Inicio / Romansa / Mengejar Cinta Puteri Bangsawan / Bab 6. Kejadian Misterius

Compartir

Bab 6. Kejadian Misterius

last update Fecha de publicación: 2024-05-25 23:54:01

Keheningan mewarnai ruang kerja Arjuna, hanya terdengar bunyi detak jam dinding yang tergantung di dinding berpanel kayu. Di balik meja kerja yang luas dan rapi, Arjuna tampak memegang gagang telepon internal dengan jari yang sedikit menegang. Ia sedang mengadakan percakapan dengan sekretarisnya.

“Ada orang masuk saat aku pergi ke basement?” tanya Arjuna, suaranya menyembunyikan rasa was-was yang mulai merayap.

“Tidak ada, Pak. Sejak Bapak keluar sampai sekarang, tidak ada satu orang pun yang melewati depan ruangan ini,” jawab sekretaris dari seberang saluran, terdengar yakin.

Arjuna meletakkan gagang telepon, lalu menatap laci meja besar di sebelah kanannya. Ia menghela napas panjang, diikuti rasa sesal yang menyelimuti hatinya.

"Seharusnya kujang emas aku simpan di brankas saja," gumamnya. "Tapi di laci ini juga seharusnya aman."

Barang itu sudah disimpan rapi di laci rahasia dengan kunci yang hanya ia pegang sendiri, dan kini lenyap tanpa bekas.

Ia memeriksa kembali bagian depan dan samping laci, tidak ada goresan, tidak ada tanda paksa, tidak ada satu pun kerusakan yang terlihat. Seolah-olah laci dibuka dengan cara yang paling rapi dan dikunci lagi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Segera ia membuka akses ke sistem pemantauan gedung melalui layar laptop. Jari-jarinya bergerak cepat memutar rekaman kamera pengawas yang dipasang di koridor, pintu masuk ruangan, bahkan lorong sebelah. Ia menontonnya berulang kali, memperlambat laju gambarnya, memeriksa setiap detik sejak ia meninggalkan ruangan menuju basement hingga ia kembali. Tidak ada satu sosok manusia pun yang terlihat masuk atau keluar dari ruang kerjanya.

“Sungguh aneh,” gumam Arjuna, matanya masih terpaku pada layar yang kini kembali ke tampilan langsung. “Apa mungkin ada pencuri masuk lewat kaca gedung ini?”

Beberapa hari terakhir, ada pekerja dengan tali pengaman di sisi luar gedung, melakukan perbaikan dan penggantian sealant pada bingkai kaca. Kaca-kaca itu tebal dan tertutup rapat. Bagaimana mungkin seseorang bisa membongkarnya, masuk ke dalam ruangan, mengambil barang, lalu memasang kembali kaca itu dengan rapi hingga tidak ada bedanya dengan kondisi semula.

"Mereka mungkin pencuri profesional," pikir Arjuna. "Orang-orang yang sudah terlatih melakukan hal semacam ini, bisa membongkar dan memasang kembali kaca hanya dalam hitungan menit, tanpa meninggalkan bekas yang terlihat."

Pikirannya terhenti saat gawai di meja berdering. Nama ibunya tertera di layar. Arjuna mengangkatnya dengan tangan yang terasa lebih berat dari biasanya.

“Kok lama sekali di ruang kerjamu? Sudah hampir sore, kamu belum datang juga,” suara ibunya terdengar lembut namun menyimpan rasa ingin tahu.

Arjuna terdiam sejenak sebelum menjawab lirih, “Kujangnya hilang, Bu.”

“Apa?” Teriakan kaget ibunya terdengar jelas dari seberang sambungan, cukup keras hingga membuat Arjuna menjauhkan alat komunikasi itu sedikit dari telinganya. “Bagaimana bisa sampai hilang?”

“Sewaktu aku mengantar Citrangada ke basement parkir tadi, kujang itu aku simpan di laci rahasia lalu dikunci. Sekarang aku buka kembali, sudah tidak ada lagi di tempatnya,” jelas Arjuna dengan suara tertekan.

Keberadaan kujang emas sudah membuatnya merasa terbebani sejak hari ia menerimanya. Ia tidak akan sepanik ini jika barang itu hilang setelah urusan selesai, kujang itu menjadi kunci dari sebuah rahasia besar yang selama ini membayangi hidupnya.

Bagi Arjuna, kujang emas bukan sekedar benda pusaka yang bernilai ratusan miliar. Kujang itu satu-satunya bukti yang tersisa untuk mengetahui siapa ayah kandungnya. Jika bukti itu lenyap, maka kesempatan untuk mengungkap kebenaran itu pun tertutup.

Rasa curiga merayap masuk ke dalam benaknya. Apakah ibunya dan Datuk Cakil sudah membuat kesepakatan secara diam-diam? Mungkin mereka sepakat untuk mengubur dalam-dalam kisah cinta satu malam yang menyebabkan dirinya lahir ke dunia, dengan ganti rugi tujuh ratus miliar. Dan kujang emas jadi alat tukar dari kesepakatan itu. Jika benar demikian, maka hilangnya benda itu bukan lagi sekedar kasus pencurian biasa, tapi bagian dari rencana untuk memastikan rahasia masa lalu tidak pernah terungkap ke permukaan.

Dengan perasaan yang makin bingung, Arjuna kembali mengangkat telepon internal dan memanggil sekretarisnya. “Tolong tanyakan pada kepala bagian keamanan, apakah ada jadwal layanan pembersihan hari ini, terutama untuk ruang kerjaku.”

“Baik, Pak. Tapi saya rasa tidak ada, karena pintu ruangan Bapak berada tepat di depan meja saya, jadi saya pasti tahu jika ada orang yang masuk atau keluar,” jawab sekretaris dengan yakin.

“Nyatanya barang berharga di dalam ruanganku hilang,” kata Arjuna kesal, lalu menutup sambungan.

Ia berdiri dan melangkah ke dinding kaca. Matanya mengamati lima orang pekerja yang masih tergantung di tali pengaman, sibuk menggosok dan meratakan lapisan perekat pada bingkai kaca. Mereka terlihat biasa saja, mengenakan seragam kerja yang sama, berkonsentrasi penuh pada tugasnya. Tidak ada satu pun yang terlihat mencurigakan.

"Mereka pasti sangat ahli jika benar pelakunya," gumam Arjuna. "Namun benda seberat kujang emas tidak mungkin disembunyikan di tubuh mereka. Pasti ada orang lain yang sudah menunggu di bawah untuk segera mengamankannya."

Pintu ruangan terbuka. Dewi Priti masuk bersama Datuk Cakil dan pengacaranya.

“Aku yakin pasti ada maling yang masuk ke ruang kerjamu,” kata Dewi Priti setelah duduk di kursi tamu. “Padahal keamanan di lantai direksi ini sudah diatur sangat ketat. Ada petugas jaga di pintu lift dan di tangga darurat selama dua puluh empat jam, jadi mustahil ada orang asing yang lewat tanpa diperiksa.”

“Aku sudah memeriksa rekaman kamera pengawas berkali-kali, tidak ada satu orang pun yang masuk ke ruangan ini sejak aku keluar tadi,” jawab Arjuna bingung. “Tapi faktanya kujang emas sudah tidak ada lagi di laci.”

“Siapa saja yang memegang kunci cadangan untuk laci mejamu?” tanya Dewi Priti.

“Tidak ada, selain kepala bagian keamanan, dan kuncinya dikeluarkan untuk keperluan darurat saja,” jawab Arjuna.

“Kau sudah memanggil kepala keamanan untuk memeriksa keadaan ini?”

“Sekretarisku sedang menghubunginya. Jujur saja, aku tidak mencurigai pegawai sendiri. Mereka tidak tahu apa-apa tentang keberadaan kujang itu,” jelas Arjuna.

Datuk Cakil yang sejak tadi hanya mendengarkan, kini membuka suaranya. “Bagaimana dengan pekerja yang sedang memperbaiki kaca di luar? Apakah ada kemungkinan mereka mengetahui sesuatu?”

“Mereka pasti sering melihat ke dalam karena bekerja di depan ruangan ini. Tapi apakah mereka memiliki keahlian sedemikian rupa hingga bisa masuk, mengambil barang, lalu keluar lagi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun?”

“Boleh aku tahu, di laci mana tepatnya anda menyimpan kujang emas?”

Arjuna merasa permintaan itu agak kurang pantas, mereka baru bertemu hari ini. Namun mengingat situasi yang sedang runyam, ia mengizinkan. “Di laci paling bawah sebelah kanan.”

“Sejak kapan anda rutin menaruh kujang itu di tempat yang sama?”

“Setiap kali masuk ke kantor, kujang itu langsung aku simpan di laci rahasia dan aku kunci. Baru dikeluarkan jika ada keperluan khusus."

“Sudah berapa lama pekerjaan perbaikan kaca ini berlangsung?”

“Sekitar seminggu ini.”

“Waktu seminggu cukup untuk mengamati kebiasaan orang, mempelajari situasi ruangan, dan mencari kesempatan sekecil apa pun,” katanya pelan.

“Jadi anda mencurigai para pekerja kontraktor itu?” tanya Arjuna.

“Saya hanya mengatakan jangan terlalu percaya pada apa yang terlihat. Anda sangat percaya pada pegawai, percaya pada kunci, percaya pada kamera pengawas. Lalu apakah anda pikir kujang emas bisa berjalan sendiri dan pergi berbelanja ke mal?” ujar Datuk Cakil sedikit menyindir.

Arjuna tersenyum samar, mencoba meredakan ketegangan. “Selera humor orang Penang ternyata lumayan juga.”

“Saya harus segera berangkat ke bandara untuk urusan bisnis lain. Jika nanti kujang emas ditemukan, kabari saya. Sebaiknya anda hubungi pihak kepolisian agar ditangani secara resmi,” saran Datuk Cakil sebelum pamit pergi.

Arjuna mendesah pelan. Sebisa mungkin, ia justru ingin menghindari urusan dengan kepolisian. Mereka pasti akan menyelidiki asal-usul benda itu secara tuntas. Jika ia dan ibunya memberikan keterangan palsu, mereka bisa terjerat hukum. Namun jika jujur, maka seluruh dunia akan mengetahui kisah masa lalu yang selama ini ditutup rapat, dan ia harus menerima kenyataan bahwa ia lahir dari sebuah pertemuan yang tidak direncanakan.

Telepon internal berdering. Suara sekretaris terdengar dari seberang. “Pak, kepala keamanan memastikan bahwa hari ini tidak ada jadwal pembersihan untuk lantai ini, dan kunci cadangan tersimpan rapi di dalam brankas ruang pengawasan, tidak ada yang menyentuhnya.”

“Terima kasih atas informasinya. Tolong jangan sebarkan kejadian ini. Anggap saja tidak terjadi apa-apa,” perintah Arjuna, lalu meletakkan gagang telepon.

Ia ingin segera menutup kasus ini. Hilangnya kujang emas seperti melepaskan beban berat dari pikirannya. Ia tidak perlu lagi bersusah payah membuktikan kebenaran, sekedar perlu membawa 'ayah pura-pura' menghadap orang tua Citrangada.

Ia sudah memerintahkan manajer rumah untuk mempelajari peran sebagai ayah kandung — sebuah akting yang sangat sulit karena Lukas adalah bujang lapuk.

“Bagaimana bisa kau bilang tidak terjadi apa-apa, padahal barang senilai tujuh ratus miliar hilang begitu saja?” protes Dewi Priti yang masih duduk di hadapannya, matanya menatap tajam. “Uang sebanyak itu bisa kau gunakan untuk memperluas jaringan bisnismu, membuka cabang baru, atau memperkuat perusahaan.”

“Uang sebanyak itu justru aku gunakan untuk menutupi masa lalu Ibu,” sahut Arjuna datar. “Uang bukan segalanya sehingga pantas mengorbankan nama baik keluarga. Aku hanya butuh kejelasan siapa diriku sebenarnya, jika itu tidak bisa didapatkan tanpa merusak nama baik, maka biarkan saja semuanya seperti ini.”

Ia berdiri sambil mengusap wajahnya yang terasa kaku. “Aku sangat lelah. Aku pulang duluan. Aku ingin berendam untuk menenangkan pikiran.”

Arjuna memasukkan berkas-berkas penting ke dalam tas kerja, berniat membacanya di rumah karena banyak pekerjaan yang tertunda. Sebelum keluar, ia teringat ada sebuah catatan kecil yang biasa ia simpan di laci paling bawah untuk mengingat jadwal pertemuan besok. Ia melangkah kembali ke meja, memasukkan kunci ke lubang laci, lalu memutarnya perlahan.

Saat tutup laci terbuka, mata Arjuna terbelalak lebar. Tangannya yang hendak meraih kertas catatan tergantung di udara.

Tampak kujang emas tergeletak di atas tumpukan kertas!

Arjuna tidak tahu apakah ia harus merasa lega karena barang itu kembali, atau justru merasa takut karena tidak bisa menjelaskan bagaimana kujang emas bisa kembali ke laci secara sendirinya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Once
Kujang sakti…
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 104. Peristiwa Berdarah di Restoran Penginapan

    Suasana di restoran mewah itu jadi kacau balau, seolah gempa baru saja melanda. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit bergoyang hebat. Meja-meja kayu jati terbalik, kursi-kursi patah, piring dan gelas keramik berjatuhan, pecah berserakan di lantai. Pertarungan berlangsung seru dan sengit. Puluhan pendekar golongan hitam menyerang silih berganti; golok, keris beracun, pedang pendek, hingga trisula kecil berseliweran di udara. Citrangada dan kawan-kawan bergerak lincah menangkis, menghindar, dan membalas dengan tendangan dan pukulan. Korban berjatuhan dari pihak lawan.“Maju kalian semua kalau ingin nyawa melayang!” seru Larasati lantang sambil menepis sebilah belati yang melayang ke arahnya. “Kalian memaksa terjadi pertumpahan darah!”“Kalian sudah mengganggu ketenangan kami!” bentak seorang pendekar sambil menebas ke arah Lasmini. “Siapa pun yang menolak keinginan kami, harus membayarnya dengan nyawa!”"Kematian adalah hukuman yang pantas!" teriak Dara Hiti sambil mengirim

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 103. Keributan di Restoran Penginapan

    Begitu mereka melangkah masuk, suasana di dalam restoran mendadak hening. Langkah mereka terdengar berirama menyentuh lantai kayu. Cahaya lampu kristal yang digantung di tiang-tiang kayu memancarkan cahaya kuning redup, menyapu wajah yang menoleh serentak ke arah mereka. Ada yang heran, ada yang menilai dari atas ke bawah, dan tak sedikit yang melotot penuh nafsu. "Pura-pura tidak tahu saja," bisik Citrangada. "Sepertinya mereka belum pernah melihat perempuan cantik." Kehadiran tujuh perempuan yang berpenampilan anggun itu menjadi pusat perhatian pendekar yang sedang makan malam. Mereka bagai bunga yang mekar di tengah rimbunnya semak berduri. Satu pun tak ada yang memperhatikan Yang Luchan dan Bajang yang berjalan di belakang. Pikiran kotor mereka seketika terpicu. Mereka biasa hidup dengan kekuatan, kehadiran wanita-wanita asing yang tampak gemulai itu adalah kesempatan yang tak boleh dilewatkan, tak peduli klan bangsawan atau rakyat jelata. Seorang pendekar berambut kusut ya

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 102. Rencana Serangan Besar

    Suasana restoran di penginapan itu terlihat berbeda dari hari-hari biasa. Lampu kristal yang digantung di tiang kayu memancarkan cahaya kuning redup, sudut ruangan sebagian tertutup bayangan gelap yang menambah kesan mencekam. Udara malam yang masuk lewat jendela besar bercampur bau masakan, asap lampu, dan senjata yang tak sepenuhnya tersembunyi di balik pakaian para tamu—menciptakan ketegangan. Beberapa pelayan laki-laki melangkah dengan napas tertahan. Nampan di tangannya bergetar pelan setiap kali menaruh hidangan makan malam di atas meja. Tak ada yang peduli. Semua asyik bercakap dengan temannya. Hampir semua meja terisi penuh. Tak ada canda atau tawa. Mereka tampak serius dan hati-hati, bersuara pelan, seolah takut terdengar oleh telinga di meja sebelah. Padahal semua tamu yang ada dari kalangan mereka sendiri. Di meja paling ujung, sedikit terpisah dari keramaian, duduk Bairawa bersama empat wakilnya. Sebagai ketua golongan hitam, penampilannya paling menonjol, penuh wibaw

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 101. RAHASIA DI BALIK PENGINAPAN MEWAH

    Rombongan Citrangada tiba di penginapan yang berdiri megah tidak jauh dari pantai. Dindingnya terbuat dari kayu jati tua yang berkilau halus, tiang-tiang besarnya diukir rumit dengan motif naga dan bunga yang melingkar naik, atapnya berlapis genteng tanah liat berwarna merah coklat yang tersusun rapi. Di halaman tumbuh beberapa pohon besar yang rindang, serta tanaman hias berwarna-warni di dalam pot batu berukir. Di samping halaman utama terdapat kandang kuda yang luas dan bersih, serta tempat memandikan kuda yang dilapisi batu bata. Angin laut yang sejuk berhembus melewati pilar-pilar besar, membawa aroma bunga melati yang ditanam di sepanjang pagar. Dari luar, penginapan itu tampak tenang, indah, dan penuh kemewahan—hanya dikunjungi oleh orang-orang kaya yang datang untuk menikmati ketenangan tepi pantai. "Penginapan yang sangat bagus," komentar Lasmini sambil mendongak memandangi bangunan itu. "Siapa sangka aku bisa bermalam di tempat semegah ini." Namun begitu mereka melewa

