Share

Ksatria Enzo Lucien

Author: nababy
last update publish date: 2026-03-11 23:04:12

Marielle masih duduk di ranjangnya, ia mengingat kejadian tadi siang. Wajah bingung itu masih mencerna dan bertanya-tanya bagaimana nasib anak kecil yang terlihat polos tadi siang sekarang. Apakah tertangkap bersama lainnya, atau lolos begitu saja?

“Lady Marielle?”

Pintu terbuka, ia melihat Diana berdiri diambang pintu dengan wajah yang tak terbaca. Belum sempat Marielle bertanya, Diana berlari menujunya lalu bersimpuh.

“Lady Marielle, terima kasih sudah menyelamatkan saya. Maafkan saya Lady k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Muka Tembok Sang Grand Duke

    “Maaf jika saya lancang, tapi Lady Marielle sangat tidak menginginkan Anda berada disini.” Diana berucap sambil mengangguk.Namun Aldric hanya melipat tangan di dada dengan senyum percaya dirinya. “Lihat saja, beberapa hari lagi aku pasti akan membuat Marielle mau bicara denganku lagi,” ucapnya dengan nada congkak.Keyakinan Aldric itu perlahan sirna, karena sudah hampir tujuh hari penuh, rumah kayu sederhana yang dulu tenang telah berubah menjadi arena pertempuran dingin yang menguras habis sisa-sisa kesabarannya.​Berbagai macam cara sudah ia kerahkan untuk mendapatkan perhatian Marielle kembali, namun selama itu juga Marielle tetap menganggapnya tidak ada.​Tiga hari lalu, Marielle bahkan diam-diam menyuruh Diana menyampaikan pesan mendesak pada Jackson, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Aldric di kediaman Valtore. Marielle berpikir, kehadiran seorang asisten kepercayaan yang membawa kereta resmi dan barisan pengawal kastil akan sanggup menyeret sang Grand Duke pulang secara p

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Aku Belum Menyerah

    ​“Aku hanya ingin minta maaf padamu. Aku ingin minta maaf atas semua kesalahanku, Marielle.” Suara rendah Aldric bergetar pelan, menyisakan keheningan yang teramat pekat di dapur kayu tersebut. Bahkan Diana di sudut ruangan sampai menahan nafasnya rapat-rapat, tak berani membuat pergerakan sekecil apapun.​Marielle yang membelakangi Aldric di atas tangga membeku. Jemari tangannya mencengkram erat pegangan tangga kayu. Kalimat permohonan maaf dari mulut sang Grand Duke Valerante terasa begitu asing, berat, dan tanpa kepalsuan.​Marielle menghembuskan nafas panjang. Perlahan, ia memutar tubuhnya kembali, menatap pria tegap bercelemek bunga-bunga yang masih menundukkan kepalanya di bawah sana.​"Permintaan maaf?" suara Marielle terdengar tipis, namun memotong keheningan dengan tajam. "Apakah menurut Anda sebuah permintaan maaf dan secangkir teh dan roti gosong bisa membayar nyawa Enzo? Apakah permintaan maaf Anda bisa menghapus tahun-tahun penderitaan dan rasa sakit yang saya tanggung

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Maafkan Aku

    ​"I-Iya, Grand Duke?" suara Diana mencicit nyaris tak terdengar. Tubuhnya gemetar hebat saat mata hitam Aldric menghujam tepat ke arahnya.​Aldric menghela nafas panjang, merapikan kerah kemejanya seraya memajukan posisi duduknya. Aura menakutkan yang tadi terpancar perlahan memudar, berganti dengan raut wajah seorang pria panik yang sedang kehabisan akal.​"Duduklah," perintah Aldric, menunjuk kursi di depan meja makan dengan dagunya.​"Saya... saya berdiri saja, Yang Mulia," tolak Diana cepat sambil meremas celemeknya kencang-kencang.​"Aku bilang duduk," ulang Aldric dengan nada yang lebih tegas, meski ada sedikit rasa segan dalam suaranya.​Mau tidak mau, Diana melangkah pelan dengan lutut lemas lalu mendaratkan bokongnya di ujung kursi. Ia menunduk dalam-dalam, tak berani menatap wajah penguasa Valerante tersebut.​"Katakan padaku," Aldric merendahkan suaranya, melirik ke arah tangga lantai dua untuk memastikan Marielle tidak mendengarkan pembicaraan mereka. "Apa yang sebenarnya

