Masuk“Lady Marielle... sarapan dan teh hangat Anda sudah siap,” bisik Diana pelan, membuyarkan lamunan Marielle. Pelayan muda itu menatap pergelangan tangan Marielle dengan cemas. “Bagaimana tangan Anda? Apakah masih terasa sangat sakit?”Marielle yang baru terbangun langsung menyembunyikan sisa memar keunguan di kulitnya. “Sudah jauh lebih baik, Diana. Tolong siapkan gaunku ya. Hari ini aku harus memeriksa alokasi logistik di ruang kerja utama.”“Baik, Lady.”Satu jam kemudian, Marielle melangkah menyusuri koridor menuju ruang kerja utama. Langkah kakinya mantap dan anggun, menunjukkan profesionalisme penuh meski hatinya dirayapi prasangka.Di dalam ruang kerja yang luas dan dipenuhi rak-rak buku tua, Jackson tampak sedang memilah tumpukan surat berstempel lilin berbagai warna. Wajah pria berkacamata itu terlihat kelelahan, jarinya lincah mencatat poin-poin penting di atas perkamen.“Selamat pagi, Jackson,” sapa Marielle tenang sambil menarik kursi di seberang meja kerja besar.Ja
“Lady... bentar lagi bengkaknya makin parah kalau tidak diolesi obat,” cicit Diana dengan suara gemetar panik. Pelayan muda itu berlutut di samping tempat tidur, memegang mangkuk berisi air hangat dan kain kompres yang sudah diperah.Matanya berkaca-kaca melihat kulit mulus di pergelangan tangan sang Lady yang kini berubah warna menjadi kemerahan keunguan. “Kenapa Anda harus nekat sekali? Yang Mulia Grand Duke kan... beliau kan memang dikenal sebagai monster di medan perang...”Marielle tidak menjawab. Manik peraknya menatap kosong ke arah lantai kayu ukir. Suara nafasnya teratur namun dingin, menyembunyikan badai kemarahan yang berkecamuk di dalam dirinya. Ia tahu Diana khawatir, tapi rasa simpati itu hanya makin mempertegas kenyataan tragis bahwa dirinya kini adalah tahanan tak berdaya yang terkurung di ruangan tempat ia dipaksa tinggal.Suara engsel besi yang berputar halus memecah keheningan kamar.Diana terlonjak kaget hingga hampir menjatuhkan mangkuk air hangat di tangan
“Lady! Apa Anda yakin akan melakukan duel dengan Grand Duke?!” Diana masih saja mengikuti Marielle yang sudah mengenakan baju zirah dan menuju lapangan untuk berduel.“Aku tidak punya pilihan lain. Ini semua untuk kebebasanku,” ujarnya tanpa gentar.Pagi yang dingin menggelayut di atas arena latihan terbuka Kastil Valtore. Di tengah arena, dua sosok berdiri berhadapan dengan jubah latihan tebal dan pedang tumpul di tangan masing-masing.Di pinggir lapangan, Jackson berdiri dengan cemas bersama beberapa komandan divisi militer senior Valtore. Mereka memperhatikan dua figur utama kastil tersebut dengan pandangan penuh rasa ingin tahu dan bisik-bisik heran.“Apakah Lady Marielle sudah bosan hidup? Menantang Yang Mulia dalam duel pedang sama saja menyerahkan leher secara sukarela,” bisik Komandan Divisi Dua sambil merapatkan jubah berbulunya.Komandan Divisi Tiga di sampingnya terkekeh pelan sambil menggeleng. “Tapi lihatlah cara dia memegang pedang itu. Pimpinan strategi kita ternyata
“Anda pikir saya tidak berani?!”Brak!Ayunan pertama gulungan dokumen tebal di tangan Marielle membelah udara dengan suara angin yang tajam. Namun, alih-alih mempertahankan posisi tegap dan mengintimidasi sebagai Penguasa, Grand Duke Aldric justru melakukan hal yang sama sekali tak terduga.Pria tinggi dan kekar itu refleks menyandarkan tubuhnya jauh ke belakang sandaran kursi, mengangkat kedua tangannya untuk melindungi kepala, dan memicingkan mata dengan ekspresi dramatis yang dibuat-buat secara berlebihan.Marielle terus melayangkan beberapa kali ayunan yang sempat mengenai kepala Aldric beberapa kali.“Astaga! Marielle! Apa yang kau lakukan?! Apa kau sudah gila?” seru Aldric dengan nada orang kaget karena tindakan Marielle yang spontan.Marielle membeku di tempat, tangan yang memegang gulungan dokumen itu mengudara di atas kepala. Manik peraknya membelalak lebar dalam ketidaktahuan total. Untuk beberapa detik, ruangan itu diselimuti keheningan absurd. Pimpinan strategi itu
“Diana… bawakan aku air minum…” Marielle menggumam dengan mata yang masih tertutup. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Ia melihat ruangan itu kosong. Marielle lupa, dia sedang berada dalam kamar sayap timur dimana kamarnya bersebelahan dengan Aldric.Dengan helaan nafas berat, Marielle beranjak dari tempat tidur. Namun, saat langkah kakinya mendekati connecting door di sudut ruangan, matanya mendadak tertuju pada sebuah meja kayu kecil di dekat pintu tersebut.Disana, sebuah nampan perak berisi sarapan hangat roti panggang yang dilapisi mentega segar. Ada juga daging asap, serta secangkir teh herbal yang asapnya masih mengepul halus, sudah tersaji rapi. Dan di samping cangkir tersebut, tergeletak secarik kertas tebal berstempel stempel lilin hitam khas sang Grand Duke.Marielle menyambar kertas itu dengan alis berkerut curiga. Begitu ia membuka lipatannya, tulisan tangan yang tajam, tegas, dan sangat rapi menyapa penglihatannya.“Habiskan sarapanmu, pimpinan strategi. Aku tidak
“Dasar pria brengsek! Tidak tahu diri! Aku pasti akan membalas semua yang kau lakukan padaku!” Marielle berteriak, melupakan etiket yang harus ia jaga di depan sang Grand Duke.“Oh ya? Coba saja kalau bisa.” Aldric makin mengeratkan genggamannya pada pergelangan tangan Marielle.Pergulatan jarak dekat di depan dinding kayu berukir itu terasa begitu intim sekaligus membakar. Marielle terus mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang terkunci rapat dalam genggaman kuat Aldric.Deru nafas mereka beradu, menciptakan uap tipis di udara malam yang dingin, sementara sensasi panas yang menguar dari tubuh sang Grand Duke seolah mengikis habis sisa kewarasan Marielle.Melihat mata perak wanita itu masih menyala penuh penolakan, Aldric tidak lantas memaksakan kehendaknya lebih jauh. Dengan gerakan perlahan yang disengaja, pria itu akhirnya melepas cengkraman tangannya dari pergelangan Marielle. Ia melangkah mundur satu tapak, merapikan kembali manset kemejanya yang sedikit kusut akibat pember
“Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk
“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de
“Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtor
Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia







