LOGIN“Kau benar-benar sangat mengganggu, Grand Duke. Baiklah, silahkan bicarakan apa yang perlu kau bicarakan?”Perhatian Cassian sepenuhnya teralihkan pada Aldric.“Ini soal keamanan Valerante. Saya berencana membangun benteng antara Minerva dan Eldora agar kejadian penyerangan Pangeran Heinry tidak terjadi lagi.”Cassian terdiam sejenak. Meski ia memiliki ikatan yang dekat dengan Raja Eldora sekarang, tapi tidak menutup kemungkinan di masa depan Heinry akan menyerang lagi. Apalagi dia adalah salah satu pewaris takhta di Eldora yang kuat.“Ide bagus. Kita bisa memperkuat pertahanan di perbatasan.”Akhirnya mereka berdua larut dalam pembicaraan soal benteng pertahanan. Marielle yang sudah selesai makan tiba-tiba langsung pamit undur diri.“Karena saya sudah selesai, saya mohon undur diri dahulu.” Ia membungkuk untuk pamit.Melihat Marielle berdiri, Cassian juga ikut berdiri. Seolah tak mau wanita itu pergi.“Marielle, tunggu sebentar. Bisakah kita bicara empat mata lebih dulu? Ada sesuatu
“Tuhan, berikan aku kekuatan. Setidaknya biarkan aku menikmati satu malam saja tanpa harus melihat wajah arogan kedua pria itu,” gumam Marielle lirih.Ia mencoba kembali memfokuskan pandangannya pada kertas-kertas yang masih harus ia kerjakan agar segera selesai. Setidaknya Aldric sudah berjanji padanya jika setelah proyek ini selesai dia akan pulang ke rumahnya di tepi hutan.Setelah kepergian Aldric yang terpaksa melangkah untuk meminta maaf pada sang Raja, Marielle berharap ia bisa menghabiskan sisa harinya dalam ketenangan yang mutlak. Namun, baru saja ia memetakan jalur logistik pengamanan musim dingin, pintu kayu ruang kerjanya terketuk dua kali dengan cepat sebelum akhirnya terbuka lebar.Diana, pelayan setianya, melangkah masuk dengan ekspresi campur aduk antara cemas dan serba salah. Wanita paruh baya itu meremas ujung apronnya dengan gugup.“Maaf mengganggu konsentrasi Anda, Lady Marielle, tapi saya baru saja menerima pesan langsung dari pelayan pribadi Grand Duke,” lapo
“Hei! Apa yang kau lakukan?” bisik Aldric setengah protes, meski sudut bibirnya sempat terangkat tipis merasakan kehangatan jemari Marielle yang melingkar erat di lengan mantelnya.“Grand Duke, diamlah. Ikut saya, karena ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Anda,” balas Marielle tanpa mengalihkan pandangannya dari jalur koridor batu yang terbentang di hadapan mereka, menyeret sang penguasa Valerante menjauh dari tatapan membara Cassian yang masih terpaku di tempatnya.Langkah kaki mereka menggema teratur, membawa keduanya menjauhi kerumunan sayap barat hingga akhirnya tiba di ruang kerja pribadi Aldric yang sunyi dan hangat. Begitu pintu kayu berukir itu tertutup rapat dan mengunci dari dalam, Marielle langsung melepaskan cengkramannya. Ia berbalik badan dengan cepat, melipat kedua tangannya di dada, dan menatap tajam ke arah sang Grand Duke dengan mata perak yang menyipit penuh amarah tertahan.“Apa sebenarnya yang ada di dalam kepala Anda, Grand Duke?” cerca Marielle sen
“Jangan bilang... kalau yang Mulia Raja masih mengharapkan wanita yang sudah lama Anda buang ini?” ledek Aldric telak, senyuman miringnya semakin melebar melihat raut wajah Cassian yang menggelap hebat.Darah Cassian mendidih seketika. Tanpa memperdulikan tatapan para pengawal kerajaan dan prajurit Valerante di sekitar mereka, tangan sang Raja bergerak cepat, mencengkeram kuat kerah mantel bulu tebal Aldric hingga tubuh sang Grand Duke terdorong membentur dinding batu koridor dengan suara gedebuk yang keras.“Jaga mulutmu, Aldric!” geram Cassian tertahan, suaranya bergemerincing penuh ancaman mematikan. Manik hitamnya menyala tajam, memancarkan amarah murni seorang penguasa yang harga dirinya diinjak-injak di tanah orang lain. “Kau pikir posisimu sebagai penguasa perbatasan memberimu hak untuk mempermainkan batas kesabaranku?”Alih-alih merasa gentar atau takut, Aldric justru menatap balik manik hitam Cassian dengan seringai dingin yang semakin menguji kesabaran. Tidak ada sediki
“Ma... Marielle...? Akhirnya aku bisa kembali bertemu denganmu.” Sebelum Marielle sempat merespons sapaan penuh ketidakpercayaan itu, Grand Duke Aldric melangkah lebih maju. Menyadari atmosfer emosional yang mulai menyelubungi udara di antara mantan suami-istri tersebut, Aldric sengaja menarik perhatian dengan suara baritonnya yang berat, memecah ketegangan yang menyesakkan dada. “Cukup pertunjukan emosional di tengah badai ini, Yang Mulia,” sapa Aldric dingin, sebelah tangannya masih enggan lepas dari pinggang Marielle. Matanya menyapu barisan karavan kerajaan di belakang sang Raja sebelum kembali menatap tajam manik hitam Cassian. “Tapi, ada satu hal ganjil yang menarik perhatian saya sejak tadi. Dimana Ratu Elira?” Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Cassian berubah mengeras. Bayangan wajah Elira yang pucat saat pingsan kemarin pagi kembali melintas di benaknya. Ia menatap sepupunya dengan tatapan penuh kemenangan kecil yang dingin. “Ratu tidak ikut,” jawab Cassian teg
“Jaga dirimu dan calon anak kita baik-baik, Elira,” bisik Raja Cassian lembut, jemarinya mengusap pipi sang Ratu sebelum mengecup keningnya penuh kehangatan di ambang pintu istana. Ratu Elira mengangguk lemah, melepaskan genggaman tangan suaminya dengan berat hati. “Hati-hati di jalan, Yang Mulia. Badai musim dingin di barat sangat berbahaya.” Cassian menyunggingkan senyum tipis yang menenangkan sebelum berbalik dan menuruni undakan tangga istana, di mana kereta kuda berpelindung baja telah menunggunya. Perjalanan dari ibu kota menuju Valerante bukanlah jarak yang pendek. Menembus jalanan bergunung-gunung dan hutan pinus yang tertutup salju tebal membutuhkan waktu penuh satu hari satu malam nonstop, dengan pergantian kuda di setiap pos penjagaan terluar. “Yang Mulia, apakah Anda ingin menginap di salah satu desa saat malam tiba?” tanya Rowan saat kereta kuda mulai berjalan keluar istana. “Tidak usah. Aku ingin segera sampai di Valerante. Aku ingin sekali bertemu secepat
“Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap.“Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar
“Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk
“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de
“Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtor