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Mencari Tahu

    “Marielle,” panggil Aldric pelan.Namun wanita itu diam. Dia langsung mengambil makanan yang sudah tersedia di meja. Sedangkan Diana hanya menatap keduanya secara bergantian. Ia merasa makan malam ini akan sangat panjang dan menegangkan.Malam makin larut, tetapi ketegangan di meja makan kayu itu justru makin membeku. Hanya denting halus sendok yang beradu dengan mangkuk keramik dan kepul asap sup hangat yang menjadi saksi keheningan mencekam tersebut.​Diana duduk kaku di ujung meja, mengunyah rotinya tanpa bersuara. Matanya bergerak gelisah melirik Marielle dan Aldric secara bergantian. Suasana di antara keduanya tak ubahnya seperti arena perang dingin yang siap meledak kapan saja.​Aldric berdehem pelan, berusaha mencairkan suasana. Pria tegap itu meletakkan sendoknya, lalu menatap Marielle yang masih asyik menyendok sup tanpa berniat mendongak sedikit pun.​"Supnya... lumayan enak," buka Aldric datar, mencoba memulainya dari hal paling sederhana.​Marielle tak berkutik. Jemari ca

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Perseteruan

    “Semenjak kedatangan Grand Duke, suasana rumah ini menjadi suram,” keluh Diana yang masih menatap pintu kamar yang baru saja dimasuki Aldric.Belum sempat Diana beranjak dari tempatnya berdiri, seseorang tiba-tiba masuk. Seorang pria yang tak asing tiba-tiba datang memasuki rumah kayu itu.“Halo… maaf, saya sedang mencari Grand Duke,” ujarnya sambil membungkuk pada Diana.Diana sontak juga langsung membungkuk. Diana kenal dengan pria itu. Siapa lagi jika bukan Tristan, ksatria yang diperintah oleh Aldric untuk mengawasi makanan Marielle saat di istana sebelum kembali kesini.“Grand Duke ya? Dia ada di kamar itu.” Diana menunjuk penuh hati-hati.Tristan langsung berbalik dan segera mengetuk pintu.“Grand Duke, saya Tristan,” ucapnya jelas.Tak ada jawaban. Tristan kembali mengetuk.“Grand Duke… saya Trist…” Kalimatnya mendadak berhenti.Pintu seketika terbuka dan terlihat wajah Grand Duke yang penuh guratan amarah jelas disana.Tristan tiba-tiba mundur dan langsung meneguk ludah. Karen

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Pertsngkaran Lagi

    Keduanya langsung tersentak. Aldric yang mencoba menjelaskan sekali lagi tidak bisa menghentikan Talia yang sudah diambang batas kesabaran.“Tolong mengertilah, ini memang salahku tapi semua ini terjadi karena ulang pangeran Heinry,” jelas Aldric sekali lagi.“Sudah saya bilang keluar kalian berdua dari rumahku!” bentak Talia keras.Marielle yang semula hanya diam, ia bangkit pelan, lalu menunduk pada Lami dan Talia bergantian.“Maafkan kedatangan saya yang membuat hatimu semakin terluka. Kami akan pergi sekarang,” ucap Marielle lembut.Tangannya langsung menarik lengan Aldric dan menariknya keluar. Aldric hanya bisa terdiam sambil mengikuti langkah Marielle dari belakang. Sedangkan Talia langsung menutup pintu keras kala keduanya baru keluar dari rumah kayu sederhana itu.“Marielle, apa yang kamu lakukan?! Aku berusaha membersihkan namamu!” Aldric terlihat kesal karena ditarik kasar oleh wanita itu.“Bisakah kita pergi dari sini terlebih dulu? Ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Perubahan Yang Terlihat

    Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Sebuah Tekad

    “Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambut kasar. Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama. Ia memilah-m

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rencana Awal

    “Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Jari-jari Marielle mencengkeram kain rok hingga berkerut. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam. Sekelebat ingatan tentang akhi

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Permulaan Takdir

    “Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.” Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit. Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia bi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status