LOGIN“Dasar pria brengsek! Tidak tahu diri! Aku pasti akan membalas semua yang kau lakukan padaku!” Marielle berteriak, melupakan etiket yang harus ia jaga di depan sang Grand Duke.“Oh ya? Coba saja kalau bisa.” Aldric makin mengeratkan genggamannya pada pergelangan tangan Marielle.Pergulatan jarak dekat di depan dinding kayu berukir itu terasa begitu intim sekaligus membakar. Marielle terus mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang terkunci rapat dalam genggaman kuat Aldric.Deru nafas mereka beradu, menciptakan uap tipis di udara malam yang dingin, sementara sensasi panas yang menguar dari tubuh sang Grand Duke seolah mengikis habis sisa kewarasan Marielle.Melihat mata perak wanita itu masih menyala penuh penolakan, Aldric tidak lantas memaksakan kehendaknya lebih jauh. Dengan gerakan perlahan yang disengaja, pria itu akhirnya melepas cengkraman tangannya dari pergelangan Marielle. Ia melangkah mundur satu tapak, merapikan kembali manset kemejanya yang sedikit kusut akibat pember
“Kandang kuda, hm?” bisik Aldric rendah, suaranya mengalun santai namun dipenuhi dominasi mutlak. “Pilihan tempat istirahat yang sangat unik untuk seorang pimpinan strategi.”Marielle tidak sudi mendengarkan cemoohan itu lebih lama lagi. Dengan nafas memburu dan gengsi setinggi langit yang menolak untuk patah, wanita itu memutar tubuhnya dengan cepat. Jubah tebalnya mengibas udara malam saat ia melangkah lebar-lebar meninggalkan lorong utama, benar-benar berbelok menuju koridor selatan yang mengarah langsung ke area istal luar Kastil Valtore.Melihat tindakan nekat sang Lady, wajah Jackson yang memang sudah pucat berubah menjadi sewarna kertas. Pria kacamata itu mengambil beberapa langkah panik ke depan, meremas tumpukan dokumen di pelukannya.“Lady Marielle! Tunggu sebentar! Anda tidak bisa sungguhan tidur di sana!” seru Jackson setengah berbisik dengan nada panik luar biasa. Ia berniat mengejar dan menahan langkah Marielle, namun ia sadar betul dirinya tidak memiliki keberanian
“Grand Duke Aldric! Apa kau sudah kehilangan sisa kewarasanmu?!” teriak Marielle menggelegar, menggema di seluruh koridor tinggi tersebut.Marielle datang dengan langkah menghentak penuh amarah, jubah peraknya terseret di lantai marmer dingin. Begitu ia melihat sosok Aldric yang baru saja keluar dari ruang kerjanya dengan santai, peluru kemarahan yang ia tahan seharian langsung meledak begitu saja.Aldric, yang baru saja melonggarkan kerah kemejanya, menghentikan langkah. Pria itu menoleh dengan sebelah alis terangkat, menatap wanita di hadapannya yang kini bernapas memburu dengan mata perak menyala-nyala bagai nyala api badai salju.“Ah, kau sudah kembali dari Paviliun Barat, Marielle,” jawab Aldric dengan nada santai yang justru semakin menyulut emosi Marielle. “Kira-kira apa yang membuatmu berlari terengah-engah ke sini selarut ini? Apakah kamarmu yang baru terasa kurang nyaman?”“Jangan pura-pura bodoh!” maki Marielle, melangkah maju hingga jarak mereka hanya terpaut beberap
“Grand Duke, apa otak Anda bergeser karena saya telah menanduk kepala Anda tiga hari yang lalu? Kenapa ucapan Anda menjadi ngelantur seperti ini?” Marielle menatap tajam pada Aldric. Sedangkan Aldric hanya tersenyum sambil membusungkan badan melihat ke arah para pekerja. “Kau tahu, kau membuatku gila selama tiga hari ini Marielle. Aku selalu memikirkanmu karena baru kali ini ada seorang wanita yang berani membenturkan kepalanya padaku dengan sekuat tenaga," ucap Aldric berkacak pinggang sambil melayangkan senyum tipis pada Marielle. Marielle hanya bisa menghela nafas. Kali ini ia menyesali tindakannya karena sikapnya tiga hari lalu telah membuat Grand Duke gila. Seharian Marielle terus berusaha fokus dengan pekerjaannya, namun setiap Marielle pergi ke satu titik, Aldric masih mengikuti. Grand Duke seolah menjelma menjadi anjing penjaga yang Marielle bawa. Bahkan Jackson yang melihat tingkah mereka berdua hanya bisa memandang tanpa berkata apapun. ”Akhirnya selesai juga. Kau
“Jangan bermimpi, Grand Duke!” seru Marielle dengan suara bergetar hebat, manik peraknya menyala tajam menyembunyikan rasa salah tingkah yang luar biasa setelah sapuan bibir kilat pria itu tadi. “Saya memiliki kamar sendiri, wilayah kerja sendiri, dan hidup sendiri! Saya tidak akan pernah sudi memindahkan satupun barang saya ke sayap timur kastil ini!”Aldric tidak terlihat marah sedikit pun. Pria itu justru merapikan kerah kemejanya dengan gerakan santai, manik hitam pekatnya menatap Marielle dengan sorot mata penuh keyakinan yang menjengkelkan.“Kita lihat saja nanti, pimpinan strategi,” balas Aldric ringan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang menyimpan ribuan rencana berbahaya. “Kau selalu pintar mendebatku dengan kata-kata, Marielle. Tapi kau tahu betul, keputusan di Kastil Valtore tidak pernah ditentukan oleh siapa yang paling banyak bicara.”Sebelum Marielle sempat melontarkan balasan pedas untuk membungkam seringai menyebalkan itu, suara ketukan pintu
Selama tiga hari penuh pasca insiden memalukan yang disaksikan oleh Jackson, Marielle benar-benar menolak menginjakkan kaki di sayap timur Kastil Valtore. Wanita itu menjelma menjadi bayangan yang bergerak secara sembunyi-sembunyi. Setiap kali ada laporan harian, revisi anggaran, atau draf pemetaan ulang untuk Sektor Dua yang harus diserahkan kepada sang Grand Duke, ia dengan sengaja menyuruh pelayannya, Diana, atau prajurit muda seperti Tristan untuk mengantarkannya langsung. Di dalam benaknya, benteng pertahanan terakhirnya adalah jarak. Ia berpikir bahwa dengan mengunci diri di Paviliun Barat dan menghindari tatap muka, ia bisa mendinginkan kepalanya sekaligus memaksa Aldric menyerah pada permainan gilanya.Namun, Marielle lupa dengan siapa ia berurusan. Seorang Grand Duke Aldric Valtore tidak pernah diciptakan untuk menyerah hanya karena dihindari atau bahkan ditanduk di bagian kening. Bagi pria itu, perlawanan Marielle bukanlah sebuah penolakan, melainkan sebuah undangan terb
“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de
“Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtor
Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia
“Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk







