Se connecter"Baiklah," ucap Marielle pasrah. Nada suaranya datar, tanpa ketertarikan untuk memperpanjang perdebatan.Belum sempat Cassian membalas, terdengar ketukan pelan dua kali di ambang pintu, disusul oleh terdorongnya daun pintu kayu tebal tersebut. Sosok tegap berbalut jubah hitam Valerante melangkah masuk tanpa ragu.Aldric datang dengan niat untuk melihat kondisi Marielle secara pribadi setelah acara di Aula Agung selesai. Namun, begitu langkahnya melewati ambang pintu, mata hitamnya langsung tertuju pada Cassian yang berdiri tegak di samping ranjang. Kehadiran sang Raja yang tak terduga seketika mengubah atmosfer ruangan menjadi mencekam.“Yang Mulia? Anda disini juga?” Aldric terlihat sedikit terkejut.“Tentu. Aku bisa dimanapun karena ini adalah istanaku,” balas Cassian datar.Dokter tua yang sejak tadi menahan nafas akibat gertakan Cassian melihat kedatangan sang Grand Duke sebagai kesempatan emas. Selagi dua pria paling berpengaruh di kerajaan itu saling melempar tatapan dingin,
“Sungguh Raja melakukan hal itu?” Bisik-bisik mulai terdengar di antara orang-orang yang datang.Meskipun pengumuman pembersihan nama Enzo memicu badai pertanyaan di dalam benak para menteri dan bangsawan, keheningan tetap terjaga di Aula Agung. Tidak ada satupun orang yang cukup bernyali untuk mempertanyakan keputusan sang penguasa Minerva. Dengan begitu, acara penganugerahan gelar pahlawan pun berakhir dengan ketegangan yang menggantung di udara. Begitu membubarkan aula, Cassian melangkah cepat menyusuri lorong istana. Namun, langkahnya terpaksa melambat ketika sosok Elira tiba-tiba muncul dari balik pilar, menghadang jalannya dengan wajah yang mengeras."Yang Mulia, tunggu!" seru Elira tertahan. Ia menatap Cassian dengan pandangan menuntut penjelasan. "Apa maksud dari maklumat mendadak tadi? Bagaimana bisa Anda membersihkan nama ksatria Enzo begitu saja secara resmi? Dia adalah pria yang dieksekusi karena tuduhan meracuni Anda!"Cassian menatap Elira datar, menyembunyikan keter
”Lady Marielle… semoga pemberian gelar pahlawan Anda hari ini berjalan dengan lancar ya,” ucap Diana sambil merapikan gaun yang Marielle kenakan untuk acara hari ini.“Terima kasih Diana,” balas Marielle ramah.Ia melihat dirinya mengenakan balutan gaun simple namun elegan. Sudah tiga hari ia berada di istana semenjak kedatangannya. Dan hari ini adalah hari dimana ia akan mendapatkan gelar kehormatan sebagai pahlawan Minerva atas kontribusinya selama perang.Aula Agung Agung Istana telah dipenuhi oleh para bangsawan, menteri, dan jajaran ksatria tertinggi. Riuh rendah bisikan gembira sekaligus penasaran menggema di bawah langit-langit emas ruangan megah tersebut.Di barisan depan tahta, Ratu Elira duduk dengan anggun. Ia menatap lurus ke depan, bersiap menunjukkan pada seisi istana siapa pemilik sah hati sang Raja.Terompet kerajaan ditiup dengan lantang, seketika membungkam seluruh aula. Pintu ganda aula agung terbuka lebar.Marielle melangkah masuk dengan perlahan namun pasti.
“Saya harap Anda lebih lembut pada Ratu. Bagaimanapun juga, beliau adalah istri sah Anda.” Aldric sekali lagi mengingatkan.“Aku tahu,” balas Cassian singkat.Cassian langsung meminta beberapa ksatria untuk memanggil para jenderal untuk mendiskusikan waktu yang tepat untuk mengeksekusi para pengkhianat. Setelah rapat berjalan hampir satu jam, akhirnya mereka mendapat hasil jika eksekusi akan dilakukan minggu depan tepat di alun-alun kota.“Baiklah, kalau begitu rapat selesai. Silahkan kalian istirahat. Aku tahu kalian sangat lelah.” Cassian mengakhiri rapat tergesa.Sang Raja langsung bergegas keluar dari ruangan rapat untuk menemui istrinya yang baru saja ia bentak tadi.Langkah kaki Cassian terasa begitu berat saat ia menyusuri lorong panjang menuju kamar pribadi Ratu. Jubah kebesarannya yang megah kini terasa seperti beban yang menghimpit pundaknya. Sejak menginjakkan kaki di ibukota sehabis menempuh perjalanan jauh dari Valerante, dilanjutkan dengan rapat cepat yang menguras pik
“Selama Anda di istana, Anda bisa memakai kamar Paviliun ini sesuka hati Anda.” Ronald, kepala pelayan mempersilahkan Marielle masuk ke kamar utama di paviliun tersebut.“Kau sungguh aku memakai kamar ini?” Marielle terlihat tidak percaya.“Benar Lady. Semoga Anda betah saat tinggal di istana ini. Saya pamit, karena masih banyak yang harus saya kerjakan.” Ronald akhirnya undur diri.Marielle mengangguk. Setelah pintu tertutup kembali, Mariella melihat sekeliling dengan wajah kagum. Ia masih ingat kamar selama dirinya menjadi selir Cassian tidak semewah kamar ini.“Lady, akhirnya kita kembali ke istana lagi. Wah… aku sangat merindukan kasur empuk seperti ini.” Diana langsung berbaring di ranjang utama kamar tersebut. Tangannya mengelus-elus bagaimana lembutnya sprei yang tengah ia tiduri.Marielle tertawa kecil melihat tingkah pelayan pribadinya. Rasa lelah akibat perjalanan panjang seolah sedikit menguap melihat antusiasme Diana. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu duduk di tepinya
“Yang Mulia Ratu… hormat saya pada Anda, sang Rembulan Minerva.” Marielle langsung membungkuk memberi hormat bersamaan dengan Diana di sampingnya.Tangan Elira langsung meremas sisi samping gaunnya. Hal yang selama ini ia takutkan akhirnya terjadi. Elira sudah menduga Marielle tidak lama lagi akan menginjakan kaki di istana lagi, mengingat bagaimana kedatangannya kesini secara tiba-tiba saat meminta memberitahu terjadinya perang di Valerante tempo hari lalu.“Elira, sambutlah Marielle dengan hangat. Bagaimanapun dia adalah salah satu pahlawan dalam perang yang baru saja aku menangkan.” Cassian mendekati istrinya dan bicara dengan nada yang dingin.Tangan Ratu Elira bergetar hebat di balik remasan kain gaun beludrunya. Kalimat dingin yang dilontarkan Cassian di hadapan para pelayan dan ksatria pengawal terasa bagai tamparan yang menjatuhkan martabatnya sebagai Ratu.Elira menarik napas dalam-dalam, berusaha keras mempertahankan topeng keanggunannya meski suaranya tidak dapat menyembu
Leonard hanya terdiam. Belum sempat ia melanjutkan percakapan, Elira kembali menatapnya dengan mata tajam.“Bisakah kau rahasiakan apa yang kau lihat semalam? Aku tidak ingin ayahku tahu soal ini.” Elira menyilangkan tangan dengan wajah dinginnya. Berusaha memberi intimidasi.Mau tak mau Leonard me
“Aku akan menemukannya. Dan kali ini, tidak akan ada yang menghalangiku.” Suara Aldric terdengar rendah saat beranjak keluar dari kamar tamu istana.Di depan istana, Elira sudah menunggunya untuk mengantarkan kepulangan Aldric ke Valerante.“Semoga perjalananmu lancar sampai tiba di kediaman Grand
Fajar datang bersama udara dingin yang menusuk halaman utama istana Minerva. Langit masih pucat ketika lonceng besar dibunyikan tiga kali, pertanda sidang kerajaan akan segera dimulai.Hari itu, suasana istana berbeda dari biasanya. Para pelayan berbisik pelan di sudut lorong. Para bangsawan datang
“Lady Marielle, maaf saya harus membawa Anda dengan cara seperti ini.” Claude menurunkan Marielle dari pundaknya saat sampai di depan kamar.“Saya harap Anda bisa merelakan Enzo meski saya tahu ini menyakitkan,” ucap Claude pelan sambil membuka pintu kamar Marielle untuk membiarkannya masuk.Wanita







