Share

Menara Barat

Author: nababy
last update publish date: 2026-03-12 15:13:31

“Enzo Lucien?”

Marielle terpaku, dia mengingat-ngingat siapa Enzo Lucien yang ada di depannya. Karena dalam cerita asli, tak ada tokoh bernama Enzo.

“Dia akan menjadi pengawalmu. Setelah kejadian kemarin, sebaiknya ada satu pengawal yang melindungimu agar kejadian itu tidak terulang lagi,” jelas Cassian.

Marielle mengangguk, ia melongok melihat Enzo. Sikap ksatria yang ada di hadapannya sekarang terlihat sangat tenang. Parasnya juga membuat hatinya tak diliputi rasa takut atau gundah. Mariell
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Mangsa vs Pemangsa

    “Lady… akhirnya saya menemukan Anda.” Tanpa memberi waktu untuk bereaksi, Diana langsung berlari dan memeluk Marielle erat.Tubuhnya gemetar. Tangisnya pecah begitu saja di bahu Marielle.“Lady… Lady… saya sangat khawatir…” suaranya tercekat.Marielle membeku sesaat. Namun perlahan, tangannya terangkat dan membalas pelukan itu.“Diana…” bisiknya pelan.Matanya sedikit melembut. “Kenapa kamu di sini?” tanyanya pelan.Diana menggeleng cepat, masih memeluknya erat. “Nanti saja… saya jelaskan nanti,” katanya terburu-buru.Marielle mengernyit. Namun ia tidak memaksa.“Baiklah, kalau begitu ayo kita pulang,” jawabnya pelan.Di samping mereka, Claude berdiri dengan ekspresi bingung, namun waspada.“Kita sebaiknya tidak bicara di sini,” ucap Claude rendah.Marielle mengangguk. “Ya, mari kita pulang.”Marielle menuntun Diana yang masih terisak menuju kereta kuda. Sedangkan Claude mengemudikan kereta kuda yang telah disewanya untuk beberapa hari. Dalam perjalanan Diana hanya menangis, hingga me

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Pertemuan Kembali

    “Aku akan menemukannya. Dan kali ini, tidak akan ada yang menghalangiku.” Suara Aldric terdengar rendah saat beranjak keluar dari kamar tamu istana.Di depan istana, Elira sudah menunggunya untuk mengantarkan kepulangan Aldric ke Valerante.“Semoga perjalananmu lancar sampai tiba di kediaman Grand Duke,” ucap Elira ramah.Aldric tersenyum, pria itu membungkuk hormat memberi hormat terakhir kali sebelum dia berangkat.“Terima kasih. Aku harap kita berdua bertemu lagi secepatnya, Yang Mulia Ratu.” Aldric memberikan senyuman terbaiknya pada Elira.Setelah pembicaraan singkat itu, Aldric menuju kereta kuda untuk segera pulang. Di dalam kereta kuda yang melaju keluar dari gerbang istana Minerva, Aldric sangat tidak sabar untuk melanjutkan rencananya.Tirai jendela sedikit terbuka. Angin pagi menyusup masuk, membawa hawa dingin yang tajam. Aldric bersandar santai, satu tangannya menopang dagu. Namun senyum di bibirnya terlalu gelap untuk disebut santai.“Wanita sialan itu…” gumamnya pelan.

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Tekad Seorang Pelayan

    “Aku harus segera pergi sebelum semuanya terlambat.” Suara Diana bergetar pelan di dalam kamar kecilnya. Tangannya masih gemetar sejak pembicaraan yang ia dengar. Bayangan Aldric terus terngiang di kepalanya. Bunuh Marielle. Diana mengepalkan tangan.“Tidak. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.” Ia menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri.“Aku harus pergi ke Valerante dan menemui Lady bagaimanapun caranya.” Malam itu, Diana bertekad pergi dari istana untuk menyelamatkan sang Lady.Pagi hari di istana Minerva terasa lebih dingin dari biasanya. Diana berjalan cepat bersama para pelayan lain dan kepala pelayan Ronald menuju kamar Raja.Pintu dibuka. Di dalam, Cassian masih duduk di dekat jendela. Hanya diam menghadap ke luar. Seperti hari-hari setelah kepergian Marielle.“Yang Mulia, ijinkan kami membersihkan kamar Anda,” Ronald dan pelayan lain memberi hormat pada Raja sebelum memulai pekerjaan mereka.Para pelayan mulai bekerja. Ada yang menyapu, membersihkan botol-botol

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rahasia Yang Terdengar

    “Benar Lady, saya harus menemani Anda selama satu minggu disini. Jika saya melanggar perintah itu, yang dihukum bukan hanya saya, tapi pak kusir yang mengantar Anda juga.” Suara Claude tenang, tapi tegas.Ia menatap Marielle tanpa ragu. Sedangkan Marielle hanya diam, terlihat bingung.Suasana hening sesaat. Angin sore berhembus pelan di halaman rumah kecil itu.Marielle perlahan menurunkan bahunya. Ekspresi kaget di wajahnya memudar, digantikan sesuatu yang lebih dalam. Sebuah ekspresi pasrah.“Aku tidak mau ada yang dihukum lagi karena aku.” Suaranya lirih.Claude tidak menjawab, pria itu mengangguk pelan. Marielle menunduk lesu, mengingat dua orang telah kehilangan nyawa akibat dirinya, yaitu Robert, penjaga perpustakaan dan Enzo, pria yang masih mengisi seluruh hatinya.“Sudah cukup orang-orang terluka karena aku,” ucapnya lirih.Ia mengangkat wajahnya kembali, menatap Claude dengan mata yang lelah.“Kalau satu minggu itu harga yang harus dibayar, aku akan terima.”Claude sedikit m

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kembali Menata Hidup

    “Aku akan tinggal di sini.” Suara Marielle terdengar mantap begitu kakinya menjejak tanah desa Valerante untuk pertama kalinya.Udara pagi terasa berbeda. Lebih segar dibandingkan udara pagi di ibu kota Minerva. Tidak ada bisikan licik para bangsawan. Tidak ada tatapan penuh kepentingan. Hanya suara angin, dedaunan, dan kehidupan yang berjalan sederhana.Marielle berdiri diam sejenak. Matanya menyapu sekeliling. Rumah-rumah kayu sederhana berjajar. Anak-anak kecil berlarian di kejauhan. Beberapa warga menoleh penasaran melihat kereta kuda asing yang berhenti di tepi desa.Di belakangnya, Claude turun dari kuda.“Anda yakin ingin tinggal di desa ini?” Claude memastikan sekali lagi.Marielle mengangguk pelan. “Iya. Lagipula jarak desa dan makam Enzo juga tidak jauh, jadi aku bisa setiap hari pergi kesana.” Suara Marielle tidak terdengar sedih lagi saat membahas Enzo.Dan itu membuat Claude bisa bernafas lebih lega, melihat yang kembali ceria.“Baiklah, saya akan mencarikan Anda rumah di

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Enzo Dan Valerante

    “Jangan berhenti.” Suara Marielle terdengar pelan, namun tegas dari dalam kereta.Kusir di depan langsung mengangguk dan menarik kendali kuda lebih kuat. Di samping kereta, Claude melirik sekilas ke arah jendela yang sedikit terbuka.“Lady… kita masih bisa beristirahat sebentar di perbatasan, saya akan mencarikan penginapan untuk Anda ” ujarnya hati-hati.“Tidak perlu,” jawab Marielle tanpa ragu.Claude tidak berani membantah lagi. Meski hari sudah gelap, kereta terus melaju meninggalkan desa-desa kecil di antara ibu kota dan Valerante.Jalan berbatu perlahan berubah menjadi jalur tanah. Pepohonan mulai lebih rapat, udara terasa lebih dingin. Di dalam kereta, Marielle duduk diam. Tangannya menggenggam ujung gaunnya erat.Ia masih berusaha tegar. Padahal hatinya saat ini terasa lebih kosong daripada sebelumnya. Ia membuka telapak tangannya perlahan. Kalung permata kecil itu masih ada di sana. Satu-satunya benda yang ia bawa dari istana yang mampu ia jual untuk bertahan hidup. Meski dia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status