Beranda / Romansa / Mengejar Cinta Puteri Bangsawan / Bab 5. Kujang Emas Hilang

Share

Bab 5. Kujang Emas Hilang

Penulis: Enday Hidayat
last update Tanggal publikasi: 2024-05-25 17:20:12

Bab 5. Kujang Emas Hilang

“Celaka!”

Arjuna terduduk lemas di kursi kulit yang empuk. Jemarinya meremas rambut, matanya menatap kosong ke arah lorong di mana Citrangada melangkah menuju kamar kecil. Sejak tadi, perasaannya tak tenang seolah ada awan gelap yang menutupi seluruh harapannya. Nasib baik benar-benar enggan berpihak padanya hari ini.

Semua bermula dari satu kalimat yang terucap tanpa pertimbangan. Dengan spontan ia menyebut nama yang sekiranya tak akan dikenal calon istrinya. Tapi tak disangka, nama itu justru rekan bisnis yang baru saja menjalin kerja sama dengan Citrangada.

“Kenapa aku bilang Rara Ireng sebagai pilihan ayahku?” sesalnya.

Nama itu bagai duri yang menusuk ingatan Arjuna. Sejak masa SMA, mereka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Tiada hari tanpa pertengkaran, mulai dari hal sepele hingga persaingan dalam segala hal.

Ketika dewasa dan sama-sama menjadi CEO perusahaan, persaingan itu berlanjut ke ranah bisnis. Perseteruan mereka mungkin berlangsung selamanya jika Rara Ireng tidak memutuskan untuk pindah ke Kuala Lumpur. Orang tuanya bercerai, dan ia harus melanjutkan usaha ayahnya di negeri jiran, sementara perusahaan di Jakarta diserahkan kepada adiknya.

"Kalau kebohongan ini sampai bocor ke telinga Rara Ireng, perang pasti berkobar kembali, bahkan mungkin jauh lebih sengit dari sebelumnya," keluh Arjuna. "Belum lagi reaksi Citra—wanita yang sangat kusayangi itu pasti merasa dikhianati. Kerja sama mereka bisa hancur dalam sekejap."

Tak lama kemudian, Citrangada keluar dari kamar kecil dengan langkah tenang. Wajahnya tampak sedikit berkabut, seolah digantungi hal yang mengecewakan.

“Aku sungguh tidak mengerti apa keistimewaan Rara Ireng sampai ayahmu menolak kehadiranku sebagai calon menantu,” kata Citrangada sambil duduk di hadapannya.

Arjuna tersenyum pahit, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang muncul di hatinya.

“Mungkin jumlah mantannya lebih sedikit,” jawabnya separuh bercanda, suaranya terdengar hampa.

“Apa itu berpengaruh bagi kehidupan rumah tangga kita?” tanya Citrangada sedikit tersinggung.

“Tidak sama sekali," sahut Arjuna jujur. "Hanya pandangan orang tua yang sudah ketinggalan zaman,”

Masa lalu Arjuna dipenuhi dengan berbagai kisah asmara yang tak bertahan lama. Ia terkenal sebagai pria yang gemar berpetualang, sampai akhirnya bertemu Citrangada. Pada wanita inilah ia menemukan ketenangan yang dicarinya—sesuatu yang membuatnya ingin mengakhiri masa lalu dan membangun masa depan yang serius.

“Aku tinggal lama di luar negeri untuk menuntut ilmu, bukan untuk mengadopsi budaya mereka,” kata Citrangada, seolah ingin menunjukkan dirinya juga memiliki nilai-nilai yang dijunjung tinggi. “Lalu apa masalahnya dengan paham konservatif ayahmu?”

“Jangan tanya padaku," sahut Arjuna datar. "Aku sendiri sudah muak mengikuti aturan yang kadang tak masuk akal."

“Bagaimana jika ayahmu bersikeras menolak untuk datang dalam acara lamaran kita?” tanya Citrangada.

“Jawaban itu sebenarnya ada pada ayahmu sendiri," jawab Arjuna mencoba menenangkan. "Jika ia percaya padaku, maka jalan kita akan terbuka.”

“Tapi kalau ayahku merasa tersinggung karena ayahmu tidak hadir, itu bisa merusak hubungan baik kedua keluarga,” kata Citrangada. “Karena itu, aku minta padamu datanglah bersama ayahmu meski cuma ayah pura-pura, sehingga kita bisa melenggang ke pelaminan.”

Citrangada adalah wanita yang teguh pendirian. Ia lebih memilih hidup sendiri selamanya daripada menikah dengan lelaki lain. Keyakinan itu membuatnya sangat percaya diri, meski mengetahui latar belakang asmara Arjuna yang amat panjang. Menurutnya, lelaki yang sudah puas dengan berbagai pengalaman biasanya setia ketika menemukan pasangan yang tepat.

Keinginan ayah Citrangada sebenarnya sangat sederhana. Sebagai pengusaha terpandang, ia hanya ingin melihat calon menantunya datang bersama ayah kandungnya, sesuai dengan adat dan kehormatan keluarga yang dijunjung tinggi.

Arjuna ingin menutup persoalan yang tanpa sengaja diciptakannya itu, semua gara-gara keseleo lidah.

“Ngomong-ngomong, sore ini aku ada pertemuan di hotel tempat Rara Ireng menginap,” ujar Arjuna mengubah topik pembicaraan. "Ada urusan sedikit."

Citrangada mengangkat alisnya heran. “Bukankah tadi kau bilang hari ini tidak ingin diganggu oleh urusan bisnis?”

“Ibu memaksaku. Aku sulit menolak permintaan presiden komisaris."

Ada seorang kolektor barang antik yang datang dari Penang, Malaysia. Ia berani menawarkan harga yang sangat tinggi tanpa melihat kondisi barangnya terlebih dahulu. Hal itu sangat aneh. Arjuna jadi curiga, ia rela memberikan kujang emas secara cuma-cuma jika orang itu bersedia mengikuti tes DNA— kemungkinan besar orang itu adalah ayah kandungnya yang selama ini ia cari.

“Bukan modus untuk menghindari makan malam bersamaku, kan?” ujar Citrangada bercanda, tapi matanya menyiratkan kecurigaan.

“Tenang saja. Rara Ireng sendiri belum tahu bahwa ia calon menantu idaman ayahku. Aku juga belum pernah bicara soal itu dengannya, dan takkan pernah bicara. Hanya hatiku yang tahu siapa yang paling pantas mendampingi hidupku."

Ada rasa cemas yang menggerogoti hatinya. Jika Rara Ireng tahu Citrangada adalah calon istrinya, maka kerja sama mereka yang baru terjalin bisa hancur seketika.

Ia tahu betul; satu-satunya lelaki yang paling menyebalkan dan tercatat paten dalam ingatan Rara Ireng adalah dirinya. Permusuhan mereka abadi.

Semua gara-gara di SMA ia menyebutnya gadis kloning, karena nama belakangnya tak sesuai dengan kulitnya yang putih bersih dan penampilan yang eksotik.

“Menurutmu siapa yang terbaik untukmu?” tanya Citrangada lembut.

Arjuna tersenyum kecil, lalu menjawab tanpa ragu, “Yang bertanya.”

“Pertahankanlah cintamu itu, karena di hatiku pun tak ada ruang untuk lelaki lain selain dirimu,” ujar Citrangada dengan suara bergetar penuh perasaan.

Keteguhan Citrangada menjadi pendorong terbesar bagi Arjuna. Ia harus berusaha keras menemukan ayah kandungnya. Kesempatan terakhir kini ada pada sosok kolektor dari Penang itu.

Arjuna mengantar Citrangada turun ke area parkir bawah tanah. Sebelum berpisah, ia berpesan, “Ingat, jangan katakan apapun tentang diriku pada pertemuan dengan Rara Ireng malam nanti, kecuali kau ingin dia membatalkan kerja sama.”

“Kamu juga, jangan paksa ayahmu untuk menyetujui hubungan kita, bawa saja ayah pura-pura sampai kita masuk kamar pengantin,” balas Citrangada mengingatkan.

"Manajer rumah sudah bersedia menjalankan peran itu, jagalah rahasia agar ayahmu tidak mengetahui kebenarannya."

Jika sampai terbongkar, Citrangada bisa dicoret dari daftar penerus perusahaan keluarga, dan ia harus memulai karir dari nol—sesuatu yang belum siap ia hadapi. Arjuna tak akan membiarkan hal itu terjadi. Ayahnya harus ditemukan, apapun risikonya.

Setelah kembali ke ruang kerja, Arjuna segera membuka laptop dan mencari informasi tentang sosok bernama Datuk Cakil—nama kolektor yang akan ditemuinya itu.

Dari hasil penelusuran, diketahui bahwa pria itu adalah pengusaha terkemuka di Asia Tenggara, memiliki harta yang melimpah, hobi mengoleksi barang antik, dan memiliki tiga orang anak dari tiga istri yang berbeda. Ia juga dikenal sebagai orang yang menyukai petualangan yang memacu adrenalin.

“Hobi yang cukup aneh untuk seorang taipan besar,” gumam Arjuna sambil membaca lebih lanjut. “Bukan hanya itu, ia juga dikenal sebagai petualang asmara. Kuat dugaanku, aku ini adalah anak pertama dari hubungan satu malam yang tak pernah diakui.”

Datuk Cakil baru memutuskan untuk menikah secara resmi setelah terjadi cinta satu malam puluhan tahun silam. Ia ingin menghapus jejak masa lalu dengan mempersunting wanita keturunan Melayu yang memiliki status sosial setara.

Hal itu membuat Arjuna tersinggung—ia dan ibunya hanya bagian dari masa lalu yang ingin dihapus. Datuk itu seolah menganggap mereka sama dengan para TKW yang banyak merantau ke negeri jiran. Pelayan terlupakan.

“Jangan berpikir terlalu jauh,” suara lembut ibunya terdengar dari sofa di sudut ruangan. “Hanya karena kau sedang menghadapi kesulitan, langsung menghakimi orang lain tanpa bukti yang jelas.”

“Ibu sama sekali tidak curiga kalau Datuk Cakil adalah orang yang bersama Ibu malam itu?” tanya Arjuna dengan penuh rasa ingin tahu.

“Ibu sudah melihat fotonya, dan wajahnya tidak sama dengan pria yang ada di ingatan Ibu,” jawab Dewi Priti tenang.

“Tapi malam itu Ibu dalam keadaan separuh sadar karena pengaruh obat yang diberikan, bagaimana mungkin Ibu bisa mengingat wajahnya dengan pasti?” tatap Arjuna ragu.

Sebelum Dewi Priti sempat menjawab, ponselnya berbunyi, dari sekretarisnya; “Bu, ada tamu dari Penang, bersama pengacaranya.”

Dewi Priti terkejut. "Bukannya sudah di-schedule bertemu di Park Hyatt?"

"Saya tidak tahu, Bu. Katanya dari bandara langsung ke mari."

“Baiklah, persilakan mereka masuk ke ruang tamu utama,” perintah Dewi Priti, lalu menutup sambungan. "Rupanya ia sudah tidak tahan ingin segera melihat kujang impiannya."

Sambil berjalan meninggalkan ruangan, ia menoleh ke arah Arjuna. "Cepatlah kau siapkan barangnya, agar tamu kita bisa segera melihatnya."

Sebenarnya Arjuna sangat keberatan jika benda pusaka itu dijual. Kujang emas bukan sekedar barang antik bernilai tinggi, melainkan saksi bisu perjalanan hidup keluarga mereka. Namun ia tak punya pilihan—ibunya sudah membuat keputusan, dan juga satu-satunya cara untuk mengetahui kebenaran tentang asal-usulnya.

Selama ini keberadaan kujang emas sudah membuat pekerjaannya terbengkalai. Berbagai jadwal rapat dan pertemuan harus diubah karena ia sibuk mencari informasi tentang pusaka itu.

Arjuna memutar kunci pada laci meja bagian dalam yang tersembunyi, tempat kujang itu disimpan dengan aman. Tapi saat laci terbuka, napasnya terhenti sejenak. Matanya membelalak tak percaya.

Laci itu kosong.

Kujang emas yang seharusnya tersimpan rapi di atas kain beludru merah itu tidak ada di tempatnya.

Arjuna memeriksa seluruh bagian laci. Tidak ditemukan.

“Siapa yang mengambilnya?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 104. Peristiwa Berdarah di Restoran Penginapan

    Suasana di restoran mewah itu jadi kacau balau, seolah gempa baru saja melanda. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit bergoyang hebat. Meja-meja kayu jati terbalik, kursi-kursi patah, piring dan gelas keramik berjatuhan, pecah berserakan di lantai. Pertarungan berlangsung seru dan sengit. Puluhan pendekar golongan hitam menyerang silih berganti; golok, keris beracun, pedang pendek, hingga trisula kecil berseliweran di udara. Citrangada dan kawan-kawan bergerak lincah menangkis, menghindar, dan membalas dengan tendangan dan pukulan. Korban berjatuhan dari pihak lawan.“Maju kalian semua kalau ingin nyawa melayang!” seru Larasati lantang sambil menepis sebilah belati yang melayang ke arahnya. “Kalian memaksa terjadi pertumpahan darah!”“Kalian sudah mengganggu ketenangan kami!” bentak seorang pendekar sambil menebas ke arah Lasmini. “Siapa pun yang menolak keinginan kami, harus membayarnya dengan nyawa!”"Kematian adalah hukuman yang pantas!" teriak Dara Hiti sambil mengirim

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 103. Keributan di Restoran Penginapan

    Begitu mereka melangkah masuk, suasana di dalam restoran mendadak hening. Langkah mereka terdengar berirama menyentuh lantai kayu. Cahaya lampu kristal yang digantung di tiang-tiang kayu memancarkan cahaya kuning redup, menyapu wajah yang menoleh serentak ke arah mereka. Ada yang heran, ada yang menilai dari atas ke bawah, dan tak sedikit yang melotot penuh nafsu. "Pura-pura tidak tahu saja," bisik Citrangada. "Sepertinya mereka belum pernah melihat perempuan cantik." Kehadiran tujuh perempuan yang berpenampilan anggun itu menjadi pusat perhatian pendekar yang sedang makan malam. Mereka bagai bunga yang mekar di tengah rimbunnya semak berduri. Satu pun tak ada yang memperhatikan Yang Luchan dan Bajang yang berjalan di belakang. Pikiran kotor mereka seketika terpicu. Mereka biasa hidup dengan kekuatan, kehadiran wanita-wanita asing yang tampak gemulai itu adalah kesempatan yang tak boleh dilewatkan, tak peduli klan bangsawan atau rakyat jelata. Seorang pendekar berambut kusut ya

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 102. Rencana Serangan Besar

    Suasana restoran di penginapan itu terlihat berbeda dari hari-hari biasa. Lampu kristal yang digantung di tiang kayu memancarkan cahaya kuning redup, sudut ruangan sebagian tertutup bayangan gelap yang menambah kesan mencekam. Udara malam yang masuk lewat jendela besar bercampur bau masakan, asap lampu, dan senjata yang tak sepenuhnya tersembunyi di balik pakaian para tamu—menciptakan ketegangan. Beberapa pelayan laki-laki melangkah dengan napas tertahan. Nampan di tangannya bergetar pelan setiap kali menaruh hidangan makan malam di atas meja. Tak ada yang peduli. Semua asyik bercakap dengan temannya. Hampir semua meja terisi penuh. Tak ada canda atau tawa. Mereka tampak serius dan hati-hati, bersuara pelan, seolah takut terdengar oleh telinga di meja sebelah. Padahal semua tamu yang ada dari kalangan mereka sendiri. Di meja paling ujung, sedikit terpisah dari keramaian, duduk Bairawa bersama empat wakilnya. Sebagai ketua golongan hitam, penampilannya paling menonjol, penuh wibaw

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 101. RAHASIA DI BALIK PENGINAPAN MEWAH

    Rombongan Citrangada tiba di penginapan yang berdiri megah tidak jauh dari pantai. Dindingnya terbuat dari kayu jati tua yang berkilau halus, tiang-tiang besarnya diukir rumit dengan motif naga dan bunga yang melingkar naik, atapnya berlapis genteng tanah liat berwarna merah coklat yang tersusun rapi. Di halaman tumbuh beberapa pohon besar yang rindang, serta tanaman hias berwarna-warni di dalam pot batu berukir. Di samping halaman utama terdapat kandang kuda yang luas dan bersih, serta tempat memandikan kuda yang dilapisi batu bata. Angin laut yang sejuk berhembus melewati pilar-pilar besar, membawa aroma bunga melati yang ditanam di sepanjang pagar. Dari luar, penginapan itu tampak tenang, indah, dan penuh kemewahan—hanya dikunjungi oleh orang-orang kaya yang datang untuk menikmati ketenangan tepi pantai. "Penginapan yang sangat bagus," komentar Lasmini sambil mendongak memandangi bangunan itu. "Siapa sangka aku bisa bermalam di tempat semegah ini." Namun begitu mereka melewa