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 100. Kota yang Terlalu Tenang

    Setelah menempuh perjalanan hampir tiga hari penuh melewati jalan berkelok di kaki bukit, menyusuri tepi hutan yang rimbun, serta melintasi beberapa desa kecil yang penduduknya tampak lebih banyak diam dan saling mengamati, rombongan Citrangada akhirnya tiba di Batu Layang. Kota pesisir itu terbentang luas di antara perbukitan rendah yang hijau sepanjang musim dan garis pantai yang memanjang mengikuti lekukan teluk yang tenang. Tanah berpasir halus bercampur tanah lempung yang kokoh, sehingga jalan utama tetap bersih dan tidak becek meskipun turun hujan. Tampak deretan rumah warga yang dibangun rapi, atap-atapnya dari daun rumbia dan sebagian dari genteng tanah liat, pasar yang ramai pengunjung, serta puluhan perahu nelayan dengan layar tergulung rapi bersandar di tepi pantai yang jernih hingga terlihat bayangan karang di dasarnya. “Tujuan utama kita datang ke sini untuk melancong, melepas penat setelah sekian lama disibukkan berbagai ur

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 99. Jalan yang Dipilih Hati

    Mereka tiba di sebuah dataran kecil yang dilindungi oleh tiga pohon raksasa yang sudah ratusan tahun usianya. Batangnya begitu besar hingga butuh beberapa orang bergandengan tangan untuk melingkarinya. Dahan saling menyilang membentuk atap alami yang meneduhkan sepanjang hari. Tempat ini jarang dilewati manusia maupun hewan buas. Suara alam kembali terdengar. Gemerisik daun tertiup angin, kicau burung pulang ke sarang, gemericik air sungai terdengar samar di kejauhan. Menenangkan makhluk yang baru tiba. Arjuna duduk bersandar pada batang pohon. Ia mengusap wajahnya membersihkan sisa-sisa pikiran yang sempat berantakan karena peristiwa yang baru saja terjadi. Kong berdiri memandang ke arah jalan yang mereka lalui, seolah pikirannya masih tertinggal di belakang. Sorot matanya yang biasanya bercahaya kini berawan. "Sudahlah," tegur Arjuna lembut. "Katanya Srikandi Perang Kesembilan bukan seleramu, nyatanya kau seperti mengharapkan dia bisa

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 96. Kemesraan Terpanas

    Srikandi perang tergolek lemas di atas rumput. Matanya tampak sayu. Ia mengalami guncangan hebat setelah menyadari apa yang terjadi. Mengapa ia sampai berhalusinasi bercinta dengan seorang ksatria gagah dan tampan? Padahal ksatria pemburu saja enggan bercinta dengannya kalau tak diiming-imingi ring

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 93. Kutunggu Janjimu

    "Aku ada masalah dengan kejujuran perempuan." Arjuna ingin menyindir Dara Hiti. Empat Iblis Hitam tidak ada maksud jahat kepada dirinya. Mereka hanya ingin mencari perlindungan. Kong seakan siap jadi pelindung mereka, padahal Arjuna mesti turun tangan kalau ia mendapat kesulitan. Mereka ingi

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 86. Mencari Keringat Cinta

    Empat Iblis Hitam siap menjalankan perintah Arjuna untuk membebaskan tawanan wanita di kastil selatan. Mereka juga bersedia memenuhi permintaan ksatria itu untuk jadi istri kingkong. "Barangkali sudah takdir kami," kata Dara Hiti. "Aku menganggap ucapanmu adalah lamaran bagi kami." Arjuna terkejut

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 84. Otaknya Sedikit Bergeser

    Arjuna berkelebat maju. Pedang mustika manik meliuk-liuk mengincar titik kelemahan Kalapati, tokoh sakti istana itu berusaha menangkis dengan celurit. Trang! Trang! Bunga api berhamburan dari bentrokan senjata, mewarnai siluet kebiruan dan kemerahan laksana kembang api. Kalapati terkejut merasaka

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status