LOGINArjuna masih teringat jelas peristiwa mengerikan beberapa hari silam. Sosok cenayang dengan wajah penuh percaya diri, menyatakan dirinya mampu menguasai segala benda bertuah, akhirnya terbaring lemah di rumah sakit dengan luka bakar hampir separuh tubuhnya.
Jubah yang ia pakai terbakar begitu saja, seolah disambar api yang tak terlihat oleh mata telanjang. Semua itu terjadi saat tangannya hendak menyentuh permukaan kilauan kujang emas yang kini menjadi sumber segala keanehan dalam hidup Arjuna. Meskipun dalam hati kecilnya Arjuna merasa kejadian itu murni kesalahan cenayang itu sendiri, ia tetap merasa bersalah, mendorongnya untuk menanggung seluruh biaya perawatan dan pengobatan di rumah sakit, sebagai tanda permintaan maaf yang tulus sekaligus upaya meredakan rasa bersalah yang mengganggu pikirannya. "Datang dan pergi seenaknya saja, tak tahu aturan dan tak kenal waktu," gumam Arjuna pelan, suaranya terdengar berat dan penuh kekesalan. Dewi Priti yang sudah berjalan hendak meninggalkan ruang kerjanya tertegun mendengar putranya berbicara sendiri. Ia menoleh heran, lalu bertanya dengan nada menyelidik, "Ada apa, Nak? Kenapa bicara sendirian?" Arjuna menghela napas panjang seolah membuang beban yang menghimpit dadanya. Ia perlahan membuka laci meja kerja, dan tampak tergeletak benda yang membuat hidupnya tak lagi tenang—sebilah kujang emas yang memancarkan cahaya lembut dan terasa dingin saat dipandang. Dewi Priti melotot tak percaya, matanya tak lepas dari benda itu. "Tadi Ibu lihat laci itu kosong, bahkan sudah diperiksa berkali-kali. Bagaimana bisa sekarang ada di situ?" Arjuna menoleh ke arah ibunya dengan tatapan bingung dan lelah. "Ibu bertanya sama siapa? Aku sendiri tak mengerti apa yang terjadi." Kebingungan semakin menguat di matanya. Ia baru saja memastikan kujang itu tak ada beberapa jam yang lalu, namun sekarang muncul kembali seolah tak pernah berpindah tempat. Tanpa banyak bicara lagi, Arjuna mengambil benda itu dan memasukkannya ke dalam tas kerja kulitnya, menguncinya rapat-rapat seolah itu bisa menghentikan segala keanehan yang menyertainya. Dewi Priti segera mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi seseorang. Sambil menunggu panggilan tersambung, ia berkata dengan nada yakin, "Mumpung belum jauh, kujang itu lebih baik segera berpindah tangan." Datuk Cakil, lelaki paruh baya yang dikenal banyak orang hobi mengoleksi benda-benda bertuah, baru saja meninggalkan ruangan itu beberapa menit yang lalu dan kemungkinan besar masih berada di area parkir bawah tanah. Arjuna geleng kepala, merasa kesal melihat perilaku ibunya itu. "Pikiran Ibu terlalu sederhana. Mestinya Ibu sudah paham, kujang emas tak mau berpindah tangan sembarangan. Ia pasti akan menghilang lagi begitu Datuk Cakil melangkah masuk ke ruangan ini." Tanpa menunggu jawaban, Arjuna berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju pintu utama. "Aku pulang duluan. Otakku sudah mumet banget memikirkan segala keanehan yang dibawa kujang ini, rasanya benar-benar membuat stres." Saat memasuki lift menuju lantai dasar, Arjuna mulai membuka pikirannya lebar-lebar. Kini ia tak lagi meragukan omongan Lesmana. Benar kata sahabatnya itu, kujang emas memiliki kesaktian yang luar biasa, namun juga memiliki sifat yang bikin jengkel dan sulit ditebak keinginannya. Semakin ia memikirkannya, semakin kuat kecurigaan yang tumbuh di hatinya. Ia mulai menduga bahwa kujang emas bukan sekedar benda mati. "Bisa saja kujang ini yang menggagahi ibuku," keluh Arjuna lemas. "Lalu bagaimana ia bertanggung jawab?" Arjuna teringat kejadian beberapa puluh tahun lalu, saat ibunya terkena pengaruh obat penenang yang terlalu kuat dan nyaris tak sadarkan diri. Tiba-tiba saja sosok pria gagah dan sangat tampan muncul begitu saja, melakukan sesuatu hingga pengaruh obat itu hilang seketika, lalu dalam sekejap mata berubah kembali menjadi kujang emas. "Seharusnya ia tak perlu kembali jadi kujang begitu saja!" Arjuna menggerutu dalam hati. "Kalau benar memiliki kesaktian, seharusnya ia bertanggung jawab dan menjelaskan maksudnya. Jangan sampai aku membawanya ke tempat peleburan, kalau ia lari dari tanggung jawab." Untuk mencari jawaban dan meyakinkan dirinya, Arjuna mampir ke rumah Lesmana. Begitu mendengar ceritanya, Lesmana hanya tersenyum samar lalu berkata dengan tenang, "Bukan hal yang aneh jika kecurigaanmu itu benar-benar terjadi. Senjata bertuah memiliki kehendak sendiri; ia bisa berubah menjadi apa saja dan siapa saja sesuai kebutuhan atau tujuannya." Arjuna mencoba menguji seberapa jauh kemampuan sahabatnya itu. Ia mengarang cerita lain, mengatakan bahwa kujang emas sempat berubah wujud menjadi ketua geng kartel yang sangat disegani saat sekelompok preman berusaha mengganggunya. Ia menyampaikannya seolah itu adalah fakta, sekedar menjadi alibi untuk memperkuat dugaan yang ada di kepalanya. "Logikamu masih terlalu terikat pada akal sehat biasa untuk bisa melihat fenomena seperti itu," ujar Lesmana tenang. "Dulu saat kita masih duduk di bangku SMA, kau sampai mengejek dan mem-bully aku saat aku bercerita tentang benda kuno yang sempat menghilang selama berhari-hari karena hendak dilelang. Saat itu aku sudah bisa merasakan keberadaannya hanya dengan menggunakan indera keenamku, tapi kau tak percaya sedikit pun." Arjuna tertegun. Ia heran mengapa Lesmana tidak menangkap kebohongan yang baru saja ia sampaikan. Padahal menurut cerita yang didengarnya dari Ulupi, cenayang itu mampu membaca hati dan pikiran seseorang, bahkan bisa memaksa orang untuk berbicara jujur tanpa bisa berbohong. Satu kesimpulan muncul di benak Arjuna: Bisa jadi kujang emas sedang melindungiku, sehingga diriku tak bisa diterawang atau dibaca pikirannya oleh siapa pun, termasuk orang yang dianggap sakti seperti Lesmana sekalipun. Untuk mengalihkan pembicaraan dan mencari informasi lain, Arjuna bertanya, "Siapa saja teman kita yang sering datang ke tempatmu untuk berkonsultasi?" Lesmana menjawab santai, "Hampir semuanya. Kau adalah orang yang paling jarang datang dan klien yang terakhir." "Rara Ireng juga sering datang?" tanya Arjuna lagi, rasa penasarannya meledak menyebut nama wanita itu. "Ia selalu mampir setiap kali kembali ke tanah air. Sekarang ia dalam perjalanan ke sini bersama Citra. Mereka ingin membahas dan melihat prospek kerja sama bisnis yang sedang direncanakan," jawab Lesmana. "Jadi hampir semua teman kita datang ke sini untuk berkonsultasi soal urusan bisnis?" "Begitulah. Aku hanya berusaha membantu mereka melihat apa yang mungkin tak terpikirkan oleh akal sehat biasa, supaya langkah mereka ke depan menjadi lebih lancar dan terhindar dari kesalahan fatal," jelas Lesmana. Hampir semua teman sepergaulan mereka kini menjadi orang sukses, baik yang terjun ke dunia politik maupun yang berkecimpung di dunia usaha. Banyak yang mengakui bahwa nasihat Lesmana menjadi salah satu kunci keberhasilan mereka. "Sebaiknya kau beralih profesi saja menjadi konsultan bisnis. Jadi cenayang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat," saran Arjuna. Lesmana tersenyum mendengarnya. "Sejak remaja aku sudah menyukai hal-hal yang berhubungan dengan dunia gaib dan supranatural. Aku memperdalam kemampuan ini bukan karena ingin dipuji atau karena memikirkan pendapat orang lain, tapi semata-mata karena aku menyukainya dan menganggap itu jalan yang ditakdirkan untukku." Arjuna merasa sudah waktunya untuk berpamitan. Rara Ireng sebentar lagi akan tiba, dan mereka sudah cukup lama tidak bertemu. Jika bertemu, bisa dipastikan suasana akan memanas dan berujung pada pertengkaran seperti biasa. Namun sebelum pergi, ada satu pertanyaan yang sangat ingin ia ketahui jawabannya. "Apakah Rara Ireng pernah memintamu untuk menyantet atau mencelakai diriku?" Lesmana menatapnya dalam-dalam lalu mengangguk pelan. "Ia pernah memintaku untuk membuatmu tergila-gila padanya, sampai kau tak bisa berpikir jernih, agar nanti ia bisa membuatmu gagal move on selama-lamanya sebagai balasan atas perlakuanmu dulu." Jantung Arjuna berdegup kencang. Ia jadi merasa khawatir dengan rencana kerja sama yang akan dibahas itu. Bagaimana jadinya jika Rara Ireng tahu bahwa Citrangada yang menjadi mitranya itu adalah calon istrinya? "Tapi tenang saja," lanjut Lesmana cepat, "aku tak pernah mau membantu urusan yang bertujuan merusak hidup orang lain. Permintaannya itu tak pernah aku kabulkan." Wanita secantik dan secerdas Rara Ireng sebenarnya tak butuh bantuan siapa pun untuk menghancurkan dirinya. Ia cukup melelang senyum, mengibarkan bendera perdamaian, dan mempersembahkan sepotong cinta palsu, lalu melemparkannya ke tong sampah ketika ia sudah terlanjur sayang. Arjuna sangat mengetahui dirinya sendiri, ia sulit menolak pesona Rara Ireng. Kecantikannya begitu sempurna, cerdas, dan percaya diri tinggi. Berbeda dengan Citrangada—calon istrinya yang dikenal sebagai wanita tercantik di kalangan atas, namun memiliki sifat yang sederhana dan gampang dibodohi. Mungkin karena sifatnya yang apa adanya dan tak berniat licik itulah, Arjuna bersikukuh memilih Citrangada sebagai pasangan hidupnya. Bersamanya, ia merasakan kebebasan sejati dalam ikatan cinta, tanpa harus selalu waspada atau menduga-duga maksud tersembunyi di balik setiap ucapan. "Rara Ireng sakit hati sekali saat kau menyebutnya 'cewek kloning' dulu," kata Lesmana memecah keheningan. "Ia sampai bersumpah akan mengunci namamu selamanya di dalam hatinya, bukan karena cinta, tapi agar ia tak pernah lupa pada permusuhan yang ada di antara kalian berdua." Arjuna menghela napas panjang. "Aku juga heran kenapa orang tuanya memberinya nama belakang Ireng, padahal kulitnya putih bersih dan terlihat sangat eksotik." Sebagai putri dari keluarga bangsawan modern dan terpandang, harga diri Rara Ireng sangat tinggi. Sekali tersinggung, ia tak akan pernah lupa sampai mendapatkan kepuasan. Arjuna masih ingat betapa hebohnya keributan yang terjadi saat itu, sampai Rara Ireng melaporkannya ke kepolisian dan kedua orang tua mereka harus turun tangan untuk mendamaikan. "Aku nyaris masuk penjara kalau saja ia tidak meluapkan kemarahannya dengan menyebutku 'cowok terbusuk di dunia' di depan petugas. Akhirnya kasus itu diselesaikan dengan jalan damai," kenang Arjuna sambil menggeleng kepala. Tiba-tiba Ulupi muncul begitu saja di tengah ruangan, tanpa diketahui lewat pintu mana ia masuk, dan tanpa ada pemberitahuan dari penerima tamu di depan. Wajahnya terlihat sangat pucat dan matanya basah oleh air mata, seolah ia baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga atau mengalami bencana yang menghancurkan hatinya. Arjuna segera berdiri dan menghampirinya dengan prihatin. "Ada apa? Apa yang terjadi padamu? Tetes air matamu terasa sangat menyakitkan untuk dilihat, apa yang membuatmu sedih seberat ini?" Ulupi mencoba menahan isak tangisnya, suaranya terdengar bergetar saat menjawab, "Wisnu... Wisnu membatalkan pernikahan kami." Arjuna terkejut bukan kepalang. "Bagaimana bisa ia mengambil keputusan segampang itu? Padahal acara pernikahannya sudah tinggal seminggu lagi dan segala sesuatunya sudah siap!" Ulupi menatap Arjuna dengan tatapan penuh kesedihan dan sedikit kebingungan, lalu mengucapkan kalimat yang membuat suasana di ruangan itu berubah menjadi hening seketika. "Semua ini terjadi... gara-gara kamu, Arjuna."Suasana di restoran mewah itu jadi kacau balau, seolah gempa baru saja melanda. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit bergoyang hebat. Meja-meja kayu jati terbalik, kursi-kursi patah, piring dan gelas keramik berjatuhan, pecah berserakan di lantai. Pertarungan berlangsung seru dan sengit. Puluhan pendekar golongan hitam menyerang silih berganti; golok, keris beracun, pedang pendek, hingga trisula kecil berseliweran di udara. Citrangada dan kawan-kawan bergerak lincah menangkis, menghindar, dan membalas dengan tendangan dan pukulan. Korban berjatuhan dari pihak lawan.“Maju kalian semua kalau ingin nyawa melayang!” seru Larasati lantang sambil menepis sebilah belati yang melayang ke arahnya. “Kalian memaksa terjadi pertumpahan darah!”“Kalian sudah mengganggu ketenangan kami!” bentak seorang pendekar sambil menebas ke arah Lasmini. “Siapa pun yang menolak keinginan kami, harus membayarnya dengan nyawa!”"Kematian adalah hukuman yang pantas!" teriak Dara Hiti sambil mengirim
Begitu mereka melangkah masuk, suasana di dalam restoran mendadak hening. Langkah mereka terdengar berirama menyentuh lantai kayu. Cahaya lampu kristal yang digantung di tiang-tiang kayu memancarkan cahaya kuning redup, menyapu wajah yang menoleh serentak ke arah mereka. Ada yang heran, ada yang menilai dari atas ke bawah, dan tak sedikit yang melotot penuh nafsu. "Pura-pura tidak tahu saja," bisik Citrangada. "Sepertinya mereka belum pernah melihat perempuan cantik." Kehadiran tujuh perempuan yang berpenampilan anggun itu menjadi pusat perhatian pendekar yang sedang makan malam. Mereka bagai bunga yang mekar di tengah rimbunnya semak berduri. Satu pun tak ada yang memperhatikan Yang Luchan dan Bajang yang berjalan di belakang. Pikiran kotor mereka seketika terpicu. Mereka biasa hidup dengan kekuatan, kehadiran wanita-wanita asing yang tampak gemulai itu adalah kesempatan yang tak boleh dilewatkan, tak peduli klan bangsawan atau rakyat jelata. Seorang pendekar berambut kusut ya
Suasana restoran di penginapan itu terlihat berbeda dari hari-hari biasa. Lampu kristal yang digantung di tiang kayu memancarkan cahaya kuning redup, sudut ruangan sebagian tertutup bayangan gelap yang menambah kesan mencekam. Udara malam yang masuk lewat jendela besar bercampur bau masakan, asap lampu, dan senjata yang tak sepenuhnya tersembunyi di balik pakaian para tamu—menciptakan ketegangan. Beberapa pelayan laki-laki melangkah dengan napas tertahan. Nampan di tangannya bergetar pelan setiap kali menaruh hidangan makan malam di atas meja. Tak ada yang peduli. Semua asyik bercakap dengan temannya. Hampir semua meja terisi penuh. Tak ada canda atau tawa. Mereka tampak serius dan hati-hati, bersuara pelan, seolah takut terdengar oleh telinga di meja sebelah. Padahal semua tamu yang ada dari kalangan mereka sendiri. Di meja paling ujung, sedikit terpisah dari keramaian, duduk Bairawa bersama empat wakilnya. Sebagai ketua golongan hitam, penampilannya paling menonjol, penuh wibaw
Rombongan Citrangada tiba di penginapan yang berdiri megah tidak jauh dari pantai. Dindingnya terbuat dari kayu jati tua yang berkilau halus, tiang-tiang besarnya diukir rumit dengan motif naga dan bunga yang melingkar naik, atapnya berlapis genteng tanah liat berwarna merah coklat yang tersusun rapi. Di halaman tumbuh beberapa pohon besar yang rindang, serta tanaman hias berwarna-warni di dalam pot batu berukir. Di samping halaman utama terdapat kandang kuda yang luas dan bersih, serta tempat memandikan kuda yang dilapisi batu bata. Angin laut yang sejuk berhembus melewati pilar-pilar besar, membawa aroma bunga melati yang ditanam di sepanjang pagar. Dari luar, penginapan itu tampak tenang, indah, dan penuh kemewahan—hanya dikunjungi oleh orang-orang kaya yang datang untuk menikmati ketenangan tepi pantai. "Penginapan yang sangat bagus," komentar Lasmini sambil mendongak memandangi bangunan itu. "Siapa sangka aku bisa bermalam di tempat semegah ini." Namun begitu mereka melewa
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga hari penuh melewati jalan berkelok di kaki bukit, menyusuri tepi hutan yang rimbun, serta melintasi beberapa desa kecil yang penduduknya tampak lebih banyak diam dan saling mengamati, rombongan Citrangada akhirnya tiba di Batu Layang. Kota pesisir itu terbentang luas di antara perbukitan rendah yang hijau sepanjang musim dan garis pantai yang memanjang mengikuti lekukan teluk yang tenang. Tanah berpasir halus bercampur tanah lempung yang kokoh, sehingga jalan utama tetap bersih dan tidak becek meskipun turun hujan. Tampak deretan rumah warga yang dibangun rapi, atap-atapnya dari daun rumbia dan sebagian dari genteng tanah liat, pasar yang ramai pengunjung, serta puluhan perahu nelayan dengan layar tergulung rapi bersandar di tepi pantai yang jernih hingga terlihat bayangan karang di dasarnya. “Tujuan utama kita datang ke sini untuk melancong, melepas penat setelah sekian lama disibukkan berbagai ur
Mereka tiba di sebuah dataran kecil yang dilindungi oleh tiga pohon raksasa yang sudah ratusan tahun usianya. Batangnya begitu besar hingga butuh beberapa orang bergandengan tangan untuk melingkarinya. Dahan saling menyilang membentuk atap alami yang meneduhkan sepanjang hari. Tempat ini jarang dilewati manusia maupun hewan buas. Suara alam kembali terdengar. Gemerisik daun tertiup angin, kicau burung pulang ke sarang, gemericik air sungai terdengar samar di kejauhan. Menenangkan makhluk yang baru tiba. Arjuna duduk bersandar pada batang pohon. Ia mengusap wajahnya membersihkan sisa-sisa pikiran yang sempat berantakan karena peristiwa yang baru saja terjadi. Kong berdiri memandang ke arah jalan yang mereka lalui, seolah pikirannya masih tertinggal di belakang. Sorot matanya yang biasanya bercahaya kini berawan. "Sudahlah," tegur Arjuna lembut. "Katanya Srikandi Perang Kesembilan bukan seleramu, nyatanya kau seperti mengharapkan dia bisa
Arjuna dan Bajang tercengang mendengar pengakuan Sugriwa. Sepuluh Utusan Dari Neraka rupanya kumpulan kakek kaya raya. Mereka percaya Sugriwa dan kawan-kawan bukan perusak wanita, wanita itu sendiri yang datang karena silau oleh kilauan harta. "Kami tahu perempuan cantik seperti dirimu jijik menja
Mereka melepas caping yang menjadi senjata andalan terakhir. Angin caping menderu-deru mencari sasaran. Arjuna pasti jadi rica-rica jika terkena sambaran. "Pulanglah kalian ke neraka!" Arjuna menggunakan jurus Kuda Liar Membelah Surai untuk mengirim mereka ke alam abadi. Kaki dan tangan bergerak d
Arjuna memperkirakan ada sepuluh orang bersembunyi di balik pohon di sekitar mereka. Sepuluh kakek bercaping itu rata-rata sudah tua, tapi mata mereka begitu muda melihat Citrangada dan Larasati, sangat liar. "Biarkan saja," kata Bajang. "Kelihatannya mereka mencium aroma ayam bakar. Kita kasih
Mereka mengurangi lari kuda saat memasuki hutan hitam. Semak-belukar tumbuh malang-melintang sehingga cukup menyulitkan untuk dilewati. Pemandangan di sekitar tampak cukup gelap, sinar matahari tidak dapat menembus rimbunnya dedaunan, dahan mati yang tergantung patah menciptakan halusinasi yang