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 100. Kota yang Terlalu Tenang

    Setelah menempuh perjalanan hampir tiga hari penuh melewati jalan berkelok di kaki bukit, menyusuri tepi hutan yang rimbun, serta melintasi beberapa desa kecil yang penduduknya tampak lebih banyak diam dan saling mengamati, rombongan Citrangada akhirnya tiba di Batu Layang. Kota pesisir itu terbentang luas di antara perbukitan rendah yang hijau sepanjang musim dan garis pantai yang memanjang mengikuti lekukan teluk yang tenang. Tanah berpasir halus bercampur tanah lempung yang kokoh, sehingga jalan utama tetap bersih dan tidak becek meskipun turun hujan. Tampak deretan rumah warga yang dibangun rapi, atap-atapnya dari daun rumbia dan sebagian dari genteng tanah liat, pasar yang ramai pengunjung, serta puluhan perahu nelayan dengan layar tergulung rapi bersandar di tepi pantai yang jernih hingga terlihat bayangan karang di dasarnya. “Tujuan utama kita datang ke sini untuk melancong, melepas penat setelah sekian lama disibukkan berbagai ur

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 99. Jalan yang Dipilih Hati

    Mereka tiba di sebuah dataran kecil yang dilindungi oleh tiga pohon raksasa yang sudah ratusan tahun usianya. Batangnya begitu besar hingga butuh beberapa orang bergandengan tangan untuk melingkarinya. Dahan saling menyilang membentuk atap alami yang meneduhkan sepanjang hari. Tempat ini jarang dilewati manusia maupun hewan buas. Suara alam kembali terdengar. Gemerisik daun tertiup angin, kicau burung pulang ke sarang, gemericik air sungai terdengar samar di kejauhan. Menenangkan makhluk yang baru tiba. Arjuna duduk bersandar pada batang pohon. Ia mengusap wajahnya membersihkan sisa-sisa pikiran yang sempat berantakan karena peristiwa yang baru saja terjadi. Kong berdiri memandang ke arah jalan yang mereka lalui, seolah pikirannya masih tertinggal di belakang. Sorot matanya yang biasanya bercahaya kini berawan. "Sudahlah," tegur Arjuna lembut. "Katanya Srikandi Perang Kesembilan bukan seleramu, nyatanya kau seperti mengharapkan dia bisa

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 1. Anak Cinta Satu Malam

    "Aku tidak tahu siapa bapakmu!" Dewi Priti sudah habis kesabaran menghadapi pertanyaan Arjuna sejak TK hingga sekarang sudah menjadi CEO. Arjuna hampir setiap hari bertanya sewaktu TK karena melihat teman-temannya diantar jemput ayahnya, sedangkan ia diantar jemput ibunya. Sekarang persoalan sema

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 4. Bukan Menantu Pilihan

    Arjuna membiarkan Ulupi merekam kejadian itu. Ia merasa tak perlu menangkap basah mereka. Bikin keributan di tempat umum bukan kebiasaannya. Ulupi minta turun di hotel. Arjuna pergi ke kantor. Menenangkan pikiran dalam kesendirian lebih baik baginya ketimbang menunggu mereka check out. Arjuna memp

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 3. Kujang Bernyawa

    Lesmana membuka mata dengan wajah berkeringat, kelihatan berat sekali untuk mencari tahu siapa pemilik kujang emas. "Tertutup cahaya putih." Lesmana sudah menyerah dari tadi kalau bukan permintaan sahabat lamanya. "Sulit sekali menembus cahaya itu." Arjuna merasa kasihan melihat kondisi Lesm

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 2. Terlalu Indah Untuk Jadi Mantan

    Arjuna bingung. Ibunya sudah mencari ke seluruh kota di negeri ini, bahkan sampai jauh ke pelosok, ayahnya tidak ditemukan. Orang-orang kepercayaan ibunya sampai sekarang belum berhenti mencari pria eksekutif itu dengan modal sketsa wajahnya. Dalam bingungnya, Arjuna pergi menemui arkeolog terken

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status