Masuk"Lepaskan tangan kotormu dariku, pengkhianat!" jerit Permaisuri Zi Han, langsung menepis kasar tangan Jenderal Han dari pipinya. Zi Han melangkah mundur beberapa tapak, matanya yang membelalak lebar memancarkan kilat kebencian dan keharuan yang membara. Suaranya bergetar hebat, namun wibawa seorang Permaisuri Agung sama sekali tidak pudar dari paras cantiknya yang pucat. "Laporan palsu apa yang sedang kau mainkan, Han?!" desis Zi Han dengan napas memburu, meremas kain jubah birunya. "Zhao Jun adalah seorang kaisar dan panglima perang yang tak terkalahkan! Dia tidak mungkin tewas semudah itu di tangan pemberontak... kecuali jika ada iblis yang merancangnya dari dalam!" Jenderal Han tidak marah atas penolakan itu. Ia justru memiringkan kepalanya sedikit, menyunggingkan senyum miring yang teramat dingin dan licik. Panglima yang selama ini tampak begitu setia dan rendah hati itu kini sepenuhnya melepaskan topeng kepalsuannya. "Kau selalu menjadi wanita yang sangat cerdas, Zi Han," cib
"Mati kau, pengkhianat!" teriak Zhao Jun dengan suara parau menggelegar. SREET! Pedang emas di tangan sang kaisar menebas leher dua prajurit bertopeng sekaligus dalam satu ayunan melingkar yang bertenaga. Darah segar memuncrat membasahi tanah pasir dan jubah kebesarannya yang kini compang-camping. Napas Zhao Jun memburu hebat, dadanya naik turun dengan tidak teratur. Racun Pencabut Nyawa yang disusupkan Jenderal Han ke dalam ransum minumannya kian merayap cepat, membakar tenggorokan dan membekukan persendiannya. Luka panah lama di bahunya kembali terbuka, mengalirkan darah yang tak kunjung berhenti. Di sekelilingnya, lima belas pengawal bayangan terbaiknya telah gugur satu per satu, tewas mengenaskan demi melindungi sang penguasa. Zhao Jun kini berdiri sendirian di tengah amukan ratusan prajurit pemberontak. "Kaisar Zhao sudah di ambang kematiannya! Tebas kepalanya sekarang!" jerit sang pemimpin pemberontak bertopeng besi seraya menerjang dengan pedang terangkat tinggi. Zhao Jun
"Ada yang tidak beres dengan suasana bukit ini, Yang Mulia," bisik seorang perwira pengawal bayangan seraya menarik kekang kudanya, menatap selasar lembah yang dikelilingi tebing-tebing curam Perbatasan Selatan. Angin lembah bertiup kencang, membawa aroma tanah basah bercampur bau belerang yang samar. Hari sudah menjelang sore, dan kabut tebal berwarna keabu-abuan mulai merayap turun dari puncak bukit, memotong jarak pandang rombongan kekaisaran yang hanya terdiri dari lima puluh prajurit pilihan. Zhao Jun menghentikan kuda hitamnya di barisan paling depan. Kaisar muda itu memegang dada kirinya yang sedikit berdenyut. Sejak menempuh perjalanan jauh pagi tadi, lukanya memang terasa nyeri, namun kini sensasi aneh, sebuah rasa mual dan dingin yang menusuk hingga ke tulang, mulai merayap di aliran darahnya. "Sesuai jadwal yang disusun Jenderal Han, para utusan petinggi perbatasan seharusnya sudah menyambut kita di pintu gerbang benteng lama ini," ujar perwira itu lagi, menunjuk ke arah
"Lihat wanita malang itu, Jenderal Han... dia terus berdiri di bawah guyuran hujan hanya demi menunggu sepatah kata dari Kaisar yang bahkan tidak sudi meliriknya," bisik seorang prajurit bayangan beberapa bulan lalu di koridor Istana. Jenderal Han yang saat itu masih menjabat sebagai perwira muda, berdiri kaku di balik pilar batu, memandangi sosok Permaisuri Zi Han yang menggigil kebasahan di halaman depan Aula Agung. Hari itu adalah tahun pertama pernikahan politik antara Kaisar Zhao Jun dan keluarga bangsawan Zi. Sejak pertama kali melangkah masuk ke dinding istana ini, Zi Han begitu polos dan tergila-gila pada kaisar muda yang angkuh itu. Ia selalu mengemis perhatian, memasakkan hidangan, hingga memohon agar Zhao Jun sudi menemuinya walau sebentar. Namun yang didapat Zi Han hanyalah tatapan dingin, celaan, dan pengabaian yang menyakitkan dari sang penguasa. Kenapa kau begitu bodoh, Permaisuri? Pria yang kau cintai itu sama sekali tidak memiliki hati, batin Jenderal Han saat it
"C-Cepat lepaskan! Aku sudah bisa bangkit sendiri, Jenderal Han!" seru Permaisuri Zi Han dengan napas terengah-engah, wajahnya merona merah padam akibat rasa terkejut dan posisi mereka yang terlalu intim di atas pasir lapangan. Zi Han buru-buru bangkit, menepis debu-debu halus yang menempel di jubah birunya sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia melirik tajam ke arah Jenderal Han yang perlahan ikut berdiri dengan tenang. "Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba hanya tidak ingin Anda mendarat dengan punggung menghantam tanah keras," ujar Jenderal Han dengan nada suara yang terdengar amat tenang, meski binar di matanya menyiratkan sesuatu yang sulit diartikan. Zi Han menghela napas panjang, menelan ludahnya untuk meredakan degupan jantungnya yang masih kencang. Ia berniat mengomeli panglima muda itu atas sikapnya yang terlalu berani dan lancang menyentuh tubuh seorang permaisuri. Namun, akal sehatnya langsung menepis niat itu. Jika bukan karena refleks sigapnya tadi, kepal
"Jenderal Han, kau tidak perlu berdiri begitu dekat dengan pintu kamar mandi," kekeh Permaisuri Zi Han seraya mengeringkan tangannya dengan kain sutra halus saat keluar dari Paviliun Utama. Jenderal Han yang berdiri tegap hanya menundukkan kepala dengan raut penuh penghormatan. "Hamba memohon ampun, Yang Mulia Permaisuri. Namun keselamatan Anda adalah amanah terbesar dari Yang Mulia Kaisar. Hamba tidak boleh melengahkan pengawasan walau hanya sejangkauan langkah." Zi Han tersenyum tipis, mengibaskan jubah birunya yang berhias sulaman emas. Sama sekali tidak ada prasangka buruk di benaknya. Sebaliknya, ia merasa lega karena pengawalan ketat Jenderal Han membuatnya merasa aman di tengah bayang-bayang ancaman yang belum tuntas, terutama saat Zhao Jun tidak ada di sisinya. "Baguslah kalau begitu," ujar Zi Han seraya melangkah menyusuri lorong beratap kayu menuju halaman tengah. "Lalu, bagaimana dengan rencanaku siang ini? Apakah kau sudah menyiapkan kuda yang jinak?" "Semua sudah hamb







