LOGINTAMAT "Kau bukan seleraku!" Kata-kata menyakitkan David Peters membuat Maura Raditya menitikkan air mata. Maura tidak pernah menyangka jika kuliah master yang dijalaninya akan menemui kendala yang luar biasa berat. Beasiswa kuliah yang tidak lagi diberikan oleh pihak universitas membuat Maura harus menemui David Peters (Dave), seorang yang sangat kaya raya dan berpengaruh. Dave mau memberi beasiswa asal Maura memenuhi satu persyaratan yang diajukan. Maura menyanggupi karena tidak punya pilihan lain. Sayangnya, masalah pelik tidak hanya mendera Maura satu kali. Berbagai permasalahan yang muncul membuat Maura tidak bisa tidak harus terus berurusan dengan Dave. Bersama permasalahan yang membelit Maura, kedekatannya dengan Dave pun tak terelakkan. Rasa yang disebut cinta mulai mengisi hati Dave dan Maura. Membuat mereka, yang pada awalnya berusaha menampik, sadar bahwa keinginan memiliki satu sama lain begitu besar tertanam di hati masing-masing.
View MoreThe lace of my wedding veil felt less like silk and more like a shroud. It scratched against my cheek, heavy and suffocating, mirroring the weight pressing down on my chest. I stood before the altar of St. Jude’s Cathedral, my hands clasped so tightly that my knuckles turned white. The air smelled of stale incense and the expensive, cloying cologne of the man waiting for me at the end of the aisle.
Count Valerius.
He was seventy years old, with breath that smelled of rotting teeth and eyes that roamed over my body like a butcher inspecting a cut of meat. My father had sold me to him for fifty thousand gold coins—enough to clear his gambling debts and buy himself another year of miserable freedom. I wasn’t a bride. I was currency.
"Smile, Elara," my father hissed from beside me, his grip on my arm bruising. "Don’t look so miserable. You should be grateful. A Countess? It’s more than you deserve."
I didn’t answer. I couldn’t. If I opened my mouth, I would scream. So I stared at the stained-glass window above, watching the dust motes dance in the light, trying to detach my soul from my body. Just get it over with, I told myself. Say the vows, become his property, and die inside.
The organ music swelled, a mournful dirge that matched my heartbeat. The heavy oak doors at the back of the cathedral creaked open. But it wasn’t the groom walking down the aisle.
The sound that followed wasn’t music. It was the sharp, metallic click of a rifle being cocked. Then another. And another. A hush fell over the congregation, thick and sudden. Boots echoed against the marble floor. Heavy, rhythmic, terrifying.
I turned my head, my heart skipping a beat. Standing in the doorway, framed by the blinding afternoon sun, was a figure clad in black military attire. A long coat brushed against his calves, and a sword hung at his hip, its hilt gleaming with cold malice.
Kaelen von Hohenheim. The Duke of Iron. The Empire’s Butcher. My stepbrother.
He didn’t look like a man attending a wedding. He looked like death incarnate. His dark hair was swept back, revealing a face carved from granite—sharp jawline, high cheekbones, and eyes so black they seemed to swallow the light around them.
My father gasped, stepping forward. "Duke Kaelen? What is the meaning of this intrusion?"
Kaelen didn’t speak. He didn’t even look at my father. His gaze locked onto me. It was a physical blow. That stare stripped me bare, ignoring the layers of lace and satin, seeing straight into the trembling core of my soul. It was possessive. Predatory. Hungry.
"Step aside," Kaelen said. His voice was low, a velvet rumble that vibrated through the floorboards and straight into my bones.
"This is a private ceremony!" Count Valerius squeaked, though he took a shaky step back. "You have no right—"
Kaelen moved. It happened so fast I barely registered it. One moment he was at the door; the next, he was halfway down the aisle. He drew his sword in a single, fluid motion. The steel sang as it cut through the air.
Slash.
Count Valerius’s head tilted at an unnatural angle. A fountain of crimson erupted from his neck, spraying across the front row of pews. Screams shattered the silence. Chaos erupted. Guests scrambled for the exits, tripping over their own robes in a panic.
I stood frozen, my brain unable to process the horror. Warm droplets landed on my cheek. I touched them, staring at the red stain on my gloved finger. Blood.
Kaelen stepped over the Count’s twitching body as if it were nothing more than a discarded rug. He walked up the steps to the altar, his boots leaving bloody prints on the white carpet. My father tried to run, but Kaelen’s lieutenant blocked his path with a pistol.
Now, it was just me and him.
Kaelen stopped inches from me. He was tall, looming over me like a storm cloud. The scent of iron and gunpowder mixed with his signature sandalwood fragrance, creating a dizzying cocktail of danger. He reached out, his leather-gloved hand catching my chin. His touch was cold, but his eyes burned with a feverish intensity.
"Elara," he said, my name rolling off his tongue like a prayer and a curse all at once.
"Why..." My voice cracked, barely a whisper. "Why did you do this?"
He leaned in, his lips brushing against my ear. I could feel the heat radiating from his body, contrasting sharply with the chill of his glove. "Because you are mine," he whispered, his voice rough with a dark emotion I couldn’t name. "And I do not share what belongs to me."
Before I could protest, he scooped me up into his arms. My veil tore, fluttering to the ground like a dead butterfly. As he carried me out of the church, past the bodies and the screams, I realized with dawning horror that I hadn’t been saved. I had just been claimed.
“Kau tampak menyedihkan, Dave.” Ujar Maura sambil menyunggingkan senyum. Ia sengaja menghentikan langkahnya demi mengamati sosok lelaki yang dicintainya. Dave yang menunggunya di depan pintu kedatangan bandara memang terlihat sangat memprihatinkan. Cambang yang tumbuh tidak terawat, lingkaran hitam di bawah mata, dan keseluruhan penampilan Dave yang kusut masai, meskipun lelaki itu tengah memakai setelan jas mahal. Dave terkekeh menanggapi komentar Maura akan dirinya. Dalam hati, ia tidak menyangkal penilaian perempuan yang sangat dipujanya itu. Beberapa peristiwa yang telah berlalu memang sangat menyita waktu, tenaga, dan pikiran Dave. Kini, setelah ia berhasil melalui semuanya, meskipun dengan susah payah, Dave hanya menginginkan satu hal, yakni Maura. “Dan kau tampak semakin menggairahkan, Maura.” Ujar Dave sambil melangkah mendekati Maura. Maura memalingkan wajahnya guna menyembunyikan senyum le
Maura masih memandangi pantulan dirinya di cermin. Perasaannya campur aduk, susah untuk dijelaskan. Maura masih sulit untuk percaya bahwa hari ia akan menikah. Melepas masa lajang kalau kata orang. Ia akan menikah dengan laki-laki yang belum dikenalnya. Maura memang pernah bertemu satu kali dengan lelaki itu, tapi tentu saja pertemuan yang hanya sebentar itu tidak serta merta membuatnya langsung mengenal kepribadian lelaki itu. Jangankan mengenal kepribadiannya, namanya saja Maura tidak tahu. Seingat Maura, laki-laki itu tidak pernah menyebut apa pun tentang dirinya termasuk nama.Ditengah kecamuk pikiran dan kegalauan yang melanda hatinya, Maura dikejutkan oleh suara adiknya, Naura. Adik Maura itu tengah sibuk mengecek sekali lagi buket bunga yang akan dibawa oleh kakaknya."Ayo, Kak." Kata Naura sambil mengangsurkan buket bunga berwarna putih. Maura men
“Lepaskan!” Suara laki-laki dengan nada tinggi karena amarah sukses menghentikan kegiatan membaca Dave. Sambil terus menatap layar laptop yang menampilkan seorang lelaki muda bersama orang bayarannya, Dave meletakkan pembatas buku untuk menandai halaman terakhir yang dibacanya. Suara khas benturan lembaran buku yang tertutup sempat mengisi keheningan ruang kerja Dave. “Apa yang kamu lakukan?” Dave menanyai orang bayarannya. Lelaki yang ditanya itu pun menghadapkan tubuhnya ke layar yang menampilkan sosok Dave. “Dia menolak ketika saya ajak bertemu Bos.” Lelaki itu menjawab dengan suara yang menunjukkan ketegasan. “Siapa kamu?” Lelaki yang telah duduk pada sebuah kursi kayu sederhana itu pun memotong pembicaraan Dave dan orang bayarannya. Dave tidak segera menyahut. Sebagai gantinya, ia melempar senyuman tipis. Senyuman yang terlihat manis, namun berbahaya karena tidak bisa dengan mudah diartikan maknanya. Lelaki itu pun terlihat kesal karena Dave tida
“Silakan, Maura.” Rektor mengangkat satu tangannya guna menyilakan Maura duduk di kursi yang ada di seberang meja kerjanya. Maura duduk dengan terlebih dahulu melepas ranselnya. Tas berwarna abu-abu muda itu kemudian diletakkan Maura di sisi kaki kirinya dengan alas tas menempel permukaan karpet tebal yang melapisi lantai ruangan rektor.“Terima kasih, Pak.” Jawab Maura sambil menyilangkan kedua tangannya di atas pangkuan.“Saya tidak ingin berlama-lama karena masih ada yang harus saya kerjakan.”“Baik, Pak.” Tidak tahu harus merespons apa, Maura lebih memilih mengiyakan kalimat rektor. Tentu saja ia tidak akan menyangkal jika rektor memiliki banyak pekerjaan.“Saya mohon maaf, tapi dengan berat hati saya katakan bahw
Entah Maura harus merasa senang atau sedih ketika ia dan Dave ternyata tidak punya waktu untuk bersama, meskipun mereka berada di kota dan negara yang sama. Baik Maura maupun Dave sama-sama disibukkan dengan aktivitas masing-masing.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan, Vania?" Maura berusaha menekan suaranya agar tidak berteriak. Dadanya terasa mau meledak karena kesal bercampur marah. Bukannya menjawab, Vania justru tertawa terbahak. Suaranya yang nyaring begitu memekakkan telinga, membuat Mau
“Sayang...” Bisik Dave sambil menggenggam tangan Maura. “Hmm?” Maura yang asyik memandang pemandangan sepanjang perjalanan melalui kaca mobil pun menoleh ke arah Dave. Sempat tertegun sejenak sambil memandangi waj
“Maura, Dave memanggilmu sekarang.” Kata Bibi Tilda sambil menutup pintu ruang kerja Dave. Maura yang baru datang segera menghentikan langkahnya.“Aku?” Tunjuk Maura pada dirinya sendiri sam


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore