertutup rapat dengan dentuman keras.​"Kamu ingin bicara soal konsekuensi?" s

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 10 Aku Aset Pribadimu

    Siang itu, Thalia duduk terdiam di sudut ruang tengah. Jemarinya perlahan mengusap layar ponsel, menampilkan cuplikan berita hiburan yang sedang memanas. Di sana, di bawah sorotan lampu flash dan kerumunan pers, Anna dan Amar berdiri berdampingan sebagai pasangan paling ikonik tahun ini. ​Anna, dengan suara merdunya yang terlatih, memberikan pernyataan terbuka yang mengejutkan publik. Ia mengaku sedang menjalani proses bayi tabung melalui surrogate mother atau ibu pengganti. Alasannya terdengar begitu masuk akal sekaligus mengundang simpati, Anna memiliki kendala kesehatan yang membuatnya tidak bisa mengandung, ditambah usianya yang telah menyentuh angka tiga puluh lima, usia yang rentan bagi seorang wanita untuk menjalani kehamilan pertama. ​Thalia menarik sudut bibirnya, membentuk senyum miring yang penuh ejekan. Ia menatap layar itu dengan muak. Betapa sempurnanya mereka bersandiwara. Amar yang selalu tampil tenang dan berwibawa, sementara Anna memerankan sosok istri yang

  • Mengandung Anak Suami Musuh    Bab 9 Liciknya Amar

    Sepanjang malam, Thalia nyaris tidak memejamkan mata. Ia terjebak dalam posisi yang menghinakan-- mendekap tubuh pria yang menjadi sumber mimpi buruknya. Aroma maskulin Amar yang bercampur dengan wangi sabun mahal terus mengusik indra penciumannya, sementara jantung Thalia bertalu liar, seolah ingin melompat keluar dari dadanya yang sesak.​Tiba-tiba, keheningan pagi itu pecah oleh suara langkah kaki yang terburu-buru di koridor luar. Suara ketukan hak sepatu stiletto yang tajam, ritme yang sangat dihafal Thalia sebagai langkah kaki Anna yang terdengar semakin mendekat.​Ceklek!​"Thalia, bangun! Aku harus melihat hasil catatan suhu basalmu pagi ini--"​Pintu terayun, lalu terbuka lebar. Anna, sang diva terkenal yang bahkan di pagi buta pun tampak sempurna, mematung di ambang pintu. Matanya yang biasanya terlihat sayu dan elegan kini membelalak sempurna. Di atas ranjang, ia melihat adiknya yang lumpuh sedang mendekap erat suaminya sendiri di bawah satu selimut yang sama.​Thalia ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status