ANMELDEN“Aku harus segera melapor pada Grand Duke.” Suara Cesare terdengar rendah di balik bayangan pepohonan.Matanya masih tertuju pada rumah kecil di pinggir desa tempat Marielle baru saja masuk bersama Claude dan Diana.Tatapannya tajam. Terutama pada jubah yang dipakai Claude. Tak mungkin ia salah mengenali lambang itu. Lambang ksatria kerajaan yang hanya dipakai pasukan elit milik Raja.Cesare langsung mundur perlahan dari balik semak tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Gerakannya ringan seperti bayangan. Beberapa detik kemudian, sosoknya benar-benar menghilang di antara pepohonan sore.Tak jauh dari tempatnya berada, seekor kuda hitam berdiam diri terikat di dekat jalan kecil desa. Cesare segera melepas tali dan naik dengan cepat.“Hyah!” ujarnya untuk membuat kudanya berjalan.Kuda itu langsung melesat membelah jalanan Valerante yang mulai gelap oleh senja. Angin menerpa wajahnya keras selama perjalanan menuju pusat kota.Namun pikirannya tetap tenang. Satu hal terus terulang di kepa
“Siapa kalian?” wanita muda itu bertanya pelan sambil memeluk keranjang bunga di dadanya.Suara lembutnya memecah keheningan sore di salah satu pemakaman kecil Valerante.Marielle perlahan berdiri dari depan makam Enzo. Di sampingnya, Claude dan Diana ikut menoleh pada wanita itu.Wanita tersebut tampak masih muda. Rambut hitamnya di kepang sederhana, dan wajahnya memiliki sedikit kemiripan dengan seseorang yang sangat mereka kenal.Jantung Marielle berdebar aneh. Claude lebih dulu menjawab dengan hati-hati.“Kami teman Sir Enzo semasa hidupnya.”Mata wanita itu sedikit melembut. Ia melangkah mendekat perlahan ke arah makam.“Jadi kalian adalah teman kakakku ya.” Senyumnya mengembang tipis namun terlihat sedih.“Saya sering melihat kakak saya bercerita tentang beberapa rekannya di kerajaan,” ujarnya pelan.Marielle langsung membeku.Kakak?Wanita itu menaruh keranjang bunganya di depan makam Enzo, lalu membungkuk kecil.“Perkenalkan.” Ia mengangkat wajahnya perlahan.“Nama saya Talia
“Apa Anda sudah kehilangan akal sehat, Grand Duke?” Jackson langsung menatap Aldric dengan wajah tegang.Suasana di lorong kediaman Grand Duke mendadak hening.Aldric yang sedang berdiri santai perlahan mengangkat mata. Tatapannya dingin.“Apa katamu?” perlahan tatapan dingin itu menjadi tajam.Jackson menelan ludah. Namun ia tetap berdiri tegak.“Maafkan jika saya lancang, tapi Anda baru saja kembali dari ibu kota. Jika sesuatu terjadi pada Lady Marielle sekarang, orang-orang istana pasti langsung mencurigai Anda.”Aldric mendengus pelan. Ia menyandarkan tubuh ke tembok dan menyilangkan kedua tangan di dada.“Lalu?” tanyanya seolah tak peduli.“Jika memang Anda ingin membunuh wanita yang sudah mengkhianati Anda, setidaknya beri jeda waktu beberapa minggu.” Jackson mencoba tetap tenang.“Anda terlalu terburu-buru, Grand Duke,” lanjut Jackson.Namun Aldric tetap bergeming. “Sejak kapan kau mulai mengatur caraku bekerja?”Jackson langsung menunduk. “Saya tidak bermaksud seperti itu. Say
“Grand Duke, selamat datang kembali.” Jackson membungkuk hormat kala Aldric turun dari kereta kuda pagi ini.Wajah pria itu terlihat biasa saja, tanpa ekspresi sama sekali. Ia berjalan melenggang melewati Jackson.“Semua aman selama aku tidak ada kan?” tanyanya datar.Jackson langsung mengikuti dari belakang. Ia mengangguk. “Semuanya terkendali. Beberapa pekerjaan sudah saya selesaikan selama Anda tidak ada disini.”“Bagus. Aku akan menaikan gajimu bulan depan. Aku ingin istirahat, jangan menggangguku hari ini.” Aldric mempercepat langkahnya untuk segera sampai kamar.Jackson berhenti, kemudian membungkuk lagi. Ia melihat sosok Aldric makin jauh. Wajah Jackson yang terlihat sangat kelelahan karena mengerjakan pekerjaan Grand Duke hanya bisa menghela nafas pelan. Berpikir, setidaknya setelah pemimpin Valerante kembali, maka pekerjaannya akan berkurang.Langkah Aldric menggema pelan di sepanjang lorong utama kediamannya. Udara pagi masih dingin, namun aura pria itu jauh lebih menusuk di
“Lady… akhirnya saya menemukan Anda.” Tanpa memberi waktu untuk bereaksi, Diana langsung berlari dan memeluk Marielle erat.Tubuhnya gemetar. Tangisnya pecah begitu saja di bahu Marielle.“Lady… Lady… saya sangat khawatir…” suaranya tercekat.Marielle membeku sesaat. Namun perlahan, tangannya terangkat dan membalas pelukan itu.“Diana…” bisiknya pelan.Matanya sedikit melembut. “Kenapa kamu di sini?” tanyanya pelan.Diana menggeleng cepat, masih memeluknya erat. “Nanti saja… saya jelaskan nanti,” katanya terburu-buru.Marielle mengernyit. Namun ia tidak memaksa.“Baiklah, kalau begitu ayo kita pulang,” jawabnya pelan.Di samping mereka, Claude berdiri dengan ekspresi bingung, namun waspada.“Kita sebaiknya tidak bicara di sini,” ucap Claude rendah.Marielle mengangguk. “Ya, mari kita pulang.”Marielle menuntun Diana yang masih terisak menuju kereta kuda. Sedangkan Claude mengemudikan kereta kuda yang telah disewanya untuk beberapa hari. Dalam perjalanan Diana hanya menangis, hingga me
“Aku akan menemukannya. Dan kali ini, tidak akan ada yang menghalangiku.” Suara Aldric terdengar rendah saat beranjak keluar dari kamar tamu istana.Di depan istana, Elira sudah menunggunya untuk mengantarkan kepulangan Aldric ke Valerante.“Semoga perjalananmu lancar sampai tiba di kediaman Grand Duke,” ucap Elira ramah.Aldric tersenyum, pria itu membungkuk hormat memberi hormat terakhir kali sebelum dia berangkat.“Terima kasih. Aku harap kita berdua bertemu lagi secepatnya, Yang Mulia Ratu.” Aldric memberikan senyuman terbaiknya pada Elira.Setelah pembicaraan singkat itu, Aldric menuju kereta kuda untuk segera pulang. Di dalam kereta kuda yang melaju keluar dari gerbang istana Minerva, Aldric sangat tidak sabar untuk melanjutkan rencananya.Tirai jendela sedikit terbuka. Angin pagi menyusup masuk, membawa hawa dingin yang tajam. Aldric bersandar santai, satu tangannya menopang dagu. Namun senyum di bibirnya terlalu gelap untuk disebut santai.“Wanita sialan itu…” gumamnya pelan.







